
Penginapan yang dipilih Fany, benar-benar menakjubkan. Sebuah penginapan dengan bangunan yang didominasi oleh kayu dan berada di atas ketinggian tanah yang cukup membuat Rachel terpesona.
Ia segera berlari kecil masuk ke dalam vila yang di kelilingi oleh pohon pinus. Warna langit yang oranye hanya terlihat sedikit karena tertutup oleh pohon pinus yang tinggi mengitaari penginapan. Lembayung senja terlihat samar di atas sana.
Di tempatnya saat ini, Rachel berdiri sambil berpegangan pada pagar pembatas kayu yang seolah menjadi balkon vila ini. Ketinggian vila yang sekitar delapan puluh senti dari tanah, membuat udara dari bawah papan terasa begitu dingin meniup telapak kali Rachel yang tanpa kaos kaki.
“Ini sangat indah, terlalu indah.” Gumam Rachel seraya memejamkan mata dan menghirup udara bersih beberapa kali hingga mengisi rongga parunya dengan maksimal. Udara yang jarang ia dapatkan saat di Jakarta.
Pikirannya ikut jernih dan tenang. Benar adanya kalau ia memerlukan waktu untuk dirinya sendiri.
“Gimana, kamu suka?” Fany menghampiri dan mendekat pada Rachel. Ia berdiri di samping Rachel dan ikut menikmati pemandangan yang indah.
“Iya aku suka. Mungkin begini yaa perasaan Bella Swan waktu berada di rumahnya Edward Cullen. Nyaman, tenang dan membuatnya merasa dicintai oleh alam.” Celoteh Rachel.
“Hhahahaa … kenapa harus Edward Cullen sih, otakku kan jadi travelling.” Protes Fany.
“Hhahaaha … ya kan dia tokooh vampire paling keren menurutku. Selain Damon Salvatore tentunya.”
“Damon Salvatore? Kamu suka tokoh antagonis?”
Rachel mengangguk kecil.
“Aku liat dia memang memerankan tokoh antagonis tapi, perjuangan dia sunguh-sungguh untuk orang yang di cintai. Sesulit apapun yang dihadapinya, dia tetap melakukan hal terbaik untuk orang yang dia sayang. Walau pada akhirnya, mendapatkan orang yang dia sayang hanya untuk kesenangannya sendiri, tapi aku tau perjuangan panjang Damon tidaklah mudah. Aku suka seseorang yang mau berjuang untuk orang yang dia cintai.” Urai Rachel seraya tersenyum kecil.
__ADS_1
Fanny tidak menanggapi, ia hanya tersenyum kecil sambil memandangi wajah Rachel. Sepertinya, perasaannya tidak baik-baik saja seperti saat ia melihat tawa Rachel yang berlebih saat dalam perjalanan tadi.
“Okey, Damonnya kita do’akan akan menjadi protagonist di film lainnya. Sekarang kamu mandi dulu. Kita makan malam sebentar lagi. Nanti malam kita bikin suki sama barbeque tipis-tipis. Aku juga udah nyiapin beberapa film lawas buat nemenin kita. Gimana?” tawar Fany.
“Waw, kedengerannya menyenangkan. Okey, aku mandi dulu ya kak.” Rachel menepuk bahu Fany dengan lembut dan wanita itu hanya mengangguk dan tersenyum sebagai respon.
****
Malam menjelang, Fany benar-benar memenuhi janjinya. Mereka makan suki dengan lahap juga membuat barbeque sederhana di beranda vila. Rasa kuah tomyam yang segar, di padu dengan berbagai isian di dalamnya, mulai dari fish ball sampai udang, di ramu dengan enak oleh Fany. Potongan daging pun tercium sangat nikmat saat di atas pembakaran.
“Aaaa ….” Ucap Fany saat meminta Rachel membuka mulutnya.
Dengan senang hati Rachel menurutinya dan menikmati setiap kunyahannya dengan penuh rasa cinta.
“Eemmm … ini enak banget kak. Enak banget!” mata Rachel membulat dipenuhi binar kebahagiaan saat kunyahannya terasa pas mengisi rongga perutnya yang kosong.
Cepat-cepat Rachel menelan kunyahannya sebelum berbicara. “Tipe makanan tuh cuma ada dua buat aku. Enak dan enak banget.” Cicitnya.
“Hahahahaha … itu istilah lain untuk kamu yang doyan makan.” Fany mencolek hidung Rachel yang seolah mengejeknya. Mengejek karena hidungnya tidak setegak Rachel.
“Tapi bener loh kak. Masak itu susah. Makanya jahat banget kalau ada orang yang bilang makanan itu gak enak, padahal setiap oorang pasti udah bersusah payah membuat makanan itu.” Urai Rachel setengah curhat.
“Aku setuju. Apapun bentuk makanannya, selalu perlu di apresiasi.” Fany sepakat. Ia pun kembali menyuapkan daging bakar ke mulutnya lalu ke mulut Rachel.
__ADS_1
“Aduhh entar dulu, ini mulut aku penuh.” Protes Rachel yang kesulitan membuka mulutnya.
“Ini enak banget, kamu wajib coba.” Paksa Fany.
“Kak Fanyyy, iikhhh ….” Rachel merajuk tapi tetap saja membuka mulutnya.
“Hahhahaha ….” Fany tertawa gemas melihat tingkah Rachel.
Perut kenyang, kantuk pun datang.
Sebelum tidur, Fany dan Rachel menonton film yang sudah Fany bawakan. Kali ini cerita Romeo dan Juliet yang sedang mereka tonton.
Karena kenyang, Fany jadi mengantuk. Tapi sebelum tidur, ia inisiatif mengintip Rachel yang sejak tadi hanya terdiam tanpa bersuara. Kepalanyapun berpaling ke kanan, menjauh darinya.
Sedikit mengangkat kepalanya dan Fany melihat Rachel sedang menonton sambil melelehkan air matanya. Fany menghembuskan nafasnya kasar sambil membaringkan kembali tubuhnya di samping Rachel. Sepertinya kecurigaannya benar kalau Rachel sedang tidak baik-baik saja.
“Apa filmnya sesedih itu?” Fany iseng bertanya. Karena ini adegan romantis maka tidak seharusnya Rachel menangis.
“Iya. Aku sedih ngeliat mereka bermesraan karena aku tahu ujung ceritanya akan seperti apa.” ungkap Rachel yang menyeka air matanya dengan perlahan.
Fany tidak menimpali, ia lebih memilih menaikkan selimut Rachel ke atas dadanya.
“Kalau begitu, tidurlah. Kita ke sini untuk bersenang-senang. Bukan sedih-sedihan seperti ini. Lupakan beberapa saat setiap hal yang bikin kamu sedih.” Ucapnya seraya mengusap kepala Rachel.
__ADS_1
Rachel tidak menimpali. Yang terdengar kemudian hanya hembusan nafasnya yang kasar dan sisa isakan yang entah untuk apa. Fany membiarkannya beberapa saat, mungkin Rachel sedang perlu waktu untuk menenangkan dirinya sendiri, sebelum kemudian ia harus Bersiap dengan pertanyaan Fany besok.
****