
Berada di atas tempat tidur tapi seperti tengah berada di dalalm putaran air yang sedang bergemuruh, begitulah yang dirasakan Rachel saat ini.
Rachel menekan-nekan dahinya sambil sedikit memijat pelipisnya untuk menghilangkan rasa pusing itu. Seperti inilah akibatnya kalau menangis semalaman, kepala Rachel jadi pusing. Di tambah muntah-muntah hingga mengurangi banyak cairan di dalam tubuhnya.
“Akh, kok pusing banget?” Baru sedikit ia beranjak tapi kemudian urung karena merasa seperti akan jatuh.
Rachel terdiam beberapa saat membiarkan rasa pusing itu hilang dengan sendirinya. Mungkin sekitar lima menitan Rachel berdiam diri dengan pikiran kosong tanpa memikirkan apapun dan hanya memejamkan mata. Yang ada dipikirannya hanya latar gelap tanpa cahaya.
Setelah semuanya terasa lebih baik, Rachel bangun pelan-pelan. Duduk di tepi tempat tidur lalu meneguk air yang sudah ia siapkan di dalam gelas.
“Emh!” Rachel meringis saat rasa air itu malah pahit di mulutnya dan membuatnya ingin muntah.
Sekuat tenaga ia menahan agar tidak muntah karena tubuhnya sudah sangat lemah kalau harus kehilangan cairan tubuh lebih banyak lagi. Ia membuka lacinya, mencari biscuit dalam kemasan yang biasanya ia masukkan ke dalam tas untuk berjaga-jaga kalau-kalau Brandon lapar.
Ia memakan biscuit itu dengan pelan. Rasa manis biscuit cukup membantunya untuk menghilangkan rasa mual di mulutnya.
Satu bungkus kecil biscuit sudah habis. Penglihatan Rachel pun berangsur cerah. Ia beranjak ke jendela, membuka gorden yang menutupi jendela. Ia juga membuka sedikit jendelanya agar udara pagi masuk ke kamarnya.
Hembusan angin pagi yang segar, membuat Rachel terdiam beberapa saat di depan jendela. Ia begitu menikmati saat tiupan perlahan angin pagi menerpa wajahnya. Berulang kali ia menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Oksigen di otaknya seperti terganti dan ia merasa lebih baik.
Setelah cukup segar, Rachel mengambil ponselnya. Ia mengecek pesan, tidak ada pesan satupun dari Nata. Sepertinya Nata benar-benar sedang sibuk. Ia melihat last seen aplikasi messangernya saja adalah jam sembilan malam. Rupanya Nata memang hanya fokus pada pekerjaannya bukan hal lain.
“Selamat pagi mas, gimana kabar mas hari ini?” dengan penuh cinta Rachel mengirimkan pesan itu pada suaminya.
“Hari ini, aku izin mau ke kantor manajemen sebentar ya mas karena harus membahas persiapan syuting iklan, sorenya ke toko. Aku akan pulang setelah menjemput Brandon.”
__ADS_1
“Mas usahakan makan tepat waktu ya mas, minum yang banyak juga biar mas gak sakit. Sampe ketemu di rumah.”
Tiga baris pesan itu yang Rachel kirimkan pada Nata. Belum terkirim, sepertinya ponsel Nata mati.
Setelah mengirimkan pesan, Rachel memilih untuk mandi. Ia perlu membersihkan tubuhnya yang terasa lengket setelah semalam berkeringat dingin.
Tapi sebelumnya, ia mengirim pesan pada Ruby, “Kak, kalau asam lambung naik biasanya minum obat apa?” tulis Rachel.
Ia menaruh ponselnya di atas meja rias dengan niatan akan mengeceknya setelah mandi.
Di tempatnya, Ruby menatap khawatir saat membaca pesan yang dikirimkan Rachel.
“Siapa yang sakit dek?” balas Ruby dengan cepat.
“Mah, apa adek sakit ya?” Ruby segera menghampiri Eva yang sedang memasak di dapur.
“Emang gimana?” Eva segera menaruh wajan yang akan ia gunakan untuk memasak.
“Nggak sih, ini dia nanya obat asam lambung. Tapi udah aku bales, malah gak dia baca. Aku khawatir Rachel sakit.” Ruby membayangkan wajah adiknya dengan cemas.
Rachel memang jarang sakit, tapi sekalinya sakit ia pernah harus di opname beberapa hari. Dan sejak menikah, Rachel tidak pernah mengeluhkan masalah kesehatannya. Saat ditanya kabar, Rachel selalu menjawab baik-baik saja. Entahlah, apa Rachel benar-benar baik-baik saja atau hanya usahanya untuk tidak membuat keluarganya cemas.
“Ya udah, coba kakak telepon. Mamah juga khawatir.” Eva ikut khawatir.
“Iya Mah.” Ruby segera menghubungi Rachel. Beberapa kali di telepon tidak ada jawaban.
__ADS_1
“Dih, nih adek kemana sih?” Ruby kesal karena cemas.
“Coba telepon nak Nata.” saran Eva.
Ruby menurut, ia mencoba menghubungi Nata tapi ternyata tidak aktif.
“Gak aktif mah.”
Ruby terlihat semakin cemas. Walau hanya keluhan asam lambung, ini cukup membuat Ruby cemas karena keluhan asam lambung tidak hanya karena masalah pola makan tapi juga masalah psikis. Itu yang Ruby tahu.
“Ya udah, mamah coba telepon jeng Martha.” Eva mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Ia mencari nama Martha yang ia namai dengan nama besan.
“Ehm!” Eva berdehem sebelum memulai panggilannya. Berbicara dengan besannya memang harus dengan persiapan mental yang cukup.
Satu panggilan sudah berlalu dan tidak di jawab Martha. Panggilan kedua sama, tidak di jawab juga. Panggilan ketiga apa lagi, ponsel Martha langsung menolaknya.
“Gimana mah?” Ruby menatap Eva penuh tanya.
“Nggak di jawab kak, apa mereka lagi sarapan ya?” Eva masih berusaha berpikir positif.
“Eh iya kali ya. Soalnya kompakan. Ya udah kita tunggu adek bales pesan aja mah. Toh nanti sore juga di mau ke toko kok. Kita tanya baik-baik.”
“Ya udah kita tunggu aja.” Ucap Eva dengan perasaan tidak menentu. Ia berusaha tenang walau kecemasan seorang ibu tidak bisa dihiraukan semudah itu.
*****
__ADS_1