
Kemeriahan terlihat di sebuah rumah yang sedang mengadakan acara perayaan.
Di kediaman Nata dan Rachel saat ini acara itu berlangsung. Mereka mengadakan perayaan atas kesuksesan peluncuran cluster perumahan yang mereka beri nama Classthome bersama para staf di perusahaan tersebut. Jumlah karyawan yang belum terlalu banyak, membuat mereka bisa terjamu dengan baik di rumah baru itu.
Video iklan promosi perumahan itu terus diputar di salah satu sudut ruangan dan membuat terpesona tetamu yang hadir. Layaknya video post wedding antara Nata dan Rachel yang membuat siapapun yang melihat, tersenyum manis. Romantisme mereka terlihat jelas di video itu.
Mungkin magnet itu yang membuat unit rumah sudah hampir habis di booking oleh para pembeli padahal baru satu minggu dipasarkan. Suatu pencapaian yang tidak terduga yang berhasil di raih Nata dan Ivana. Mereka bersyukur atas pencapaian luar biasa ini.
Kesuksesan ini menjadi kado yang indah bagi pernikahan Nata yang menginjak usia kedua tahun. Untuk merayakan semua kebahagiaan itu, tidak hanya rekan kerja Nata yang diundang melainkan juga rekan kerja Rachel, keluarganya dan tentu saja teman-teman Martha yang ikut memeriahkan.
Entah dari mana mereka tahu kalau Martha mengadakan acara perayaan ini padahal ia sudah keluar dari group toxicnya.
“Adduhhh … hamilnya udah besar. Udah berapa bulan ini?” tanya salah satu teman Martha pada Rache.
“Tujuh bulan tante.” Sahut Rachel seraya mengusap perutnya yang sudah semakin membuncit. Dress khas ibu hamil itu membuat perut Rachel terlihat jelas.
“Laki-laki apa perempuan nih?” tanya satu wanita lainnya.
“Masih kejutan tante.” Rachel memilih untuk tidak menyampaikannya saat ini.
“Waahh, pasangan muda sekarang suka ngasih kejutan. Tapi kalau dari bentuk perutnya yang seperti ini, sepertinya anaknya perempuan deh.” Timpal wanita itu.
“Ah nggak, kayaknya laki-laki. Soalnya Rachel-nya keliatan cantik banget. Beda gitu auranya.” Timpal wanita lainnya.
Rachel hanya tersenyum mendengar ilmu cocokilogi dari para nenek ini.
“Do’akan saja. Semoga anak dan ibunya sehat. Laki-laki atau perempuan sama saja.” Ucap Martha dengan terbata-bata. Lidahnya masih terasa kaku walau cara bicaranya sudah lebih jelas.
“Iyaa sih bener, mau laki-laki atau perempuan yang penting sehat dan selamat serta sempurna.” Timpal wanita itu lagi.
“Aamiin, makasih tante.” Rachel mengamini.
“Iyaa, nanti kalau anaknya laki-laki kan tinggal nambah yang perempuan. Kalau anaknya perempuan, tinggal kasih adik laki-laki. Gampang itu sih.” Wanita berkonde besar ikut berkomentar.
“Betul itu! Yang penting jeng Martha cepet sehat. Kalau masih di kursi roda begini, mau main gimana coba sama cucu-cucunya. Nanti bukannya main sama cucu, jeng Martha minta ikut diurusin sama ibunya bayi.” Selalu ada saja perkataan yang tidak tersaring dari para nenek ini.
Rachel melihat raut wajah Martha yang berubah sendu. Ia berusaha tersenyum walaupun kelu.
“Terima kasih do’anya ya tante, semoga mamah bisa segera sehat. Tante sekeluarga juga diberikan kesehatan.” Ucap Rachel seraya mengusap punggung Martha. Ia berusaha menenangkan ibu mertuanya.
Martha hanya tersenyum kecil, ia tahu Rachel sedang berusaha menghiburnya.
“Iya sama-sama. Ngomong-ngomong, besan jeng Martha yang mana, kok gak keliatan?” satu wanita kepo lainnya celingukan.
“Oh, mamah saya ada di dalam tante.”
“Oh gitu yaaa. Padahal kita pengen kenalan. Penasaran, sebanyak apa berlian besannya jeng Martha, apalagi anaknya sekarang udah jadi bintang ikla terkenal, hihihi.” Ucap salah satu wanita yang terkekeh. Entah benar-benar ingin tahu atau hanya ingin mengejek.
