
"Akkhh!"pekik wanita muda itu.
"Bruk"wanita yang berniat membawa Anand itu jatuh didorong oleh seseorang.
"Perempuan brengseek!"ucap orang itu kemudian menoleh pada seorang pria yang datang bersamanya,"Bereskan perempuan itu!"titah orang yang ternyata adalah Putra, kemudian membawa Anand pergi dari tempat itu.
"Berani-beraninya kamu menyentuh Tuan ku! Kamu ingin menghabiskan malam dengan Tuan ku? Mimpi! Dasar murahan!"umpat pria yang tak lain Darlen.
Dengan mata yang berkilat tajam, Darlen berjongkok di depan wanita muda itu, mencengkram pipi wanita itu hingga wanita itu nampak kesakitan.
"Katakan padaku! Siapa yang menyuruhmu dan siapa yang berkomplot dengan mu melakukan semua ini!"ucap Darlen dengan suara berat penuh amarah.
"Ti.. tidak ada,"ucap wanita itu nampak ketakutan melihat Darlen dengan tatapan tajam dan dingin, dengan wajah yang nampak menggelap.
Darlen menyeringai bagaikan iblis, kemudian mengeluarkan pisau lipat, membukanya dan mengusapnya pada pipi wanita itu.
"Apa kamu ingin aku melukis di pipimu ini dengan pisauku ini?"tanya Darlen masih mengusap pipi wanita itu dengan pisau lipatnya. Darlen tahu, seorang wanita sangat takut jika wajahnya terluka, apalagi sampai rusak.
"Ja.. jangan! Jangan lukai aku! A..aku akan mengatakannya,"ucap wanita muda itu dengan air mata yang berlinang, nampak ketakutan.
"Katakan!"bentak Darlen dengan wajah yang terlihat menakutkan, masih mencengkram pipi Wanita muda itu.
"Papa ku yang menyuruh ku melakukan ini,"ucap wanita muda itu terisak ketakutan.
"Siapa nama papamu?"tanya Darlen dingin.
"Wa.. Wangsa,"ucap wanita itu ketakutan.
"Jika kamu berani macam-macam lagi dengan Tuan ku, kamu akan menyesal! Orang yang berani berniat jahat pada Tuan ku, berarti mencari gara-gara dengan ku. Dan aku tidak suka jika ada orang yang mencari gara-gara dengan ku,"ucap Darlen penuh penekanan, menggerakkan pisau lipat yang di pegangannya di depan lehernya sendiri seperti orang yang hendak menggorok leher.
Darlen melepaskan cengkraman tangannya pada pipi wanita muda itu dengan kasar hingga membuat wanita muda itu terdorong ke belakang, kemudian berlalu meninggalkan wanita muda itu.
Wanita muda itu menangis terisak duduk di lantai, tubuhnya gemetar, melipat kedua tangannya di atas lututnya, menyembunyikan wajahnya di antara lututnya karena merasa ketakutan.
__ADS_1
Darlen bergegas menyusul Putra yang ternyata kewalahan menghadapi Anand. Sedari tadi ternyata keduanya masih berada di area parkir.
"Sayang, biarkan aku mencium mu,"ucap Anand yang berusaha mencium Putra.
"Sialan! Sadar, Ri! Aku bukan istri kamu!"pekik Putra yang berusaha menghindari Anand yang hendak menciumnya.
Darlen nampak terkejut melihat apa yang terjadi, namun sesaat kemudian langsung tertawa terbahak-bahak.
"Brengseek! Cepat bantu aku! Bibir ku masih original! Aku nggak rela jika ciuman pertama ku diambil oleh si brengseek ini! Bajingan! Obat apa yang mereka berikan padanya,"umpat Putra masih berusaha menghindari Anand.
"Sayang, jangan menolak ku,"ucap Anand dengan suara manja, berusaha mencium Putra, membuat putra bergidik ngeri.
"Sial! Bantu aku brengseek! Cepat pegang kedua tangannya!"titah Putra pada Darlen yang masih menertawakan nya, namun melihat ekspresi berang Putra, Darlen pun menghentikan tawanya dan segera mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Putra.
"Tuan Muda mau kamu apakan, Put?"tanya Darlen saat melihat Putra melepaskan kancing kemeja Anand.
"Sayang, kamu membuatku tidak sabar?"celoteh Anand berusaha melepaskan tangannya yang dipegang Darlen dari belakang dan ingin menyerang Putra lagi.
"Aku tidak mau tubuhku digerayangi dia. Aku masih normal! Nggak minat sama pisang! Kita harus segera membawa nya pulang,"ujar Putra yang mengikat tangan Anand dengan kemeja Anand sendiri.
"Cepat! Tancap gas! Aku merinding melihat caranya menatap ku!"titah Putra pada Darlen, bergidik ngeri melihat Anand yang masih terus ingin melepaskan diri dengan pandangan penuh gairah kepada Putra yang terus memegangi Anand agar tidak menciumnya.
