
Pagi ini, Nata bangun lebih awal. Ia tidak langsung beranjak dari tempat tidurnya, melainkan masih terbaring sambil memandangi wajah Rachel yang terlihat begitu cantik saat terlelap. Ia berbaring menyamping dengan dagu tertopang tangan kirinya sementara tangan kanannya iseng mengusap-usap helaian rambut Rachel yang terurai di sampingnya.
Warnanya coklat dan terasa halus serta berkilauan. Sesekali Nata menciumnya, wanginya segar dan membuatnya betah menghirup baunya.
Sekali waktu, Rachel membalik tubuhnya menyamping menghadap Nata. Hidung bangirnya nyaris menyentuh lengan kokoh Nata. Nata tersenyum gemas saat melihat bibir merah mudah itu tampak lucu dengan sedikit menganga.
Ada deburan rasa yang tidak biasa di dadanya saat melihat wajah Rachel yang polos itu. Mungkin terlalu naif kalau ia katakan, ia jatuh cinta pada wanita yang sudah menjadi istrinya selama lebih dari satu tahun ini. Dan hari ini, ia mengakui perasaan itu dengan sebenarnya.
Jika kalian bertanya apa alasannya, entahlah Nata tidak tahu. Entah apa yang membuat ia merasakan rasa menggelitik di jantungnya dan sesekali jantungnya berdebar kencang seperti deburan ombak pasang di tepi pantai.
Terserah jika kalian mengatakan ini berlebihan. Namun Nata mengakui dengan sebenarnya, "Raja sedang jatuh cinta."
"Tertawa saja jika kalian ingin mengejekku." Batin Nata pada setiap hal yang menjadi saksi ia mengukuhkan perasaannya. Entah itu udara yang berhembus atau cahaya matahari yang diam-diam mengintip dari celah gorden. Atau detakan jam yang seperti musik pengantar keromantisan yang bergumul di dadanya.
Di sela pengakuannya, Nata iseng mengecup bibir Rachel dengan lembut. Sebentar saja karena beberapa saat kemudian Rachel mengulat. Nata pura-pura membaringkan tubuhnya dan menutup matanya rapat-rapat. Sedikit mengintip, ia melihat Rachel yang baru terbangun dan menggeliat. Mata bulatnya terbuka sedikit demi sedikit berusaha menyesuaikan dengan cahaya yang masuk.
Ya Tuhan, ekspresinya terlalu menggemaskan untuk Nata. Terlebih saat ia menyentuh bibirnya sendiri dengan wajah kebingungan.
“Mimpinya kok berasa nyata banget ya?” gumam Rachel yang masih bisa didengar Nata.
Laki-laki itu terkekeh dalam hati melihat wajah bantal Rachel yang sangat menggemaskan saat kebingungan. Mimpi Rachel ternyata bertemu dengan kenyataan yang sengaja diciptakan Nata.
“Astaga! Udah jam delapan!” seru Rachel yang baru tersadar. Ia seraya bangkit duduk.
“Aduhh pusing….” Ia mengaduh ringan sambil mengusap kepalanya yang terasa pusing karena tiba-tiba bangun.
Ia menyingkirkan selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Tapi saat ia akan beranjak, tiba-tiba saja tangan kokoh Nata melingkari perutnya dan menariknya mendekat pada Nata.
“Astaga!” Rachel terhenyak kaget. Ia sampai gemetaran dengan jantung yang berdebar kencang. Wajahnya berubah pusat dengan cepat.
__ADS_1
“Kamu gak apa-apa?” Nata yang sama-sama kaget, ikut bangun.
Niatnya menjahili Rachel malah membuat istrinya kaget setengah mati. Ia lupa kalau Rachel masih diliputi rasa traumanya.
“A-aku pikir bukan mas.” Rachel sampai tergagap.
“Astaga, aku minta maaf.” Nata segera memeluk Rachel yang gemetaran.
“Maaf, udah bikin kamu ketakutan.” Bisik Nata yang terdengar jelas di telinga Rachel.
Rachel hanya bisa menelan salivanya kasar-kasar sambil menyadarkan dirinya sepenuhnya.
“A-aku tau, mas gak sengaja.” Sahutnya pelan.
Nata melerai pelukannya dari Rachel dan memandangi wajah pucat yang polos saat terkena cahaya matahari pagi.
“Gak seharusnya aku becanda kayak tadi. Aku minta maaf ya….” Nata berucap dengan sungguh-sungguh. Ia menangkup kedua sisi wajah Rachel dengan tangannya yang besar lantas mengusapnya perlahan.
“Selamat pagi mas.” Entah dari mana asal kalimat itu. yang jelas ini usaha Rachel untuk mengalihkan keterkejutannya.
Nata tersenyum kecil. Ia mendekatkan wajahnya pada Rachel lantas mengecup bibir Rachel dengan lembut. Tidak hanya sekali, melainkan beberapa kali disertai gigitan lembut.
“Selamat pagi.” Timpalnya, setelah selesai mengecupi bibir Rachel.
Rachel tersenyum kelu seraya menggigit bibirnya sendiri. Ini nyata, laki-laki yang tersenyum dan menciumnya benar-benar Nata.
Rasanya bunga sakura bermekaran mengelilingi Rachel. Memberi wangi segar dan membuat wajahnya tersipu.
“Aku seneng banget pagi ini. Dapet ucapan selamat pagi dari mas juga di-ci-um.” Rachel mengeja kata terakhirnya dengan malu-malu.
__ADS_1
“Mau lagi?” tawar Nata.
Rachel menggeleng. “Aku belum gosok gigi. Masih,”
Belum selesai ucapan Rachel, Nata sudah kembali melum*at bibir Rachel dengan lembut. Ia tidak memperdulikan apapun. Ia hanya tahu kalau ia mulai sangat menyukai mengecupi bibir Rachel di pagi hari seperti ini.
Tangannya bergerak tidak hanya mengusap leher dan tengkuk Rachel, melainkan juga punggungnya yang membuat Rachel menggelinjang geli.
Mereka baru mengakhiri semuanya saat Rachel nyaris kehabisan nafas.
Keduanya terengah bersamaan, bertumpu pada dahi pasangannya sambil menunggu paru-parunya terisi udara dengan maksimal.
Nata masih tersenyum, melihat Rachel yang memejamkan matanya dengan suara nafas yang menderu menerpa wajahnya. Tangannya terangkat untuk sekedar mengusap sisa salivanya di bibir Rachel.
“Pagi ini terlalu indah.” Ucap Rachel saat membuka matanya.
“Iya. Dan kita akan mengulangnya setiap pagi.” Timpal Nata. Keduanya tersenyum kecil sebelum kemudian Nata mengecupi pipi, dahi dan hidung istrinya. Ia memberi gigitan gemas di dagu Rachel yang lancip sempurna.
“Mas mau sarapan apa?” tawar Rachel kemudian. Ia sadar ini sudah sangat siang.
“Dua telur mata sapi dengan segelas susu.” Pinta Nata.
“Baiklah aku akan segera membuatnya. Perut Mas pasti udah keroncongan kan?” Rachel sedikit menarik tubuhnya dari Nata hendak beranjak.
“Tidak, tunggu sebentar.” Lagi Nata menahan tangan Rachel.
“Aku masih mau memelukmu, sebentar lagi.” Nata membawa Rachel ke dalam pelukannya. Rachel tersenyum kecil, ia begitu menikmati pelukan Nata yang terasa nyaman untuknya.
Beruntung ini hari libur sehingga mereka bisa menikmati waktu bersama dengan lebih lama.
__ADS_1
****