Menjadi Dia

Menjadi Dia
49. Memendam Rasa?


__ADS_3

Saat Rindy tenggelam dalam rasa bersalah nya, tiba-tiba terdengar nada dering handphone dari sling bag nya. Membuat Rindy tersadar dan segera mengambil handphone nya.


"Nadine?"gumam Rindy saat melihat siapa yang sedang menghubungi nya.


"Halo, Rin!"sapa Nadine saat Rindy sudah menerima panggilan nya.


"Halo, Din! Ada apa?"sahut Rindy.


"Sudah lama kita tidak bertemu. Bisa tidak, siang ini kita makan siang bersama?"tanya Nadine dari sambungan telepon.


"Boleh. Dimana kita akan makan siang?"tanya Rindy yang memang dekat dengan Nadine semenjak mereka bertemu. Rindy sering pergi bersama Nadine dan merasa cocok berteman dengan Nadine.


"Aku kirim alamatnya padamu, ya? Nanti aku tunggu di tempat itu,"ujar Nadine.


"Oke,"sahut Rindy mengakhiri panggilan.


"Kamu mau makan siang dengan teman kamu, Rin?"tanya ibu Rindy.


'Iya, Bu. Sudah lama kami tidak bertemu,"sahut Rindy tersenyum tipis.


"Aku nanti siang juga ada urusan di luar, Bu. Jadi nggak makan siang di rumah,"sahut Jefri.


"Kalau begitu, ibu tidak usah masak buat nanti siang. Ibu makan mie instan saja, lah. Cuma sendiri juga,"ujar ibu Rindy.


**


Rindy pergi ke sebuah restoran sesuai alamat yang dikirimkan oleh Nadine. Rindy sampai di restoran itu lebih awal dari Nadine. Wanita yang usia kehamilan nya menginjak delapan bulan itu mencari tempat duduk yang dia suka dan mengirim pesan pada Nadine bahwa dirinya sudah berada di restoran tempat mereka janjian. Namun Rindy mengernyitkan keningnya saat melihat seorang wanita yang duduk tidak jauh dari mejanya.


"Bukankah dia wanita yang memegang lengan Anand di restoran waktu itu?"gumam Rindy lirih.


"Din, kamu makan di sini juga?"tanya seorang wanita menghampiri wanita yang diperhatikan Rindy.


"Eh, kamu. Iya, nih. Aku lagi nungguin si Jefri,"


"Kamu masih sama Jefri? Betah amat kamu? Kata kamu, si Jefri bukan tipe kamu?"

__ADS_1


"Memang bukan tipe aku, tapi rugi kalau aku putuskan. Walaupun nggak banyak, tapi dia suka ngasih aku uang,"


"Pantesan kamu masih bertahan dengan dia. By the way, Jefri, 'kan punya restoran? Kenapa kalian nggak makan di restoran dia aja?"


"Ayah Jefri lihatin aku terus kalau aku makan di restoran mereka. Kayak nggak suka gitu. Jadi aku males makan di sana,"


"Udah feeling kalau kamu cuma mau morotin anaknya mungkin,"


"Iya, kali,"


Rindy mengernyitkan keningnya saat mendengar nama Jefri di sebut. Apalagi wanita itu mengatakan kalau yang mereka bicarakan itu Jefri yang memiliki restoran,"Apa maksud mereka Jefri kakakku? Dan apakah perempuan itu bernama Dini? Jangan bilang kakak ada urusan di luar adalah untuk menemui perempuan itu!"gumam Rindy yang semakin penasaran.


"Gimana dengan si Anand? Kata kamu, kamu yakin bisa dapetin dia?"


"Ternyata susah sekali deketin tuh, cowok. Dia nggak pernah lagi nongkrong di klub malam. Aku sudah nawarin diri beberapa kali sama dia, tapi dia nggak mau. Beberapa bulan yang lalu, aku lihat dia makan malam di sebuah restoran bersama seorang wanita. Saat aku dekati, dia malah mengusir aku,"


Rindy semakin serius menguping,"Jadi benar, dia adalah Dini yang dikatakan Anand? Pacar kak Jefri?"gumam Rindy nampak terkejut. Karena waktu itu Anand memang mengusir wanita itu saat dirinya dan Anand sedang makan malam di sebuah restoran.


"Aku dengar, dia tidak suka main dengan wanita yang sama,"


"Wow! Jadi CEO? Pasti bukan cuma kamu yang mendekati dia,"


"Itu pasti. Aku juga mendekati orang kaya lainnya. Asal kaya, pasti bakal aku embat. Eh, kamu cabut dulu sana! Jefri sudah datang,"


"Oke. Aku tidak akan menganggu kalian. Aku pindah ke meja lain,"


Mendengar perbincangan dua orang wanita yang mengatakan bahwa Jefri sudah datang, Rindy pun melihat ke arah pintu masuk restoran. Dan Rindy benar-benar melihat kakaknya datang. Tidak ingin dilihat oleh kakaknya, Rindy langsung berpindah tempat duduk menjauh dari meja wanita tadi. Rindy melihat kakaknya menghampiri wanita itu.


