Menjadi Dia

Menjadi Dia
Spontanitas Ivana


__ADS_3

Ide Ivana terkadang memang di luar nalar. Seperti saat ini, tiba-tiba saja ia mengajak Rachel dan Nata untuk berjalan-jalan hanya sekedar untuk melihat iklan Rachel di papan billboard. Katanya sensasinya berbeda.


“Serius?” tanya Rachel yang mendapat ajakan random Ivana.


“Iyalah aku serius. Aku mau liat kamu di papan billboard terus mau aku rekam, aku jadiin short video baru deh aku share.” Celotehnya.


“Kak, kalau kakak mau share video doang, kenapa gak minta fillernnya sama Rachel?” Nata sedikit malas karena berkeliling Jakarta di weekend seperti ini pasti macet.


“Sssttt!!! Yang jiwa seninya rendah gak usah ikut komentar. Diem aja!” titah Ivana tidak bisa di bantah.


“Ya ya ya…” Akhirnya Nata hanya bisa pasrah menuruti keinginan kakaknya. Tidak apalah, hitung-hitung penghiburan untuk Ivana, pikirnya.


“Good, kamu emang adik yang berbakti.” Ivana menepuk bahu Nata dengan bangga.


Rachel hanya tersenyum melihat interaksi kakak beradik ini.


“Chel, tolong tanya ke manager kamu, berapa lama jeda pemutaran iklannya. Terus di puternya di billboard mana aja?”


“Iya kak, aku coba tanya.” Rachel segera menghubungi Fany dan jawaban Fany tidaklah lama.


“Ini kak lokasinya. Jeda antar iklannya sekitar satu jam dua puluh delapan menit.” Rachel menunjukkan ponselnya pada Ivana.


“Okey, bentar aku liat dulu.” Ivana mengeluarkan buku gambar Brandon dan mencorat-coretnya.


Di luar dugaan, ia membuat peta alur lokasi yang akan ia datangi beserta jarak tempuh dan waktu tiba setelah diperhitungkan dengan macet. Nata dan Rachel sampai melongo melihat usaha Ivana yang diluar dugaan.


“Okey, saatnya kita berangkat!” seru Ivana sambil mengalungkan kamera miliknya di leher.


Keempatnya berangkat menuju titik pertama yang akan mereka datangi. Nata memarkir mobilnya di tepi jalan sementara Ivana asyik merekam beberapa detik. Setelah mendapatkan hasil yang cukup baik, ia mengajak Nata ke lokasi selanjutnya.


Ia melakukan hal yang sama. Merekam dan membiarkan Rachel, Nata dan Brandon menunggu beberapa saat.


“Mami Acen.” Tunjuk Brandon yang mungkin semakin jelas kalau yang ia lihat adalah Rachel.


“Hehehehe iyaa… mami cantik gak Brandon?” tanya Rachel di sela usahanya menunggu Ivana.


Brandon mengangguk kecil sambil mengusap wajah Rachel dengan sayang.


“Iyaaa? Hehehehe….” Rachel jadi terkekeh melihat kelucuan Brandon.


Nata yang duduk di balik kemudipun ikut tersenyum melihat interaksi Rachel dan Brandon.


“Lokasi selanjutnya!” tiba-tiba Ivana naik ke mobil, sepertinya proses perekamannya sudah selesai.


“Berapa lokasi lagi?” tanya Nata penasaran.


“Empat. Lokasi selanjutnya gak terlalu macet kok, aku udah liat di map.” Ujar Ivana sambil melihat-lihat video hasil perekamannya.


Nata tidak lagi menimpali, ia mengikuti saja kemauan Ivana.

__ADS_1


Lokasi ke tiga, empat, lima hingga enam, dijajaki Nata cs. Sesekali mereka menunggu Ivana memvideo dengan makan es krim, beli bakso atau jajan jajajan khas pasar atau khas pedangan asongan. Tidak apalah, demi menyenangkan Ivana.


“Okey, selesai. Sekarang kita balik lagi ke lokasi pertama.” Ujarnya dengan santai.


“Hah?” respon Nata dan Rachel bersamaan.


“Mau ngapain? Kita udah ngelilingin Jakarta dan sekarang mau balik lagi ke lokasi pertama?” Nata sampai tidak habis pikir.


“Iyaa, kita makan malem dulu. Aku laper.” Rengek Ivana sambil mengusap perutnya yang keroncongan.


“Anak mami laper juga kan?” tanyanya pada Brandon yang duduk di belakang bersama Rachel.


Brandon mengangguk kecil, padahal ia sedang makan biscuit.


“Unnchh kacian anak mami. Okeyyy, let’s go papi Nata.” Ucap Ivana lagi.


Nata hanya bisa patuh mengikuti kemauan Ivana. Tidak apalah, hitung-hitung menyenangkan hati kakaknya.


