
Hari sudah pagi, Pramana, Silvy dan Ringgo nampak sudah duduk mengelilingi meja makan. Tinggal Anand dan Rindy yang belum ada di meja makan.
Pramana menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. "Bik, apa Anand dan Rindy belum bangun?"tanya Pramana pada asisten rumah tangga yang sedang menyiapkan sarapan.
"Saya belum melihatnya, Tuan,"sahut Art itu.
"πΌπ₯π πΌπ£ππ£π π¨πͺπππ π₯πͺπ‘ππ£π? π½πππππ’ππ£π πππ£πππ£ π¨ππ’ππ‘ππ’? πΌπ₯π ππ£ππ πππ£ππ¨π πππ§πππ¨ππ‘ π’ππ£πππ§ππ© πΌπ£ππ£π?"gumam Ringgo dalam hati yang juga baru pulang pagi ini karena asyik bersenang-senang dengan wanita yang diberikan oleh klien yang mereka temui semalam di klub malam.
"Kita sarapan duluan saja,"ucap Pramana. Akhirnya mereka pun sarapan tanpa menunggu Anand dan Rindy.
Di dalam kamar Anand, Rindy nampak masih terlelap di bawah selimut tebal tanpa sehelai benang pun yang menempel di tubuhnya. Sedangkan Anand nampak mulai terbangun dari tidurnya.
"Ssstt.. kepalaku pusing sekali,"desis Anand kemudian perlahan membuka matanya. Padangan mata Anand tertuju pada Rindy yang nampak masih terlelap di samping nya.
Anand nampak mengernyitkan keningnya saat melihat bibir Rindy nampak bengkak, banyak kiss mark di leher Rindy, bahkan bekas gigitan. Anand pun mencoba mengingat apa yang terjadi semalam.
"Shitt! Apa yang telah aku lakukan semalam?"umpat Anand mengusap wajahnya kasar saat mengingat apa yang dilakukannya semalam pada istrinya itu.
Perlahan Anand duduk dan membuka selimut tebal yang menutupi tubuh Rindy yang polos. Anand membuang napas kasar dan nampak kesal pada dirinya sendiri saat melihat tubuh polos Rindy di penuhi bercak kemerahan, keunguan, bahkan bekas gigitan.
"Ya Tuhan.. apa yang telah lakukan padanya?"gumam Anand menatap iba pada tubuh Rindy.
Anand kembali menutup tubuh Rindy dengan selimut. Matanya menatap Rindy dengan tatapan iba dan penuh penyesalan. Anand menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Rindy, kemudian mengelus kepala Rindy dengan penuh kasih sayang.
"Maaf!"ucap Anand kemudian mengecup lembut kening Rindy.
"Emh.."gumam Rindy yang tidurnya terusik karena sentuhan Anand.
Perlahan Rindy membuka matanya dan wajah Anand langsung memenuhi netranya. Wajah pria yang sudah menjadi suaminya itu nampak sendu. Tatapan matanya nampak terlihat iba dan penuh penyesalan.
"Maaf! Aku semalam telah menyakiti mu. Aku tak sengaja bersikap kasar padamu,"ucap Anand penuh penyesalan.
"Apa yang terjadi padamu semalam?"tanya Rindy menatap dalam netra hitam milik suaminya itu. Memang dari semalam Rindy sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada suaminya itu. Pasalnya, semenjak Anand menidurinya, pria itu tidak pernah melakukannya dengan kasar, apalagi membuatnya kesakitan seperti semalam.
"Aku tidak tahu. Aku bertemu dengan seorang klien di klub malam. Kepala ku mulai pusing saat masuk ke klub malam itu karena aroma rokok dan juga alkohol. Setelah aku bicara soal bisnis, aku minum softdrink yang diberikan oleh klien ku itu dan segera keluar dari ruangan tempat kami bertemu,"
__ADS_1
"Namun kepalaku semakin pusing dan beberapa langkah setelah aku keluar dari ruangan itu aku ditabrak seseorang dan itu kamu, kan? Akhirnya kita pulang dan.. kita.."Anand menjeda kata-katanya membuang napas kasar menatap leher Rindy yang penuh tanda kemerahan, keunggulan bahkan bekas gigitan.
"Maaf! Semalam aku pasti membuatmu kesakitan,"ucap Anand seraya mengusap lembut pipi Rindy.
Dari tatapan Anand, Rindy bisa melihat ada penyesalan dan juga rasa iba dalam hati suaminya itu.
"Tidak apa-apa. Aku rasa ada yang sengaja menjebak mu. Tapi semalam, aku tidak datang ke klub malam. Darlen dan.. Putra yang mengantar mu pulang,"ucap Rindy nampak ragu saat menyebut nama Putra, seraya menatap Anand.
"Benarkah?"tanya Anand nampak bingung.
Rindy ingin menanyakan tentang Putra yang semalam mengantar Anand pulang, tapi diurungkannya. Rindy menghela napas panjang kemudian beranjak bangun.
