Menjadi Dia

Menjadi Dia
57. Akrab


__ADS_3

Hari sudah beranjak siang. Nadine menghentikan mobilnya di pinggir jalan dengan wajah kesal. Wanita seksi itu membuang napas kasar saat melihat ban mobilnya kempes.


"Sial! Kenapa pakai kempes segala, sih?! Mana jalan ini jarang di lalui kendaraan umum lagi! Aku harus bertemu dengan klien setengah jam lagi. Gimana, nih?! Pesan taksi atau ojek online juga nggak bakal keburu,"gerutu Nadine nampak gelisah menatap arloji di pergelangan tangannya.


Nadine menatap ke arah jalan dan senyuman langsung terukir di bibirnya. Nadine menyetop seorang pengendara bermotor yang sedang melintas.


"Jef, kamu mau kemana? Aku buru-buru mau ketemu klien di daerah xx. Bisa minta tolong nggak, buat anterin aku kesana?"tanya Nadine saat pengendara motor itu berhenti di depannya.


Jefri membuka helm full face yang dipakai nya,"Maaf, kamu siapa, ya?"tanya Jefri menelisik wanita yang ada didepannya itu. Mencoba mengingat siapa wanita yang bicara santai padanya ini, seolah sudah akrab dengannya.


"Oh, iya. Kamu pasti sudah lupa sama aku. Aku Nadine. Kamu pernah menolong aku saat aku akan di lecehkan beberapa orang pria. Waktu itu, kamu meminjamkan jaket mu padaku dan mengantarkan aku pulang. Tapi maaf, sampai sekarang, aku belum mengembalikan jaket mu,"jelas Nadine seraya tersenyum bodoh karena malu belum mengembalikan jaket Jefri.


"Oh, iya. Aku ingat,"Jefri baru mengingat siapa wanita yang ada di depannya ini,'Kok, kamu bisa tahu kalau yang mengendarai motor ini adalah aku? Padahal aku pakai helm full face,"Jefri merasa heran, bagaimana wanita itu mengenali dirinya yang memakai helm full face.


"Aku tidak akan pernah melupakan orang yang telah menolong aku. Kamu memakai motor dan helm ini saat kamu menolong aku,"jelas Nadine.


"Oh, begitu, ya?! Ingatan kamu tajam sekali,"puji Jefri tersenyum tipis.


"Jadi gimana? Bisa nggak antar aku? Please! Ban mobilku kempes,"pinta Nadine memasang wajah imut.


"Oke, aku antar. Nih, pakai!"ucap Jefri menyodorkan helm kepada Nadine. Entah kenapa Jefri merasa gemas melihat wajah Nadine yang imut.


"Makasih!"ucap Nadine dengan senyuman manis.


Hari ini Nadine memakai stelan baju kemeja, yang dipadukan dengan blazer dan celana panjang. Jadi Nadine tidak kesulitan naik ke motor sport milik Jefri. Nadine yang tadinya merasa harinya sial sekarang malah merasa kebalikannya. Ini adalah hari paling beruntung bagi Nadine, karena bisa dibonceng motor oleh pria pujaan hatinya untuk yang kedua kalinya.


Dua puluh menit kemudian, mereka tiba di sebuah restoran. Saat baru saja turun dari motor, Nadine mendapat panggilan telepon. Nadine segera mengangkat panggilan masuk itu.


"Halo?"sapa Nadine dalam panggilan telepon.


Beberapa saat setelah selesai menelpon. Wajah Nadine berubah masam. Nadine menatap Jefri yang masih menunggu nya, dan sesaat kemudian wajah masamnya berubah menjadi ceria.


"Jef, bisa minta tolong sekali lagi, nggak?"tanya Nadine penuh harap seraya menyerahkan helm yang dipakainya tadi pada Jefri.


"Apa?"tanya Jefri seraya mengambil helm yang diberikan oleh Nadine.


"Seharusnya aku ketemu klien wanita di restoran ini. Tapi tiba-tiba digantikan oleh seorang pria. Aku tidak suka dengan pria ini. Dia itu genit sekali. Bisa aku minta tolong padamu untuk menemani aku? Please!"pinta Nadine dengan wajah memelas.

__ADS_1


"Bukannya aku tidak mau. Tapi aku sudah janji pada adikku untuk menemaninya belanja,"jawab Jefri yang memang punya janji dengan Rindy untuk mencari kado ulang tahun untuk Anand.


"Oh, mau nyari kado untuk Anand, ya?"tanya Nadine yang sebelumnya memang diajak Rindy untuk mencari kado untuk Anand. Tapi karena jadwal Nadine padat, jadi Nadine tidak bisa menemani Rindy.


"Kok, kamu tahu?"tanya Jefri nampak terkejut.


"Tadinya aku yang akan diajak Rindy, tapi jadwalku padat sekali. Jadi aku tidak bisa menemani nya mencari kado. Biar aku telepon Rindy sebentar,"ujar Nadine langsung menelpon Rindy dan mengaktifkan mode loud speaker.


"Rin, aku pinjam kakak kamu dulu, ya?! Tiga jam aja! Please! Tiga jam, nggak bakal lebih. Ntar, habis itu, kamu bisa jalan sama kakakmu,"pinta Nadine.


