Menjadi Dia

Menjadi Dia
Keluarga Wijaksono


__ADS_3

Pintu rumah keluarga Wijaksono, kembali dimasuki oleh Rachel. Kali ini bukan Bary atau Ivana yang membawanya masuk, melainkan Nata sendiri. Martha menyambut bahagia kepulangan Rachel ke rumah ini. Ia langsung merentangkan tangannya, menyambut Rachel dengan sebuah pelukan.


Kehangatan yang selama beberapa tahun tidak dirasakan di rumah ini, seolah kembali seiring dengan kepulangan Rachel. Mereka melepas rindu beberapa saat hingga hari sudah mulai malam untuk sekedar melakukan perbincangan.


Saat ini Nata dan Rachel berada di kamar mereka dan menikmati waktu berdua. Mereka sama-sama duduk bersandar dan membaca buku catatan yang baru saja Rachel tulisi dengan kisahnya yang baru. Mereka memiliki halaman baru untuk hari-hari ke depannya yang siap di isi dengan cerita penuh kebahagiaan.


“Kenapa duduknya jauh-jauh dari aku? Sini deketan?” tanya Nata saat melihat Rachel menyandarkan tubuhnya jauh di sisi kiri tempat tidur mereka.


Ada ruang kosong yang terlalu luas antara ia dan Rachel.


“Aku gak mau deket-deket mas, badan mas bau.” Ucap Rachel sambil mengerucutkan bibir dan menguncupkan hidung menahan nafas.


“Hah, bau? Aku kan baru habis mandi. Masa bau?” Nata menciumi tubuhnya sendiri yang ia rasa sudah wangi. Ia bahkan menggunakan cologne.


“Nggak tau. Mas cek aja sendiri, aku mau di sini aja.” Rachel kukuh dengan pilihannya.


“Dari parfumnya kali ya?” Nata mengangkat ketiaknya ke arah Rachel.


“Iiiyyuuuhhhh … mas ikh!” satu pukulan telak di berikan Rachel di lengannya.


“Sana jauh-jauh!” ia mendorong Nata menjauh.


“Astaga, kamu galak banget. Emang aku sebau itu ya?” Nata sampai kaget dengan respon Rachel.


“Cium aja sendiri.” Sinis Rachel sambil menutup hidungnya. Entahlah, ia merasa bau tubuh Nata begitu mengganggunya.


Nata menurut untuk mengendus tubuhnya. Menurutnya tidak bau sama sekali.


“Ya udah, aku mandi lagi. Bentar ya.” Pamit Nata.


Rachel hanya mengangguk dan tetap menutup hidungnya.


Satu kali, dua kali hingga tiga kali Nata mandi. Itupun tetap saja mendapat komentar bau dari Rachel. Nata mulai putus asa, tubuhnya sudah kedinginan.


“Chel, kali ini aku murni pake sabun sama air doang. Coba sini deket-deket, siapa tau udah gak bau.” Bujuk Nata.


Rachel tidak lantas mendekat, melainkan mengendus terlebih dahulu bau tubuh Nata.


“Gak mau, masih bau.” Tolak Rachel.


“Hah? Masih bau?” Nata dengan keputusasaannya.


Rachel mengangguk yakin.


“Terus gimana dong, aku udah tiga kali mandi, masa masih bau?” kulkas dua pintu mulai berubah menjadi bayi besar yang bisa merengek.


“Ya udah, mas di situ, aku di sini. Di tengah guling. Aman kan?” cicit Rachel dengan santai.


“Yaaahh, kalau kayak gitu, gimana caranya kalau aku mau nengokin anak aku?” Nata bergumam sedih.


“Nengokin gimana?” Rachel mendadak bingung.


“Ya nengokin, dari bawah.” Dengan sudut matanya Nata menunjuk perut buncit dan bawah perut Rachel.


“Astagaaa… mas mesum!” ia melempar satu guling pada Nata.


