
Di salah satu kursi penumpang Rachel terduduk sambil melamun. Ia menyandarkan kepalanya ke kaca yang sesekali mengguncang dan membentur kepalanya tapi tidak ia hiraukan. Ia masih dengan pikirannya tentang pilihannya untuk keluar dari rumah Nata.
Bukan karena ada keraguan dan keinginan untuk kembali melainkan kebingungan apa yang kemudian harus ia katakan kalau Eva dan ruby bertanya alasan ia pulang ke rumah tanpa Nata. Apa beralasan liburan saja kah? Dengan ransel sebesar ini?
Tunggu, Rachel perlu waktu untuk memikirkannya.
Kenyataan yang ia alami selama satu tahun pernikahan ini, membuat Rachel mantap meninggalkan rumah itu. Bukan hanya karena sikap Martha atau perlakuan Brams yang menyisakan trauma, tapi kehadirannya yang tidak pernah diinginkan oleh Nata lah yang menjadi alasan terbesar untuk ia hengkang dari rumah mewah itu.
“Maafin Rachel pah, maafin Rachel karena gak bisa memenuhi permintaan papah untuk bertahan di rumah itu.” Batin Rachel, saat mengingat amanat mendiang ayah mertuanya.
Walau kebersamaannya dengan ayah mertuanya sangat singkat tapi paling tidak ia pernah merasa di terima di rumah itu.
Tapi saat ini, pergi adalah pilihan yang terbaik. Air matanya sudah nyaris kering karena terus merutuki kemalangan nasibnya saat ini. Tapi apa yang kemudian berubah? Tidak ada, hanya rasa sesak saja yang semakin menjadi.
“Permisi neng, mau turun dimana?” tanya seorang pria tua yang menyadarkan Rachel dari lamunannya.
“Oh.” Rachel terhenyak. Ia segera mengusap sisa air matanya dan menegakkan tubuhnya.
“Udah nyampe pemberhentian kedua ya pak?” tanyanya kebingungan.
“Bukan, ini bukan pemberhentian kedua, ia udah sampe full bis. Sopirnya udah mau puter balik.” Terang laki-laki paruh baya tersebut.
“Astaga, aku salah. Harusnya aku turun di pemberhentian kedua.” Gumam Rachel penuh sesal. Karena melamun ia sampai tidak sadar bis sudah melaju jauh dari pemberhentian tujuannya.
__ADS_1
“Ya udah, neng turun dulu. Nanti naik bis yang lain. Minta petunjuk aja sama kondekturnya.” Ucap laki-laki itu berusaha menenangkan.
“Oh iya pak. Terima kasih.” Seperti orang asing di rumah sendiri, itulah yang dirasakan Rachel.
Ia segera menggendong tas ranselnya dan turun dari bis. Ia bertanya pada kondektur bis dan laki-laki itu menunjukkan bis yang bisa Rachel naiki untuk pulang. Kondektur itu bahkan meminta temannya untuk memberitahu Rachel kalau sudah hampir tiba di tujuan.
Rachel berganti bis. Ia kembali duduk di salah satu bangku yang dekat dengan sopir. Bisnya belum jalan, masih menunggu jam pemberangkatan beberapa menit lagi.
Rachel memperhatikan deretan bis yang belum dapat jatah untuk memulai perjalanan. Untuk beberapa saat Rachel termenung,
“Bis aja punya rumah, sementara aku nggak.” Batinnya dengan tatapan nanar. Baru kali ini ia merasa iri pada benda yang tidak bernyawa.
Sekitar sepuluh menit menunggu, akhirnya mobil mulai melaju keluar dari full bis. Ia berbaur dengan kendaraan lain yang seringnya lebih kecil ukurannya.
Di pemberhentian pertama tiba-tiba saja Rachel memilih turun.
“Neng yakin mau turun di sini?” wajah Rachel yang sembab membuat kondektur bis khawatir.
“Iya pak, saya turun di sini aja. Saya harus ke suatu tempat terlebih dahulu.” Sahutnya berusaha tidak terlihat bingung.
“Oh ya udah. Kalau bingung naik bis apa, pake taksi online aja biar sampai ke tujuan langsung tanpa nyasar-nyasar.” Pesan kondektur bis.
“Iya pak, terima kasih.” Terharunya Rachel karena ada yang mencemaskannya.
__ADS_1
Rachel turun dari bis, ia terduduk sendirian di halte. Ia menggunakan ponselnya dan sial, cashing dan benda pipih ini mengingatkan Rachel pada suaminya. Jantungnya kembali berdebar kencang sekaligus ngilu saat mengingat hal manis yang pernah Nata lakukan untuknya.
“Jangan geer Rachel, kamu bahkan gak yakin hal manis itu dilakukan untuk kamu atau Aruni.” Pikiran Rachel seolah menampar hatinya yang kembali tersentuh.
Rachel mengangguk, kali ini ia setuju dengan isi pikirannya dan menahan perasaannya yang terkadang membuatnya tersiksa seorang diri.
Akhirnya Rachel menutuskan untuk berjalan lebih dulu. Ia pergi ke ATM untuk mengambil uang sebagai bekal. Saat melihat layar ATM, matanya membulat sempurna melihat deretan nominal yang cukup besar. Ini gajinya sebagai bintang iklan yang belum pernah ia sentuh dan beberapa royalty yang diterima Rachel atas kesuksesan iklan yang ia bintangi.
“Wah, uangku sangat banyak. Aku belum pernah punya uang sebanyak ini.” Gumamnya bangga.
“Kenapa gak aku nikmati aja uangnya untuk menyenangkan diri sendiri? Membeli makanan dan pakaian yang aku mau dan memperlakukan diriku dengan lebih baik. Selama ini dia sudah bekerja keras, kenapa aku tidak berusaha memanjakan diriku sendiri?”
Rachel bertanya pada bayangannya yang terpantul dari kaca. Ia melihat sosok dirinya yang kuyu dan lemah. Tentu penampilannya tidak akan bagus saat di kamera nanti.
“Ini bukan kamu Chel.” Ucap Rachel dengan sungguh.
Ia mengusap air matanya dengan lembut demi tidak ada sisa air mata yang terlihat. Ia juga menepuk-nepuk pipinya agar lebih kemerahan dan tidak pucat seperti sekarang. Ia melihat jam di tangannya, penderitaannya sudah berjalan selama satu tahun ke belakang, bukankah sekarang saatnya untuk Rachel membahagiakan dirinya sendiri?
Tanpa berpikir panjang, Rachel menarik uang cukup banyak untuk dirinya dan keluarganya. Keluar dari ruang ATM, tempat pertama yang ia tuju adalah mini market. Ia membeli masker, topi, make up set simple juga makanan manis. Ini akan membantunya mengembalikan mood sekaligus memberinya ruang pribadi agar tidak menjadi pusat perhatian banyak orang karena wajahnya yang sembab.
Ia sedang berusaha menghindar dari perhatian orang-orang yang saling berbisik karena sepertinya mereka mengenali Rachel.
Ya, begini saja, ini lebih baik. Beranjak maju itu sulit tapi bukan berati tidak bisa di coba.
__ADS_1
****