Menjadi Dia

Menjadi Dia
Pengusiran


__ADS_3

Di ruang kerjanya saat ini Nata berada. Ia tengah memandangi buku catatan Rachel yang tertinggal di kamarnya. Entah sudah berapa ratus kali ia membaca buku ini setiap harinya. Ia sampai hapal, setiap lembaran buku ini menuliskan tentang apa.


Harus Nata akui kalau membaca buku ini sedikit bisa mengobati rasa rindunya pada Rachel. Ia membayangkan kalau Rachel sedang berceloteh dihadapannya dengan kalimat-kalimat Ajaib yang terkadang membuatnya tersenyum ketir.


Tapi kali ini, bukan senyuman yang tergambar di wajah Nata. Melainkan guratan kesedihan dan penuh penyesalan yang mengisi rongga dadanya juga sekujur tubuhnya.


Lagi, ia terpaku saat membaca beberapa paragraph kalimat yang dituliskan Rachel dan terasa menyentilnya.


“Hari ini, adalah ulang tahun pernikahan kami yang pertama. Aku membuatkan semua makanan lezat yang mas Nata sukai. Aku juga memberinya kejutan dengan merias kamarku dengan banyak origami yang aku bentuk hati. Tapi, seperti biasa, mas Nata bahkan tidak tersenyum.”


“Dia hanya merangkulku lalu melepas resleting bajuku. Menyentuh bagian tubuhku dengan sensual hingga rongga perut bawahku terasa bergetar. Hidungnya menelusur garis wajahku, bermuara di telingaku dan aku mendengar nafasnya yang menderu.”


“Aku pikir, dia akan mengatakan kalimat cinta untukku. Aku sudah sangat menunggunya selama satu tahun ini. Tapi yang ada, aku hanya mendapat gigitan lembut di telingaku yang membuatku bergairah dan terengah tidak tertahan.”


“Entah kapan aku bisa mendengar suamiku berkata kalau dia mencintaiku. Kapan aku bisa dengar kata I love you yang bahkan begitu ringan diucapkan oleh anak SMP jaman sekarang?”


“Apa aku terlalu naif kalau mengharapkan setiap perasaan cinta itu diawali dengan kata-kata yang manis?”


“Rachel, I love you. Sekali saja aku ingin mendengarnya.” Tulis Rachel dengan gambar wajah seorang wanita yang tengah menitikkan air matanya di sudut halaman buku.


Dan melihat tulisan ini, dada Nata terasa sesak. Ia menangis sesegukan membayangkan perasaan Rachel saat itu. Jika kalian bertanya apa yang Nata lakukan setelah kepergian Rachel, maka inilah jawabannya.


Dia akan berada di ruang kerjanya semalaman sambil memeluk buku catatan Rachel. Ia tidak pernah berani berlama-lama berada di kamarnya, karena bayangan Rachel selalu terlihat disetiap sudut kamarnya. Hanya ruangan ini saja yang terasa netral dan tidak memberikan kenangan apa-apa antara ia dengan Rachel.


Ia bahkan jarang memejamkan matanya hingga lingkar matanya menghitam. Setiap kali ia menutup mata maka bayangan wajah Rachel yang kemudian muncul di pelupuk matanya yang tengah memohon jawabannya.


“Aku mencintaimu Rachel, aku sungguh mencintaimu.” Kali ini bibirnya begitu lugas mengatakan kalimat itu sambil tersendat-sendat. Ia sangat meyakini kalau selama ini, ia mencintai Rachel dan entah sejak kapan.


Sayangnya, saat ini Rachel sudah tidak memerlukan kalimat itu.


“Krieeett ….” Deritan pintu ruang kerjanya membuat Nata waspada. Ia segera mengusap air matanya khawatir Martha yang masuk ke ruangannya.


“Permisi mas, apa aku mengganggu?” ucap sebuah suara yang tidak lain adalah milik Marsya.


“Ehm! Ada apa?” tanya Nata yang masih berusaha menteralisir perasaan dan suaranya.


“Em ini, aku udah buatin mas, teh. Mungkin mas memerlukannya.”


Marsya tersenyum manis sambil membawakan secangkir teh di atas baki untuk Nata. Nata menaruh buku catatan Rachel di laci meja kerjanya bersamaan dengan buku catatannya. Sekilas ia melirik Marsya yang mengenakan gaun tidur berwarna merah maroon, warna favoritnya.

__ADS_1


Tapi entah mengapa, gaun tidur itu tampak tidak lagi menarik untuk Nata.


“Kamu gak salah, pake baju seperti itu dan masuk ke ruangan saya?” tanya Nata yang menatap Marsya dengan tajam.Ekspresi wajahnya yang datar membuat Marsya harus menebaknya dan makin penasaran.


“Em, apa terlihat tidak cocok? Apa aku perlu melepasnya?” Marsya menurunkan satu tali gaun tidurnya membuat leher dan sebelah bahunya terekspose dengan jelas.


Nata tersenyum kecil lalu terkekeh. “Cocok, ini sangat cocok. Hahahaha….” Ucapnya sambil tertawa.


“Benarkah?”


Marsya semakin semangat dan mendekat. Senyumnya terlihat jelas. Rupanya benar yang dikatakan Brams kalau Nata sangat suka melihat wanita memakai gaun tidur berwarna merah maroon. Terlebih Marsya berdandan mirip Aruni seperti yang ada di foto yang pernah ditunjukkan Brams.


“Hahahahaha … iyaa….” Sahut Nata yang tidak berhenti tertawa.


Merasa mendapat kesempatan, Marsya mendekat pada Nata. Ia berdiri bersandar pada meja kerja Nata seraya menyilangkan tangannya di depan dada, persis dihadapan Nata. Ia sengaja sedikit menurunkan gaunnya agar Nata bisa melihat belahan dadanya yang indah.


