Menjadi Dia

Menjadi Dia
36. Semakin Narsis


__ADS_3

Hari sudah malam saat Anand, Nadine dan Darlen kembali ke hotel tempat mereka menginap. Akhirnya pekerjaan mereka di kota itu selesai dengan hasil yang memuaskan.


Suasana hotel malam itu agak ramai. Hal itu karena ada seminar yang di adakan di hotel itu. Dan seminar itu baru saja selesai, sehingga banyak orang yang keluar dari hotel itu.


"Anand, jam berapa besok kita pulang?"tanya Nadine yang nampak sudah lelah, melangkah masuk ke dalam hotel, berjalan bersebelahan dengan Anand, sedangkan Darlen berjalan di belakang keduanya.


"Aku akan kembali malam ini juga,"jawab Anand membuat Nadine membulatkan matanya.


"What? Serius? Ini sudah pukul sembilan malam, Nand? Seharian bekerja hingga malam, dan sekarang ingin pulang? Apa kamu tidak capek?"tanya Nadine menghentikan langkahnya membuat Anand dan Darlen ikut berhenti melangkah.


Anand yang dikenal Nadine sekarang benar-benar gila kerja. Bahkan pekerjaan yang harusnya memakan waktu lima hari bisa mereka selesaikan dalam waktu tiga hari. Semua itu karena Anand yang bekerja dengan serius dan cepat.


"Tentu saja serius. Masih banyak pekerjaan kantor yang harus aku selesaikan,"ucap Anand santai.


"Sayang! Dengarkan penjelasan ku dulu!"teriak seorang pria di tengah ramainya lobi hotel. Ada banyak orang yang akan keluar dari hotel itu, karena seminar yang baru saja selesai. Pria itu mengejar seorang wanita yang sedang berlari sambil menangis.


"Brugh"


"Auwh"pekik Nadine yang ditabrak oleh pria yang sedang mengejar seorang wanita itu. Nadine menabrak dada Anand cukup keras karena ditabrak oleh pria yang sedang berlari tadi.


"Hei! Lihat-lihat kalau jalan!"teriak Anand sambil memegang Nadine yang hampir saja terjatuh jika Anand tidak segera menangkap tubuh Nadine. Namun pria yang menabrak Nadine sama sekali tidak menghiraukannya. Pria itu terus berlari mengejar perempuan yang sedang menangis tadi.


"Anand, sepertinya kakiku terkilir,"ucap Nadine mengalihkan perhatian Anand dari pria yang menabrak Nadine tadi


"Apakah sakit sekali? "tanya Anand nampak khawatir saat melihat wajah Nadine yang nampak menahan sakit.


"Sepertinya kaki ku sulit untuk dipakai berjalan,"sahut Nadine sambil meringis menahan sakit di pergelangan kakinya. Sedangkan tangan nya masih memeluk Anand agar dia tidak terjatuh.


"Biar aku gendong kamu ke kamar mu,"ucap Anand langsung mengangkat tubuh Nadine dan menggendong Nadine menuju lift.


"Memalukan sekali, pasangan itu bertengkar di depan umum bahkan sampai membuat kakiku terkilir,"gerutu Nadine nampak kesal sambil menahan rasa sakit di pergelangan kakinya.


"Kamu sok sokan kesal pada mereka, tapi aslinya kamu senang, 'kan? Karena kamu jadi bisa merasakan bagaimana rasanya aku gendong,"celetuk Anand membuat Nadine berdecak kesal.

__ADS_1


"Narsis sekali! Siapa juga yang merasa senang karena kamu gendong,"ujar Nadine tersenyum sinis pada Anand.


Akhirnya Anand menggendong Nadine sampai ke kamar Nadine. Darlen membukakan pintu kamar Nadine, dan Anand pun langsung masuk dan mendudukkan Nadine di sofa.


"Kamu mau apa?"tanya Nadine saat Anand berjongkok di depan Nadine dan melepaskan sepatu Nadine.


"Mengurut kakimu yang terkilir lah! Apa kamu berharap aku berjongkok di depan mu lalu mengulurkan sebuah kotak beludru berisi cincin lalu melamar kamu?"ujar Anand dengan ekspresi datar, mulai mengurut kaki Nadine, membuat Nadine tertawa hambar.


