
“Tring!” sebuah pesan masuk mengejutkan Rachel yang sedang termenung di tepian tempat tidurnya. Ia masih harus mengumpulkan kesadarannya setelah tadi mendengar semua hal mengerikan yang dilakukan Brams terhadap Ima.
Dengan malas ia mengecek pesan itu dan ternyata pengirimnya adalah Brams.
Dada Rachel langsung bergejolak. Entah ia harus membaca pesan laki-laki ini atau tidak. Tapi kenyataan kalau Brams sedang bersama Brandon, mengharuskan ia mengecek pesannya. Ia khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada Brandon.
“Rachel, demam Brandon naik lagi.” Pesan itu akhirnya di baca Rachel.
“Segera ke kamar Brandon, dia sangat membutuhkan kamu.” Pesan berikutnya masuk karena Rachel hanya membaca pesan yang pertama.
"Astaga." Rachel mengusap wajahnya kasar.
Lagi, ia terpaksa ia harus ke kamar Brandon dan bertemu dengan Brams. Sebelum pergi ke kamar Brandon, Ia mencuci mukanya terlebih dahulu. Beberapa saat Rachel memandangi wajahnya, lalu memejamkan mata berusaha menguatkan dirinya sendiri sebelum bertemu Brams.
Ia menyetel alat perekam untuk merekam semua pembicaraannya dengan Brams. Ia harus punya bukti berikutnya jika ingin melaporkan Brams.
Setelah persiapan selesai, Rachel pun turun menuju kamar Brandon.
“Bi Tuti,” Rachel mencari Tuti terlebih dahulu tapi sepertinya wanita itu tidak berada di dapur. Akhirnya ia mengirim pesan pada Tuti.
“Lima menit lagi aku tunggu di kamar Brandon ya. Tolong bawakan makanan untuk Brandon, dia harus makan.” Begitu isi pesan yang Rachel kirim pada Tuti.
“Baik nyonya.” Tuti membalas, namun Rachel tidak lantas membukanya. Ia membiarkan terlebih dahulu pesan yang ia terima di buka oleh seseorang.
Benar saja, pesan itu sudah ada yang membacanya.
Perasaan Rachel semakin tidak karuan. Ia harus bersiap untuk kemungkinan terburuk. Karena kemungkinan besar orang itupun tahu pembicaraan Rachel bersama Ima beberapa saat lalu.
Di situasi seperti ini, sungguh ia sangat memerlukan keberadaan Martha. Ia ingin ada yang mendengarnya jika keadaan membuat ia harus teriak.
“Kriiiiiing!” sebuah panggilan telepon kemudian menyadarkan Rachel yang sedang terdiam.
Ada nama Nata yang muncul di layar ponselnya. Rachel segera menjawabnya,
“Iya Mas.” Rachel sangat ingin menangis karena Nata tiba-tiba menghubunginya.
“Kamu dimana?” tanya Nata.
“Aku di dapur, lagi nyari bi Tuti. Mas pulang jam berapa?” tiba-tiba Rachel merajuk manja.
“Masih di jalan. Gimana Brandon?”
“Brandon demamnya naik lagi kata kak Brams. Ini aku mau ngecek.”
__ADS_1
“Periksalah, dan jangan tutup teleponnya.” Titah Nata.
Rachel mengernyitkan dahinya, tumben sekali pikirnya.
“Baik mas,” Rachel hanya bisa pasrah dan menurut.
Rachel segera menuju kamar Brandon. Ia mengintip sedikit dari celah pintu yang sengaja tidak ia buka lebar. Ia ingin mengintip keberadaan Brams terlebih dahulu.
Tapi baru Rachel mendekat tiba-tiba saja pintu terbuka lebar. Ada sebuah tangan kokoh yang menarik Rachel masuk kemudian membanting pintu hingga tertutup.
Tangan kokoh itu mendorong Rachel ke dinding, memegangi kedua tangan Rachel dan menguncinya. Rachel sampai terengah-engah karena takut dan kaget di waktu bersamaan saat ternyata tangan kokoh itu milik Brams. Satu tangan Brams lainnya kini membekap mulut Rachel.
“Hah, hah, hah!” hanya suara nafas itu yang kemudian terdengar dari mulut Rachel dengan matanya yang membulat merah dan berair.
“Kenapa kamu lama sekali Chel?” tanya Brams dengan wajah menyeringai dan deru nafas yang menggebu.
Rachel tidak menjawab, ia mencoba berontak tapi cengkraman tangan Brams terlalu kuat.
“Tenang lah Rachel, tenang. Aku tidak akan melukaimu. Tenanglah.” Ucap Brams dengan suara mende*ah di telinga Rachel. Ia juga menempatkan dahinya di dahi Rachel membuat Rachel memejamkan matanya saat deru nafas Brams begitu jelas meniup wajahnya.
Rachel masih berusaha berontak, kakinya berusaha menendang Brams tapi postur tubuh Brams yang besar membuat Brams dengan mudah membuat Rachel tidak berkutik.
“Kamu tau Rachel, kalau kamu berontak, aku merasa semakin gila. Keinginanku untuk menaklukan kamu semakin besar. Kamu tau itu?” bisik Brams yang membuat Rachel begitu ketakutan.
Jantungnya berdebar sangat kencang hingga rasa mau copot. Wajahnya sudah pucat pasi, suara tangisnya pun begitu sulit untuk ia keluarkan.
