Menjadi Dia

Menjadi Dia
Rasa penasaran Rachel


__ADS_3

Sesuai yang dijanjikan, hari ini Rachel bertemu dengan Feby di kantor. Mereka akan membahas tentang detail kontrak permintaan untuk menjadi model iklan dari sebuah Brand penyedia kebutuhan alat-alat rumah tangga.


Di hadapannya ia masih memandangi kontrak itu. Tapi pikirannya, belum sepenuhnya ada di sini. Pikiran Rachel masih tertaut pada masalah yang terjadi semalam. Ia masih bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi semalam hingga Nata memutuskan untuk tidak kembali ke kamarnya dan malah tertidur di ruang kerjanya dengan pintu terkunci?


Rachel mengetuk pintupun, tidak dibukakan oleh Nata. Akhirnya ia hanya mematung beberapa lama hingga kakinya kebas.


“Gimana, kamu udah setuju?” tanya Fany yang tiba-tiba datang dan duduk dihadapan Rachel.


Wanita itu membawa dokumen yang ia tumpuk di atas meja.


“Hah?” Rachel seperti baru tersadar. Jiwanya baru masuk lagi ke dalam raganya secara utuh.


“Hey, kamu kok ngelamun sih? Kaget yaa dengan honor fantastisnya?”


Fany tersenyum kecil memandangi wajah bingung Rachel. Ia sangat menggemaskan, karena dari beberapa artis baru yang pernah dimanageri olehnya, Rachel yang terlihat paling polos masalah dunia entertain.


“I-iya kak.” Rachel mengiyakan saja pertanyaan Fany. Pikirannya benar-benar tidak sedang di sini.


“Wajar sih itu. Semua artis baru pasti bingung sama kontrak komersil mereka. Karena nilainya tidak terduga dan memiliki target pemasaran. Tapi aku yakin, kamu bisa dapet target itu, jadi kamu bisa mendapat tambahan sampingan selain dari honor kontrak.” Urai Feby.


Entahlah apa yang sebenarnya dijelaskan Feby ini. Tapi sedikit banyak ia memahami prinsip laba dan kerugian. Kalau penjualan mencapai target nilai yang ditentukan, sudah pasti akan ada bonus yang mengalir.


Itu saja, pikiran sederhana Rachel.


“Iya kak. Maaf ya aku jadi banyak ngerepotin kakak ngurus ini dan itu.” Ungkap Rachel dengan penuh kesungguhan.


“Santai aja, kan itu emang tugas aku. Tapi ngomong-ngomong, kamu udah minta pandangan suami kamu belum soal brand ambassador ini? Aku masih penasaran karena ini istimewa Chel. Kamu baru masuk ke dunia ini dan udah dapet tawaran sebagai brand ambassador, itu terlalu keren. Ya siapa tau kamu udah memikirkan ulang dan mau mengambilnya.”


Fany masih mencoba mengkonfirmasi pilihan Rachel.


Rachel tersenyum kecil. Menjadi brand ambassador memang hal yang besar, ini akan meningkatkan value dirinya di mata orang lain, mungkin termasuk Martha. Tapi traumanya belum reda. Ia belum berani melangkah sejauh itu.


Ia belum siap dengan konsekuensi yang akan dihadapinya nanti. Dan tentang Nata, Rachel sangat yakin kalau suaminya tidak akan mengizinkan. Ia juga tidak mau menambah beban pikiran Nata jika hal seperti ini menjadi masalah di kemudian hari.


“Aku udah yakin kak.” Sahut Rachel pada akhirnya. Ia tahu persis apa yang ia lakukan maka ia berani mengambil keputusan.

__ADS_1


“Okey, gak masalah kalau kamu gak bisa. Ini aku masih punya delapan tawaran kontrak buat kamu. Nanti aku pelajari dulu dan aku kirim salinannya via email. Kamu juga bisa membacanya. Siapa tau ada yang menurut kamu menarik dan mau kamu ambil. Tenang aja, waktu kamu sekitar dua mingguan untuk memperlajari ini semua dan bikin keputusan. Okey?”


“Iya kak, terima kasih.”


“Dengan senang hati.” Timpal Feby.


Feby kembali dengan pekerjaannya memeriksa ajuan kontrak Rachel. Sementara Rachel masih memandangi wanita dihadapannya dengan banyak pertanyaan.


“Kak, aku boleh nanya?” Rachel dengan segala keragu-raguannya memberanikan diri bertanya.


“Boleh dong. mau nanya apa?” fokus Feby langsung beralih pada Rachel. Dari wajahnya bisa terlihat seperti ada beban yang disimpan artisnya.


“Em, kakak pernah managerin Marsya gak?” tanya Rachel takut-takut.


“Nggak. Tapi temen aku pernah. Memangnya kenapa?” Feby jadi penasaran. Ia menutup berkas di tangannya dan hanya fokus pada Rachel.