"Auwh!"pekik Rindy saat berusaha bangun. Wanita itu merasa tubuhnya remuk redam, bagian inti tubuhnya pun terasa perih dan sakit, bahkan perutnya juga terasa kram.
"Kenapa? Apa yang sakit?"tanya Anand nampak khawatir, seraya membantu Rindy untuk duduk.
"Seluruh tubuhku terasa sakit, bahkan perutku terasa kram,"ucap Rindy seraya meringis menahan sakit.
"Kalau begitu, biar aku panggilkan dokter,"ucap Anand ingin beranjak mengambil handphone nya. Namun Rindy langsung menahan tangan Anand.
"Tapi.."Anand tidak melanjutkan kata-katanya saat melihat Rindy menggelengkan kepalanya,"Baiklah,"ucap Anand langsung menggendong Rindy.
"Anand! Aku bisa jalan sendiri!"pekik Rindy yang wajahnya memerah berusaha menutupi dada dan bagian inti tubuhnya karena Anand langsung menggendong tubuhnya. Sedangkan mereka berdua sama-sama dalam keadaan polos tanpa sehelai benang yang melekat di tubuh mereka.
"Tidak usah malu! Setiap hari aku juga melihat tubuh polos mu. Kamu juga setiap hari melihat tubuh ku, bahkan kita tidak hanya sekedar saling melihat,"ucap Anand seraya tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya dengan ekspresi genit.
Rindy hanya mampu menunduk menahan malu. Anand menggendong Rindy ke dalam kamar mandi. Pria itu mendudukkan Rindy di tepi bathtub, kemudian mengisi bathtub itu dengan air hangat, lalu kembali mengangkat tubuh Rindy dan mendudukkannya di dalam bathtub.
"Biar aku memandikan mu,"ucap Anand seraya ikut masuk ke dalam bathtub, kemudian mulai membersihkan tubuh Rindy.
Setelah beberapa menit, akhirnya keduanya selesai membersihkan diri. Dengan telaten Anand memakaikan baju pada Rindy. Walaupun pada awalnya Rindy menolak, tapi pada akhirnya pasrah karena Anand keukeh ingin memakaikan baju.
Saat akan merapikan tempat tidur, Anand terkejut melihat ada noda darah di seprei,"Sayang, kamu berdarah?"tanya Anand ragu.
Rindy menatap Anand yang sedang menatapnya, kemudian Anand menunjuk ke arah seprei yang ada noda darah nya. Rindy nampak terkejut melihat noda di seprei itu.
__ADS_1
"Biar aku saja yang membereskan,"ucap Rindy beranjak dari duduknya, tapi Anand langsung menahannya.
"Biar aku saja. Tapi..darah itu karena kamu datang bulan atau.. karena aku semalam terlalu kasar padamu?"tanya Anand nampak khawatir.
"A.. aku rasa, aku datang bulan,"ucap Rindy dengan wajah yang memerah karena malu.
"Ya sudah. Kamu pakai pembalut saja. Biarkan aku yang mengganti sprei nya,"ucap Anand dengan seulas senyum seraya mengelus kepala Rindy dengan lembut.
Rindy beranjak untuk mengambil pembalut, kemudian masuk kedalam kamar mandi dengan menahan rasa sakit di tubuhnya terutama di bagian inti tubuhnya dan perutnya.
Sedangkan Anand memunguti pakaian mereka berdua yang berceceran di lantai dan di atas ranjang, kemudian mengganti sprei.
Rindy segera memakai pembalutnya sambil menahan rasa sakit,"Apa perutku sakit karena datang bulan, ya? Tapi biasanya aku tidak pernah sakit perut saat datang bulan,"gumam Rindy seraya mencoba mengingat kapan dirinya terakhir kali datang bulan.
"Ternyata aku sudah telat datang bulan selama tiga hari,"gumam Rindy.
Tak lama kemudian, Rindy keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat pucat.
"Sayang, wajah mu pucat sekali. Kita ke dokter, ya?"tawar Anand nampak khawatir.
"Aku tak mau! Aku malu! Apa kamu tidak lihat bagaimana keadaan tubuh ku?"tanya Rindy dengan bibir mengerucut. Saat mandi tadi, Rindy dapat melihat dengan jelas bagaimana kondisi tubuh nya yang dipenuhi kiss mark dan juga bekas gigitan karena ulah Anand.
Anand menghela napas berat,"Maaf! Aku tidak tahu jika aku telah menyakiti mu. Maaf!"ucap Anand penuh sesal,"Kalau begitu, aku akan mengambil sarapan untuk kita. Kamu tunggu di sini,"ucap Anand, kemudian keluar dari kamar itu.
...π"Saat kamu menyakiti seseorang, lalu kamu merasa sangat bersalah dan menyesal, walaupun kamu menyakitinya tanpa sengaja, berarti orang itu adalah orang yang sangat berarti."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
.
To be continued
__ADS_1