
Rindy terbangun dengan perut yang terasa lapar dan badan yang terasa remuk redam. Seharian berkeliling di sekitar area kebun teh, dan setelah pulang malah diserang oleh Rio habis-habisan. Karena itu, Rindy pun kelelahan, dam tertidur sampai pagi ini, hingga melewatkan makan malam.
Ditatapnya wajah Anand yang masih memeluknya erat, wajah yang tampan dan terlihat damai saat terlelap.Sebenci apapun Rindy pada Anand, dia tidak bisa merubah kenyataan bahwa pria itu adalah suaminya. Orang yang telah membakar restoran kedua orang tuanya, orang yang telah membuat Rio meninggal dan sekaligus orang yang telah membantu orang tuanya dan menyelamatkan kakaknya.
"Kenapa menatap ku seperti itu? Kamu sangat mengagumi ketampanan ku, ya?" tanya Rio yang tiba-tiba membuka matanya, membuat Rindy tersadar dari lamunannya.
"A...aku .. ingin membersihkan diri,"ucap Rindy seraya memalingkan wajahnya, gelagapan karena kepergok menatap Anand.
"Kita mandi bersama,"ucap Rio dengan suara bariton yang terdengar serak karena baru bangun dari tidur.
"Tidak! Aku tidak mau!"tegas Rindy yang spontan menolak. Masih teringat jelas di otaknya, saat kemarin Anand memaksanya mandi bersama. Kenyataannya bukan cuma mandi yang mereka lakukan, tapi mandi plus bercinta yang membuat Rindy kelelahan dengan tubuh yang terasa remuk redam.
Bahkan sekarang dia sangat lapar karena kemarin melewatkan makan malam. Rindu tertidur dari malam sampai pagi ini karena kelelahan, dan semua itu karena pria di depannya itu.
"Aku hanya mengajakmu mandi bersama. Kenapa kamu ketakutan seperti itu?"tanya Rio yang merasa gemas dengan reaksi Rindy yang nampak ketakutan saat Rio mengatakan ingin mandi bersama.
"Karena di kamar mandi, kamu bukan sekedar mandi,"ketus Rindy dengan wajah bersungut-sungut.
"Jangan pasang wajah seperti itu! Kamu terlihat gemesin jika seperti itu. Membuat aku ingin memakan mu lagi,"ucap Rio yang memang merasa gemas jika melihat Rindy bersungut-sungut seperti saat ini.
"Lepas!"ucap Rindy seraya mendorong dada Anand untuk melepaskan pelukan pria itu.
"Kruk..kruk..kruk..."suara perut Rindy yang sedang demonstrasi minta di isi pun terdengar, membuat wajah Rindy memerah karena malu.
Rio terkejut mendengar suara perut Rindy yang terdengar lapar. Rio baru ingat jika kemarin mereka telah melewatkan malam.
"Jangan khawatir! Kali ini kita hanya akan mandi bersama. Tidak akan melakukan yang lain. Maaf telah membuatmu melewatkan makan malam hingga kamu jadi kelaparan seperti ini,"ucap Rio yang langsung menggendong Rindy ke kamar mandi.
Kali ini mereka benar-benar hanya membersihkan diri. Setelah selesai membersihkan diri, mereka pun langsung menuju ke ruang makan untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan dari tadi, meminta hak untuk di isi.
Siang itu, Rio, Rindy dan Darlen kembali ke kota. Malamnya, semua anggota keluarga pun makan bersama.
__ADS_1
"Sayang, makan yang banyak!"ucap Rio di seraya meletakkan lauk di atas piring Rindy.
"Uhuk.. uhuk.. uhuk..."Silvy langsung tersedak saat mendengar Anand memanggil Rindy dengan panggilan 'sayang'.
Bahkan Ringgo dan Pramana juga terkejut saat mendengar Anand memanggil Rindy dengan panggilan 'sayang'. Pasalnya selama ini mereka melihat hubungan Anand dan Rindy nampak tidak baik. Mereka tidak tahu mengapa Anand menikahi Rindy, karena sejak awal menikah, hubungan keduanya nampak tidak baik-baik saja.
Ronggo menyodorkan segelas air putih untuk mamanya. Sedangkan Rindy sendiri juga terkejut saat Anand memanggil nya 'sayang' . Sedangkan Anand nampak acuh dengan reaksi semua orang.
"𝘼𝙙𝙖 𝙖𝙥𝙖 𝙞𝙣𝙞? 𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙩𝙞𝙗𝙖-𝙩𝙞𝙗𝙖 𝘼𝙣𝙖𝙣𝙙 𝙢𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙜𝙞𝙡 𝙍𝙞𝙣𝙙𝙮 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙗𝙪𝙩𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙮𝙖𝙣𝙜?"batin Ringgo menatap sepasang suami istri yang duduk di depannya itu.
Anand yang tidak lain adalah Rio, mendekati Rindy, kemudian berbisik di telinga istrinya itu,"Makan yang banyak, atau kamu akan kehabisan tenaga sebelum aku puas,"bisik Anand yang kini malah membuat Rindy yang sedang mengunyah makanannya tersedak dan menjadi pusat perhatian Pramana, Silvy dan Ringgo.
"Pelan-pelan, sayang,"ucap Anand seraya menyodorkan segelas air putih pada Rindy.
"𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙡𝙖𝙢𝙖, 𝙙𝙞𝙖 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙢𝙚𝙨𝙪𝙢?"gumam Rindy dalam hati.
"𝘼𝙥𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙡𝙞𝙗𝙪𝙧𝙖𝙣? 𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙨𝙞𝙠𝙖𝙥 𝘼𝙣𝙖𝙣𝙙 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙍𝙞𝙣𝙙𝙮 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙗𝙚𝙧𝙪𝙗𝙖𝙝 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙞𝙩𝙪? 𝘿𝙞𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙨𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙥𝙚𝙧𝙝𝙖𝙩𝙞𝙖𝙣 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙍𝙞𝙣𝙙𝙮. 𝘽𝙖𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙖 𝙣𝙖𝙢𝙥𝙖𝙠 𝙗𝙖𝙝𝙖𝙜𝙞𝙖 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙣𝙖𝙩𝙖𝙥 𝙍𝙞𝙣𝙙𝙮. 𝘼𝙣𝙖𝙣𝙙 𝙢𝙚𝙣𝙖𝙩𝙖𝙥 𝙍𝙞𝙣𝙙𝙮 𝙥𝙚𝙣𝙪𝙝 𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖,"gumam Silvy yang merasa aneh dengan perubahan Anand.
"Kak, kenapa kakak membawa Darlen pulang?"tanya Ringgo setelah makan malam usai.
"Aku ingin memperkerjakan dia kembali,"sahut Anand santai.
"Sebaiknya kakak tidak memperkerjakan dia kembali. Dia itu pernah dipenjara, kak,"ucap Ringgo menatap Anand yang terlihat santai.
"Memangnya kenapa jika dia mantan narapidana? Mantan narapidana juga butuh pekerjaan untuk menyambung hidup, 'kan? Lagi pula, dari mana kamu tahu kalau Darlen pernah dipenjara?"tanya Rio menatap Ringgo penuh selidik.
"Aku mendengar nya dari salah seorang kawan ku,"sahut Ringgo nampak menyembunyikan keterkejutannya karena pertanyaaan Anand.
"Sayang, banyak orang diluar sana yang mencari pekerjaan dengan latar belakang yang baik, tanpa ada catatan kriminal. Kenapa kamu harus menerima seorang mantan narapidana untuk kamu pekerjakan?"tanya Silvy yang nampak keberatan dengan keputusan Anand menerima Darlen bekerja, bahkan Anand mengijinkan Darlen tinggal di rumah mereka.
"Darlen masuk penjara bukan karena kesalahannya, dia di jebak orang,"sahut Anand yang tahu, kenapa Silvy dan Ringgo tidak suka dengan keberadaan Darlen. Darlen adalah orang yang sangat setia pada Anand dan selalu melindungi Anand.
__ADS_1
"Sayang, pikirkanlah lagi. Masih banyak orang diluar sana yang bisa bekerja padamu. Jika dia dipenjara karena dijebak orang, bukankah itu berarti dia tidak bisa menjaga dirinya? Ada kemungkinan suatu hari nanti dia akan dijebak orang lagi. Mama tidak mau nanti kamu terseret dalam kasus nya,"bujuk Silvy yang berusaha mempengaruhi Anand.
"Iya, kak. Mama benar,"imbuh Ringgo.
"Terserah kalian menilai dia bagaimana. Tapi aku akan tetap mempekerjakan Darlen,"ucap Anand keukeh dengan pendiriannya.
"Memangnya Darlen mau kamu pekerjakan sebagai apa?"tanya Pramana yang sedari tadi diam.
"Asisten pribadi ku, sekaligus supir pribadi ku,"jawab Anand, sedangkan Rindy hanya diam dan menjadi pendengar setia.
"Kalau bisa, carilah orang lain saja!"pinta Pramana.
"Tidak, aku tidak akan memilih orang lain. Setuju atau tidak setuju kalian dengan keputusanku ini, aku akan tetap mempekerjakan Darlen,"sahut Anand kemudian menatap ke arah papanya. "Bagaimana dengan posisi yang aku pinta kemarin? Apa papa sudah mempersiapkan nya? Jika tidak, aku akan segera menarik sahamku dari Barata grup,"ucap Anand mengalihkan pembicaraan.
"Anand, jangan keras kepala! Pikirkan lah lagi! Perusahaan kita ini bukan perusahaan kecil. Banyak orang yang menggantungkan nasib mereka pada Barata grup. Kalau perusahaan kita gulung tikar, akan banyak orang yang akan kehilangan mata pencaharian,"ujar Pramana yang khawatir pada perusahaan nya, jika Anand yang memimpinnya.
"Aku tidak perlu mengulangi kata-kata ku lagi. Besok aku akan datang ke Barata grup. Jika papa tidak menyerahkan posisi itu padaku. maka besok aku akan menarik seluruh saham ku,"ucap Anand tegas dan tenang, kemudian langsung meninggalkan ruangan makan itu seraya menarik tangan Rindy agar ikut bersamanya.
...🌟"Senja hanya datang untuk sesaat, namun selalu kembali pada waktu yang sama dan tepat....
...Senja datang saat hari akan berakhir, mengajarkan kita, bahwa semua akan indah pada waktunya."🌟...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
.
.To be continued
__ADS_1