
Takut, perasaan yang dominan dirasakan Rachel saat ini. Ia tengah berada di kamar Ivana, menemani Brandon yang sedang bermain. Brandon memang sudah tidak tidur di kamarnya karena tempat itu masih dijadikan TKP dan diselidiki oleh polisi atas kejadian semalam.
Selain itu alasan Ivana memutuskan untuk membawa Brandon ke kamarnya untuk menghindari trauma sang putra atas semua kejadian yang dialaminya.
Tapi sayangnya, semua sudut rumah ini sudah kadung membuat Rachel trauma.
Seperti kamar ini. Kamar ini menjadi tempat yang menakutkan bagi Rachel. Layaknya sebuah trauma, potongan setiap kejadian di kamar ini terus berputar di kepala Rachel seperti ingatan setelah menonton film horror arau thriller.
Berkali-kali Rachel menoleh pintu kamar Ivana yang tidak tertutup sempurna, membuat dadanya sesak dan pengap juga takut jika seseorang tiba-tiba menyerangnya. Ingatan ketakutan saat ia ingin keluar dari kamar ini begitu memenuhi pikirannya. Ia juga memejamkan matanya saat melihat dinding tempat Brams mengungkung tubuhnya, atau lemari yang Brams dorong kasar hingga membuat Rachel terhenyak.
Detakan jam membuat Rachel berkeringat dingin. Detikannya seperti suara tawa yang sedang menertawakan ketidakberdayaannya saat itu.
“Tidak Rachel, itu hanya pikiran kamu. Kak brams udah gak ada di rumah ini Rachel, gak ada.” Sambil memejamkan mata Rachel berusaha berbicara dengan dirinya sendiri.
Sebuah usapan halus di pipinya, membuat Rachel terhenyak kaget.
“Astaga!” serunya. Ia segera membuka mata dan melihat ternyata tangan itu milik Brandon.
Anak kecil yang sedang memainkan legonya itu seperti membaca ketakutan Rachel saat ini. Tentu saja, trauma itu bukan hanya milik Rachel melainkan juga Brandon.
“Mami….” Panggil anak polos itu seraya menatap Rachel dengan pikiran yang entah.
“Brandon,….” Rachel berusaha tersenyum pada sepasang mata yang menatapnya dengan bingung.
“Ma-maaf, tadi mami ngelamun.” Ujar Rachel seraya mengambil lego Brandon yang ada di dekat tangannya.
“Ini, teruskan bikin dinonya.” Imbuhnya, mengembalikan lego itu pada Brandon.
Brandon mengambil alih lego itu dan memasangkannya pada bangunan yang ia buat.
“Wah, sudah jadi. Ini keren Brandon.” Puji Rachel, saat melihat ternyata bentuk yang dibuat Brandon bukan dino melainkan Menara.
__ADS_1
Akh, pikirannya memang kemana-mana belakangan ini.
Anak kecil itu tersenyum kecil dan menyentuh pipi Rachel. Seperti ia sedang berusaha menenangkan Rachel yang gundah.
Krieeettt, suara pintu terbuka membuat Rachel segera menoleh. Tenang, itu pintu kamar mandi. Ivana baru selesai mandi, rupanya.
“Wah main apa nih, kayaknya seru banget?” Ivana sudah dengan tampilan yang segar, terlihat lebih baik.
“Ayo kasih tau mami Brandon, Brandon bikin apa.” Hasut Rachel menyemangati Brandon.
“Menara.” Ucap Brandon.
“Wah, bagus banget. Apa itu Menara kita?” Ivana segera mendekat dan duduk ditepian tempat tidur.
Brandon tidak menjawab, ia hanya memainkan mainannya.
“Anak pinter.” Ucap Ivana sambil mengusap pucuk kepala Brandon lalu mengecupnya. Ia menatap Brandon dengan penuh kesedihan.
“Maafin mami ya Brandon….” Ucap Ivana dengan mata berkaca-kaca. Ia selalu menyesalkan setiap keadaan yang membuat Brandon semakin terlihat tidak beruntung.