"Oke. Seharian juga nggak apa-apa. Biar besok aja aku jalan sama kakakku,"sahut Rindy membuat Nadine mengangkat kedua sudut bibirnya ke atas.


"Makasih! Bye!"ucap Nadine kemudian memutuskan sambungan telepon.


"Kamu teman Rindy?"tanya Jefri.


"Anand adalah teman lamaku, dan aku kenal dengan Rindy karena dia adalah istri Anand. Sejak kami kenal, kami merasa cocok dan akhirnya berteman baik. Aku dan Rindy juga suka jalan bareng,"ujar Nadine dengan seulas senyum di wajahnya.


"Oh, ternyata begitu,"sahut Jefri.


"Kita bicara soal bisnis. kenapa Nona Nadine malah membawa orang luar?"tanya klien Nadine, pria yang berusia tiga puluh tahun.


"Orang luar? Dia bukan orang luar, dia adalah calon suami saya,"ucap Nadine membuat Jefri yang sedang minum pun tersedak.


"Pelan-pelan, sayang!"ucap Nadine seraya mengusap punggung Jefri lembut. Dan perlakuan Nadine itu malah sukses membuat Jefri semakin terbatuk,"Minum dulu sayang!"ucap Nadine lembut membuat klien Nadine merasa kesal.


Mau tidak mau klien Nadine pun membicarakan bisnis mereka di depan Jefri. Tidak ada kesempatan untuk menggoda Nadine. Padahal sangat sulit bagi pria itu untuk bertemu dengan Nadine. Klien Nadine nampak menatap Jefri dengan tatapan benci. Saat mereka bertiga makan siang bersama, Nadine nampak sangat mesra dengan Jefri. Bahkan Nadine menyuapi Jefri. Jefri berusaha mengikuti sandiwara Nadine, mengingat Nadine adalah teman adiknya dan juga teman adik iparnya. Setelah makan siang, klien Nadine langsung pergi karena tidak suka melihat kemesraan Nadine bersama Jefri.


"Makasih,ya, Jef? Kamu sudah menolong aku dua kali hari ini. Mengantar aku ke sini, dan mau menjadi pacarku di depan klien ku. Tapi kalau kamu mau menjadikan aku pacarmu yang sesungguhnya, aku juga nggak nolak, kok. Jangankan jadi pacarmu, jadi ibu dari anak kamu pun aku bersedia, ridho, ikhlas,"ucap Nadine lalu memalingkan wajahnya yang memerah.


"Kamu bisa aja bercandanya,"ujar Jefri terkekeh, mengira Nadine hanya bercanda.Padahal Nadine sedang mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya.


"Apa yang bisa aku lakukan untuk kamu, agar aku bisa membalas kebaikan kamu?"tanya Nadine dengan senyum lembut menatap Jefri.


"Tidak perlu. Kamu adalah teman adikku dan juga teman adik iparku. Berarti kamu juga temanku,"ucap Jefri melempar senyum tipis.


"Jika kamu ingin menjadikan aku sebagai teman hidup mu, aku juga tidak keberatan,"ucap Nadine kembali memalingkan wajahnya yang memerah.

__ADS_1


"Kamu bisa saja,"ujar Jefri kembali terkekeh. Entah mengapa merasa nyaman dengan Nadine. Menurut Jefri, Nadine adalah wanita cantik dan menarik. Walaupun Nadine tidak memakai pakaian terbuka, namun Nadine tetap terlihat seksi. Bagi Jefri, Nadine adalah orang yang supel dan menyenangkan. Saat bersamanya, Nadine nampak akrab seperti teman lama, tapi saat berbicara dengan kliennya tadi, Nadine bersikap formal, profesional dan penuh wibawa.


"Klien kamu tadi sepertinya naksir sama kamu,"ujar Jefri yang tadi melihat kecemburuan di mata klien Nadine ke pada dirinya.


"Dia sudah lama mendekati aku. Tapi aku tidak menyukainya,"sahut Nadine.


"Kenapa? Dia tampan, dan sepertinya juga kaya. Apa yang membuat kamu tidak menyukainya?"tanya Jefri.


"Dia itu genit! Aku juga nggak ada rasa sama dia,"sahut Nadine menghela napas panjang.


"Aku tahu, itu pasti karena kamu sudah punya pacar, kan?"tebak Jefri.


"Aku belum punya pacar,"sahut Nadine tersenyum hambar..


"Masak iya, wanita secantik dan secerdas kamu belum punya pacar?"ujar Jefri tidak percaya. Dari pembicaraan Nadine dengan kliennya tadi, Jefri bisa melihat jika Nadine adalah orang yang cerdas.


"Beneran. Aku belum punya pacar. Soalnya aku nunggu kamu nembak aku,"ucap Nadine seraya mengulum senyum, memalingkan wajahnya.


"Ha..ha..ha.. Kamu dari tadi bercanda terus,"sahut Jefri tertawa renyah. Jefri merasa semakin akrab dengan Nadine, padahal belum sampai dua jam mereka bersama.


Keduanya keluar dari private room yang ada di restoran itu sambil berbincang, dan keduanya nampak sangat akrab.


"Jef!"


...🌟"Seringkali cinta hadir karena perhatian dan rasa nyaman."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


Spesial untuk malam tahun baru, nanti malam aku up lagi. Have a nice day!


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2