Menjadi Dia

Menjadi Dia
Ketegasan Ivana


__ADS_3

Mulai hari ini, Ivana bertekad untuk mengantar Brandon ke sekolahnya. Ia ingin waktunya lebih banyak dengan Brandon. Seperti saat ini, ia tersenyum dengan bahagia saat mengantar Brandon ke sekolahnya.


"Belajar yang pinter yaa anak mami. Bekalnya jangan lupa di makan. Nurut sama Miss. Nanti sore kita main lagi di rumah sama mami Acen juga."


Pesan Ivana seraya menatap Brandon yang menatap entah ke arah mana. Matanya memang tidak pernah fokus menatap lawan bicara. Tapi dengan Brandon diam dan tidak pergi begitu saja, ini berarti anak itu menyimak pesan Ivana dengan baik.


"Kiss mami dulu." Ivana menyodorkan pipi kanannya pada Brandon.


Brandon tidak menciumnya, melainkan hanya mengusap pipi Ivana dengan lembut.


"Eem... manisnya anak mami. Sampe ketemu nanti sore." Satu kecupan diberikan Ivana di pucuk kepala Brandon.


"Okey, ayo kita masuk Brandon." Ajak guru Brandon.


Anak itu menurut saja, mengikuti langkah kaki gurunya yang berjalan satu langkah lebih dulu darinya. Brandon memang tidak suka berjalan sejajar dengan orang lain.


"Bye Brandon! Love you nak!" seru Ivana. Ia melambaikan tangannya pada Brandon sambil tersenyum. Padahal dalam hatinya ia meringis sedih membayangkan nasib anak semata wayangnya.


"Mami selalu percaya, kalau suatu hari anak mami akan menjadi anak yang hebat. Semangat nak." Gumam Ivana menyemangati Brandon yang berjalan menjauh darinya sambil menyemangati dirinya sendiri juga.


"Tet tet!!" suara klakson sengaja di bunyikan Nata saat melihat kakaknya mematung entah sedang apa.

__ADS_1


Cepat-cepat Ivana mengusap air mata yang tiba-tiba menetes.


"Iya bawel!" seru Ivana seraya beranjak menghampiri Nata.


Ia masuk ke dalam mobil dan terdiam beberapa saat. Ia juga belum memasang seatbelt nya.


"Kenapa?" tanya Nata.


“Aku punya permintaan sama kamu.” Ucap Ivana tiba-tiba.


Kakaknya ini sudah bersidekap, hendak berbicara serius. Mungkin kelanjutan dari kemarahannya tadi di meja makan.


“Minta apa?” Nata dengan sikap tenangnya. Ia mulai melajukan mobilnya dan Ivana memasang seatbeltnya.


“Loh, tapi departemen kerjasama kan udah tanda tangan kontrak kak. Kita bisa kena pinalti kalau mengakhiri kontrak secara sepihak.”


“Ya pokoknya aku gak mau tau. Kan salah kamu juga malah mau kerjasama sama perempuan itu. Udah, kita pake Rachel aja buat promonya. Biar perusahaan pengiklannya Calvin.” Tegas Ivana.


“Hah, Calvin?” Nata semakin tidak terima. Belum hilang rasa kesalnya saat mengingat beberapa pesan yang di kirim Calvin pada Rachel. Pesan yang menunjukkan kalau laki-laki itu menaruh perhatian pada Rachel.


Walau tidak ia pungkiri, Rachel meresponnya dengan biasa saja. Tapi sebagai seorang laki-laki, ia tentu tahu saat ada laki-laki yang menaruh hati pada istrinya.

__ADS_1


“Iya, emang kenapa? Dia baik kok. Professional juga. Perusahaan iklannya bagus. Dan si Marsya itu cuma debu di salah satu anak perusahaan, manajemen artis punya Calvin. Samaan sama Rachel. Rachel malah lagi naik daun. Medsosnya aja lagi banyak dikunjungin.”


“Dan coba kamu pikir lagi, sama pihak professional aja Rachel yang dipilih buat core artist di iklan kemaren, masa sama kamu gak dipilih. Istri kamu sendiri loh Ta.” Cerocos Ivana tidak bisa dihentikan.


Nata menghembuskan nafasnya kasar. Sebenarnya kalau harus diakui, ia bukan tidak mau menggunakan istrinya sebagai model iklan untuk pemasaran usaha property-nya. Tapi ia tidak bisa terima kalau Rachel semakin menarik perhatian banyak orang.


Kemarin saja, saat Ivana mengajak mereka berkeliling dan Nata menunggu di mobil, Nata mendengar banyak puja puji laki-laki untuk istrinya.


Ada yang bilang bibirnya seksi lah, senyumnya cakeplah, matanya cantiklah dan pujian lainnya yang mengarah pada fisik Rachel. Ia tidak bisa membiarkan laki-laki lain berimajinasi tentang istrinya seperti yang pernah dilakukan Brams terhadap Rachel. Kaum adam itu menjadikan Rachel sebagai objek yang mengisi imajinasinya. Dan itu saja sudah membuatnya cemburu.


Dan tentang Calvin?


Andai saja Ivana tahu kalau dadanya bergejolak setiap membayangkan laki-laki itu menyukai Rachel. Mengingat itu, Nata jadi mencengkram kuat-kuat stir di tangannya.


“Gimana?! Kamu setuju kan?” pertanyaan Ivana membuyarkan semua pikiran Nata.


“Aku pikir-pikir dulu.” timpal Nata.


“Gak usah pikir-pikir, aku yang bakal minta Riki aturin jadwal kamu ketemu perempuan itu dan mengakhiri kontrak. Kalau ada penalti, nanti aku bantu bayarin. Tabungan aku masih cukup cuma buat bayar penalti.” Tegas Ivana.


Melihat keras kepalanya Ivana, membuat Nata sadar kalau kakaknya sedang memutus mata rantai hubungannya dengan keluarga Brams. Ya, siapapun yang menjadi keluarga Brams, tidak akan Ivana biarkan masuk ke hidupnya.

__ADS_1


Dan sepertinya, Nata harus menghargai itu.


****


__ADS_2