
"Apa kamu mencintai Anand?"tanya ibu Rindy tiba-tiba, membuat Rindy terdiam. Ibu Rindy mengernyitkan keningnya melihat Rindy terdiam tanpa menjawab pertanyaan nya.
"Rin, apa kamu mencintainya?"tanya ibu Rindy sekali lagi, karena belum mendapatkan jawaban dari Rindy.
"A.. aku tidak tahu, Bu,"jawab Rindy nampak bingung.
Ibu Rindy menghela napas panjang setelah mendengar jawaban yang tidak pasti dari putrinya itu.
"Terlepas dari masa lalu Anand yang ibu dengar buruk, dan pernikahan kalian yang kami paksakan, ibu melihat Anand adalah pria yang baik. Anand begitu perhatian dan ibu rasa Anand sangat mencintai mu. Dia juga tidak sombong seperti persepsi kami selama ini,"
"Dan yang pastinya, dia sekarang adalah suamimu, sekaligus ayah dari anak yang sedang kamu kandung. Apa kamu membencinya karena dia telah membuat Rio meninggal?"tanya ibu Rindy.
"Aku tidak tahu, Bu,"jawab Rindy lagi-lagi tidak pasti.
Ibu Rindy kembali menghela napas berat, menatap lekat putri nya,"Anand itu tampan dan kaya, ibu yakin banyak wanita di luar sana yang menginginkannya. Ibu perhatikan, selama ini kamu nampak enggan memperhatikan Anand. Sebaiknya kamu rubah sikapmu itu! Jangan sampai kamu menyesal saat Anand tidak lagi mencintaimu dan menemukan wanita yang bisa membuatnya nyaman. Pikirkan masa depan bayi yang ada dalam kandungan mu itu,"ujar ibu Rindy.
Ibu Rindy tahu tentang hubungan Rindy dengan Anand dan Rio, karena Rindy pernah bercerita tentang Anand dan Rio pada ibunya. Karena itu, ibu Rindy merasa agak khawatir dengan rumah tangga putrinya itu. Walaupun sekarang Rindy sedang mengandung anak Anand yang otomatis bisa memperkuat hubungan mereka.
Namun ibu Rindy juga menyadari, sebesar apapun seseorang mencintai, maka lama kelamaan pun akan memutuskan berhenti berjuang untuk orang yang dicintai, jika orang yang dicintai tidak ingin diperjuangkan. Ibarat kata, jika terus menerus diabaikan, kopi yang hangat pun akan menjadi dingin.
Sementara itu, Anand baru saja sampai di Barata grup. Dengan penuh kharisma dan wibawa, pria itu berjalan masuk ke dalam gedung Barata grup diikuti Darlen dibelakangnya.
"Anand!"panggil seorang wanita membuat Anand menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.
"Ah, ternyata memang benar kamu,"ucap seorang wanita berpakaian seksi menghampiri Anand,"Apa kabar?"tanya wanita itu dengan senyum sumringah.
Setelah menggali ingatan Anand, Rio yang berwujud Anand pun menjawab,"Baik. Kamu sendiri bagaimana kabarmu?"tanya Anand pada wanita seksi itu.
"Kamu lihat sendiri! Aku tambah cantik dan seksi, 'kan?"ucap wanita itu percaya diri.
"Nadine, dari dulu kamu tidak berubah. Narsis,"cibir Anand pada wanita yang ternyata bernama Nadine itu.
"Hei, siapa yang narsis? Dari dulu aku memang cantik,"protes Nadine,"Anyway, by the way, busway, kamu ganteng banget kalau berpenampilan seperti ini. Aku tadi sempat ragu untuk memanggil mu. Karena seumur-umur aku belum pernah melihat mu berpenampilan seperti ini,"ujar Nadine seraya menatap Anand dari atas hingga bawah.
__ADS_1
"Kamu nggak nyadar kalau dari dulu aku memang sudah ganteng?"tanya Anand seraya melirik arloji di tangan kirinya, kemudian melangkah ke arah lift.
"Kamu beda banget, sumpah! Dari segi penampilan dan gaya bicaramu, kamu menjadi supel, tidak cuek dan dingin seperti dulu,"ujar Nadine mengikuti Anand dan Darlen masuk ke dalam lift.
"Semua orang bisa berubah, 'kan?"tanya Anand santai.
