Menjadi Dia

Menjadi Dia
Kejadian tidak terduga


__ADS_3

“Dari mana aja kamu?” tanya Martha yang tiba-tiba menghadang Rachel.


“Oh maaf mah. Tadi aku baru selesai syuting. Brandonnya udah bubar sekolah emang mah?” Rachel melihat ke sekeliling Martha, tapi tidak ada Brandon di sana.


“Sok sibuk kamu. Brandon udah boleh pulang dari tadi karena dia lagi sakit. Dia gak mau keluar gara-gara mau di jemput sama kamu. Tapi kamunya malah lalai. Padahal jadi artis juga belum!” decik Martha yang kesal pada menantunya.


“Maaf mah, aku gak tau kalau Brandon sakit. Tadi pagi aku cek dia baik-baik aja.”


“Udah sana kamu liat. Ngapain masih di sini, dasar bodoh!” seru Martha seraya mentoyor kepala Rachel hingga wajahnya berpaling. Helaian rambutnya yang semula rapi sekarang terburai menutupi wajah cantiknya.


“Iya mah.” Hanya itu sahutan Rachel. Ia segera menegakkan tubuhnya dan menemui Brandon di kelasnya.


Langkahnya begitu cepat, ia tidak bisa membiarkan Brandon menunggu terlalu lama. Sambil berjalan ia mengecek ponselnya, tidak ada telepon satupun yang masuk padanya baik dari Ivana ataupun pihak sekolah.


“Brandon sebelah sini mom.” Seorang guru yang menunggu rachel, segera mengarahkan.


“Gimana kondisinya sekarang?” tanya Rachel yang tergesa-gesa.


“Masih demam dan tadi sempat muntah.”


“Kenapa bisa gini? Tadi pagi dia baik-baik aja.” Rachel berujar penuh sesal. Ia segera menghampiri Brandon yang terbaring di tempat tidur.


“Brandon, ini mami nak.” Suara Rachel terdengar bergetar. Ia menyentuh dahi Brandon dan terasa panas.


“Apa yang sakit, hem?” Rachel memeriksa leher dan dahi Brandon.


“Ini mami.” Brandon menunjuk pipinya.


“Biar mami check. Aaa...” Rachel meminta Brandon membuka mulutnya. Ia melihat ke dalam rongga mulut Brandon.


“Suhunya berapa miss?” kali ini ia bertanya pada gurunya.


“Tadi 39.4 mom.”


“Rupanya ada gigi tumbuh.” Ucap Rachel. Walau usia Brandon hampir lima tahun, tapi masih ada gigi susunya yang tumbuh. Mungkin karena Brandon anak istimewa.


“Iya kami juga curiganya seperti itu. Tapi tadi Brandon gak bisa di tanya mom. Seperti biasa dia tantrum terlebih saat neneknya datang berkunjung ke kelas.” Terang guru Brandon yang memelankan suaranya di ujung kalimat.


“Ada apa mamah sayang datang? Dan kenapa tidak ada yang menghubungi saya kalau Brandon sakit?”


“Nenek Brandon datang untuk meliput kegiatan belajar Brandon, katanya beliau mau mengadakan acara. Kami memang belum menghubungi siapapun karena nenek melarang kami.”

__ADS_1


Rachel hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar, ternyata seperti itu kejadian yang sebenarnya.


“Apa di sini ada obat demam?” tanya Rachel kemudian.


“Ada mom.” Guru itu segera mengambilkan obat untuk Brandon.


“Brandon, ayo minum obat sama mami. Ini sangat manis.” Bujuk Rachel.


Brandon tidak banyak protes, ia menurut untuk bangun dan bersedia minum obat. Setelah minum obat, Rachel membaringkan kembali Brandon. Ia mengecupi pucuk kepala anak tampan tersebut dan membiarkannya terlelap.


Tidak lama berselang, terdengar suara steleto yang keras menghampiri ruang perawatan. Ada sosok Martha yang berdiri di pintu masuk.


“Mau kamu bawa pulang jam berapa ini Brandon?” tanya Martha dengan mata menyalak.


“Sebentar mah Brandon baru minum obat. Kita tunggu di luar sebentar.” Ajak Rachel yang segera beranjak. Ia memberi isyarat menitipkan Brandon pada gurunya.


“Mari mah.” Ajak Rachel.


Martha berjalan dengan enggan di hadapan Rachel.


“Apa yang udah kamu lakuin sama Brandon sampe dia benci sama saya? Pikiran busuk apa yang kamu sisipin di pikiran polosnya hah?!” Martha menatap Rachel dengan mata bulatnya yang melotot seperti ingin menelan Rachel hidup-hidup. Ia tidak suka dengan respon Brandon yang selalu tantrum setiap kali ia mendekat.


“Aku nggak ngelakuin apa-apa mah. Aku juga nggak mempengaruhi pikiran Brandon.” Ucap Rachel dengan gemetar.