"Bicara mu seperti orang bercanda, tapi muka mu datar. Semakin ke sini, aku semakin penasaran dengan mu. Kamu sangat berubah, seperti memiliki kepribadian ganda. Tapi aku suka. Kamu semakin menarik. Awhh.. pelan-pelan Anand!"pekik Nadine berhenti berceloteh saat kakinya yang sedang diurut oleh Anand terasa sangat sakit.


"CK, kamu teriak seperti itu. Nanti orang mengira kita lagi ngapa-ngapain,"decak Anand merasa kesal.


"Cih, disini ada Darlen. Lagian sejak kapan kamu perduli dengan pandangan dan pemikiran orang lain? Biasanya juga keluar masuk klub malam dan bercinta dengan wanita yang berbeda-beda,"cibir Nadine.


"Itu dulu,"ucap Anand seraya menggerakkan kaki Nadine ke kanan dan kiri lalu menariknya dalam sekali sentakan.


"Auwhh"pekik Nadine.


"Auwhh"pekik Anand.


Nadine yang merasa sakit di tarik Anand pun spontan memukul kepala Anand.


"Ck. Kamu ini sudah ditolong malah memukul kepala ku!"protes Anand seraya memegang kepalanya.


"Apa kamu ingin mematahkan kakiku!"bentak Nadine yang juga protes pada Anand.


"Aku menyembuhkan kakimu yang terkilir. Kalau kamu tidak percaya, kamu cobalah untuk berjalan,"ujar Anand.


Karena penasaran dengan perkataan Anand, Nadine pun mencoba berdiri dan perlahan mencoba untuk berjalan.


"Eh, iya. Kakiku sudah tidak terlalu sakit lagi,"ucap Nadine dengan segaris senyum di bibirnya,"Ternyata selain pintar memijit di atas ranjang hingga membuat para wanita menjerit, kamu juga berbakat menjadi tukang urut,"ujar Nadine kemudian tertawa.


"Sialan! Sudah ditolong masih menghina. Kalau mau memuji, ya memuji saja! Jangan kayak iklan! Two in one, memuji tapi juga menghina,"gerutu Anand, sedangkan Darlen yang dari tadi masih mengikuti Anand pun hanya mengulum senyum melihat interaksi keduanya.

__ADS_1


Mendegar gerutuan Anand, Nadine malah tertawa terbahak-bahak,"Aku semakin suka dengan perubahan kamu ini. Terkadang kamu dingin dan datar, tapi kadang kamu juga humoris dan hangat. Tahu nggak sih, kamu itu semakin asyik!"ujar Nadine jujur apa adanya.


Darlen yang sudah lama bersama Anand pun merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan oleh Nadine. Dan Darlen juga semakin senang dengan perubahan majikannya itu.


"Awas, jangan sampai jatuh cinta pada ku. Karena aku sama sekali tidak tertarik padamu. Aku tak ingin kamu patah hati karena ku,"sahut Anand membusungkan dadanya.


Tanpa disadari Anand, Nadine ataupun Darlen jika lipstik Nadine menempel di kemeja putih yang dipakai Anand, saat Nadine jatuh dan langsung dipegang Anand tadi. Noda lipstik itu tidak terlalu terlihat karena Anand juga memakai jas dan dasi, lipstik itu menempel di antara dasi dan jas Anand.


"Cih, kenapa semakin lama kamu semakin narsis saja,"gerutu Nadine kemudian kembali duduk di sofa.


"Ya sudah, aku balik ke kamar aku dulu,"ucap Anand kemudian menatap Darlen,"Len, kamu pulang besok saja bersama Nadine,"titah Anand.


"Iya, Tuan,"sahut Darlen.


"Kamu serius mau pulang malam ini, Nand?"tanya Nadine.


"Iya. Tenang saja, Darlen akan menjagamu dengan baik. Oke, aku cabut dulu,"ucap Anand seraya melangkah keluar dari kamar Nadine.


"Thanks, Nand!"ucap Nadine seraya menatap Anand dan Darlen yang melangkah mendekati pintu.


"Santai aja,"ujar Anand seraya melambaikan tangannya tanpa menoleh kepada Nadine, kemudian keluar dari kamar Nadine dan Darlen pun menutup pintu kamar Nadine dari luar.


"Kamu sungguh berubah Anand. Tapi aku suka dengan perubahan mu ini. Semoga kamu tetap seperti ini,"monolog Nadine masih menatap pintu kamarnya yang sudah tertutup.


Nadine benar-benar suka dengan sikap Anand yang sekarang. Walaupun susah ditebak, namun semakin membuat Nadine tertarik.


...🌸❤️🌸...


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2