
“Adek mau makan sekarang?” tawar Eva yang baru datang bersama Ruby.
Mereka memang pulang dulu untuk menyiapkan makanan untuk Rachel. Kata dokter, Rachel boleh makan apapun, tidak ada yang di pantang. Nutrisinya harus tercukupi dengan baik agar ia cepat pulih dan sehat.
“Mamah bawa apa? kok wangi banget?” Rachel menoleh rantang yang di taruh Eva di atas meja kecil dan sedikit mengendus wanginya.
“Ini, mamah bikin rawon buat adek. Kan waktu itu adek mau makan rawon.” Terang Eva.
“Waahh, mamah beneran bikin?” mata Rachel langsung membola semangat.
“Iya dong. Ada telur asinnya juga. Adek makan yang banyak ya.” Eva mulai menyiapkan makanan untuk Rachel.
“Iya mah.”
Dengan tidak sabar Rachel menunggu. Air liaurnya sudah berkumpul di ujung lidahnya saat ia melihat kuah hitam rawon disiramkan di atas toge dan nasi. Juga wangi bawang goreng yang ditaburkan di atas makananya, membuat selera makan Rachel langsung terpanggil.
“Aaa ….” Eva menyuapkan sesendok makanan ke mulut Rachel.
__ADS_1
Dengan senang hati Rachel membuka mulutnya. Matanya langsung berbinar saat kuah gurih rawon mengisi mulutnya. Juga potongan daging yang lembut, sangat mudah untuk ia kunyah.
“Ini enak banget mah.” Seru Rachel seraya menutup mulutnya dengan tangan.
“Iyaaa, kalau gitu makan yang banyak yaa….” Eva tersenyum lega melihat Rachel yang begitu semangat mengunyah makanannya.
“Iya mah. Ngomong-ngomong kak Ruby mana mah?” Rachel belum melihat kedatangan Ruby yang katanya mengantar ibunya dengan motor.
“Tadi kak Ruby nerima telepon di depan. Kayaknya belum selesai.”
“Oooh….” Hanya itu respon Rachel yang kembali membuka mulutnya, menyambut suapan Eva.
“Syukurlah. Tapi, nanti sampai di rumah, adek jangan terlalu aktif. Harus banyak istirahat juga. Inget, kali ini adek gak cuma harus jaga diri sendiri, tapi juga jaga bayi dalam kandungan adek.” Pesan Eva.
Empat hari berada di rumah sakit, terasa begitu lama. Rasanya ia ingin segera membaca Rachel kembali ke rumah.
“Iya mah.” Rachel jadi mengusap perutnya yang sebenarnya masih rata. Tapi sering kali ia merasa ada kedutan kecil di perut bawahnya. Menurut dokter itu karena pergerakan janin.
__ADS_1
“Adek udah berniat kalau mulai sekarang, adek memilih untuk bahagia. Bahagia sama bayi ini juga sama mamah dan kak Ruby. Adek gak mau memikirkan hal lain yang membuat kesehatan adek dan bayi ini terganggu. Adek gak mau keluar masuk rumah sakit lagi. Mau sehat aja.” Tekad Rachel sudah bulat.
“Bagus! Itu pemikiran yang sangat bagus.” Eva mengusap kepala Rachel dan menyibak anak rambutnya yang mengenai sudut matanya lalu menyelipkannya di belakang telinga Rachel.
“Dimana pun dan dengan siapapun, bahagia itu akan tetap menjadi pilihan kita dan kita sendiri yang menciptakannya.” Tegas Eva dengan penuh kesungguhan.
“Iya mah, makasih banyak karena mamah selalu ada buat adek. Maaf karena adek selalu membuat mamah repot dan cemas.” Rachel berujar dengan sungguh.
Eva tidak lantas menimpali. Ia menggenggam tangan Rachel dengan erat.
“Adek juga memberi banyak kebahagiaan buat mamah. Sebentar lagi, mamah akan menjadi nenek. Akan ada bayi mungil yang memanggil mamah dengan panggilan itu.” Eva ikut mengusap perut Rachel dengan sayang.
“Nenek Eva, aku mau makan candy ….” Ujar Rachel dengan suaranya yang dibuat kecil seperti anak-anak.
“Hahhaahha….” Eva tertawa haru dengan mata yang berkaca-kaca. Ia meraih Pundak Rachel untuk kemudian ia peluk beberapa saat.
“Sehat selalu ya nak. Bahagia selalu. Mamah akan selalu mendukung apapun keputusan adek, apapun yang membuat adek bahagia dan damai.” Bisik Eva di telinga Rachel.
__ADS_1
Rachel terangguk pelan. “Makasih banyak mah.” Timpal Rachel dengan penuh kesungguhan.
****