Menjadi Dia

Menjadi Dia
Kosong


__ADS_3

Kosong, perasaan itu yang dirasakan Ivana saat ini. Saat membuka pintu rumahnya, hanya ada ruangan dingin dan pewangi ruangan otomatis yang menyemprotkan pewangi ruangan setiap setengah jam sekali.


Rumah mewah itu terasa benar-benar kosong dan sepi. Seperti tidak ada kehidupan sama sekali. Hanya suara detikan jam yang masih setia memberikan hingar di ruangan hampa ini.


Ivana duduk di salah satu sofa, memandangi foto keluarga Wijaksono yang terpajang megah di salah satu sudut. Beberapa orang di foto itu sudah pergi dari rumah ini dengan ceranya masing-masing.


Bary, orang pertama yang meninggalkan rumah ini karena meninggal dunia. Lalu Rachel, yang keluar dari rumah ini karena tidak pernah dihargai oleh Nata dan ibunya. Lalu sekarang, Martha sedang berada dalam kondisi kritis. Entah wanita itu akan kembali ke rumah ini atau tidak.


Jika kemudian Martha tidak kembali, maka hanya ada ia, Nata dan Brandon serta para pelayan saja yang akan mengisi rumah ini. Rumah yang mereka buat sebagai tempat berbagi kehangatan, kelak hanya akan menjadi tempat singgah melepas lelah dan berlindung dari panas dan hujan. Tidak ada kehangatan di rumah ini, apalagi tawa canda riang dan gembira yang kelak akan di dengar Ivana. Semuanya hanya hening semata.


Membayangkan semua itu, Ivana hanya bisa menyandarkan tubuhnya dengan lemah. Ia menelan salivanya kasar-kasar, mencoba menerima kenyataan yang memang harus ia terima walau terasa pahit. Tenggorokannya terasa kering dan terhalangi oleh tangis yang harus ia tahan demi terlihat kuat.


Wajahnya sudah sembab dengan mata merah dan berair. Harusnya ia sudah bisa menunjukkan ketenangannya karena ada seseorang yang tidak berhak melihat kesedihannya. Ia lebih butuh penghiburan daripada Ivana sendiri.


“Tuk tuk tuk!” suara langkah kaki ringan terdengar mendekat pada Ivana.


Ivana yang semula memejamkan matanyapun mulai membuka matanya lebar-lebar. Ia menegakkan tubuhnya seraya merentangkan tangan saat melihat kedatangan Brandon dengan sang pengasuh.


“Anak mami ... sini nak.” sambutnya sambil berusaha tersenyum.


Anak polos itu masih berlari menghampiri Ivana. Ivana segera memeluk Brandon saat sang putra sudah ada dihadapannya.

__ADS_1


“Hey, gimana kabar anak mami hari ini?” tanya Ivana sambil mengecupi kepala Brandon. Bau asam keringat Brandon seolah memberi kesegaran tersendiri bagi Ivana.


Brandon tidak menjawab, ia hanya menunjukkan gelang di tangannya pada Ivana.


“Wah, bendera negara mana ini? Biar mami lihat, Spanyol ya nak?” terka Ivana.


Brandonpun mengangguk senang. Ia juga menunjukkan kakinya yang terbungkus sepatu sepak bola.


“Wah, anak mami mau jadi Sergio Ramos apa David Silva nih?” tanya Ivana, pada dua pemain spanyol yang ia tahu.


“Kalau dari rambutnya sih malah mirip sama Cristiano Ronaldo. Keren!” Ivana menangkup kedua sisi wajah Brandon, mengacak rambutnya dengan gemas lalu mengecup dahinya.


“Apa Brandon kangen sama oma Martha dan mami Acen?” tanya Ivana.


“Mami Acen.” Jawab anak kecil itu sambil tertunduk.


Ivana tersenyum kecil. “Iya, mami juga kangen sama mami Acen. Tapi sekarang mami Acennya lagi sakit. Ada adik bayi di perut mami Acen. Brandon akan segera menjadi abang. Nanti Brandon bantu jaga adik bayinya yaa… Brandon juga harus sayang sama Baby mami Acen, karena mami Acen juga sayang sama Brandon.” Urai Ivana sambil mengusap pipi Brandon.


Brandon menghentak-hentakan kakinya sambil bergumam lirih, “Baby … mami Acen, baby….” Gumamnya, berulang beberapa kali.


Ivana kembali tersenyum haru, sepertinya Brandon sangat senang. Putranya paham apa yang sedang ia jelaskan.

__ADS_1


“Tapi Brandon, selain mamih memiliki kabar baik kalau Brandon akan punya adik, mami juga punya kabar buruk.” Ivana menjeda kalimatnya sambil merapikan kembali rambut Brandon. Ia menunjukkan ekspresi sedihnya dengan manja.


“Oma Martha sedang sakit. Brandon do’ain oma ya.” Pinta Ivana dengan suara bergetar menahan tangis.


Brandon tidak menjawab, anak kecil itu hanya termenung tanpa ekspresi. Dengan jelas ia menunjukkan sikapnya yang tidak terlalu senang mendengar kabar dari ibunya. Atau tidak senang karena Ivana menyebut nama Martha yang kerap membuatnya trauma.


“Brandon, tidak perlu memikirkan banyak hal, itu bukan bagian Brandon. Cukup bermain dengan riang dan tertawalah di hadapan mami, itu akan sangat membantu mami.” Pinta Ivana dengan sungguh.


Ivana kembali memeluk Brandon dengan erat, namun hanya beberapa saat karena Brandon berusaha melepaskan dirinya sendiri. Akhirnya, Ivana kembali sendirian dalam tangis yang coba di tahannya. Ia bahkan tidak punya teman untuk berbagi.


Meninggalkan ruang tamu yang sepi, Ivana pergi ke kamar Martha. Satu hal yang memang jarang ia lakukan. Kamar dengan suasana yang elegan ini terasa begitu dingin. Di ruangan ini AC memang tidak pernah dimatikan karena Martha tidak kuat gerah.


Ivana duduk di tepian tempat tidur, sambil mengusap permukaan kasur yang ikut dingin. Dulu, saat ia kecil, ia sangat suka tidur di sini bersama Martha. Ia dan Nata akan berrebut siapa yang akan di peluk Martha. Ia dan Nata juga akan mendengar dongeng yang seru dan beragam dari mulut Martha, karena mereka menyukai dongeng yang berbeda. Sementara tangan wanita itu dengan lembut membelai kepala ia dan Nata, membuat keduanya merasa sangat disayangi.


Kebiasaan berebut itu baru hilang saat mereka SMP. Dimana Bary memaksa mereka untuk tidur di kamar masing-masing. Tidak ada alasan takut yang bisa diterima Bary. Sejak saat itu, ia dan Nata tumbuh menjadi anak yang mandiri, tidak bergantung pada Martha ataupun Bary. Terkadang ia rindu dengan masa bermanja pada Martha. Sayangnya masa itu sudah lewat.


Kalau mengingat hal itu, Ivana jadi sedih sendiri. Ia tersenyum kecil melihat sekitaran kamar yang rapi, karena ibunya memang tidak suka sesuatu yang berantakan. Setiap sudut kamar ini, akan selalu menyimpan kenangan untuk Ivana sampai kapanpun.


"Mah, apa mamah akan kembali ke kamar ini?" batin Ivana seraya tertunduk lesu, menopang kepalanya dengan tangan yang lemah.


****

__ADS_1


__ADS_2