“Maaf mah, maaf.” Rachel hanya bisa menunduk.


“Maaf, maaf aja kamu bisanya. Harusnya kamu itu gak masuk ke keluarga saya dan gak ngeracunin pikiran Nata atau pun Ivana. Kamu tuh beda kelas dengan keluarga kami. Bisa gak sih kamu tau diri sedikit?!” bentak Martha tidak terkontrol.


Rachel hanya bisa menunduk dalam ketidakberdayaannya. Ucapan kasar Martha ini akan selalu berdengung di rongga kepalanya untuk beberapa hari ke depan.


“Ibu, mohon maaf, suara ibu terdengar oleh Brandon.” Ujar guru Brandon yang menghampiri.


“DIAM!! JANGAN IKUT CAMPUR KAMU!!” dengan telunjuknya yang lurus ia menunjuk guru Brandon. Wanita itu sampai terhenyak dan tidak berani lagi berbicara.


“Lihat, itu akibatnya kalau kamu memancing kemarahan saya. Saya bisa mempermalukan kamu lebih dari ini Rachel. Jadi sebaiknya kamu pergi dari keluarga saya!” teriak Martha seraya mendorong tubuh Rachel.


Rachel hampir terjatuh tapi sebuah lengan kokoh berhasil menahannya.


“Apa yang ibu lakukan? Kenapa bisa sekasar ini pada Rachel?” tanya Calvin yang menatap tidak percaya dengan sikap Martha.


“Kak, tolong jangan ikut campur.” Pinta Rachel tanpa berani menunjukkan wajahnya pada Calvin.

__ADS_1


“Gak ikut campur gimana, dia kasar sama kamu Chel.” Calvin tidak bisa terima begitu saja, membuat Rachel merasa semakin terhimpit. Ia mengguyar rambutnya kasar dan berusaha menenangkan dirinya juga menghapus air matanya.


“Iya, tapi keberadaan kakak di sini tidak diperlukan.” Ucap Rachel dengan terbata-bata. Sejujurnya ia sangat membutuhkan pembelaan seseorang tapi bukan Calvin, melainkan Nata.


“Terus kamu minta aku pergi dan biarin kamu diperlakukan kayak gini? Gak lah!” Calvin tetap bersikukuh.


“Memangnya mau apa kamu? Siapanya Rachel kamu sampai berani membela perempuan bodoh ini?” tantang Martha.


“Saya temannya dan saya tidak akan membiarkan ibu berlaku tidak adil pada Rachel.” Bela Calvin.


“Oh, jadi kalian saling kenal? Apa dia selingkuhan kamu Rachel? Kamu menyelingkuhi Nata, iya?!” Martha mencengkram dagu Rachel dengan kuat, hingga deretan giginya terasa nyaris tanggal lalu mengibaskannya dengan kasar.


“BU!!!” seru Calvin.


“KAK!” Rachel balas berseru. Ia sudah frustasi dengan keadaan yang dihadapinya.


“Tolong bantu aku, tolong pergi dari sini. Jangan buat kondisiku semakin sulit.”


Rachel setengah memohon pada Calvin. Matanya yang merah dan berkaca-kaca juga rambutnya yang berantakan membuat Calvin tidak tega dan tidak bisa berkata-kata. Tapi ia tidak mungkin meninggalkan Rachel dalam kondisi seperti ini.


“Tapi Rachel,” dada Calvin sampai bergejolak melihat hal tidak terduga yang dihadapi Rachel.


“Tidak perlu dia yang pergi, saya yang akan pergi. Saya akan bilang sama Nata kalau kamu punya selingkuhan. Dan saya yakin, Nata sendiri yang akan menendang kamu keluar dari rumah saya.”


Martha tersenyum sinis sekali lalu ia berlalu pergi.


“Mah tunggu mah. Jangan seperti ini. Mamah salah paham.” Rachel segera mengejar Martha yang berjalan cepat dan lebar. Ia harus menahan Martha agar tidak mengatakan hal yang tidak-tidak pada suaminya.


“Terserah, saya tidak peduli. Lepaskan saya!” Martha berusaha mengibaskan tangan Rachel yang memeganginya.


“Mah, aku mohon. Mamah salah paham soal Calvin.” Rachel masih memohon.


“Emang saya peduli. Pergi kamu!” seru Martha sambil mendorong Rachel hingga Rachel benar-benar terjatuh terduduk di tanah.


"Mah, aku mohon...." Air mata Rachel berderai begitu saja tanpa bisa ia tahan. Dadanya begitu sesak hingga nafasnya tersengau.


Sementara Martha, ia tersenyum sinis, melihat ia unggul dari menantu yang sangat di bencinya.


“Kamu lihat Rachel, malam ini kamu akan di tendang keluar oleh Nata.” Gumam Martha yang tersenyum penuh kemenangan.


Apa yang harus Rachel lakukan sekarang? Apa dia menyerah saja?

__ADS_1


****


__ADS_2