
Di Barata grup.
Beberapa orang sudah d keluar dari sebuah meeting room. Tinggal Anand, Nadine dan seorang klien yang berada di sana.
"Saya pikir, meeting nya tidak bisa dimajukan. Saya telepon berulang kali tapi tidak anda angkat oleh Pak Anand,"ucap pria paruh baya, klien Anand yang baru saja selesai meeting dengan Anand.
"Maaf, Tuan, handphone saya tertinggal di rumah. Saya sudah menyuruh seseorang untuk mengambilnya,"sahut Anand yang memang menyuruh Darlen untuk mengambil handphone nya.
'Oh, begitu. Pantas saja, saya telpon beberapa kali tidak diangkat,"ucap klien Anand dengan seulas senyum.
"Maaf, tadi pagi saya agak buru-buru. Jadi tidak menyadari jika handphone saya tertinggal.Mari, saya antar ke bawah!"ujar Anand.
"Tidak usah repot-repot, pakai diantar segala,"sahut klien Anand terkekeh kecil merasa sungkan.
"Tidak apa, sekalian ada yang ingin saya ambil di mobil,"ujar Anand.
"Saya juga ingin keluar. Kita ke bawah bersama-sama saja,"sahut Nadine.
Sementara itu, Rindy baru saja tiba di Barata grup. Rindy turun dari taksi dan menatap gedung yang berdiri kokoh di depan nya, gedung tempat suaminya bekerja.
"Hei, kemari! Letakkan barang-barang yang kamu bawa di sini. Kata Bu Nadine, supir nya akan ke sini sebentar lagi untuk mengangkut semua barang-barang ini,"ujar seorang office boy pada seorang office girl.
"Oh, ini barang -barang Bu Nadine ketika pergi ke luar kota bersama Pak Anand kemarin, ya?"tanya si office girl.
Rindy yang hendak masuk ke gedung Barata grup pun menghentikan langkahnya saat mendengar office girl itu menyebut nama seorang wanita yang pergi ke luar kota bersama Anand. Rasa penasaran nya membuat Rindy pura-pura sibuk dengan handphonenya, padahal Rindy sengaja berdiri tidak jauh dari dua orang yang sedang berbincang itu untuk mendengarkan apa yang dibicarakan kedua orang itu.
"Iya. Mereka tampaknya dekat sekali, ya? Apa mereka ada hubungan spesial? Bu Nadine bahkan memanggil nama Pak Anand tanpa embel-embel apapun. Mereka juga terlihat sangat akrab,"ujar si office boy.
"Mungkin mereka pacaran. Aku sering mendengar mereka makan siang dan makan malam bersama,"sahut si office girl.
"Sepertinya begitu. Siapa sih yang tidak terpesona dengan wanita secantik dan seseksi Bu Nadine? Semua pria pasti klepek-klepek kalau ada di dekat Bu Nadine,"ujar si office boy.
Rindy yang berdiri tidak jauh dari keduanya pun mengepalkan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya mencengkram erat handphone di tangan kanannya. Dadanya terasa sesak saat mendengar percakapan kedua orang itu.
"Ah, aku patah hati, kalau Pak Anand benar-benar pacaran sama Bu Nadine,"ujar si office girl menampilkan ekspresi sedih.
"Bercermin sana! Wajah pas-pasan aja pengen dapat pangeran tampan. Lagian, status kita dengan mereka beda jauh. Nggak mungkin bisa bersanding dengan kalangan atas seperti mereka. Jangan harap kisah Cinderella terjadi sama kamu. Kagum sih, sah-sah saja. Tapi jangan pernah bermimpi untuk memiliki. Jangan sampai kamu menginap di rumah sakit jiwa karena patah hati. Atau menginap di ICU gara-gara gagal bunuh diri,"ujar si office boy.
__ADS_1
"Nggak sampai segitu juga kali! Tapi berharap, 'kan, sah-sah saja. Siapa tahu Pak Anand udah bosen lihat yang bening-bening, terus pengen yang biasa-biasa aja kayak aku. Ibarat kata, sudah bosen sama menu restoran dan beralih ke menu rumahan,"ujar si office girl.
"Sebenarnya, wajah kamu itu tidak bisa dibilang biasa-biasa saja, tapi luar biasa.. "office boy itu menggantung kata-katanya lalu menatap lekat wajah temannya itu.
"Apa? Luar biasa apa?"tanya si office girl yang merasa punya firasat buruk.
"Luar biasa jelek,"jawab office boy itu kemudian tergelak.
"Sialan, kau!"umpat di office girl dengan wajah ditekuk.
"Udah, jangan pasang muka seperti itu! Kalau seperti itu, kamu mirip.."office boy itu kembali menggantung kata-katanya.
"Mirip apa?"ketus di office girl.
"Ya, sebelas dua belas lah, mirip sama yang suka makan pisang,"sahut si office boy kemudian tertawa.
