
Malam sudah semakin larut dan Rachel masih memandangi layar ponselnya. Matanya masih enggan terpejam padahal ia sudah dikirimi pesan oleh Fany agar segera beristirahat karena esok akan menjadi hari yang melelahkan.
Namun apa boleh buat, Ia masih gelisah, menunggu kabar dari suaminya yang tidak kunjung menjawab panggilannya ataupun membalas pesannya.
“Mas, apa hari ini mas lembur lagi?” pesan itu yang sudah di baca Nata tapi tidak juga di balas.
Air mata Rachel kembali menetes. Terasa hangat saat menyentuh pipinya. Entah ada apa dengan dirinya, semua yang terjadi hari ini seolah semakin memojokkannya. Ia merasa kalau ia tidak bisa menghela nafas panjang, dadanya terlalu sesak.
Rachel melamun beberapa saat, memandangi tirai tipis yang bergerak-gerak karena tertiup udara malam. Ia memang sengaja belum menutup jendela kamarnya karena kamar luas ini terasa begitu pengap saat jendela tertutup.
Wangi parfum Nata yang mendominasi ruangan dan mengisi pikirannya, membuat Rachel mual dan terus berusaha menahan muntah. Padahal setelah makan siang di toko tadi, kondisi perutnya sudah jauh membaik. Tapi sekarang, ia merasa tidak nyaman lagi.
Rachel terus memegangi perutnya yang sering kali tegang setiap kali ia memikirkan hal yang serius. Apa mungkin kondisi kesehatan lambungnya mulai memburuk? Perlukah ia memeriksakan dirinya ke dokter?
“Kriet….” Suara pintu terbuka menyadarkan Rachel dari lamunannya. Ia segera bangkit dan menoleh ke arah pintu kamarnya.
Ada Nata yang mematung di sana dengan wajah kaget karena meliihat Rachel belum tidur selarut ini. Wajahnya terlihat sangat lelah.
“Mas udah pulang?” sapa Rachel yang segera turun dari ranjang dan menghampiri Nata. Ia mengambil tas kerja Nata dan segera memeluk suami yang sangat ia rindukan.
Wangi parfum Nata yang mengganggu ia tahan kuat-kuat demi bisa memeluk suaminya lebih lama.
“Aku kangen sama mas.” Ucapnya gamang. Sejujurnya, ia bukan hanya rindu tapi sangat takut kehilangan suaminya.
Nata terdiam beberapa saat, membiarkan Rachel memeluk tubuhnya dengan erat. Wanita ini sudah mengenakan gaun tidurnya yang berwarna merah maroon dengan wangi tubuhnya yang khas.
“Lepaskan bajumu.” Ucap Nata tiba-tiba.
“Maksud mas?” Rachel melepas pelukannya dari Nata dan menatap wajah pria itu dengan lekat.
“Apa perlu aku yang melepasnya?” Nata kembali bertanya dengan tegas.
“Sekarang? Di sini? Kenapa?” Rachel menatap Nata dengan tidak mengerti. Pintu kamarnya bahkan belum tertutup rapat.
“Brug!” Nata menutup pintu kamar dengan kasar membuat Rachel terhenyak kaget. Ia seolah paham arti lirikan mata Rachel pada daun pintu di belakangnya.
“Lakukan sekarang.” Titah Nata lagi, dengan tatapannya yang dingin.
__ADS_1
Rachel tidak menimpali. Walau pikirannya bingung, ia tetap melepas satu kancing di punggungnya sebelum akhirnya menanggalkan pakaian itu dan hanya menyisakan underwearnya saja. Tubuhnya yang polos ia pertontonkan pada suaminya.
Nata memandangi tubuh Rachel dari atas hingga ke bawah. Tatapannya benar-benar penuh hasrat, membuat Rachel benar-benar merasa ditelanjangi.
Rachel menutup dadanya dengan kedua tangan yang tersilang. Sementara Nata melepas satu per satu kancing bajunya, melepas kemeja kerjanya dan melemparnya ke sembarang arah hingga hanya menyisakan celana panjang yang masih melekat sementara bagian tubuh atasnya yang bidang terpampang di depan Rachel.
Matanya tetap tertuju pada Rachel yang tertunduk malu dan tidak berani membalas tatapan suaminya.
Kemudian, Nata menekan saklar lampu utama hingga padam dan menyiksakan pijar lampu tidur yang menyala hangat di beberapa sudut. Ia berjalan menghampiri Rachel, satu tangannya menangkup pipi kiri Rachel lalu menyerang bibir istrinya dengan ganas.
Rachel sampai gelagapan karena serangan tiba-tiba Nata terlebih saat satu tangan lainnya menurunkan pelindung gundukan sintal milik Rachel dan merem.masnya dengan kasar.
"Akh." Rachel terengah, karena jamahan Nata saat ini terasa begitu kasar. Seolah sedang memainkan squishi yang sulit ia taklukkan.
Entah berapa lama Nata memagut bibir Rachel, mengabsen seisi rongga mulut Rachel dengan lidahnya juga menyesap saliva Rachel dengan ganas.
Rachel bisa mendengar gemuruh suara Nata yang penuh gairah dan merasakan tangannya yang bergeriliya, menyusup masuk ke balik underwear Rachel lantas mengusap-usap kasar inti tubuh Rachel.
