
Malam yang sepi juga menjadi milik Martha. Ia masih bergabung dalam panggilan group bersama teman-temannya yang berjumlah sekitar lima orang dengan dirinya. Mereka adalah teman-teman arisan Martha dan sedang membahas rencana pertemuan mereka berikutnya.
“Gimana kalau di rumah jeng Martha lagi? Waktu itu aku suka banget masakannya, sangat lezat.” Ujar salah satu teman Martha yang berujar dengan penuh semangat.
“Iyaa aku juga suka. Capcay nya enak, rasanya pas. Brokolinya gak terlalu layu dan gak keras juga, semuanya serba pas.” Timpal satu teman Martha lainnya.
“Waah aku waktu itu gak ikut. Gimana jeng Martha, apa boleh bulan depan kita arisan di rumah jeng Martha lagi?”
Semua pandangan kini tertuju pada Martha yang sedari tadi hanya menyimak pembicaraan teman-temannya. Sudut bibir dan matanya sedari tadi terus berdenyut, entah apa yang terjadi dengan sebelah saraf di tubuhnya.
“Kita cari tempat barulah. Pembantuku juga baru aku pecat jadi masakan pembantu yang sekarang belum ketauan cocok apa nggaknya sama selera kalian. Kita ketemu di luar aja yuk?” Martha menolak dengan halus.
Masakan itu dulu memang buatan Rachel, bukan Tuti. Tapi dengan beralasan seperti ini paling tidak teman-teman sosialitanya tidak akan memaksa datang dan melihat aura tidak menyenangkan yang ada di dalam rumahnya.
“Yaahh sayang bangeett… padahal aku belum sempet nyicip makanannya loh.” Keluh satu teman Martha.
“Laah suruh siapa diajakin arisan malah pergi ke singapura.”
__ADS_1
“Ya, aku kan diajak liburan sama anakku. Mana mungkin aku nolak, orang dia yang tanggung semua biayanya. Kelas VIP pula.”
“Duh enak banget sih jeng, jalan-jalan ke singapura dimodalin anak. Dibelanjain juga gak?”
“Ya dibelanjain laahh. Aku beli enam tas model terbaru. Dua baju yang modelnya jadi inceran kita waktu jalan-jalan ke Hongkong. Aku baru tau kalau itu limited edition dan hanya beberapa pcs aja yang di produksi. Untung aku dapet. Anakku sih yang bantuin supaya aku dapet."
“Duh enak banget jalan-jalannya semuanya terjamin. Bikin iri aja nih.”
Obrolan para sosialita itu menjadi hiburan tersendiri bagi Martha. Ia tidak banyak menimpali, lebih memilih memijat-mijat kakinya yang sering kebas dan sebelah tangannya yang tidak berhenti kedutan sejak sejam lalu.
Hah, tubuhnya semakin renta saja dan membuatnya tidak nyaman. Ternyata walaupun harta melimpah, tetap saja tidak bisa membeli waktu agar ia tetap bisa muda.
“Loh apa iya jeng? Keren dong.” Timpal satunya.
“Iyaaa, kata mantuku ada model iklan baru yang lagi rame banyak tawaran. Iklan mantuku yang habis kontrak malah gak diperpanjang dan mau dialihkan ke mantunya jeng Martha. Bener gak sih jeng?” lagi, Martha menjadi pusat perhatian.
“Akh dia masih amatir. Gak bisalah disandingin sama mantu jeng Wida.” Timpal Martha mengecilkan Rachel.
__ADS_1
“Loh ya hebat lah. Kalau mantuku kan dia jadi model iklan dan fashion karena dia memang basicnya sekolah model di luar negeri. Modalnya kuat. Tapi mantu jeng Martha, gak pake modal malah langsung tenar. Mantep itu jeng. Dia terkenal dengan usahanya sendiri. Wajib bangga sih kalau kayak gitu.” Entah memuji atau merendahkan yang dikatakan wanita ini yang jelas menundang tawa temannya.
“Hahahaha… moso gak pake modal? Ya minimal bedak sama lipstick kan mesti ada. Yang begitu itu biasanya cuma ngandelin keberuntungan dan biasanya gak bertahan lama. Jadi jeng Martha tetep harus waspada, karena trend-nya gak lama.” Satu orang ini memang suka membuat Martha berpikir negative tentang Rachel.
“Ya makanya aku bilang dia amatiran. Orang dia biasa aja, kalian aja yang terlalu heboh dan membesar-besarkan.” Benar bukan, Martha lebih setuju dengan pendapat terakhir.
“Lagian mau jadi artis kek atau apa kek, kalau dari keluarga biasa-biasa, ya tetep aja gak bisa dibandingin sama mantu kalian.” Imbuh Martha dengan sinis.
“Hahhaha… jeng Martha ini suka merendah. Tapi ngomong-ngomong, dia belum hamil ya? Padahal nikahnya udah lama kan?” tentang Rachel kembali di bahas.
“Eh jangan ngomongin soal momongan sama yang belum punya cucu. Nanti jeng Martha tersinggung loh.” Satu teman Martha mengingatkan.
“Looohh mana mungkin tersinggung. Jeng Martha kan bukan belum punya cucu tapi belum nambah cucu. Kita kan cuma nanya, karena peduli. Siapa tau jeng Martha butuh konsulan ke dokter gitu. Anakku yang dokter kan punya banyak kenalan dokter obgyn. Tenang, masih bisa di jangkau kok biayanya. Ya kecuali kalau mau bayi tabung, itu baru mahal.”
“Biarkan saja mereka belum punya anak, toh Nata masih muda dan bugar. Dia juga belum tentu bisa ngurus anaknya. Ngurus suami aja sering keteteran.” Timpal Martha dengan ringan
Teman-teman Martha hanya terkekeh mendengar ucapan Martha yang menurutnya sangat lucu.
__ADS_1
Tapi tolonglah, kalau Rachel tahu, ini tidaklah lucu untuk Rachel.
****