"Iya juga, sih! Tapi jujur, aku lebih suka kamu yang sekarang. Tapi ada satu yang nggak berubah dari kamu, itu, si Darlen yang selalu setia mengekori pria brengseek seperti mu. Entah apa yang kamu berikan padanya, hingga dia begitu setia kepadamu,"ucap Nadine seraya melirik Darlen yang berdiri di belakang mereka.
"Ngomong-ngomong, kamu mau kemana?"tanya Anand tanpa menanggapi kata-kata Nadine.
"Eh, iya. Kenapa aku jadi mengikuti kamu? Aku mau ke lantai sepuluh, untuk mengadakan meeting di perusahaan ini,"ujar Nadine yang tanpa sadar mengikuti Anand.
"Aku juga akan ke lantai sepuluh,"ujar Anand.
"Serius? Memangnya kamu mau ngapain di lantai sepuluh?"tanya Nadine.
"Meeting lah. Masa tidur,"sahut Anand malah membuat tawa Nadine pecah.
"Bukannya kamu kalau meeting di hotel? Kamu salah tempat, sayang!"ucap Nadine yang tahu bagaimana kehidupan Anand. Anand yang dikenalnya adalah pria yang suka pergi ke tempat hiburan malam dan bermain perempuan.
Suara dentingan lift yang terbuka pun menghentikan pembicaraan mereka dan mereka pun segera masuk ke dalam sebuah ruangan.
Dari awal meeting diadakan, Nadine terkejut saat mengetahui yang akan memimpin meeting adalah Anand yang diperkenalkan sebagai CEO Barata grup. Nadine sempat meremehkan jika Anand bisa memimpin meeting dengan baik. Namun saat meeting berjalan, Nadine benar-benar kagum pada Anand. Pria itu bisa memimpin meeting dengan baik.
Anand yang dikenalnya datar, dingin dan tidak pernah tertarik sama sekali dengan dunia bisnis, kali ini bertransformasi menjadi pria yang cerdas, supel, berkharisma dan juga berwibawa. Nadine sampai tidak percaya jika pria itu adalah Anand yang dikenalnya sejak SMP.
Sekitar satu jam meeting itu diadakan dan semua berjalan dengan lancar. Nadine masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Anand hari ini benar-benar seperti pebisnis yang sangat profesional.
"Ini benar-benar kamu?"tanya Nadine pada Anand, setelah semua peserta meeting keluar dari ruangan itu.
"Kenapa?"tanya Anand yang tentu saja tahu kenapa Nadine bertanya seperti itu padanya.
"Anand, belum genap satu tahun kita tidak bertemu, dan kamu berubah drastis seperti ini. Aku rasanya tidak percaya,"ucap Nadine menatap Anand lekat.
__ADS_1
"Semua orang bisa berubah, 'kan?"tanya Anand seraya beranjak dari duduknya.
"Apa kamu punya waktu untuk ngobrol dengan ku?"tanya Nadine penuh harap.
Ananda melirik arloji di pergelangan tangannya kemudian menatap Nadine.
"Lain kali saja. Aku ada urusan penting. Aku pergi dulu,"tolak Anand secara halus sekaligus berpamitan pada Nadine. Anand kemudian menatap Darlen,"Len, sudah kamu bawa berkas dan dokumen yang harus aku periksa dan tanda tangani?"tanya Anand.
"Sudah, Tuan. Putra sudah memberikan semuanya pada saya,"sahut Darlen.
"Bagus! Kalau begitu, kita pergi sekarang,"ucap Anand melangkah keluar dari ruangan itu diikuti Darlen dan Nadine.
"Nomor ponsel kamu, masih yang dulu, 'kan?"tanya Nadine.
"Nggak, nomor ku baru,"jawab Anand.
"Aku minta, dong! Lagian sekarang kita juga rekan bisnis,"ujar Nadine.
Anand pun menyebutkan nomor teleponnya pada Nadine, dan Nadine pun langsung melakukan panggilan ke nomor itu. Anand mengambil handphone nya dan ada panggilan dari nomor yang tidak dikenal.
"Itu, nomor telepon ku. Simpan, ya?!"ucap Nadine saat Anand mengernyitkan keningnya melihat nomer yang tertera di layar handphone.
"Oke, sahut Anand kemudian menyimpan nomor Nadine di handphonenya.
...π"Jangan abaikan kehangatan yang kamu dapatkan, karena saat kehangatan itu menjadi dingin, kamu akan sangat merindukan nya."π...
..."Nana 17 Oktober'...
...πΈβ€οΈπΈ...
.
.
__ADS_1
To be continued