"Baik!"sahut Darlen langsung melajukan mobil itu dengan kecepatan di atas rata-rata. Sedangkan putra masih terus memegangi Anand yang sudah seperti cacing kepanasan.
Setelah beberapa menit perjalanan dengan penuh perjuangan, mereka pun sampai di kediaman Pramana. Putra dan Darlen pun segera membawa Anand menuju lantai dua dimana kamar Anand berada.
Tok! To! Tok!
Darlen mengetuk pintu kamar Anand dan beberapa saat kemudian, Rindy membuka pintu kamar itu dan terkejut melihat Anand yang tidak memakai baju, dan juga terkejut melihat kehadiran Darlen, apalagi kehadiran Putra.
"Nyonya! Tuan.."ucapan Darlen langsung dipotong oleh Putra.
"Darlen, cepat lepaskan ikatannya!"titah Putra masih memegangi Anand.
__ADS_1
"Sayang!"ucap Anand saat melihat Rindy, berusaha mendekat pada Rindy tapi masih ditahan oleh Putra karena ikatan tangannya belum terlepas.
"Rin, aku serahkan dia padamu. Kami tidak sanggup lagi mengurusnya,"ujar Putra kemudian mendorong Anand masuk ke dalam kamar setelah Darlen melepaskan ikatan Anand, kemudian menutup pintu kamar Anand dan bergegas meninggalkan kamar itu bersama Darlen.
"Huff! Brengseek sekali orang yang memberi obat pada Anand. Hampir saja aku kehilangan ciuman pertama ku,"gerutu Putra.
"Aku sudah mendapatkan informasi dari wanita tadi. Aku akan menyelidikinya lebih lanjut,"ujar Darlen dengan mata yang nampak berkilat tajam.
Sedangkan Rindy nampak masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Apalagi melihat kehadiran Putra yang mengantar Anand pulang bersama Darlen. Belum hilang kebingungan Rindy namun langsung terkejut saat Anand tiba-tiba memeluknya.
"Sayang!"gumam Anand langsung mencium Rindy.
Anand memeluk erat tubuh Rindy dan mencium Rindy dengan agresif. Mengulum, melum matt, menyesap, bahkan lidahnya berusaha menerobos masuk ke dalam mulut Rindy dan mengekspor semua yang ada di dalam mulut Rindy. Sama sekali tidak memberi kesempatan pada Rindy untuk melepaskan diri.
Tubuh Anand terasa panas dan nafsunya nampak meledak-ledak. Rindy merasa ada yang aneh dengan suaminya itu. Rindy memukul-mukul dada Anand saat sudah mulai kesulitan bernapas hingga membuat Anand melepaskan pangutan nya. Baru juga Rindy berusaha menetralkan napas nya, Anand sudah mengangkat tubuh Rindy ke atas ranjang dan langsung menindihnya dan kembali menyerang Rindy. Rindy sampai tidak bisa berkata apa-apa menghadapi Anand yang begitu agresif.
Dengan tidak sabar Anand melucuti pakaian yang dikenakan oleh Rindy dan juga dipakainya sendiri, melemparnya dengan asal. Dengan tidak sabar, Anand langsung melakukan penyatuan dengan Rindy.
"Anand!"pekik Rindy mencengkram kedua lengan Anand. Anand begitu kasar saat menyatukan tubuh mereka. Apalagi Rindy yang belum siap melakukan penyatuan, membuat Rindy merasakan sakit di bagian intinya.
Anand bergerak cepat di atas tubuh Rindy dengan hasraat yang nampak meledak-ledak, mencium Rindy penuh napsu. Anand bahkan menggigit bibir, leher dan beberapa bagian tubuh Rindy yang lain, membuat Rindy memekik beberapa kali merasakan sakit di tubuhnya.
Sudah beberapa kali Anand mendapatkan pelepasan namun nampak masih belum puas dan belum mau melepaskan Rindy. Rindy tidak bisa melakukan apapun selain pasrah, membiarkan Anand melakukan apapun yang diinginkan nya. Menolak, apalagi melawan pun percuma.
Entah obat apa yang diberikan oleh Ringgo hingga Anand menggila seperti itu. Setelah mendapatkan pelepasan beberapa kali dengan melakukan penyatuan yang lumayan kasar, akhirnya Anand pun tertidur di samping Rindy karena kelelahan.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia seperti ini?"gumam Rindy menatap Anand yang sudah tertidur di sampingnya seraya meringis menahan sakit di tubuhnya terutama di bagian inti tubuhnya.
Rindy merasa kelelahan karena diserang Anand habis-habisan, akhirnya Rindy pun ikut terlelap di samping Anand dengan tubuh yang terasa sakit.
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
.
To be continued