“Ya bukan mesum Chel, tapi kebutuhan ….” Nata menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kepalanya mulai sakit.


“Gak, pokonya untuk sekarang aku tidur di sini, mas di situ dulu.” Rachel menunjuk tempatnya dan tempat Nata bergantian.


“Sampe kapan?” Nata dengan raut wajah memelas.


“Sampe aku gak ngerasa kalau mas bau.”


“Hah, gak bisa ditentukan dong waktunya?”


Rachel mengangguk pasti.


“Astagaaa … Nasib…” gumam Nata dengan wajah sedihnya.


Rachel hanya menghembuskan nafasnya kasar lalu memilih membaringkan tubuhnya menyamping membelakangi Nata. Kasihan juga sebenarnya melihat Nata seperti itu. Tapi, ia selalu mual setiap kali mencium bau tubuh Nata yang ada di dekatnya.


Dengan terpaksa, Nata ikut membaringkan tubuhnya menyamping. Ia mengusap ruang kosong antara ia dengan Rachel. Nelangsa rasanya.


“Chel, aku kesepian loh.” Rengek Nata sambil memandangi punggung Rachel.


“Sabar, nanti kalau gak mual, aku balik badan.” Sahut Rachel.


“Hemh!” Nata hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Sepertinya saat ini ia memang harus menyerah.


Eh tunggu, tiba-tiba ia ada ide. Nata langsung bangun dan menghampiri meja rias. Ia mencari sesuatu di dalam laci.


“Ada!” serunya.


Langsung saja ia menyemprotkan parfum Rachel ke seluruh tubuhnya. Sekarang ia bisa mencium wangi feminine ini melekat kuat di tubuhnya.


“Hahahaha … sekarang dia gak akan bisa nolak.” Batin Nata dengan bangga.

__ADS_1


Cepat-cepat ia kembali ke tempat tidur. Sedikit demi sedikit menggeser tubuhnya mendekat pada Rachel.


Grap! Tiba-tiba saja ia memeluk Rachel dari belakang.


“Astaga!” Rachel terhenyak kaget.


“Hehehehe … sekarang udah gak bau kan? Wangi aku samaan sama kamu.” Bisik Nata dengan idenya yang cemerlang.


“Mas pake parfum aku?” Rachel menguncupkan hidungnya, mengendus.


“Iyaa… sekarang aku aman, bisa deketan sama kamu.” Nata semakin mengeratkan pelukannya. Ia juga menghimpitkan kakinya di atas kaki Rachel yang ia usap-usapkan perlahan.


“Mas kok kepikiran ide begitu sih?” tanya Rachel, tidak habis pikir.


“Ya, kan aku cerdas. Pasti ada selalu ide lah. The power of kepepet.” Sahutnya jumawa.


“Astagaaa, dasar Nata cerdas Amran Wijaksono.” Ledek Rachel sambil terkekeh.


“Hahahaha … unik yaa… nanti kita juga bikin nama yang unik buat anak kita.”


“Masih kecil, gerakannya aja belum kerasa.”


“Oh ya?” Nata penasaran.


“Iyaa… katanya umur kehamilan empat bulan itu udah akan terasa gerakan bayi. Tapi aku belum ngerasain gerakan yang gimana gitu. Baru kayak usapan halus gitu aja dari dalem.” Ungkap Rachel.


“Tapi dia baik-baik aja kan?” Nata mulai khawatir. Ia menarik selimut dan menyelimuti dirinya dengan Rachel.


Di dalam selimut tangannya bergeriliya, mengangkat sedikit demi sedikit dress Rachel.


“Mas mau apa?” Rachel langsung waspada saat roknya disingkap Nata sampai ke perut.


“Mau ngecek anak aku.” Bisik Nata.


“Ngecek?” Rachel menoleh Nata yang masih ia punggungi.


