
Nata benar-benar mengikuti keinginan Ivana untuk mengakhiri kerjasama sepihak yang baru akan mereka mulai dengan Marsya. Wanita cantik dengan balutan pakaian berwarna putih dan terbuka itu, tampak biasa saja walau tidak bisa menyembunyikan raut wajah terkejutnya.
Ia memang sudah mengira kalau masalah Ivana dengan Brams akan mempengaruhi hubungan profesionalisme mereka walau tidak menduga kalau akan berujung dengan pengakhiran kerjasama.
“Kami bisa mengajukan denda karena pemutusan kontrak sepihak seperti ini, tuan Nata.” Ancam manager Marsya dengan tegas.
“Silakan. Kami sudah mempertimbangkan hal itu. Pengacara kami akan mengurusnya.” Nata menoleh sang pengacara yang duduk di sampingnya.
“Kami bisa mengajukan denda kerugian lebih dari yang ada di kontrak. Apa anda sudah memikirkan resiko itu?” desaknya lagi.
“Silakan tuan. Tapi gugatan anda tentu memiliki batasan. Sebesar apapun anda menggugat, tidak bisa melebihi nilai yang ada di kontrak. Karena, kita belum memulai pekerjaan ini dan tidak ada hal yang dirugikan dari artist anda.” Timpal sang pengacara dengan yakin.
Manager Marsyapun menatap Nata tidak mengerti. Padahal mereka saling mengenal baik saat SMA tapi kerjasama mereka malah berakhir seperti ini.
“Udahlah, gak usah di perpanjang. Terlepas dari masalah kontrak ini, aku paham kok alasannya.” Marsya mencoba menenangkan managernya.
Sedari tadi ia terus memikirkan apa yang bisa ia lakukan untuk tetap memaksa masuk ke hidup Nata. Sepertinya ia harus menemui Brams lagi untuk mendapat masukan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
“Tapi ini merugikan kita Sya.” Ujar sang manager.
“Saya juga gak nyangka seorang Nata Wijaksono bisa melakukan hal seperti ini pada rekanannya.” Ia menatap Nata dengan sinis.
Nata tidak menimpali. Sejujurnya ia tidak nyaman dengan masalah seperti ini namun tidak ada hal yang bisa ia lakukan selain mengikuti keinginan Ivana.
“Saya mohon maaf atas ketidaknyamanannya.” Hanya itu yang kemudian diucapkan oleh Nata. Ia tidak berharap kalau hubungannya dengan kawan lamanya akan baik-baik saja setelah kejadian ini.
“Udah, kita pulang!” ajak manager Marsya dengan tegas.
“Mas bentar,” tahan Marsya.
Tapi laki-laki itu malah menarik tangan Marsya hingga kemudian, “BRUK!”
Marsya menabrak seorang pelayan yang sedang membawa minuman di bakinya. Minuman anggur merahpun menyiram pakaian Marsya yang tipis dan berwarna putih.
“Astaga! Kamu bodoh ya?!” seru Marsya tidak terima.
__ADS_1
Matanya sampai melotot pada pelayanan yang membuat baju bermerek terkenal itu basah berwarna merah di bagian perutnya.
Nata yang melihat kejadian itu, terhenyak kaget. Cepat-cepat ia memalingkan wajahnya.
“Ambil ini.” Nata memberikan serbet pada Marsya tanpa menunjukkan wajahnya.
Marsya menatap Nata sesaat sebelum kemudian mengambil kasar serbet itu dari tangan Nata.
“Mas sih pake narik-narik segala!” gerutu Marsya yang kesal pada managernya.
“Ya mana aku tau kalau ada pelayan yang nyamperin. Pake bawa minuman begitu segala.” Manager Marsya ikut kesal dan mengelapi bagian perut dan paha Marsya.
“Mohon maaf nyonya. Kami akan membersihkan baju nyonya, silakan ikuti kami.” Ucap pelayan itu penuh sesal.
“Dibersihin apanya, ini tuh baju mahal. Nyucinya juga gak bisa sembarangan.” Cerca Marsya tidak terima.
“Mohon maaf nyonya.” Lagi pelayan itu hanya bisa meminta maaf.
Tidak lama seorang manager resto menghampiri. “Nyonya, silakan sebelah sini, kami bantu membersihkan bajunya.” Pinta wanita itu.
“Saya permisi.” Marsyapun ikut pergi mengekor managernya.
Nata hanya mengangguk tanpa menoleh Marsya.
Sepeninggal Marsya dan managernya, Nata segera meneguk air mineral di gelas hingga tandas. Ia juga melonggarkan dasinya yang terasa begitu mencekik. Melihat noda merah di baju Marsya, membuat nafasnya terasa sesak.
“Anda baik-baik saja tuan?” tanya kuasa hukum Nata saat melihat kliennya yang pucat hingga berkeringat dingin. Padahal sebelumnya Nata baik-baik saja.
“Iya, saya baik-baik saja.” Dengan sapu tangannya ia mengusap keringat yang memenuhi dahi dan lehernya.
“Kita pulang sekarang.” Imbuhnya setelah merasa lebih baik.
“Baik tuan, mari.” Pengacara itu memberi Nata jalan.
****
__ADS_1
Tiba di kantor, Nata berjalan cepat ke ruangannya. Ada Ivana yang sudah menunggu kabar baik dari adiknya.
“Gimana rapatnya?” tanya Ivana, ia menjeda langkah Nata menuju ruangannya.
Nata tidak menjawab apalagi berhenti. Ia tetap meneruskan langkahnya tanpa memperdulikan Ivana.
“Dih, tuh anak kenapa sih?” decik Ivana yang mendelik kesal.
Nata tidak ambil pusing. Ia segera masuk ke ruangannya dan menuju meja kerjanya. Ia membuka laci meja kerja dan mencari sesuatu.
“Akh sial, dimana obatnya?!” dengus Nata.
Ia mencari obat antidepresan dan obat serangan panik yang biasa ia konsumsi. Di dalam laci ia mencari dengan tergesa-gesa tapi malah membuat jarinya tertusuk benda tajam.
“Akh sial!” dengusnya saat ujung jarinya sedikit berdarah.
Nata semakin panik dan tubuhnya berkeringat dingin dengan badan gemetar. Ia mengambil tissue dan melap darah di ujung jarinya tanpa berani ia lihat. Lantas ia mencari obat di dalam tas kerjanya.
Bingo, ia mendapatkannya.
Cepat-cepat Nata meminum obatnya dengan sekali tegukan. Setelah itu ia menenangkan dirinya di sofa, menengadahkan kepalanya menatap langit-langit ruangannya.
Sesekali ia memejamkan matanya dan menekan sudut mata dan batang hidungnya untuk mengusir rasa panik yang tiba-tiba menyerangnya.
“Tenang Nata, tenang….” Nata berusaha menghipnotis dirinya sendiri.
Ia memang selalu panik setiap kali melihat noda merah yang menyerupai darah. Ingatannya membawa ia pada kejadian beberapa tahun lalu saat kedua tangannya bersimbah darah seseorang.
“Nggak! Jangan di ingat-ingat Nata. Jangan diingat-ingat!” gumamnya yang kembali berdiri.
Ia berjalan mondar mandir di ruang kerjanya demi mengusir pikiran yang muncul begitu saja dibenaknya.
“Sial, harusnya aku tidak bertemu wanita itu!” dengusnya. Sekali lalu ia meneguk minumnya dengan tergesa-gesa hingga tandas. Ia berharap, beberapa gelas air bisa menghilangkan kepanikannya.
****
__ADS_1