“Kalian gak usah ribut kalau masih nyari makanan gratisan. Udah sana, pada makan.” Sinisnya Martha keluar lagi. Ia tidak suka besannya di hina.
“Ih jeng Martha kok sewot. Kita kan cuma becanda. Iya kan?” Ucap wanita itu, bertanya pada teman-temannya.
“Iya, jeng Martha sekarang jadi sensian.” Timpal lainnya.
Martha tidak menimpali, ia hanya mengeram kesal dalam hati.
“Wah, sepertinya obrolannya seru banget. Ngobrolin apa nih?” Ivana ikut bergabung saat melihat respon tegang Martha.
“Eh Ivana. Ini loh, tante nanyain besannya jeng Martha tapi sepertinya jeng Martha malah kesal. Padahal kita cuma becanda loh. Iya kan jeng?” tanya wanita itu pada teman-temannya. Teman-temannya hanya mengangguk mengiyakan.
“Oh, kalau mamah saya sampai marah, mungkin candaan tante-tante ini gak lucu dan malah menyakiti mamah saya.” Ivana tersenyum sinis pada wanita yang berbicara lancang itu.
“Umur tante kan udah banyak nih, harusnya bisa ngebedain dong mana pertanyaan yang bisa jadi bahan candaan dan mana yang bisa menyinggung orang lain. Jadi, kalau tante-tante masih belum bisa bedain dua hal itu, mending mulutnya disibukkan dengan ngunyah makanan. Banyak makanan enak loh di sini.” Sinis Ivana dengan tatapan tidak suka pada para wanita tua ini.
“Astaga, dia ngomongnya pedes kayak jeng Martha.” Bisik teman Martha.
Tapi Ivana tidak peduli. Ia hanya meneguk minumannya karena kepalanya sakit akibat menahan kesal. Sedari tadi empat wanita ini terus mengomentari hal yang tidak perlu dan memprovokasi kemarahan Martha. Mungkin memang hal seperti ini yang selama ini mereka perbincangkan hingga Martha semakin terhasut.
“Mah, mamah juga harus bisa bedain, mana pertanyaan yang memang bertanya karena peduli atau pertanyaan yang hanya kepo dan mencari kejelekan keluarga kita. Kayaknya mamah gak temenan sama mereka juga gak akan rugi sih.” Bisik Ivana yang samar-samar masih di dengar Rachel.
Rachel hanya bisa menahan nafasnya melihat tatapan sinis teman-teman Martha yang tidak suka dengan sikap Ivana.
“Jeng Martha, kayaknya kami mau pulang aja deh. Kayaknya kami gak disambut baik sama tuan rumah di sini.” Ucap salah satu wanita yang mengerlingkan matanya pada Ivana.
“Oh, silakan tante. Terima kasih atas kedatangannya ya tante. Silakan, pintu keluarnya sebelah sana.” Timpal Ivana dengan santai.
Mereka tidak lagi menimpali, hanya mendelik kesal pada Ivana. Lalu pergi begitu saja.
Ivana tidak ambil pusing dengan kepergian teman-teman Martha karena ia tahu kelakuan mereka hanya memprovikasi emosi Martha.
“Mamah gak usah khawatir kehilangan temen kayak gitu. Mending sedikit temen tapi baik daripada banyak tapi toxic.” Tegas Ivana seraya menepuk bahu Martha.
Martha hanya terdiam, menatap nanar kepergian teman-temannya. Namun dalam hatinya, ia mengiyakan semua ucapan putrinya.
__ADS_1
“Jadi, dia Ivana?” tanya Adri yang memperhatikan Ivana dari kejauhan. Ia bertanya pada Fany yang sedang menikmati makanannya.
“Iya. Orangnya tegas tapi baik banget. Sayang banget sama Rachel. Dia pembela Rachel nomor satu. Dan itu, putranya.” Fany menunjuk Brandon yang sedang bermain mobil-mobilan di atas rerumputan. Ia tidak terganggu sama sekali dengan kebisingan yang ada di rumah itu.
“Dia anak yang istimewa, kesayangan Rachel sama bang Nata.” Imbuh Fany.
“Menarik.” Gumam Adri seraya meneguk minuman di gelasnya hingga tandas. Tanpa Fany duga, ternyata Adri menghampiri Brandon yang sedang asyik bermain sendirian.