"Sialan!"umpat si office girl nampak mengerucutkan bibirnya.
Rindy kembali melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam gedung Barata grup. Rindy berjalan menghampiri meja resepsionis.
"Maaf, apa Pak Anand nya ada?"tanya Rindy pada dua orang resepsionis di depannya.
"Apakah anda sudah membuat janji? Ada keperluan apa anda ingin bertemu dengan Pak Anand?"tanya salah satu resepsionis itu.
"Saya belum membuat janji. Tolong katakan, Rindy ini bertemu!"pinta Rindy.
Mendengar kata-kata Rindy, kedua resepsionis itu pun saling pandang.
"Bukannya Pak Anand sedang rapat, ya?" tanya salah seorang resepsionis pada temannya.
Temannya itu nampak melihat jam dipergelangan tangannya,"Kalau menurut jadwal, seharusnya sudah selesai lima menit yang lalu,"ucap resepsionis satunya. Lalu keduanya menatap ke arah Rindy.
"Mohon tunggu sebentar, saya akan menghubungi sekretarisnya,"ucap resepsionis itu sopan.
"Terimakasih!"ucap Rindy dengan seulas senyum.
Sementara itu, Anand, Nadine dan kliennya nampak keluar dari lift.
__ADS_1
"Terimakasih, Pak Anand. Saya harap suatu saat anda dan Bu Nadine punya waktu luang untuk makan malam bersama saya,"ucap klien Anand seraya menjabat tangan Anand dan Nadine.
Rindy yang tak jauh dari tempat itu pun langsung memutar tubuhnya saat mendengar nama Anand dan seorang wanita disebut. Rindy membeku saat melihat seorang wanita cantik dan seksi berada di sebelah Anand. Entah mengapa dadanya terasa sesak melihat Anand berdiri begitu dekat dengan wanita lain.
"Akan kami usahakan. Iya, 'kan Anand?"tanya Nadine seraya menatap Anand dengan seulas senyum manis.
"Iya,"sahut Anand singkat, tersenyum tipis.
"Aih.. serasi sekali Pak Anand dan Bu Nadine,"ucap salah seorang resepsionis.
"Iya. Mereka cocok sekali. Yang satu tampan, dan yang satunya cantik"timpal temannya yang membuat dada Rindy semakin terasa sesak.
"Kalau begitu saya tunggu waktu itu tiba. Saya pamit,"ucap klien Anand tersenyum.
Ternyata benar apa yang dikatakan office girl dan office boy tadi. Ada seorang wanita cantik dan seksi yang nampak dekat dengan Anand. Mungkin kah wanita itu selingkuhan Anand? Karena wanita itukah, Anand sangat betah berada di kantor dan sering pulang malam? Apakah sekarang Anand tidak mencintai nya lagi dan merasa nyaman dengan perempuan itu? Wanita yang tersenyum sangat manis kepada suami nya? Itulah yang ada di pikiran Rindy.
"Silahkan!"ucap Anand dan Nadine kepada klien mereka secara bersamaan, menatap klien mereka yang berjalan ke luar gedung.
"Anand kita nanti makan siang bersama, yuk!"ajak Nadine seraya memegang lengan Anand.
Namun Anand langsung membulatkan matanya saat melihat sosok yang sangat dikenalnya berdiri di depan meja resepsionis dan sedang menatapnya.
"Sayang!"Anand langsung berlari ke arah Rindy dengan wajah yang terlihat khawatir.
Anand sangat terkejut dengan kehadiran Rindy di perusahaan nya itu. Anand juga takut Rindy salah paham dengan dia dan Nadine, karena Rindy melihat Nadine memegang lengan nya. Sebab itu, tanpa berpikir panjang, Anand langsung berlari menghampiri istrinya itu.
"𝙂𝙖𝙬𝙖𝙩! 𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙩𝙞𝙗𝙖-𝙩𝙞𝙗𝙖 𝙍𝙞𝙣𝙙𝙮 𝙙𝙖𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙚𝙢𝙖𝙧𝙞? 𝙎𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙗𝙚𝙗𝙚𝙧𝙖𝙥𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙙𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙞𝙖𝙢𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙖𝙣𝙥𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙖𝙝𝙪 𝙖𝙥𝙖 𝙠𝙚𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙠𝙪. 𝘿𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙖𝙠𝙪 𝙙𝙞𝙥𝙚𝙜𝙖𝙣𝙜 𝙉𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚. 𝙀𝙣𝙩𝙖𝙝 𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙧𝙚𝙖𝙠𝙨𝙞 𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙚𝙩𝙚𝙡𝙖𝙝 𝙞𝙣𝙞,"gumam Anand dalam hati seraya berlari menghampiri Rindy.
...🌟"Terkadang sulit untuk menimbang, kapan harus bicara, dan kapan harus diam."🌟...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
.
__ADS_1
To be continued