Laki-laki itu hanya mengangguk. Memejamkan matanya sambil mengusap perut Rachel dengan lembut.


“Hay, anak ayah. Apa kamu mau ayah tengokin?” suara Nata berdengung di telinga Rachel.


“Mas ikh pertanyaannya.” Rachel mendelik kesal pada keisengan Nata.


“Hehehehe … ibu kamu sensi ya nak.” Ucap Nata lagi.


“Tuk!” tiba-tiba saja seperti ada sesuatu yang menyentuh telapak tangan Nata dari dalam.


Rachel dan Nata sama-sama terdiam karena merasakan hal yang sama.


“Iya, aku ngerasain dia gerak mas.” Rachel ikut berbalik.


“Pelan-pelan,” ucap Nata saat gerakan Rachel terlalu cepat. Ia membantu Rachel untuk duduk bersandar.


Mereka sama-sama memandangi perut Rachel yang sudah mulai membuncit.


“Aku pegang lagi boleh?” pinta Nata.


Rachel mengangguk pelan.


Nata pun mulai mengusap kembali perut Rachel dengan lembut. Dan gerakan itu kembali dirasakan Rachel.


“Dia gerak lagi!” seru Rachel.


“Sebelah mana?” protes Nata karena tidak merasakannya.


“Di sebelah sini.” Rachel membawa tangan Nata berpindah posisi.


“Udah gak ada gerakannya.” Ucap Rachel.


“Gak apa-apa, aku tungguin.” Dengan sabar Nata memandangi dan mengusap-usap perut Rachel. Banyak do'a yang ia lafalkan dalam hatinya.


Lima, sepuluh, lima belas hingga dua puluh menit gerakan itu tidak lagi ada.


“Apa dia tidur?” tanya Nata.


“Mungkin.” Rachel juga ragu. Mereka tidak beranjak dan tetap menunggu gerakan janin berikutnya.


“Tuk.” Lagi ia bergerak halus satu jam kemudian.


“Ada lagi!” seru Nata, kali ini ia yang merasakannya.


“Mungkin dia lapar makanya gerak Chel. Kamu mau sesuatu gak? Biar aku bikinin.” Tawar Nata dengan sigap.


“Mau sandwich aja.” Pinta Rachel.


“Okey, tunggu sebentar, aku bikinin dulu.”


“Mas bisa?”

__ADS_1


“Harus bisa!” Nata segera beranjak dan bangkit dari tempat tidur.


“Kamu tunggu bentar.” Pesannya lagi.


Rachel hanya mengangguk. Ia melihat semangat Nata yang begitu besar untuk mengurusnya. Sungguh ia terrenyuh dengan perubahan sikap Nata.


Di dapur saat ini Nata berada. Ia tengah membuat sandwich untuk Rachel. Mengambil sayuran dari dalam kulkas dan menggoreng daging.


“Kamu lagi ngapain?” tanya Ivana yang baru kembali dari kamar Brandon. Ia bersama Martha yang terduduk di kursi roda.


“Aku lagi bikin sandwich, kayaknya Rachel laper. Kalian tau, tadi anak aku gerak-gerak. Kayaknya dia mau jadi pemain sepak bola!” dengan spatula di tangannya, Nata berbicara dengan semangat.


“Beneran?” Ivana ikut terkejut.


“Iyaaa … aku ngerasainnya dua kali dan Rachel tiga kali.” Aku Nata dengan bangga.


“Tapi gak habis kamu apa-apain kan Rachel nya?” selidik Ivana yang khawatir.


“Nggak lah. Dideketin juga katanya aku bau. Padahal aku udah mandi.” Wajah Nata memelas lemas.


“Hahahahaha ….” Ivana tertawa puas mendengar ucapan Nata.


“Ya udah, kamu puasa dulu aja sampai ngidamnya Rachel ilang. Sabar aja, cuma sembilan bulan ini.” Entah bermaksud menyemangati atau meledek yang jelas kalimat Ivana membuat Martha tertawa dalam hati.