Entah apa yang dikatakan Adri yang jelas Brandon tidak menolak saat Adri mendekatinya.
“Gercep juga itu abang ikan lele.” Gumam Fany, yang tersenyum kecil melihat usaha laki-laki berkumis tipis yang menghampiri Brandon.
****
“Jeng Martha, apa jeng Martha di dalam?” suara Eva memanggil Martha yang tengah terdiam di depan jendela kamar. Sedari tadi ia memandangi dedaunan yang bergoyang saat tertiup angin. Ia menoleh kedatangan Eva dan tersenyum kecil.
“Masuklah,” Pinta Martha.
Tanpa ragu, Eva menghampiri besannya. “Iya, apa jeng Martha memerlukan sesuatu?” Eva terduduk di kursi yang berhadapan dengan Martha.
Martha menggeleng lalu tersenyum. Ia meraih tangan Eva dan menggenggamnya walau tidak erat.
“Maafkan saya,” ucap Martha mengawali kalimatnya. Matanya terlihat berkaca-kaca menahan tangis.
“Selama Rachel tinggal di rumah kami, saya sering menyakitinya. Padahal dia adalah putri kesayangan jeng Eva.” Martha tertunduk malu, dengan tangisnya yang pecah. Sungguh ia menyesal karena telah menyakiti Rachel dan menghina keluarganya.
Eva tidak lantas menimpali. Ia tersenyum haru seraya mengeratkan genggaman tangannya pada Eva.
“Terima kasih karena jeng Martha mau mengakui kesalahan jeng Martha. Saya tau itu tidak mudah." Eva mengawali kalimatnya.
"Saya tahu, bahwa menerima seseorang yang tiba-tiba hadir dalam hidup kita itu, tidaklah mudah. Terlebih kita tidak bisa memilih siapa yang boleh datang, singgah atau pergi.”
“Tapi, setiap orang yang pernah masuk ke kehidupan kita, akan memberi pelajaran berharga untuk kita, termasuk untuk Rachel.”
Eva menjeda kalimatnya beberapa saat. Ia jadi mengingat sosok putrinya yang jauh berbeda saat ini.
“Rachel itu anak yang manja. Dia sering menangis untuk hal-hal kecil dan tingkat ketergantungannya pada saya dan kakaknya sangat tinggi. Tapi, sepertinya di rumah jeng Martha dia belajar banyak hal. Bukan hanya untuk tidak menjadi orang lemah tapi dia mampu memasuki babak hidupnya dengan lebih dewasa.”
“Saya memang pernah marah pada jeng Martha tapi saya juga tahu kalau setiap manusia bisa saja melakukan kesalahan. Saat ini, mari kita tutup masa lalu yang buruk itu. Kita buka lembaran baru yang lebih indah. Dan berterima kasih karena secara tidak langsung jeng Martha telah membantu putri saya menjadi wanita yang kuat dan dewasa.” Tutup Eva.
Martha tidak bisa berkata-kata, ia hanya bisa tertunduk malu sambil menitikkan air mata penyesalan. Sungguh ia sangat malu pada Eva. Rasanya sekarang ia tahu, dari mana asal ketulusan yang dimilik menantunya. Tentu saja dari seorang wanita kuat yang saat ini tersenyum di hadapannya.
“Terima kasih, terima kasih jeng Eva.” Ucap Martha dengan terbata-bata dan tidak terlalu jelas.
Eva mengangguk paham.
Martha mengangguk kecil. Ia menghela nafasnya dalam lalu menghembuskannya. Ia berusaha menegarkan dirinya. Karena sejatinya, masa lalu adalah pelajaran berharga dan mereka harus memulai lembaran baru dengan lebih bijaksana.
Eva dan Martha keluar dari kamar itu. Para tetamu sudah berkumpul menunggu acara inti dimulai. Mereka mendengarkan sambutan sang empunya acara, Nata. laki-laki itu berdiri dengan gagah dengan didampingi istri tercintanya, Rachel. Terlihat sekali kalau dua orang itu sangat berbahagia saat ini.
“Saya ucapkan terima kasih atas kehadiran para tamu sekalian. Terima kasih telah memenuhi undangan kami. Hari ini, pernikahan saya dan Rachel menginjak usia kedua. Project yang telah kita selesaikan dengan baik, menjadi kado terindah bagi kami.”
Mereka kompak bertepuk tangaan dan mengucapkan selamat untuk Nata dan Rachel.
