Menjadi Dia

Menjadi Dia
Perdebatan dini hari


__ADS_3

“Darimana kamu?”


Suara Ivana terdengar menjegal langkah Nata di depan tangga.


Ivana melirik jam di dinding dan sudah jam satu dini hari tapi Nata baru pulang. Sudah beberapa hari ini Nata bepergian tidak jelas dan sulit dihubungi. Pergi sangat pagi dan pulang sangat larut.


“Dari luar.” Sahutnya ringan.


Tapi dari penampilannya yang berantakan, Ivana bisa meyakini kalau Nata pasti frustasi mencari-cari keberadaan Rachel. Ia bisa melihat dengan jelas, perbedaan saat Nata di tinggalkan oleh Aruni dengan saat Rachel yang pergi.


Laki-laki ini sama-sama terlihat kehilangan. Yang berbeda adalah, saat Aruni pergi, Nata memilih menyibukkan dirinya dengan pekerjaan. Setelah bekerja ia pergi minum-minum dan pulang dalam kondisi mabuk.


Tapi saat Rachel yang pergi, Nata seolah ikut pergi meninggalkan dunianya sendiri. Pekerjaan di buat berantakan walau tetap terlihat berusaha untuk waras demi menemukan keberadaan Rachel.


Bagi ivana, rasa kehilangan Nata kali ini terlihat jauh lebih besar di banding saat kehilangan Aruni.


“Aku tau kamu dari luar, tapi dari luar itu dari mana? Dunia ini luas. Dan kamu mengabaikan semua tugas kamu dengan berleha-leha di luar.” Sindir Ivana.


“AKU GAK BERLEHA-LEHA!” seru Nata tidak terima.


“Tidak berleha-leha? Terus ngapain? Nyari Rachel?!” mata Ivana sampai membulat kesal pada adiknya.


Nata tidak menjawab, ia hanya memalingkan wajahnya dari Ivana.


Ivana pun mendekat, memandangi Nata dari jarak paling dekat.


“Rupanya bener, kamu habis nyari Rachel.” Ia tersenyum sinis pada adiknya.


“Emang ngapain kamu nyariin Rachel? Mau minta dia balik lagi? Hahahaha … imposibble!” decik Ivana sambil terkekeh.


“DIAM!” seru Nata tidak terima.


Bisa-bisanya Ivana malah mengecilkan usahanya padahal sudah beberapa hari ini ia mencari Rachel tapi Rachel tidak ada dimanapun. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi. Seperti Rachel benar-benar meninggalkan dunia Nata tanpa jejak.

__ADS_1


“Tentu aku gak bisa diem, karena kamu selalu bodoh kalau ada masalah sama perempuan!” dengan kasar Ivana mendorong tubuh adiknya hingga beranjak dari tempatnya dan nyaris jatuh. Rupanya memang hanya sedikit sisa tenaga di tubuh Nata.


“Biar aku kasih tau, Rachel, gak akan kembali sama kamu. Dia udah muak sama semua perlakuan kamu. Dia udah menyia-nyiakan waktunya selama lebih dari satu tahun dengan menerima semua perlakuan kamu.”


“Kamu harus sadar, seseorang yang sangat mencintai kamu, saat kamu kecewakan dia akan pergi dan gak akan pernah kembali lagi. Dia gak mungkin bertahan pada sesuatu yang membuat dia terus terluka.”


“Lagi pula, apa yang kamu punya buat Rachel saat ini? Cinta? Basi!”


“Kamu nyari dia bukan karena cinta sama dia tapi kamu takut mainan kamu diambil orang. Ego kamu juga terlalu tinggi untuk mengakui kalau kamu pantas dicampakkan. Cuma itu yang kamu cintai dan Rachel gak pernah dapet apa-apa selain semua keegoisan kamu. Iya kan?” ejek Ivana.


“HEH LIAT AKU! IYA KAN, KAMU CUMA CINTA SAMA EGO KAMU AJA!” Ivana meninju lengan Nata dengan kuat agar adiknya menolehnya.


“AARRGGHHH!!!” timpal Nata dengan kasar.


Ia menatap Ivana dengan penuh kemarahan. Terang saja, karena ucapan Ivana seperti tamparan bertubi-tubi yang harus ia terima.


Ivana tersenyum sinis melihat tatapan menyalak adiknya.


“Liat Nata, kamu seperti orang bodoh. Kamu bahkan gak berani mengakui kesalahan kamu di depan Rachel apalagi keluarganya. Kamu merasa ditinggalkan padahal kamu sendiri gak pernah membuka pintu buat Rachel.” Ivana tetap dengan ucapannya yang sarkas untuk menampar dan menyadarkan adiknya.