“Aku tidak keberatan untuk membantu mas jika mas memerlukan sesuatu.” Suaranya terdengar serak mengundang gairah.


“Benarkah? Bantuan apa yang bisa kamu berikan?” Nata terlihat antusias.


Marsya tidak lantas menjawab. Ia mengambil tangan Nata lalu mentautkan jemari mereka dengan berani. “Apapun, termasuk tubuhku.” Ucapnya. Ia sengaja mencondongkan tubuhnya dan setengah berbisik di telinga Nata.


“Tentu saja. Apa sih yang nggak bisa aku kasih buat mas?”


“Mau main dimana? Di sini, atau di kamar mas, atau mungkin di kamarku?” Marsya mengedipkan matanya kanannya dengan menggoda. Ia juga sengaja mengigit bibirnya yang tipis agar terlihat sensual.


“Di sini sepertinya akan lebih menyenangkan.” Nata beranjak dari tempatnya dan berdiri berhadapan dengan Marsya.


“Akh aku sangat suka tantangan. Mas membuat tubuhku lemas, gemetar.” Ucap Marsya seraya melingkarkan tangannya di tubuh Nata. Ia menempatkan kepalanya di dada Nata yang berdebar dengan konstan.


Ia tersenyum bahagia, karena pada akhirnya Nata benar-benar akan menyentuhnya. Setelah ini tentu ia bisa mengatakan kalau bayi yang ada dikandungannya saat ini adalah bayi Nata, bukan bayi narapidana yang masih menjalani masa hukumannya dengan waktu yang lama.


Indah bukan?


Tanpa terasa, ada sesuatu yang hangat yang menetes di atas kepalanya. Semakin lama semakin deras saja dan membasahi wajahnya.


“Mas, apa yang mas lakukan?” ia langsung melepaskan pelukannya dari Nata. sekujur tubuhnya sudah basah oleh air teh yang disiramkan Nata di atas kepalanya.


Nata tersenyum kecil lalu terkekeh.

__ADS_1


“Hahahaha … lihat, kamu basah seperti seekor tikus yang baru keluar dari selokan. Menjijikan. Pergilah untuk mandi.” Ucap Nata dengan ekspresi mengejek.


“Mas! Kenapa kamu tega melakukan ini? Ini sama aja dengan mas menghinaku!” seru marsya tidak terima.


“Menghina kamu bilang? Aku menghinamu? Hahahaha….” Nata malah tertawa terbahak-bahak.


“Bukannya kamu yang menawarkan tubuhmu padaku? Siapa yang menghinakan siapa sebenarnya? Pikir itu!” dengus Nata seraya menunjuk pelipis Marsya dengan tegas, menyuruh wanita itu berpikir. Senyuman di wajah Nata menghilang berganti tatapan dingin nan sinis pada Marsya.


Marsya mengerang kesal, dengan tangan mengepal penuh amarah. Ia pikir, Nata benar-benar menginginkan dirinya tertanya ini hanya usaha Nata untuk merendahkannya. Laki-laki ini berhasil memukul mental Marsya dengan telak.


“Kamu pikir, saya akan tergoda melihat wajah kamu yang sengaja di rias mirip Aruni? Apa kamu juga berpikir saya akan meniduri kamu karena kamu mengenakan pakaian yang sama dengan Aruni?”


“Kamu salah, pikiran saya sudah bukan tentang Aruni. Saya tidak tertarik sama sekali sama kamu dan semua hal yang kamu lakukan. Tidak ada gairah sedikitpun dalam hati saya sekalipun kamu bertelan.jang di depan saya. Kamu menjijikan Marsya, sama dengan kakak sepupu kamu.”


“Pergi dari sini atau saya akan menyeret kamu keluar dari sini!” ancam Nata dengan telunjuk menunjuk tegas pintu keluar.


“BRENGSEK! KAMU AKAN MENYESAL NATA! KAMU GAK AKAN PERNAH BERTEMU DENGAN RACHEL SELAMANYA!” seru Marsya dengan terengah-engah karena emosinya yang menggebu-gebu. Ia merasa kalau Nata sangat merendahkannya.


Seketika, tiba-tiba Nata mencengkram dagu Marsya dengan keras.


“Jangan pernah berani mengancam saya apalagi membaca Rachel dalam ancaman kamu. Saya tidak segan bertindak kasar pada seorang wanita yang berniat menyakiti Rachel. Saya juga tidak segan memasukkan kamu ke penjara seperti yang saya lakukan pada Brams. Dan ancaman kamu ini, sudah saya rekam dan akan saya laporkan ke polisi jika kamu menyentuh sedikit saja bagian tubuh Rachel.”


“Paham?!” seru Nata seraya mengibaskan tangannya.


Matanya membola merah dan penuh kemarahan. Entah mengapa ia jadi begitu menggila setiap kali membayangkan ada orang yang akan mengusik istrinya.


Tubuh Marsya yang dikibaskan Nata sampai terdorong mundur ke belakang. Wanita itu hanya bisa mengeram kesal karena sepertinya ancaman Nata tidak main-main. Ia sudah salah menduga dengan beranggapan bisa mempermainkan perasaan dan mental Nata seperti sebelumnya tapi nyatanya, kali ini Marsya lah yang dibuat kalah telak.


****


Hay hay hay readerku sekalian...


Selamat hati raya idul fitri untuk semua yang merayakan. Mohon maaf lahir dan batin yaa...


Selamat berkumpul dan berbagi kasih sayang dengan orang-orang tercinta.


Sehat selalu readerku tersayang...


Love,

__ADS_1


__ADS_2