Ia mengusap-usap kepala Brandon dan lagi mengecupnya dengan penuh perasaan.
Rachel yang melihat banyak penyesalan di mata Ivana, hanya bisa menyemangati kakak iparnya dengan mengusap tangannya.
Wanita itu tersenyum kelu lantas menghembuskan nafasnya pelan.
“Waktu usia Brandon satu tahun, aku baru tau kalau Brandon adalah anak yang istimewa. Saat itu, aku sangat takut memberitahukannya pada keluargaku juga sama mas Brams. Aku takut jika orang-orang disekitarku mengucilkan Brandon. Menyudutkannya dan tidak memberinya kasih sayang.” Tiba-tiba Ivana bercerita.
“Aku dengan segala keberanianku, mencoba mengatakan hal itu pada mas Brams. Walau dia terlihat tenang, tidak aku pungkiri kalau aku melihat kekecewaan di wajahnya."
"Saat itu, satu minggu lamanya, mas Brams begitu sering pulang larut hingga tidak pernah punya kesempatan untuk bermain sama Brandon.”
__ADS_1
“Tapi, perlahan sikap mas Brams mencair. Aku melihat usahanya untuk menerima kondisi Brandon yang istimewa ini. Sejak saat itu, aku mulai berani berharap kalau Brandon akan tumbuh seperti halnya anak-anak lain yang dipenuhi perhatian dan kasih sayang.”
Ivana terdiam beberapa saat, menatap lekat anak kecil yang membuatnya menitikkan air mata. Ingatan akan ucapan Brams yang ia dengar dan ditujukan pada putra kecilnya, membuat luka batinnya kembali menganga.
“Tapi rupanya, hingga saat ini sebenarnya mas Brams belum bisa menerima kehadiran Brandon. Dia masih menganggap Brandon adalah kesalahan karena lahir dari rahimku Chel. Aku benar-benar berdosa udah bikin Brandon di benci tanpa dia minta.” Ivana terpekur tanpa bisa melanjutkan kalimatnya.
Ia hanya bisa memandangi Brandon dengan banyak sesal dan air mata yang terus menetes.
“Kak, keistimewaan Brandon bukan salah siapapun, termasuk bukan kesalahan kakak.” Ucap Rachel.
"Seorang anak istimewa aku, terlahir dari seorang ibu yang kuat dan istimewa."
“Lagi pula, yang Brandon punya, bukan hanya kakak. Ada aku dan mas Nata yang menyayangi dia sepenuh hati. Walaupun kita hanya bertiga, kita bisa kok membuat Brandon tidak merasa kekurangan kasih sayang. Karena, kasih sayang itu bukan hanya tentang seberapa banyak orang yang memberikannya, tapi seberapa tulus dan besarnya perhatian dan penerimaan kita terhadap Brandon.” Tandas Rachel dengan penuh kesungguhan.
Ia jadi mengingat bagaimana usaha Brandon untuk menolong dan menyelamatkannya. Anak ini punya usaha yang begitu besar di balik ketidakberdayaannya.
“Makasih Chel, makasih banyak. Kamu selalu bisa membuatku berpikir dari sudut lain.” Ungkap Ivana dengan penuh kesungguhan.
“Sama-sama kak. Kakak yang tenang ya, aku adalah salah satu orang yang akan selalu ada buat Brandon.” Ucap Rachel dengan penuh kesungguhan.
Ivana memeluk Rachel dengan erat. Ia sangat bersyukur memiliki Rachel di hidupnya.
Tanpa mereka tahu, ada sepasang mata yang ikut menitikkan air mata haru di pintu kamar Ivana. Ya, sepasang mata tajam milik Nata. Ia sangat bersyukur, Rachel memiliki pemikiran yang berbeda dengan seseorang yang pernah di kenalnya dan meninggalkannya, dulu.
****
Hay semuaa, masih lancar puasanya?
Sehat-sehat selalu yaaa 💗
Boleh dong sarannya, cover mana yang teman-teman suka, yang sekarang apa sebelumnya? 😄😄
__ADS_1