
Tetesan darah terus menetes pelan mengaliri selang infus dan masuk ke tubuh Rachel yang masih lemah. Entah darah milik orang baik yang mana yang saat ini berpadu dan bercampur di urat nadinya. Yang jelas semakin lama tubuh Rachel semakin bertenaga.
Sesekali Ia mengusap-usap punggung tangannya karena pegal pada bagian tusukan infusan tapi tidak lantas membuatnya mengeluh. Ia masih sangat bersyukur karena janin yang bersemayam dirahimnya masih bertahan dan menemaninya.
“Anak ibu lagi apa? Apa perasaan kamu sekarang sudah lebih baik?” batin Rachel seraya mengusap-usap perutnya. Seolah ia sedang berbicara dengan janin yang tidak berdosa itu.
“Ibu seneng, akhirnya kamu datang di hidup ibu. Ibu harap, ibu tidak membuat kamu kecewa saat kamu lahir nanti. Ibu akan melakukan semua hal yang terbaik untuk kamu, nak.” Lanjutnya dengan mata berkaca-kaca. Walau hanya berbicara dalam hati tapi air mata itu nyata menetes.
“Ibu memang cengeng, gampang nangis. Ibu sedang belajar untuk lebih kuat. Tolong bantu ibu nak, ibu sedang berusaha untuk banyak hal.”
Setelah kalimat ini, Rachel menghela nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Beberapa kali ia melakukan inhale dan exhale, membuat rasa berjogol di dadanya itu perlahan berkurang.
“Tok tok tok.” Suara ketukan di pintu mengalihkan perhatian Rachel.
“Apa aku ganggu?” tanya Fany yang memunculkan kepalanya dari balik pintu.
Rachel menggeleng, “Masuklah kak.” Sambutnya.
Managernya sekarang sudah terlihat segar. Rambutnya masih setengah kering. Mungkin ia terburu-buru kembali ke sini, setelah mengambil beberapa barang berharga di vila.
“Gimana perasaan kamu sekarang?” Fany duduk di kursi yang menghadap Rachel. Ia memandangi Rachel dengan penuh kecemasan.
“Udah lebih baik kak. Perut aku juga udah gak terlalu tegang.” Ungkap Rachel dengan sesungguhnya.
“Syukurlah. Ini kamu udah di pasang kateter ya?” Fany memperhatikan selang panjang yang tersambung dengan urine bag.
“Iya kak, katanya supaya aku gak perlu turun kalau mau pipis. Diinfus bikin aku bakal sering pengen pipis, sementara aku harus bener-bener bedrest jadi dipasang kateter dulu untuk dua hari ke depan.” Rachel mengutip penjelasan dokter yang merawatnya.
“Iya gak apa-apa. Rasanya mungkin memang gak nyaman, tapi ini lebih baik buat kamu.”
“Iya kak.”
“Ngomong-ngomong, aku udah ngambil hp sama barang pribadi kamu. Satu ransel ini aku bawa semua karena aku pikir semuanya pasti penting. Gak tenang juga naroh barang-barang di vila.”
Dengan sudut matanya Fany menunjuk tas ransel Rachel dan menaruh ponsel di atas meja kecil samping ranjang Rachel.
“Tapi hp kamu kehabisan batre, aku charge dulu ya.” Dengan sigap Fany mengambil charger dari dalam tas kecilnya.
__ADS_1
“Makasih kak, maaf aku ngerepotin kakak terus.” Ungkap Rachel dengan penuh sesal.
“Kamu ngomong apa sih, aku gak ngerasa direpotin kok.” Fany mengusap kepala Rachel dengan sayang.
Rachel tersenyum kecil, sungguh ia merasa sangat beruntung memiliki manager seperti Fany.
“Aku juga udah ngabarin kantor, kalau kamu sakit. Tapi cuma sama mas Adri aja. Aku minta dia keep silent selama kamu belum mau ngasih tau siapapun.”
“Tapi kak, kalau mas Adri tau, kira-kira beliau bilang sama kak Calvin gak ya?” wajah Rachel mendadak panik.
“Aku sih udah bilang jangan kasih tau siapapun tapi ya gak tau kalau menurut dia penting untuk lapor ke bos Calvin. Emang kenapa?”
“Astaga, aku harus cepet-cepet ngehubungin kak Calvin. Aku takut dia ngasih tau keluargaku. Aku gak mau mereka cemas.” Rachel yang panik segera bangkit hendak mengambil ponselnya.