“Terima kasih atas dukungan semua pihak. Para staf dan manajemen yang telah bekerja keras mewujudkan mega project kita. Semoga hasil kerja keras kita berbuah manis untuk kita semua.” Ucap Nata seraya mengangkat gelasnya tinggi-tinggi mengajak bersulang.
Para tamu pun ikut mengangkat gelasnya, merayakan kesuksesan Wijaksono Corp. Suara tepukan menjadi penyemangat berikutnya dalam memulai project lainnya yang lebih besar.
Usai sambutan singkat dari Nata, mereka kembali pada aktivitas lainnya. Ada yang sibuk memilih makanan, asyik berbincang dan hal lainnya yang dilakukan para tamu seperti berfoto di banyak sudut rumah Rachel dan Nata. Di satu sudut ia juga melihat Ruby yang sedang berbincang dengan beberapa orang yang bertanya tentang toko bunganya yang sedang naik daun.
Satu hal yang pasti, banyak suara tawa dan canda keakraban yang memenuhi rumah ini.
Rachel dan Nata menghembuskan nafasnya dengan lega melihat kebahagiaan yang melingkupi keluarga kecil mereka.
“Good job! Mas yang terbaik.” Bisik Rachel di telinga Nata.
“Terima kasih, istriku. Semua ini, berkat dukungan kamu juga. I love you.” Balas Nata seraya mengecup kepala Rachel dengan sayang.
Rachel tersenyum bahagia, wajahnya langsung memerah mendengar ungkapan cinta dari Nata. Rasanya menyenangkan menghabiskan waktu dengan orang-orang terkasih.
“Ehm! Maaf nih ganggu.” Ada Fany dan Adri yang kemudian menghampiri.
“Kak,…” sambut Rachel sambil tersenyum menyambut managernya yang terlihat cantik hari ini.
“Nggak ganggu lah. Gimana, gimana?” lanjut Rachel.
“Em, ini, aku udah dapet kabar dari bang Calvin kalau kampanye kita tentang penolakan terhadap pelecehan pada wanita, udah di setujui Chel. Dan boleh di publikasikan per hari ini.” Ucap Fany, mengutip pesan yang dikirimkan Calvin.
“Oh ya? Serius kak?” Mata Rachel langsung membola dengan semangat.
“Serius lah. Ini aku dapet pesan langsung dari dia. Dia masih dalam perjalanan pulang dari kementrian. Kayaknya langsung menuju ke sini.”
“Ya tuhan, syukurlaaahhh …..” Rachel berseru dengan senang.
__ADS_1
“Selamat yaa … selamat untuk para wanita yang nanti akan berjuang untuk hak mereka.” Ungkap Nata dengan penuh rasa bangga.
“Makasih mas. Ini berkat dukungan timnya mas Adri juga kak Fany. Makasih banyak yaa….” Rachel mengangguk sopan pada Adri dan Fany.
“Jangan sungkan Chel. Ide kamu ini brilian, pasti banyak yang mendukung. Aku yakin, banyak wanita di luar sana yang mungkin mengalami hal seperti ini tapi gak berani untuk membela hak mereka. Ya mudah-mudahan dengan kampanye ini, banyak wanita yang terbantu.” Ungkap Adri.
“Betul, aku setuju.” Nata menyahuti.
Rachel tersenyum lega karena dukungan Nata pun sangat berarti untuknya.
“Okey, kalau gitu, aku sama mas Adri kayaknya mau langsung cabut, soalnya dia ada agenda meeting. Maaf nih aku gak di sini sampe selesai.” Pamit Fany.
“Eemmm, makasih banyak ya kak. Maaf kalau aku banyak ngerepotin kakak.” Rachel merangkul Fany dengan sayang.
“Ngerepotin apa sih? Kamu suka lebay. Justru aku seneng karena bisa deket dengan artis yang aku managerin, sampe berasa kayak keluarga sendiri. Selamat ya Chel, aku ikut bahagia buat kamu.” Ungkap Fany dengan tulus.
“Iyaa kak, aku juga makasih banyak. Makasih udah jadi partner kerja sekaligus kakak buat aku.”
“Sama-sama Chel.” Keduanya berangkulan dengan hangat.
“Okey, sebelum pulang, boleh dong kita foto dulu?” pinta Fany.
“Ayok!” Rachel semangat menyahuti.
“Tapi, boleh ajak kak Ivana gak?”