“Em, nggak apa-apa sih. Ini mungkin terlalu pribadi, tapi aku mau nanya, kakak tau gak siapa aja mantan pacar Marsya?” Akh Rachel benar-benar malu menanyakan hal ini. Tapi hal ini perlu ia lakukan untuk menjawab satu rasa penasarannya.


“Kamu pasti denger soal hubungan toxic dia sama salah satu pengusaha property ya?” tembak Feby.


“Hahahaha… gak usah kaget. Gossip itu emang trending banget. Gossip itu juga yang bikin kita semua tau gimana seorang Marsya sebenarnya. Ya walaupun cuma di sesama manager artis aja yang tau.” Urai Feby.


“Emang gimana kak? Pengusaha property-nya siapa? Kok gak ada beritanya di media online?” perasaan Rachel semakin tidak karuan. Ia takut prasangkanya benar.


“Ya nggak ada lah, soalnya itu dihapus sama, bos Calvin.” Feby mengecilkan sebagai suaranya di ujung kalimat.


“Iya kah?” Rachel semakin tidak paham.


“Hahahaha… kamu lucu banget sih muka kagetnya? Bener-bener kepo ya?” Feby malah mencandai Rachel yang menurutnya lucu. Mencolek dagunya yang lancip.


“Kak, ayolaaahh… lanjutin ceritanya.” Rachel mulai merajuk dengan putus asa. Ia tidak mau jantungnya terus berdebar tidak menentu seperti ini. Walau ia belum siap jika ada kabar buruk yang harus ia dengar kemudian.


“Ya okeeyy… jadi, dulu itu Marsya pernah terlibat toxic relationship yang bikin dia hampir di banned dari dunia hiburan. Dia pacaran sama seorang pengusaha property dan morotin hartanya. Yang jadi masalah adalah, laki-laki itu udah beristri. Ngamuklah istrinya sampe datang ke sini dan mencak-mencak ke mas Adri.”


“Waktu itu sampe kisruh banget di sini. Istri pengusaha itu mau menuntut manajemen artis ini. Untungnya, bos Calvin turun tangan dan bantu selesein masalah ini. Salah satunya dengan menghapus semua gossip tentang hubungan terlarang Marsya dengan suami orang itu.” Terang Feby dengan gamblang.

__ADS_1


Rachel menghembuskan nafasnya lega. Ia pun menyandarkan tubuhnya yang semula duduk tegak dengan tegang.


“Itu aja kak?” tanyanya sedikit lega.


“Iyaa, itu doang. Lainnya sih udah ada di media online semua. Gak ada yang aneh lah. Biasa pacaran putus nyambung sama banyak laki-laki. Namanya juga Marsya, kalau gak bikin heboh ya bukan Marsya.”


“Makasih infonya kak.” Kali ini Rachel benar-benar bisa bernafas lega karena ternyata pengusaha property itu bukan suaminya.


“Iyaa, sama-sama. Aku saranin kamu gak usah deket-deket sama dia. Dia orangnya gak enak buat dijadiin temen. Kalaupun di dunia ini cuma ada satu dia doang yang tersisa, jangan berteman sama dia. Drama queen banget soalnya, playing victim juga. Jadi, waspadalah, waspadalah!” pesan Feby sambil menatap Rachel dengan tajam.


Rachel tersenyum kecil melihat tingkah Feby yang mirip pembawa acara berita kriminal.


Sebuah deringan telepon menjeda obrolan Rachel dan Feby. Nama yang muncul adalah Ivana. Ia mengambil jarak beberapa saat dengan managernya dan sedikit menjauh.


“Iya kak,” sapa Rachel seperti biasanya.


“Chel, kamu lagi sibuk gak?”


“Nggak kak. Ada apa?” Rachel balik bertanya.


“Ini, tadi pengacaraku ngabarin katanya kamu diminta ke kantor polisi buat bikin kesaksian. Nanti kamu di jemput sama pengacaraku. Kamu bisa?”


“Em, bisa kak. Aku udah senggang kok sekarang.” Rachel melihat jam tangannya, masih cukup lama sampai waktunya makan siang. Mungkin sekalian saja ia nanti keluar untuk makan siang.


“Okey, nanti pengacara aku jemput kamu yaa… inget, nanti jawab seadanya aja. Kalau kamu ketemu sama mokondo itu, kamu gak usah tanggepin dia apalagi merasa terintimidasi. Kamu tenang aja. Aku sama Brandon udah siap banget nyoret dia dari kartu keluarga.” Terang Ivana.


“Iya kak, nanti aku jawab apa adanya.”


“Good. Makasih yaa… kabarin aku kalau kamu perlu sesuatu.”


“Iya kak.


Panggilan itupun terputus.  Rachel memandangi ponselnya yang baru mati. Sepertinya ia memang harus segera Bersiap untuk memberikan kesaksian sejujur-jujurnya. Kita selesaikan satu per satu.


****

__ADS_1


__ADS_2