“Gak usah ngeledek. Aku udah puasa dua bulan ini. Jangan bikin kesel.” Dengus Nata.


“Hahahahaha ….” Lagi, Ivana hanya tertawa.


“Udah akh, aku mau liat Rachel. Mamah aku anter ke kamar dulu ya.” Tawar Ivana.


“Ngaa….” Dengan cepat Martha menggeleng.


“Mamah mau ikut liat Rachel?” tanya Ivana.


Martha mengangguk pasti.


“Ya udah, tunggu Nata selesai ya mah. Biar dia gendong mamah. Aku ke atas duluan. Ta, nitip mamah.” Seru Ivana yang sudah tidak sabar ingin melihat Rachel.


“Kak, aku kan bawa piring.” Protes Nata.


“Bawain kek piringnya.” Suara Nata pelan dengan sendirinya. Ia tidak habis pikir dengan Ivana yang selalu gerak cepat kalau urusan Rachel.


Di kamar Rachel saat ini mereka berkumpul. Mereka tengah memandangi perut Rachel yang membuncit. Ada tiga tangan yang bergantian mengusap perut Rachel.


“Giliran aku.” Pinta Ivana sambil menepis tangan Nata.


Terpaksa Nata mengalah.


“Hay baby, ini mami Nana. Kamu lagi apa di dalem?” tanya Ivana dengan lembut.


Tidak ada respon sama sekali dan semakin membuat penasaran.


“Dia tidur kayaknya. Padahal biasanya bayi lebih kerasa aktif di malam hari.” Ucap Ivana.


“Biar aku coba.” Berganti Nata yang menyentuh perut Rachel, sementara ibunya di minta makan sandwich.


“Anak ayah. Lagi apa? Ayo kita tos dulu.” kali ini Nata yang berbicara. Mereka menunggu beberapa saat dan tetap janin itu belum merespon.


Berganti Martha yang menyodorkan ponselnya pada Rachel.


“Boleh mamah pegang?” tulisnya, meminta izin Rachel.


“Boleh mah.” Rachel meraih tangan Martha yang gemetar lalu menyentuhkannya ke perutnya.


Martha tersenyum haru, air matanya kembali menetes di sudut mata kirinya yang lebih sensitive. Ia memejamkan matanya beberapa saat, mengusap perut Rachel dengan pelan dan lembut.


Ivana menoleh Nata yang tersenyum haru melihat apa yang dilakukan Rachel dan Martha.


“Tuk!” tiba-tiba saja gerakan itu kembali terasa. Mata Martha langsung terbuka. Ia menatap Rachel dengan mata membulat haru. Ia merasakan benar gerakan pelan janin di perut Rachel.


Dengan bergetar bibir tidak simetris itu berusaha berbicara.


“Cu-cu o-ma.” Ucapnya terbata-bata.


Martha tersenyum haru dengan air mata yang menetes di kedua pipinya.


Ivana yang berada di belakang Martha, memeluk sang ibu dengan erat.


“Dia tau, kalau mamah akan sangat menyayanginya.” Ucap Ivana lirih.


Martha mengangguk pelan dengan air mata yang tidak bisa ia hentikan. Ia menangis sesegukan kemudian memeluk Rachel. Entah mengapa hatinya begitu hangat saat merasakan kalau janin itu meresponnya.


Nata dan Ivana ikut terharu dengan apa yang mereka lihat.


Suasana malam di kamar itupun kemudian mengharu biru. Hanya kehangatan yang mengisi rumah mewah milik keluarga Wijaksono saat ini.


“Pah, andai papah masih ada, papah juga pasti akan bahagia melihat kita akan dikaruniai cucu oleh putra kita.” Batin Martha dengan penuh rasa syukur.

__ADS_1


Akhir seperti ini kah yang membuat kita tersenyum?


****


__ADS_2