
“Selamat malam nona,” suara Ima terdengar di sebrang sana.
Orang yang dihubung Rachel akhirnya merespon dengan baik.
“Malam Ima. Panggil aja aku Rachel,” timpal Rachel.
“Adduuh saya jadi gak enak, berasa kurang sopan.” Ima tersenyum kelu di tempatnya.
“Santai aja Ima. Aku lebih suka kalau kamu menganggapku sebagai teman.”
“Terima kasih, Chel.” Suara Ima terdengar ragu. Rachel tersenyum kecil mendengar panggilan Ima, ini terasa lebih akrab.
“Ngomong-ngomong, hal pribadi apa yang mau ditanyakan?” tanya Ima kemudian.
“Em, sebelum aku menjawab, tolong tetap balas pesan text ku Ima. Kita berkomunikasi seolah kita sedang berkirim pesan. Tapi jangan tutup teleponnya.” Pinta Rachel.
“Loh, emang kenapa?” Ima merasa aneh dengan permintaan Rachel.
“Ada yang harus aku lakukan, dan aku butuh bantuanmu.” Rachel menyalakan mode perekam panggilannya dan mencadangkannya langsung ke penyimpanan ke internet.
“Baik, Chel.” Syukurlah Ima begitu mudah diajak kerjasama dan mau membantunya.
“Iya nona, apa yang perlu saya beri tau?” Di sisi lain, Ima juga membalas pesan text Rcahel.
Rachel tersenyum lega.
“Apa alasan kamu pergi karena kamu mendapatkan pelecehan dari seseorang?” tulis Rachel.
“Maksud kamu apa? Pelecehan apa?” tanya Ima lewat panggilan suara.
“Ima, saat kamu memelukku, aku melihat luka kebiruan di punggung kamu. Selain itu kamu juga terlihat sangat ketakutan dan aku pernah mengalami itu. Alasan kamu pergi dari rumah ini, bukan karena kamu rindu ibu kamu kan?” timpal Rachel melalui sambungan telepon.
__ADS_1
“Apa kamu juga mengalami hal yang sama?” suara Ima terdengar bergetar.
“Iya.” Ia juga menuliskan jawaban itu di pesan text nya.
“Iya Ima, aku mengalami hal yang sama dan pelakunya adalah kakak iparku.” Sahut Rachel.
“Bisa aku tau lebih detail soal kejadian itu?” itu pesan text yang Rachel kirim.
“Dia mau memperkosaku Chel.” Suara Ima terdengar serak. Rachel terhenyak di tempatnya. Ternyata dugaan Rachel benar.
“Bisa.” Balas Ima lewat pesan.
“Ayo kita ketemu besok, nanti aku kirim alamatnya.” Dengan tangan gemetar Rachel menulis pesan itu. Ternyata sangat sulit meminta otak dan tangan bekerja masing-masing.
“Baik nona muda.” Balas Ima.
Sesi berkirim pesanpun berakhir dan keduanya fokus pada panggilan telepon.
Ketakutan yang ia coba lupakan saat berada di kamar Ivana seolah kembali hadir dan ia berusaha menepisnya walau sulit.
“Satu jam sebelum saya memutuskan untuk pulang. Dia mengurung saya di ruang linen, menarik tangan saya dan mengungkung tubuh saya." Ima memaulai cerita yang membuat Rachel bergidik.
"Laki-laki brengsek itu memaksa saya untuk menyentuh tubuhnya, menyentuh alat vitalnya. Itu sangat menakutkan nona.” Ima terisak di sebrang sana.
“Saya berusaha memukul dia dengan setrikaan tapi tangannya sangat kuat dan dia malah balas membenturkan kepala dan punggung saya ke dinding. Dia juga mencekik leher saya.”
“Kalau tidak ada yang datang, mungkin saya sudah meninggal.” Dengan segenap keberanian Ima melanjutkan ceritanya.
“Astaga Ima, maaf karena aku membuatmu harus mengingat kembali kejadian itu.” Rachel bisa merasakan ketakutan Ima saat itu. Andai saja Ima ada di dekatnya, mungkin Rachel akan memeluk gadis muda itu dengan erat.
“Tidak apa-apa nona. Saya juga perlu berbicara dengan seseorang agar perasaan saya bisa lega. Saya tidak tau harus berbicara dengan siapa karena saya malu dan takut menceritakannya.” Ima benar-benar menangis.
__ADS_1
Rachel membiarkannya beberapa saat, membiarkan Ima mengurai perasaannya. Ia tahu persis bagaimana rasa sesak yang dirasakan Ima saat ini.
“Apa ada yang tahu kalau kak Brams ngelakuin ini sama kamu, Ma?” setelah Ima tenang, Rachel kembali bertanya.
“Ada.”
“Siapa?” Rachel semakin penasaran.
“Bi Tuti tau kalau tuan Brams melakukan itu pada saya. Bi Tuti juga sebenarnya mengalami hal yang sama, hanya saja dia memilih diam dan menerima perlakuan itu dari tuan Brams."
Rachel benar-benar tercengang. Ia tidak menyangka kalau di balik sikap Tuti yang tenang, sebenarnya wanita itu menyembunyikan kenyataan yang menakutkan.
"Tuan Brams tidak segan untuk meniduri Bu Tuti, mereka sudah melakukannya beberapa kali. Luka di dahi tuan muda Brandon, itupun bukan karena tuan Brandon jatuh tapi karena tuan Brams mendorong tuan Brandon saat tuan Brandon melihat apa yang dilakukan bi Tuti dan papahnya.”
Hati Rachel rasanya teriris perih, membayangkan apa yang dialami anak tidak bersalah itu.
“Bi Tuti juga tau kalau tuan Brams pernah mengurung nona di kamarnya dan melecehkan nona. Luka di kaki bi Tuti, bukan karena terjepit saat menutup gerbang melainkan sengaja di jepit oleh tuan Brams saat bersembunyi di dalam lemari nyonya Ivana.”
“Setiap habis melakukan hubungan terlarang itu, tuan Brams memberi bi Tuti uang. Katanya bi Tuti harus tutup mulut atau tuan Brams akan melapor pada nyonya Ivana kalau Bi Tuti menggodanya. Tuan Brams memiliki rekaman CCTV yang seolah menunjukkan kalau Bi Tuti menggodanya.”
Sampai kalimat ini, Ima begitu terengah-engah karena menggebu bercerita. Sementara Rachel hanya bisa melongo tidak percaya mendengar semua uraian kejadian dari Ima.
“Lalu kenapa kamu tidak melapor?” pertanyaan itu yang kemudian Rachel tanyakan. Pertanyaan yang sebenarnya sudah ia tahu jawabannya.
“Saya takut nona. Saya takut orang-orang tidak mempercayai pelayan seperti saya. Saya juga malu kalau sampai orang lain tau apa yang saya alami. Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana kalau pacar saya di kampung tau apa yang terjadi pada saya. Makanya saya memilih diam dan pergi supaya tidak di ganggu lagi.” Tutur Ima dengan perasaan yang sama persis seperti yang dialami Rachel.
Bedanya, Rachel tidak seberani Ima untuk memilih pergi. Tentu saja karena ia masih memiliki tanggung jawab sebagai seorang istri.
Dan saat ini, Rachel hanya bisa termenung di sudut kamarnya. Ternyata perlakuan Brams terhadapanya bukan sekedar keisengan belaka, melainkan memang berniat melecehkannya.
****
__ADS_1