Menjadi Dia

Menjadi Dia
Mimpi yang indah


__ADS_3

Eva dan keluarga mulai bisa menenangkan diri masing-masing. Mereka masih menunggui Rachel yang sedang di tangani oleh dokter penanggung jawabnya. Mereka duduk berjauhan dan tidak saling berbicara satu sama lain. Fokus dengan diri mereka masing-masing. Hanya satu kesamaan di antara mereka yaitu, sama-sama mencemaskan Rachel.


Antara senang dan sedih dirasakan Eva, karena Rachel sedang mengandung tapi kondisinya malah terpuruk seperti ini. Ia tidak berniat sama sekali untuk memberitahu Nata kalau putrinya sedang mengandung buah cinta mereka. Biarkan saja, Nata tahu dengan sendirinya.


Pintu ruang pemeriksaan berderit dan seorang perawat keluar dari ruangan tersebut.


“Keluarga ibu Rachel?” panggil perawat tersebut.


“Saya!” seru Nata dan Eva bersamaan.


Perawat itu terlihat kebingungan.


“Apa suaminya ada?” tanya perempuan itu kemudian.


“Saya, suaminya.” Sahut Nata dengan penuh percaya diri.


Ia segera menghampiri perawat. Sementara itu, Eva yang sebenarnya ingin masuk, hanya bisa bersabar dan membiarkan Nata masuk menemui Rachel. Bagaimana pun saat ini, Nata memang masih suami Rachel dan ia wali yang sah.


“Mamah harus tenang, bagaimana pun di dalem sana ada dokter. Jadi adek pasti baik-baik aja.” Hibur Ruby pada Eva. Eva hanya bisa mengangguk patuh. Saat ini ia hanya bisa berharap semoga Rachel baik-baik saja.


Di salah satu sudut, Ivana mendengar perbincangan ibu dan anak tersebut. Jujur hatinya meringis saat menyadari kalau Nata sudah kehilangan kepercayaan dari mertua dan kakak iparnya. Mereka yang dulu begitu membanggakan Nata karena berhasil memulai kembali usaha mendiang ayahnya setelah bangkrut, sekarang menyangsikan kemampuan Nata untuk menjaga Rachel. Terlihat sekali kalau mereka sangat waspada dengan gerak gerik Nata.


Sebenarnya wajar sekali hal itu terjadi, terlebih setelah kejadian belakangan ini. Keluarga mana yang akan terima saat salah satu anggota keluarganya diperlakukan tidak adil seperti yang dialami Rachel. Tapi ia sangat yakin, kalau kali ini Nata tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mendekat pada Rachel.


Seperti yang dikatakan Nata semalam, hidupnya jauh lebih hancur setelah Rachel pergi. Maka ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada, sekecil apapun itu. Dan saat ini, ia mencoba menaruh kembali kepercayaannya pada Nata.


Di ruang pemeriksaan, Nata di sambut oleh seorang dokter wanita yang tersenyum padanya.

__ADS_1


“Silakan pak.” Wanita itu mempersilakan Nata untuk duduk.


“Terima kasih.” Nata pun duduk dengan gelisah. Ia mencari-cari keberadaan Rachel yang tidak terlihat di ruangan itu.


“Pasien masih di ruang tindakan. Pasien sedang kami beri cairan infus dan obat penguat kandungan, supaya kehamilannya bisa bertahan.” Terang dokter itu, seperti paham kegelisahan Nata.


“Kehamilan?” Nata mengutip satu kata yang diucapkan dokter tersebut.


“Bapak belum mengetahuinya?” berganti dokter itu yang menatap Nata dengan wajah bingung.


Nata menggeleng lemah. Ia masih berusaha mengumpulkan kesadarannya setelah tadi seperti ada kilatan cahaya yang membuat ia sangat rerkejut hingga jantungnya berdebar kencang.


Dokter itu kembali tersenyum.