“Kenapa kamu harus terus bertahan sama Nata, Chel? Kalau kamu merasa tersiksa, ayo kita tinggalkan rumah ini. Aku sudah tidak memerlukan apa-apa asal ada kamu di samping aku. Aku akan hidup dengan bahagia selamanya.” Suara Brams semakin rendah dan penuh hasrat membuat Rachel berteriak dengan suara yang tidak keluar.
“Kapan itu lima menit, kenapa lama sekali. Mana Tuti yang tadi mengatakan ia akan menyusulku?” bisik hati Rachel yang berteriak sekuatnya.
“Kamu harus tau Chel. Aku bisa memperlakukan kamu jauh lebih baik dari Nata. Aku bisa menyentuh kamu jauh lebih lembut. Aku bisa melakukan semua yang tidak pernah bisa Nata lakukan. Jadi, ayo kita kukuhkan hubungan kita Chel.” Kali ini brams menggunakan hidungnya untuk membelai pipi Rachel. Laki-laki ini semakin gila saja.
“BUK!” di tengah usaha Brams untuk menaklukan Rachel, tiba-tiba saja Brandon bangun dan melemparkan mainan robotnya pada Brams. Tepat mengenai punggungnya.
Anak istimewa itu menatap Brams dengan tajam, penuh kemarahan.
“Anak sialan! Kenapa kamu selalu menggangguku hah?!” Hardik Brams dengan suara rendah namun penuh penakanan.
Brandon tidak bergeming. Dengan langkahnya yang tertatih karena pusing, anak itu menghampiri Brams dan Rachel. Dengan tangan mungilnya ia memukul-mukul lengan kokoh Brams.
“No! No! No!” ujarnya sambil memukuli tangan Brams.
Hati Rachel rasanya begitu hancur dan sakit melihat usaha Brandon untuk menolongnya. Rachel semakin berontak tapi Brams malah semakin kuat memeganginya.
__ADS_1
“Hhahahaha… liat Rachel, anak ini sangat menyayangimu. Padahal dia hanya anak bodoh yang tidak tahu apa-apa. Harusnya aku memiliki anak dari rahimmu, bukan Rahim Ivana. Dengan begitu hidupku akan sangat sempurna.” Halu Brams dengan senyum terkekeh karena serangan Brandon tidak berarti apa-apanya baginya.
Tenaga anak yang sedang sakit itu terlalu kecil untuk melawan ayahnya yang sangat kuat. Rachel semakin ingin berteriak hingga tenggorokannya sangat sakit. Ia menggelengkan kepalanya agar Brandon berhenti. Ia takut Brams malah menyakiti putranya.
Anak kecil itu tidak kehabisan akal. Brandon mengambil kotak pensilnya lalu memukul-mukulkannya pada Brams.
“Hahahahaha….” Brams hanya tertawa karena menurutnya usaha Brandon hanya usaha yang sia-sia.
Karena terus dipukulkan, kotak pensil Brandonpun rusak dan isinya terhambur berantakan. Tidak di duga, Brandon mengambil ballpoint dan ia hantamkan ke pinggang Brams.
“AKH!!!” Brams mengaduh saat ternyata tusukan ballpoint yang digunakan Brandon melukai pinggangnya.
“Anak sialan!” seru Brams. Dengan sekuat tenaga ia mendorong tubuh kecil Brandon hingga terlempar ke atas sofa.
“Brandon!” Rachel berteriak saat satu tangan Brams terlepas dari cengkraman mulutnya karena mendorong Brandon.
Rachel juga menanduk hidung Brams dengan sekuat tenaga.
“AKH!!! Sial! Kamu berani melukaiku Rachel?!” seru Brams yang mengaduh kesakitan. Ia memegangi hidungnya yang berdarah sementara Rachel segera berlari sekuat tenaga menghampiri Brandon setelah terlepas dari cengkraman Brams.
Ia tidak mempedulikan kepalanya yang pusing berkunang-kunang karena menanduk hidung Brams.
Brams berusaha menahan sakitnya. Hidungnya sampai berdarah dan matanya berair karena tandukan Rachel.
“Brandon, sini sama mami nak. Sini, mami liat.” Rachel dengan kepanikannya segera memeriksa tubuh mungil Brandon yang merintih kesakitan.
Dorongan Brams tentu bukan dorongan yang pelan terhadap seorang anak kecil yang tidak berdaya seperti Brandon.
“Mana yang sakit sayang? Hemh?” tanya Rachel.
Rachel memeriksa kepala dan punggung Brandon. Ada luka memar di punggung kanan Brandon, mungkin terbentur saar Brams mendorongnya.
"Astaga." Rachel menangis tersedu sambil memeluk Brandon. Anak ini pasti sangat kesakitan.
“Brengsek!” dengus Rachel.
Dengan penuh kemarahan ia menoleh Brams. Laki-laki itu menyeringai pada Rachel, mempertunjukkan giginya yang merah berdarah dari hidung.
“Kamu mau bermain-main denganku Rachel, tentu saja aku tidak keberatan. Anggap saja ini pemanasan.” Ucap Brams yang berjalan mendekat.
“Jangan mendekat. JANGAN MENDEKAT!” teriak Rachel yang ketakutan.
Ia berdiri membungkuk membelakangi Brandon. Ia masih sadar kalau ia harus melindungi anak tidak bersalah ini.
__ADS_1
Tapi Brams tidak punya ampun, ia terus berjalan ke arah Rachel, semakin dekat dan dekat lagi.
****