“Oh ya?! Memangnya apa yang aku gak tau?! APA?!” tantang Ivana.


“AKU CINTA SAMA RACHEL!!!” seru Nata dengan air mata yang kemudian menetes begitu saja.


Ivana langsung terdiam. Selama ini ia tidak pernah mendengar Nata mengatakan kalau ia mencintai Rachel. Nata bahkan selalu menyebut Rachel dengan sebutan “Dia.” Tidak pernah sekalipun menyebut namanya dengan penuh cinta. Dan kali ini, entah mengapa hati Ivana ikut tergetar.


Ia mendekat kembali pada Nata. Menatap lekat mata sang adik yang merah dan basah.


“Tapi kamu terlambat. Rachel udah pergi dari rumah ini dan dari dunia kamu. Kamu bisa apa? mau maksa dia buka lagi pintu hatinya buat kamu? Itu bukan cinta Nata, bukaaan… itu cuma keegoisan kamu aja. Tidak bisa di sebut cinta.” Ujaran Ivana terdengar lemah namun penuh arti.


Nata tidak bisa berkata-kata. Dadanya terlalu sesak untuk sekedar menimpali perkataan kakaknya.


“Cukup Ivana, kamu jangan menekan Nata lagi.” Ucap seseorang yang baru datang.

__ADS_1


Mungkin karena mendengar keributan Ivana dan Nata, wanita tua ini pun terusik.


“Mamah gak perlu ikut campur. Ini urusanku sama Nata.” Ucap Ivana, mengibaskan tangannya untuk menjauh dari ia dan Nata.


“Apa maksud kamu? Mamah ini mamahnya Nata. Mamah yang paling tau apa yang dia rasakan dan dia butuhkan. Kamu kelewatan Ivana! Harusnya kamu men-,”


“DIAM!!!!” seru Ivana dengan kesal. Matanya menyalak pada Martha.


“Apa mamah lupa apa yang udah mamah lakukan terhadap Rachel selama ini? Mamah loh salah satu orang yang membuat Rachel banyak terluka. Apa mamah gak sadar itu?” kali ini Martha yang ditatap Ivana dengan penuh kemarahan.


Martha memalingkan wajahnya melihat tatapan Ivana yang begitu mengintimidasinya.


“Mamah selalu merendahkan dia, memperlakukan dia seperti pembantu. Mamah jangan lupa, di rumahnya dia seorang putri yang disayangi keluarganya. Kenapa kalian berdua begitu tega memperlakukan Rachel seperti ini?” Ivana mulai terisak sambil mere.mas bajunya sendiri. Ia merasakan sesak saat kalimat itu meluncur dari mulutnya.


“Karena mamah gak pernah mau wanita itu masuk ke rumah ini!” seru Martha tidak kalah menyalak.


Sudut matanya kembali berkedut juga pipi dan sudut bibirnya.


“Wanita seperti dia tidak pernah layak ada di rumah keluarga Wijaksono. Sekalipun dia masuk ke rumah ini, posisinya tidak pantas sebagai menantu mamah.”


“Kamu yang membawa dia masuk tanpa persetujuan mamah dan Nata. Lalu kenapa sekarang kamu menyalahkan mamah dan Nata?”


“Kamu lihat, siapa itu Rachel. Dia itu cuma anak dari keluarga rendahan. Ibunya tukang masak, apa bedanya dengan Tuti. Terus kamu minta mamah nerima dia sebagai menantu mamah? kamu terlalu muluk-muluk Ivana.”


“Harusnya, kamu membawa masuk seorang wanita yang berkelas seperti dia!” tunjuk Martha pada seorang wanita yang berdiri di salah satu sudut.


Wanita itu tidak lain adalah Marsya.


“Dia, mamah bilang? Hahahaha … dia?” Ivana malah tertawa terbahak-bahak.


“Hahahahha … mamah tidak bisa menilai seseorang dan akhirnya mamah membawa masuk sampah ke rumah ini. Hahahaha … silakan nikmati baunya selagi bisa sebelum kemudian mamah muntah dengan pilihan mamah sendiri.” Ejek Ivana dengan tatapan sinis pada Marsya yang berdiri di pojokan dengan penuh percaya diri.


Ivana pun mengacungkan jari tengahnya pada Marsya sebelum kemudian ia pergi meninggalkan orang-orang yang memandanginya dengan geram.

__ADS_1


Nata pun pergi, baginya perdebatan ini sudah tidak perlu dilanjutkan.


****


__ADS_2