“Tenang dulu Chel, pake hp aku aja kalau mau telepon bos Calvin. Hp kamu biar ada batrenya dulu.” Tahan Fany.
“I-iya kak.” Rachel kembali pasrah membaringkan tubuhnya.
Fany mulai menghubungi nomor Calvin dan memberikan ponselnya pada Rachel.
“Kak, ini aku, Rachel.” Sahut Rachel dengan segera.
“Ya ampun Chel, kamu kemana aja? kenapa hape kamu gak aktif?” Calvin menghembuskan nafasnya kasar setelah lega karena mendengar suara Rachel.
“Aku, masih di rumah sakit. Hapeku habis baterai.” Terangnya sejujurnya. Fany pergi beberapa saat dari hadapan Rachel, memberi ruang untuk Rachel dan Calvin untuk bicara.
“Lalu gimana kondisi kamu sekarang?”
“Udah lebih baik kak.”
“Terus gimana kata dokter, kamu sakit apa? udah keluar hasil pemeriksaannya?” pertanyaan Calvin terdengar bertubi-tubi karena mencemaskannya.
Untuk beberapa saat Rachel terdiam, ia bingung harus menjawab seperti apa. Diusapnya perutnya dengan lembut sambil memikirkan jawaban yang tepat untuk Calvin.
“Aku cuma kelelahan aja kak. Katanya istirahat dulu beberapa hari.” Akhirnya jawaban iitu yang Rachel berikan.
“Kamu mau gak kalau aku jemput terus di rawat di Jakarta aja? kamu cuma berdua sama Fany kan?” Calvin memang terlalu gercep.
__ADS_1
“Eng-nggak kak, gak usah. Aku diminta bedrest dulu jadi gak boleh pindah-pindah rumah sakit. Lagi pula, di sini ada banyak dokter dan perawat yang merawatku dengan baik. Jadi kakak gak perlu khawatir.”
“Kamu yakin?”
“Iya kak, aku yakin. Rumah sakitnya nyaman, gak berasa kayak di rumah sakit. Jadi ini sangat membantu aku buat bener-bener istirahat dan cepet pulih lagi.”
“Syukurlah ….” Calvin menghembuskan nafasnya lega. Padahal ia sudah berniat mencari rumah sakit terbaik untuk merawat Rachel.
“Kak, aku boleh minta tolong?” tanya Rachel kemudian.
“Iya. Apa yang bisa aku bantu?” sahut Calvin dengan cepat.
Rachel tersenyum kecil di tempatnya. Calvin memang selalu baik.
“Tolong jangan dulu kasih tau keluargaku ya kak. Jangan bilang apa-apa sama mereka, aku gak mau mereka cemas. Nanti biar aku aja yang ngehubungin mereka dan ngejelasin semuanya. Bisa kan kak?” ucap Rachel dengan sungguh.
Calvin tidak lantas menimpali. Ia mulai ragu kalau Rachel baik-baik saja.
“Kamu sakit bukan karena ibu mertua kamu kan?” Calvin ingin memastikan.
“Hah, nggak lah kak. Ini gak ada hubungannya sama mamah Martha. Aku cuma kelelahan aja. Aku minta tolong kakak jangan bilang siapapun karena aku cuma pengen istirahat. Aku juga gak mau bikin mereka panik. Jadi aku mohon bantuan kakak untuk gak bilang sama siapapun.”
“Apa Nata tahu kamu sakit di Bogor?” tembak Calvin yang curiga.
Rachel terdiam cukup lama. “Aku sendiri yang akan memberitahu siapa saja yang perlu tau kondisiku. Aku hanya memohon bantuan itu aja sama kakak.” Tegas Rachel.
Calvin menguyar rambutnya kasar. Sepertinya benar kalau tidak ada yang tahu kondisi Rachel, termasuk Nata.
“Kak Calvin, kakak masih di situ?” panggil Rachel saat tidak ada suara dari Calvin.
“Iya. Iya, aku gak akan bilang sama siapapun termasuk suami kamu.” Tegas Calvin. Ia mengusap wajahnya dengan kasar sambil memikirkan masalah apa yang sebenarnyaa sedang dihadapi Rachel.
“Makasih kak.” Sahut Rachel yang tersenyum kelu.
Panggilanpun terputus dan saat ini Rachel hanya bisa termenung sambil memegangi pinggiran selimutnya. Ada rasa lega tersendiri saat ia bisa menjauh dari orang-orang yang selama ini terus berputar di pikirannya. Terutama Nata.
****
__ADS_1