
Acara jalan-jalan dan belanja itu akhirnya berakhir di sebuah hotel. Nata dan Rachel berada di hotel menempati kamar dengan tipe kamar Presidential Suite yang dipesan oleh assistant-nya sore tadi. Suasana mewah langsung terasa, persis yang dirasakan pasangan ini satu tahun lalu.
Lantai tertinggi, dengan ukuran tempat tidur yang besar. Ada sofa terpisah hingga kolamberendam kecil yang bisa memilih mau menggunakan atau air hangat.
Di kamar ini mereka juga makan malam dan tidak keluar lagi setelah tadi siang kelelahan berjalan-jalan. Ini menjadi waktu liburan paling spesial bagi keduanya. Ada kedekatan yang terjalin lebih dan lebih lagi di antara Nata dan rachel.
Nyatanya, bukan hanya Ivana dan Brams yang memerlukan quality time, lebih dari itu, pengantin baru ini pun perlu waktu bersama yang lebih instens.
Nata masih dengan ponsel di tangannya, membalas beberapa email penting yang masuk ke kotak masuknya. Di hari liburpun ia tetap bekerja. Sementara Rachel baru keluar dari kamar mandi, setelah membersihkan tubuhnya yang berkeringat.
“Hpmu dari tadi terus berdering, sepertinya banyak orang yang mencarimu.” Ucap Nata saat sudut matanya menangkap bayangan Rachel yang keluar dari kamar mandi.
“Oh iya Mas, makasih.” Sahut Rachel.
Ia melepas gulungan handuk di rambutnya yang basah lalu merem.maas ujung rambutnya dengan handuk sambil berjalan menuju tepi tempat tidur sebelah kiri.
Rachel duduk di tepian dan mengecek ponselnya. Benar kata Nata, banyak pesan yang masuk ke ponselnya. Pesan pertama dari Rubby.
“Dek, kamu pulang gak minggu ini? Ada tante Ella mau ketemu. Katanya perlu bantuan kamu.”
“Kak, maaf minggu ini aku gak pulang. Ada acara sama mas Nata. Gimana kabar tante Ella? Apa yang bisa aku bantu?” Balas Rachel.
Sambil menunggu balasan Ruby, ia mengecek pesan masuk lainnya. Kali ini dari nomor tidak dikenal.
“Selamat malam kak. Perkenalkan aku Fany dari manajeman Sweetlove. Aku mau menginformasikan, untuk meeting hari senin, dimajukan ke jam 10 pagi ya. Kami tunggu kehadiran kakak. Selamat beristirahat.” Begitu isi pesan kedua.
__ADS_1
“Selamat malam kak. Terima kasih informasinya.” Rachel membalas dengan singkat seraya tersenyum.
Nata jadi memperhatikan Rachel yang senyum-senyum sendiri.
Posisi duduk Rachel membuat Nata dejavu. Ia seperti melihat lagi Rachel sang pengantin setahun lalu. Masih dengan pakaian resepsi pernikahan bak raja dan ratu sehari, mereka pernah berada di kamar hotel seperti ini. Tepatnya di malam pernikahan mereka. Wajah Rachel yang tersenyum malu-malu, masih tergambar jelas di benak Nata.
Sayangnya, saat itu tidak ada hal yang terjadi. Ia terlalu muak hingga meminta Rachel tidur lebih dulu sementara ia keluar kamar untuk pergi ke club.
Ya, pernikahannya satu tahun lalu adalah beban besar yang harus dipikul Nata dan membuatnya marah. Ia minum-minum di club sampai mabuk. Ia benar-benar merasa tertekan karena pernikahan yang begitu dipaksakan antara ia dengan Rachel.
Siapa gadis pilihan Ivana dan Barry, Nata bahkan tidak mengenalnya. Hanya seminggu waktu yang ia miliki untuk menyiapkan segala macam perintilan pernikahan yang mengesalkan.
Ia masih ingat, menjelang dini hari, Nata baru pulang. Itupun karena club sudah mau tutup. Saat masuk ke kamar, ia melihat Rachel duduk di tempat yang serupa, sisi kiri ranjang pengantinnya.
Ia menunjukkan wajah cemas dan lelahnya karena belum tidur.
Nata tidak tahu persis apa yang dirasakan gadis itu di malam pengantinnya. Saat rachel mendekatpun, Nata lebih memilih mengibaskan tangannya dan meminta Rachel agar menjauh darinya. Ia tahu Rachel khawatir melihatnya datang dalam keadaan berantakan dan bau alkohol. Tapi apa pedulinya saat itu. Ia memilih menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur dan melempar satu bantal ke lantai.
"Jangan tidur di sini!" serunya kala itu.
Rachel memungut bantal itu dan ia yakin Rachel benar-benar tidur meringkuk di sofa. Tidak ada rasa iba sedikitpun dalam hatinya melihat kondisi Rachel. Ia hanya melihat Rachel sebagai beban yang harus di tanggungnya, bukan sebagai istri.
Dua hari mereka di dalam hotel yang sama. Dua hari itu pula mereka hanya sedikit berinteraksi. Rachel lebih sering duduk termangu di depan jendela sambil memandangi warna langit yang berubah sesuai waktu yang dilewatinya. Sementara Nata lebih banyak menghabiskan waktunya dengan tidur.
Kata psikiaternya, ia mengalami depresi makanya lebih banyak tidur dan menghabiskan waktu dengan hal-hal yang sangat tidak berguna.
__ADS_1
Mereka tidak pernah berbincang dan percakapan pertama baru mereka mulai setelah satu bulan setelah pernikahan. Itupun karena mendiang ayahnya meninggal. Ia masih mengingat kalimat pertama yang ia ucapkan pada Rachel.
"Tidak perlu berpura-pura sedih. Kepergian papah membuat kita terikat seumur hidup dan itu maumu kan?!"
Akh Nata masih mengingat bagaimana mata Rachel yang bulat jernih itu memecahkan tangisnya. Tangis yang entah keberapa kalinya sejak mereka menikah.
Dan sekarang, Nata jadi memandangi wanita itu. Hebat juga wanita itu karena tidak pernah mengeluh ataupun minta pulang ke rumah orang tuanya. Dia tetap bertahan.
Dan karena wanita ini pula, banyak hal yang tanpa sadar telah berubah dalam diri Nata.
Tapi tunggu, kenapa air mukanya berubah tegang begitu?
“Kamu kenapa?” tanya Nata yang diam-diam masih memperhatikan Rachel dan ponselnya.
Cahaya temarang dari ponsel membuat Nata bisa melihat dengan jelas kalau Rachel sedang panik tapi berusaha ia sembunyikan.
“Hah, em enggak.” Cepat-cepat Rachel mematikan layar ponselnya lalu menaruh benda pipih itu di atas meja kecil samping tempat tidurnya.
****
Rachel, apa yang kamu sembunyikan?
STOP! Part selanjutnya silakan baca setelah buka. 😆😆🤣🤣
__ADS_1