“Akh, mas….” Suara des ahan itu keluar dari mulut Rachel yang mengeratkan pelukannya pada Nata. Rangsa. angan suaminya membuat inti tubuhnya basah. Ia memeluk Nata sangat erat dan hanya bisa pasarah saat Nata mengecupi lehernya, memberikan jejak-jejak kepemilikannya di leher Rachel hingga beberpa cap merah seolah permanen menghiasi leher jenjang Rachel.
Semakin Rachel bersuara lirih, Nata semakin semangat menjamahnya dengan kasar.
Nata memompa tubuh Rachel dengan penuh semangat, tidak memberikan sedikitpun ruang perlawanan untuk Rachel yang kesulitan mengimbangi gairah suaminya.
Permainan Nata mulai menggila bahkan teramat gila hingga membuat tubuh Rachel mengejang kaku beberapa kali di bawah kungkungannya. Ia pun mengalami hal yang sama, beberapa kali tubuhnya berreaksi hebat saat mencapai puncak kenikmatannya.
Nafasnya semakin menderu hingga baru terhenti di ronde ke lima.
Rachel terkulai lemah di bawah kungkungannya dan Nata tergelatak tanpa sehelai benangpun di samping Rachel tanpa ada yang ia pedulikan.
Permainan Nata yang gila, membuat Rachel nyaris ragu apa yang ada disampingnya adalah benar-benar Nata atau bukan. Namun wangi tubuhnya yang khas membuat ia yakin kalau ini adalah Nata yang dia kenali.
Rachel menarik selimut untuk menutupi tubuh polos Nata dan dirinya. Laki-laki yang sudah kelelahan itu membalik tubuhnya menyamping membelakangi Rachel.
Dengan sisa tenaganya, Rachel mengambil gaun tidurya. Ia tidak bisa langsung terlelap karena perut bawahnya sangat tegang dan inti tubuhnya terasa nyeri hingga terus berdenyut. Dua pangkal kakinya bahkan masih gemetaran karena Nata menghajarnya habis-habisan.
Setelah rasa sakitnya mereda, Rachel berusaha memejamkan matanya dan terlelap dengan sendirinya.
__ADS_1
Dini hari, Rachel mendengar suara-suara yang samar mengusik tidurnya.
“Jangan… jangan…” semakin lama suara itu semakin jelas terdengar.
Rachel membuka matanya yang terasa berat dan rapat. Sama-samar ia melihat Nata yang mengangkat-angkat tangannya. Sepertinya suaminya sedang mengigau.
“Mas….” Rachel mendekat pada Nata dan memegangi tangan Nata sambil ia peluk.
Rachel berpikir mungkin karena kelelahan Nata sampai mengigau.
“Jangan…”
Lagi kata itu terdengar dari mulut Nata yang tertidur lelap. Rachel melihat titik-titik keringat memenuhi dahi Nata padahal suaminya sedang tertidur. Rachel mengusapnya dengan pelan agar tidak membangunkan Nata.
“Mas mimpi apa? Siapa yang mau pergi sampai mas larang?” gumam Rachel yang cemas memandangi wajah Nata dengan dahinya yang berkerut.
“Jangan, jangan tinggalkan aku, Aruni.” Ucap Nata di alam bawah sadarnya.
Seperti mendapat serangan petir di siang bolong, Rachel langsung terhenyak. Dengan jelas ia mendengar nama seseorang di sebut oleh Nata. Aruni, nama yang sedari pagi ingin Rachel tanyakan pada suaminya.
Dengan penuh kesadaran diri, Rachel menjauh dari Nata. Ia terduduk di sudut tempat tidurnya sambil memandangi Nata yang membelakanginya.
Rasa kantuknya mendadak hilang dan yang terasa saat ini hanya perasaan sesak di dadanya.
Apa yang dimimpikan Nata? Apa Nata masih belum bisa menerima kepergian wanita itu?
Pikiran itu muncul dibenak Rachel tanpa bisa ia lawan. Ingatan akan permainan Nata yang menggila beberapa saat lalupun membuat Rachel berpikir, “Apa mas berpikir kalau yang sedang mas tiduri adalah wanita itu?” batin Rachel yang menatap nanar pada sosok suaminya.
Tidak, ini terlalu menyesakkan jika yang ia pikirkan adalah benar. Selama ini Nata tidak pernah sekasar dan sebuas ini saat berhubungan dengannya. Tapi malam ini, Nata melakukannya dengan gila, sangat gila.
Batin Rachel menangis. Ia tidak sanggup lagi melanjutkan bayangan yang ada di benaknya.
Rachel memutuskan untuk turun dari ranjangnya. Ia melepas gaun berwarna merah maroon itu dan menggantinya dengan pijama tidur biasa. Setelah itu, ia masuk ke kamar mandi, mengunci dirinya sendiri di dalam sana.
Sambil menangis sesegukan, Rachel mendudukan tubuhnya di atas dudukan toilet. Rasanya menyakitkan jika pikirannya benar bahwa Nata memikirkan wwanita lain saat berhubungan dengannya. Atau Nata hanya mau berhubungan dengannya karena ia berpikir kalau Rachel adalah Aruni. Wanita yang ia sebut namanya bahkan saat sedang tertidur. Rachel melihat dengan jelas raut ketakutan Nata dan permintaannya agar Aruni tidak meninggalkannya.
Lantas mengapa ia masih terduduk di sini? Apa arti keberadaannya untuk Nata?
__ADS_1
****