
Calvin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan menuju Jakarta. Sesekali ia menoleh ke belakang untuk sekedar mengecek kondisi Rachel. Wanita itu tengah memandangi ponselnya yang sedang membuka aplikasi map.
“Jarak anda saat ini sekitar dua kilo meter hingga sampai di tempat tujuan. Anda akan menempuh perjalanan selama delapan sepuluh menit. Terdapat perlambatan sekitar dua menit dari waktu yang seharusnya. Tempat tujuan anda verada di sebelah kiri.”
Kalimat-kalimat itu yang kemudian terdengar. Sepertinya Rachel sudah tidak sabar untuk segera sampai di kantor manajemen artis dan menjelaskan semuanya pada Adri.
“Nanti kamu pake kursi roda ya Chel. Dan ingat, sesuai janji kamu kalau kamu akan kuat dan bertahan.” Ucap Fany yang duduk di depan bersama Calvin.
“Iya kak.” Hanya itu sahutan Rachel.
Ia berjanji begitu saja padahal sebenarnya ia sudah keringat dingin menahan tubuhnya yang rasanya seperti akan ambruk. Sesekali perutnya terasa sakit tapi hilang lagi setelah Rachel mengatur nafasnya.
“Ada yang sakit?” tanya Alya yang memperhatikan Rachel. Ia melihat titik-titik keringat di dahi Rachel.
“Ng-nggak tante.” Hampir saja ia ketahuan. Ia segera mengusap keringat di dahinya agar tidak semakin banyak.
Mobil Calvin sudah sampai di tempat parkir kantor. Calvin melihat Adri memberi kode agar ia lewat pintu belakang karena wartawan sudah mulai berdatangan. Calvin pun urung parkir di sana dan segera menuju parkir belakang. Hanya ada satu mobil yang terparkir di sana.
“Ayo kita turun. Wartawan udah berdatangan nyari kamu buat wawancara. Pake Jaketku supaya mereka gak mengenali kamu.” Ucap Calvin seraya melepas jaket miliknya.
“Iya kak.” Rachel menurut saja.
Turun dari mobil, Rachel berdiri beberapa saat, menunggu kursi rodanya disiapkan Calvin.
“Heh Rachel!” panggil sebuah suara yang tiba-tiba.
Baru Rachel menoleh, tiba-tiba saja seorang wanita berlari ke arahnya sambil menyiramkan air kotor ke wajah Rachel.
“Astaga!” seru Alya yang ikut kaget.
Tubuh Rachel sampai gemetaran dan basah di siram air kotor oleh seorang wanita yang tidak lain adalah Martha. Wanita itu menyeringai menatap Rachel yang masih terkejut dengan wajah basah dan kotor.
“Kamu lebih pantas seperti ini!” seru Martha dengan mata menyalak. Ia tersenyum puas melihat tampilan Rachel yang berantakan. Sangat jauh berbeda dengan wanita yang menunggunya di dalam mobil sana.
“Apa yang anda lakukan?” Fany memasang badan menghalangi Martha agar tidak mendekat pada Rachel.
“Gak usah ikut campur kamu!” seru Martha seraya melempar gayung yang ia gunakan pada Fany dan mengenai kepala Fany.
__ADS_1
“Lo udah gak waras ya?!” seru Fany tidak terima. ia hampir menyerang Martha kalau Calvin tidak menahannya.
“Kamu yang gak waras, ikut campur masalah keluarga saya. Pergi kamu! Pergi!" teriak Martha.
"Perempuan itu sudah anak saya beli dengan mas kawin mewah, terserah saya mau perlakukan dia seperti apa?!” Martha menunjuk-nunjuk Rachel dengan arogan.
“Beli anda bilang? Anda pikir Rachel ini apa? Dia manusia bu.” Alya tidak tahan untuk tidak berkomentar. Menurutnya sikap Martha sudah kelewatan terhadap Rachel.
“Sok tau kamu! Asal kalian tau, perempuan ini, sejak awal datang ke rumah saya, dia tidak membawa apa-apa. Mia masuk ke keluarga kami, karena tahu kami orang kaya. Suami saya bahkan terlalu baik dengan membayar mas kawin yang mahal hanya untuk seorang wanita dari kalangan rendahan seperti dia. Cih!” martha sampai meludah.
“JENG MARTHA!” suara keras dan bergetar terdengar dari kejauhan.
Rachel segera menoleh saat mengenali benar suara itu. Suara milik Eva yang berjalan menghampirinya sambil menahan amarah.
“Mah,” Rachel segera menghampiri Eva dan melepaskan genggaman tangan Alya. Ia tidak mau Eva dan Martha benar-benar berhadapan.
“Rachel tunggu nak.” Tangan Alya segera menahan Rachel tapi Rachel segera melepaskannya.
“Mah, tunggu mah. Jangan diladeni.” Rachel lebih memilih menghampiri ibunya.
“Ibu kamu tukang masak kan Rachel, masaklah di rumahku. Kalau perlu aku akan menggajinya.” Sindir Martha yang hilang akal. Semua kata-kata kasar keluar begitu saja dari mulutnya.