Rindy tidak mau mengatakan apa yang baru saja dia lihat dan dia dengar pada kakaknya. Karena Rindy tidak punya bukti apapun. Takut kakaknya tidak percaya dan jika wanita yang bernama Dini itu mengelak, Rindy takut akan terjadi keributan di tempat itu. Jadi Rindy memilih untuk menyampaikan hal itu di rumah saja.


"Jadi benar kata Anand, perempuan itu bukan perempuan baik-baik,"gumam Rindy menatap kakaknya bersama wanita tadi.


Tak lama kemudian, Nadine pun datang menghampiri Rindy,"Sorry, tadi macet, jadi aku terlambat,"ucap Nadine tidak enak hati.


"Nggak apa-apa,"sahut Rindy dengan seulas senyum.

__ADS_1


Rindy dan Nadine memesan makanan dan mengobrol sambil menunggu pesanan mereka datang. Sesekali Rindy melihat kakaknya dari jauh. Tak lama kemudian pesanan mereka berdua pun datang dan mereka pun langsung menyantap nya. Beberapa menit kemudian, makanan mereka pun tandas.


"Rin, sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan pada mu. Tapi aku ragu menanyakan nya padamu, karena menurut ku, yang ingin aku tanyakan ini terlalu pribadi. Namun jika tidak aku tanyakan, rasanya mengganjal di hati,"ujar Nadine menghela napas dengan ekspresi tidak berdaya.


"Tanyakan saja dulu. Setelah mendengar pertanyaan kamu, aku akan memutuskan untuk menjawabnya atau tidak,"ujar Rindy tersenyum tipis.


"Oke. Tapi aku mohon kamu jangan tersinggung, ya? Jika kamu tidak mau menjawabnya tidak apa-apa. Apapun pertanyaan aku dan apapun jawaban kamu, tolong jangan mempengaruhi persahabatan kita, ya?!"ujar Nadine terlihat serius.


"Oke. Bertanya lah!"ucap Rindy yang sudah penasaran dengan apa yang ingin ditanyakan oleh Nadine hingga wanita itu nampak sangat serius.


"Begini, Rin. Akhir-akhir ini Anand terlihat murung, aku dengar dari Putra dan Darlen, Anand sering pulang malam. Anand lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor. Bahkan kadang menginap di kantor. Putra dan Darlen nampak mengkhawatirkan kesehatan Anand. Aku yang mendengarnya pun ikut khawatir. Em.. apa kalian ada masalah?"tanya Nadine agak ragu.


"Iya,"sahut Rindy dengan wajah murung.


"Maaf, Rin. Apapun masalah kalian, tolong selesaikan baik-baik! Aku sangat senang saat mengetahui Anand sudah berhenti dari kebiasaan buruknya yang tidak mau lagi tidur dengan sembarang wanita dan berhenti minum alkohol. Bahkan mau bekerja. Aku yakin semua itu adalah karena kamu. Jadi tolong! Berbaikan lah dengan dia! Aku kasihan melihat dia seperti itu,"mohon Nadine, namun Rindy malah diam dan menundukkan kepalanya.


Nadine meraih tangan Rindy, kemudian menggenggam nya,"Rin, mungkin kamu bertemu banyak wanita dari masa lalu Anand.Tapi tolong, Jagan jadikan mereka sebagai alasan mu untuk pertengkaran kalian! Masa lalu Anand memang buruk, tapi Anand sudah berubah, Rin,"


"Aku sangat yakin, saat ini Anand hanya mencintai kamu dan tidak akan mengkhianati kamu. Anand selalu mengerjakan semua pekerjaan nya tanpa banyak istirahat, hanya agar bisa pulang lebih cepat. Bahkan saat kami di luar kota, malam-malam pun dia nekat mengendarai mobilnya sendirian untuk pulang. Semua itu hanya agar dia memiliki lebih banyak waktu untuk kamu, Rin,"


"Aku tahu, sulit menerima masa lalu Anand. Anand terjerumus dalam pergaulan negatif karena adik tirinya. Aku dan Darlen sudah sering memperingatkan Anand bahwa adik tirinya itu bermaksud jahat padanya. Tapi adik tirinya itu selalu berhasil membujuk Anand untuk pergi ke klub malam. Mabuk-mabukkan dan main perempuan,"


"Tapi beberapa bulan tidak bertemu Anand, aku sangat terkejut melihat semua perubahan Anand. Rasanya aku tidak percaya kalau dia adalah Anand yang aku kenal. Aku yakin, Anand meninggalkan semua kebiasaan buruknya itu karena kamu, Rin. Kamulah satu satunya orang yang bisa membuat Anand kembali ke jalan yang benar. Jadi tolong, jangan marahan lagi sama Anand, ya! Kasihan Anand,"ujar Nadine panjang lebar.


"Kamu sudah kenal lama dengan Anand, dan sangat perhatian pada Anand. Apa sebenarnya kamu mencintai Anand? Kamu memendam rasa?"tanya Rindy membuat Nadine membulatkan matanya.


...🌟"Jika benar-benar mencintainya, berhentilah menghakimi masa lalunya. Lebih baik berada di sisinya dan bantu dia memperindah masa depannya."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...


.


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2