****


Tiba di mall, mereka langsung memesan makan malam. Mengitari kota Jakarta seharian, memang cukup menguras tenaga. Rachel, Nata dan Brandon masih menikmati makan malamnya sementara Ivana masih sibuk dengan editing video. Hanya sesekali saja ia menyuap makanannya.


“Chel, judul lagu band luar yang ada hope-hopenya itu apa ya?” tanya Ivana di sela pembuatan video.


“Hah, yang gimana kak?” Rachel jadi ikut bingung.


“Udah, makan dulu. Nanti baru lanjut.” Nata mengingatkan.


“Nanggung. Dikit lagi, tinggal nambahin lagu. Aku lupa judulnya.” Ivana bersikeras.


“Em maksud kakak, band New hope? Yang nyanyi know me so well?” Rachel balik bertanya.


Sorry Nata, kali ini Rachel sedang berusaha menghibur Ivana.


“Iya itu. Aku mau pake lagunya akh.”


“Iya, lagu itu memang enak di dengar.” Ucap Rachel sambil bergumam lirih menyanyikan penggalan lagu itu.


“I, spend my weekend,”


Melihat Rachel yang malah antusias membantu kakak iparnya, membuat Nata menyodorkan makanan ke mulut Rachel dan istrinya menyantapnya dengan senang hati.


“Enak mas. Mau lagi dong.” Pinta Rachel sambil membuka mulutnya.


Bukannya menyuapi, Nata malah memberikan sumpitnya pada Rachel.


“Ish mas Nata, romantisnya sepotong-sepotong.” Protes Rachel, kesal.


“Brandon makan sendiri atau disuapi? Sendiri kan?” sindir Nata.

__ADS_1


Anak itu tidak menimpali, lebih sibuk dengan ayam goreng di tangannya.


“Hemh!” cetus Rachel dengan kesal seraya mengecurutkan bibirnya.


Kalau bukan di tempat umum, rasanya ia ingin mencomot bibir Rachel yang menggemaskan. Tapi saat ini Ia hanya bisa menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.


“Okey, selesai.” Ucap Ivana. Ia menunjukkan videonya pada Rachel.


“Aku liat ya kak.” Dengan senang hati Rachel mengambil alih tablet Ivana.


“Iya, silakan.” Sahut Wanita itu seraya menggeliat dengan nyaman. Badannya pegal sekali dan baru terasa sekarang.


“Suapin mami ayamnya, aaaa…” pintanya pada Brandon.


Brandon menurut saja, memberi satu ayam utuh pada Ivana tapi tidak menyuapinya.


“Dia mirip kamu.” Cetus Ivana dengan kesal.


Nata hanya tersenyum kecil sambil memandangi istrinya yang asyik dengan tablet di tangannya.


Benar saja, Ivana sudah menyelesaikan videonya. Semua video yang ia ambil dari enam tempat berbeda, ia gabungkan. Di buat transisi yang apik dengan latar belakang jalanan yang ramai dari siang ke sore.


“Ini keren kak.” Ungkap Rachel dengan semangat.


“Iyalah, aku punya sedikit jiwa seni dan kreativitas di banding suami kamu.” Ledek Ivana sambil menyeruput minumannya.


Entahlah, hari ini ia begitu menikmati aktivitasnya.


Nata tidak merespon, ia sadar apapun timpalannya, tidak akan pernah menang dari Ivana.


“Ngomong-ngomong, kayaknya aku udah sangat siap menjanda.” Ucap Ivana tiba-tiba.


Rachel dan Nata langsung sama-sama menatap Ivana. Yakinkah wanita bucin ini dengan ucapannya?


“Gak usah kaget, aku udah mempertimbangkan banyak hal. Aku ngambil keputusan ini juga dengan mempertimbangkan masa depan Brandon.” Akunya dengan santai sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.


“Semalaman aku berpikir, enak banget jadi laki-laki brengsek itu. Aku capek kerja banting tulang di kantor eh dia malah nidurin pelayan. Kepercayaan aku supaya dia bisa kerja fokus di rumah, malah dia pake buat ngerjain hal lain. Brengsek banget emang itu laki.” Umpat Ivana.


Rachel langsung menutup telinag Brandon walau entah anak ini mengerti atau tidak dengan ucapan ibunya.


“Aku ngerasa kalau aku juga bisa seneng-seneng tanpa dia. Bisa pergi kesana kemari tanpa ada yang terus memintaku mengabarinya. Aku sadar, dia sering mengirimiku pesan dan bertanya aku sedang dimana atau lagi ngapain, itu bukan karena dia peduli.”


“Dia cuma takut kalau aku tiba-tiba muncul di rumah di saat dia sedang melakukan hal bejad. Dasar laki-laki mokondo. Gak tau diri.” Lagi Ivana mengumpat sambil meneguk minumannya.


Dan sepertinya malam ini Rachel dan Nata akan mendengar lebih banyak makian dari mulut Ivana untuk calon mantan suaminya.


Maaf Brams, kamu sudah di blacklist oleh Ivana.


****

__ADS_1


__ADS_2