“Mah, tolong. Terserah kalau mamah mau menghina Rachel, tapi jangan hina mamah saya.” Ucap Rachel dengan sungguh. Rasanya hatinya sakit mendengar ucapana Martha.
“Kamu salah, tidak boleh ada seorangpun yang merendahkan anak mamah seperti ini.” Eva meraih tubuh Rachel dan memeluknya.
Rachel bisa melihat mata ibunya yang menyalak marah dan basah.
“Jeng Martha selalu merendahkan kami karena status ekonomi kami. Tapi secara sikap, anda jauh lebih rendah.” Ucap Eva dengan penuh penekanan.
“Selama ini saya kecolongan, dengan beranggapan kalian memperlakukan Rachel dengan baik di rumah besar itu. Tapi ternyata, perlakuan anda sangat buruk.” Imbuhnya.
“Salah sendiri tidak tahu diri. Masuk ke rumah orang cuma membawa diri. Apa namanya kalau bukan menjual diri pada putraku?”
“Cukup!” seru Eva tidak terima. Bibirnya sampai bergetar dengan air mata yang menetes.
“Saya tidak bisa membayangkan, apa yang sudah anda lakukan selama satu tahun ini terhadap putri saya."
__ADS_1
"Asal jeng Martha tahu, saya yang hanya seorang tukang masak ini membesarkan anak saya dengan penuh kasih sayang seorang diri. Saya yang mendidiknya menjadi wanita yang mandiri tanpa pernah merendahkan orang lain. Dia rela memberikan apapun pada orang yang ia sayangi, termasuk keluarga anda."
“Sekalipun anda membenci putri saya, tidak selayaknya anda menghina putri saya. Suami anda lah yang sampai memohon pada saya untuk menikahkan Rachel dengan dengan putra anda. Padahal dulu, putri saya bisa saja menjadi orang sukses dengan segala kemampuannya yang luar biasa."
"Tapi dia memilih mengabdikan dirinya pada keluarga anda. Mengurus anda dan semua anggota keluarga anda. Tapi apa yang dia dapatkan, anda memperlakukannya dengan semena-mena. Anda menghinanya di depan semua orang, menjatuhkan mental dan harga dirinya."
"Apa itu pantas, hah? Pantas gak?!" teriak Eva dengan mata menyalak dan basah.
Mendengar teriakan Eva, Rachel sampai gemetaran. Kakinya terasa begitu lemas dan tidak bisa menahan bobot tubuhnya. Perutnya pun sangat sakit. Ia bisa membayangkan kemarahan dan kehancuran yang dirasakan Eva di rongga dadanya.
“Kalian memang pandai membuat kaum kami terlihat salah. Anda harusnya tau kalau anak saya tidak menyukai anak anda. Harusnya anak andalah yang tau diri dan pergi dari rumah kami tanpa di minta.” Ucap Martha dengan enteng.
“Mah,” Rachel sudah meringis kesakitan. Ia berpegangan erat pada lengan Eva yang sudah terangkat hendak memukul mullut lancang Martha.
Tapi baru saja Eva menoleh, Rachel sudah terkulai lebih dulu.
“Astaga, Rachel!” seru Eva yang terkejut.
Dengan cepat, Calvin berlari dan menahan tubuh Rachel yang nyaris jatuh ke tanah. Semua orang di buat panik kecuali Martha dan Marsya yang tersenyum puas melihat kondisi Rachel yang jatuh pingsan. Ruby bahkan segera berlari setelah berhasil memarkir motornya yang terhalangi oleh wartawan. Ia melempar begitu saja helm yang dikenakannya.
Langkah Calvin yang panjang dan cepat, membawa Rachel masuk ke dalam kantor manajemen artis. Ardi segera menarik sofa besar agar bisa dijadikan tempat berbaring Rachel.
“Adek, nak, bangun sayang. Nak, ini mamah nak.” Dengan gemetar Eva memanggil-manggil Rachel tapi Rachel tidak bergeming.
“Telpon ambulance, segera telpon ambulance.” Ucap Ruby yang panik.
Tanpa menunggu lama Fany pun segera menelpon ambulance. Perhatiannya tidak lepas dari Rachel yang belum sadarkan diri.
“Nak, bangun nak. Maafin mamah sayang….” Pertahanan Eva akhirnya rubuh. Ia tidak kuasa menahan tangisnya melihat putrinya yang tidak sadarkan diri. Ia mengecupi tangan Rachel yang dingin seperti es.
Rasanya tidak salah saat ia memaksa Ruby untuk mengantarnya agar menemui Rachel langsung di kantor ini. Jika ia terlambat, entah apa yang akan terjadi pada putrinya. Sungguh, ia tidak bisa membayangkannya.
Sikap Martha yang ia lihat di video ternyata jauh lebih kasar aslinya. Wanita itu dengan mudah melenggang pergi dari kantor ini dengan sedan mewah milik Marsya.
“Lo catet tuh bang, perempuan brengsek itu lo keluarin ada dari manajemen ini.” Titah Fany seraya menunjuk mobil Marsya yang keluar dari tempat parkir.
****
__ADS_1