“Baik, biar saya jelaskan yaa pak... saat ini ibu Rachel sedang mengandung janin berusia sekitar sembilan sampai sepuluh minggu. Ukuran janinnya normal, ia juga tumbuh dan berkembang sesuai usianya. Namun, kondisi rahim ibu Rachel cukup lemah. Untuk itu, kami memberikan beliau banyak vitamin untuk menguatkan rahim dan janinnya.”


“Selain itu, kondisi psikologis dan mental bu Rachel juga perlu pendampingan dari orang terdekat. Bu Rachel perlu merasa aman dan nyaman serta tenang. Untuk itu, saya meminta keluarga terdekat dalam hal ini suami, untuk mendampingi Bu Rachel.” Urai dokter panjang lebar.


Tanpa terasa, bulir air mata menetes di sudut mata Nata. Ia menekan sudut matanya untuk menghalau bulir bening itu tapi rasanya tidak terbendung. Sungguh, ia sangat bahagia tapi takut di waktu yang bersamaan. Takut jika kemudian ia tidak bisa memberikan yang terbaik untuk Rachel dan anaknya kelak.


Dokter di hadapan Nata membiarkan Nata terdiam beberapa saat, ia tahu setiap orang tua baru pasti merasakan perasaan yang menggebu dan tiba-tiba dilema.


Ia membuka rekam medis Rachel, dan menunjukkan hasil USG yang sudah tercetak.


“Ini janin ibu dan bapak. Silakan, bisa bapak lihat secara langsung.” Dokter itu menyodorkan buku rekam medis Rachel pada Nata.


"Rachel Famela/ 25 YO/ Female / 9-10 wk." begitu tulisan yang sama terlihat oleh Nata.

__ADS_1


Nata menatap lekat gambar hitam putih itu dan mengusapnya dengan lembut. Ia tersenyum kecil dengan penuh haru.


“Anakku.” Batinnya, penuh kasih. Ia seperti jatuh cinta pada sosok yang bahkan belum pernah ia lihat secara langsung.


Di ruang tindakan sana, Rachel memilih memejamkan matanya. Ia mendengar sayup-sayup perbincangan Nata dan dokter yang sering kali senyap. Ia tidak bisa menebak seperti apa respon Nata saat ini. Apa mungkin Nata bahagia atau justru tidak bisa menerima kehadiran mahluk mungil di dalam rahimnya. Seperti yang dikatakan Martha,


“Keturunan Wijaksono tidak pantas lahir dari rahim Rachel.”


Apa Nata pun berpikiran hal yang sama?


Hah, rasanya menyesakkan jika ternyata pikiran Nata pun sama seperti Martha. Ia sudah bertekad, kalau ia akan menjaga dan membesarkan anak ini seorang diri dengan sepenuh hatinya. Ia akan memberikan semua cintanya pada janin mungil ini hingga kelak anak ini menjadi tempatnya berbagi semua kebahagiaan. Itu janji Rachel dalam hatinya.


“Boleh saya meminta hasil USG nya dok?” permintaan Nata itu di dengar oleh Rachel.


“Tentu boleh. Silakan.” Dokter memberikan hasil USG itu pada Nata, sementara untuk rekam medis, ia mencetak ulang.


Nata terpaku memandangi hasil USG di tangannya. Lantas ia mengecup secarik kertas itu dengan penuh perasaan.


“Dok, boleh saya menemui istri saya?” pintanya lagi. Ia sangat merindukan Rachel yang beberapa hari ini tidak dilihatnya. Hanya bayangannya saja yang terus berkelebat di rongga kepalanya.


“Boleh. Bapak bisa menunggu di ruang perawatan. Kami akan mengantarnya ke sana.”


“Baik dok.” Nata terangguk patuh.


“Baik, sekali lagi selamat ya pak. Tolong di jaga baik-baik ibu dan janinnya.” Dokter itu mengulurkan tangannya pada Nata.


“Terima kasih dok.” Sahutnya penuh kelegaan.

__ADS_1


Masih bisakah Nata memperbaiki semuanya dengan Rachel?


*****


__ADS_2