“Boleh, biar aku panggil.” Nata menghubungi ponsel Ivana yang sedang berbincang di kejauhan dengan salah seorang staf.
“Dia akan kesini.” Sambung Nata setelah Ivana mengiyakan.
“Okey, sip!” seru Fany seraya menyenggol lengan Adri.
Adri pura-pura memalingkan wajahnya sambil menahan senyum.
“Kenapa?” tanya Ivana.
“Sini kak, kita foto bareng dulu.” Ajak Rachel.
“Oh okey. Dimana nih aku?” tanya Ivana sambil merapikan rambutnya yang dibuat bergelombang.
“Sebelah sini kak.” Fany bergeser ke samping dan memberi ruang di samping Adri.
“Oh okey, permisi yaa ….” Ivana tersenyum ramah pada Adri.
“Silakan.” Adri tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang senang karena berdiri di samping Ivana. Ia bahkan sangat menyukai wangi parfum yang dipakai Ivana.
“Okey, satu dua tigaaa….” Fany memberi aba-aba.
Merekapun berpose dan beberapa gambar berhasil di abadikan.
Foto itu yang kini diabadikan Rachel di dalam buku catatannya bersama satu foto keluarga lengkap. Ia masih bisa merasakan kebahagiaan yang membuncah di dadanya saat ini. Nyatanya, kebahagiaan itu bisa datang saat ia memang berusaha untuk menciptakannya. Menikmati ritme hidup yang terkadang berubah sewaktu-waktu dan tetap tenang menghadapi masalah apapun.
Rachel bersyukur karena ia tidak pernah menyerah. Ia juga bersyukur karena ia bisa tetap dicintai dengan menjadi dirinya sendiri tanpa harus “Menjadi Dia” yang ada di ekspektasi orang-orang yang mengenalnya. Ia merasa kalau ia lebih bisa mencintai dirinya sendiri dalam kondisi apapun. Untuk itu, ia sangat bersyukur.
“Sibuk banget, lagi apa?”
Dan laki-laki ini salah satu orang yang Rachel syukuri keberadaannya. Nata yang baru selesai mandi, mengecupi leher Rachel kecil-kecil dan membuat bulu kuduk istrinya meremang.
“Nempelin foto.” Akunya sambil mengendikan bahunya geli.
Nata sedikit mengintip buku catatan Rachel dan benar saja foto mereka sudah di pajang oleh istrinya.
“Hem, ternyata aku ganteng ya kalau senyum begitu?” komentar Nata sata melihat wajahnya sendiri yang tampak bahagia. Selama ini ia belum pernah melihat ekspresinya sendiri yang begitu bahagia.
“Efek filter kali ya?” ledek Rachel.
“Iya, filternya kamu. Kamu memfilter semua perasaan buruk aku dan selalu berhasil membuat aku tersenyum bahagia. Aku beruntung punya kamu Chel.” Ledekan Rachel ternyata di tanggapi serius oleh Nata.
Ia memeluk Rachel dengan erat dari belakang dan menempatkan dagunya di bahu Rachel. Sesekali ia mengecupi bahu dan leher Rachel yang terbuka.
“Aku juga beruntung punya mas.” Balas Rachel.
Nata tidak lagi menimpali, ia hanya menatap lekat istrinya dari samping. Diusapnya pipi Rachel dengan ujung hidungnya yang bangir lalu mengecup beberapa bagian berulang.
“Aku cinta kamu, selalu.” Bisik Nata seraya menempatkan dahinya di pelipis Rachel. Membuat hidung dan bibir Nata terasa begitu dekat dengan telinganya. Hawa nafasnya terasa hangat membelai telinga Rachel.
“Terima kasih untuk bertahan dan memilih tetap bersama aku.” Ucapnya lagi dengan penuh kesungguhan.
Rachel tersenyum kecil. Ia memalingkan wajahnya untuk balas menoleh Nata dan mencium bibirnya. Pancingan itu berhasil membuat Nata membalas Rachel dengan semangat. Mereka berpagutan beberapa saat.
Malam in sepertinya akan menjadi malam yang indah untuk dua orang yang saling mencintai. Banyak kata cinta yang berulang kali diucapkan Nata pada rachel. Dan keduanya berjanji, untuk selalu menghadirkan kehangatan yang sama di malam-malam berikutnya.
Untuk kalian semua, aku menyayangimu.
__ADS_1
Love, Rachel and Nata.
********* T A M A T *********