
Hari sudah larut malam saat Anand sampai di rumah mertuanya. Perlahan Anand membuka pintu kamar Rindy dan melihat Rindy yang sudah terlelap. Anand melepaskan jas dan kemeja nya dan melemparkannya ke keranjang pakaian kotor, kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya, Anand naik ke ranjang yang tidak terlalu besar itu. Dikecupnya kening Rindy dan dielusnya perut Rindy kemudian membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya.
Beberapa menit kemudian, Rindy terbangun dan mendapati Anand sudah terlelap di sampingnya.
"Jam berapa dia pulang?"gumam Rindy kemudian beranjak ke kamar mandi.
Saat keluar dari kamar mandi, Rindy melihat jas dan kemeja Anand yang tidak benar-benar masuk ke dalam keranjang pakaian kotor. Rindy bermaksud memasukan nya dengan benar, namun saat memegang jas Anand, tanpa sengaja Rindy mencium aroma parfum wanita di jas Anand.
Rindy mendekatkan jas itu ke hidungnya untuk memastikan apa yang diciumnya. Dan memang benar, ada parfum wanita yang menempel di jas Anand. Tanpa Rindy ketahui, jika parfum yang menempel di jas Anand adalah parfum milik wanita yang duduk di pangkuan Anand, saat Anand makan malam bersama Nadine di restoran tadi.
Rindy menoleh ke arah Anand seraya mencengkram erat jas Anand. Rindy jadi teringat kejadian kemarin malam. Kemarin malam, saat Anand menginginkan Rindy untuk melayaninya.
Malam itu, Anand memeluk Rindy dari belakang dan mengecup leher Rindy beberapa kali, membuat tubuh Rindy meremang,"Sayang, aku ingin. Apakah sudah boleh?"tanya Anand berbisik lembut di telinga Rindy.
"Anand, aku masih takut untuk melakukan nya,"ucap Rindy menolak Anand secara halus.
"Sayang, aku janji akan melakukannya dengan lembut. Aku tidak akan melukai anak kita,"bujuk Anand.
"Anand, jangan sekarang,"pinta Rindy tetap menolak keinginan Anand secara halus.
Anand menghela napas berat kemudian melepaskan pelukannya,"Tidurlah!"ucap Anand kemudian memejamkan matanya dengan posisi terlentang.
Mengingat hal itu Rindy menjadi merasa gusar,"Apa dia tidur dengan wanita lain untuk memenuhi kebutuhan biologisnya?"gumam Rindy menatap Anand yang sudah terlelap dengan perasaan gusar.
Rindy kembali memasukkan jas Anand ke dalam keranjang, kemudian kembali berbaring di atas ranjang. Matanya menatap langit-langit kamar. Ucapan ibunya beberapa hari yang lalu kembali terngiang di telinganya.
"𝘼𝙣𝙖𝙣𝙙 𝙞𝙩𝙪 𝙩𝙖𝙢𝙥𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙮𝙖, 𝙞𝙗𝙪 𝙮𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙗𝙖𝙣𝙮𝙖𝙠 𝙬𝙖𝙣𝙞𝙩𝙖 𝙙𝙞 𝙡𝙪𝙖𝙧 𝙨𝙖𝙣𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖. 𝙄𝙗𝙪 𝙥𝙚𝙧𝙝𝙖𝙩𝙞𝙠𝙖𝙣, 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖 𝙞𝙣𝙞 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙣𝙖𝙢𝙥𝙖𝙠 𝙚𝙣𝙜𝙜𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙥𝙚𝙧𝙝𝙖𝙩𝙞𝙠𝙖𝙣 𝘼𝙣𝙖𝙣𝙙. 𝙎𝙚𝙗𝙖𝙞𝙠𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙧𝙪𝙗𝙖𝙝 𝙨𝙞𝙠𝙖𝙥𝙢𝙪 𝙞𝙩𝙪! 𝙅𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙢𝙥𝙖𝙞 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙚𝙨𝙖𝙡 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝘼𝙣𝙖𝙣𝙙 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙞𝙣𝙩𝙖𝙞𝙢𝙪 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙚𝙢𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙬𝙖𝙣𝙞𝙩𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙖𝙩𝙣𝙮𝙖 𝙣𝙮𝙖𝙢𝙖𝙣. 𝙋𝙞𝙠𝙞𝙧𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙨𝙖 𝙙𝙚𝙥𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙮𝙞 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙙𝙖 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙠𝙖𝙣𝙙𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙢𝙪 𝙞𝙩𝙪,"
Rindy menjadi risau saat mengingat kata-kata ibunya itu. Rindy menoleh dan menatap Anand yang terlelap,"Apakah dia mulai bosan dan muak dengan sikapku yang dingin dan tidak perhatian padanya?"gumam Rindy kemudian mengelus perutnya yang masih rata.
__ADS_1
Tiba-tiba hati Rindy menjadi gelisah. Tidak dapat dipungkiri, wajah suaminya memang tampan. Ditambah lagi dengan postur tubuh yang proporsional, kendaraan mewah dan juga kaya raya. Siapa yang tidak tergoda dengan pria seperti Anand? Memikirkan hal itu, membuat Rindy tidak bisa tidur.
Tak terasa hari sudah pagi. Anand melihat Rindy yang masih terlelap. Anand memperbaiki selimut Rindy, kemudian turun dari ranjang dan beranjak ke dalam kamar mandi. Beberapa menit kemudian, Anand sudah selesai membersihkan diri dan memakai setelan kantornya.
Melihat Rindy yang masih pulas, Anand pun tidak tega membangunkan Rindy. Anand keluar dari kamar itu, berniat segera berangkat bekerja.
"Anand, ayo sarapan dulu!"ajak ibu Rindy saat melihat Anand keluar dari kamarnya.
"Tidak usah, Bu. Aku buru-buru. Aku akan keluar kota untuk beberapa hari. Tolong sampaikan pada Rindy, ya Bu. Aku tidak sempat bicara pada Rindy karena semalam aku pulang larut malam dan Rindy sudah tidur, dan pagi ini Rindy belum bangun. Aku tidak tega membangunkannya,"ujar Anand.
"Oh, begitu, ya? Baiklah, nanti ibu sampaikan. Hati-hati di jalan!"pesan ibu Rindy.
"Iya Bu, aku berangkat!"pamit Anand kemudian bergegas masuk ke dalam mobilnya. Melajukan mobilnya meninggalkan rumah mertuanya.
Selang beberapa menit kemudian, Rindy pun terbangun. Semalam, setelah mencium aroma parfum wanita di jas suaminya, Rindy tidak bisa tidur. Sampai malam menjemput sang fajar, Rindy baru bisa tidur dan akhirnya pagi ini Rindy kesiangan.
Rindy menatap sisi tempat tidur tempat Anand biasa tidur, tapi tidak mendapati Anand ada di sana. Saat Rindy menatap jam yang tertempel di dinding, Rindy hanya bisa menghela napas panjang. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Dapat dipastikan jika Anand pasti sudah berangkat kerja.
Rindy beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai membersihkan diri dan berpakaian, Rindy keluar dari kamarnya menuju ruang makan.
"Tumben kamu bangun kesiangan, Rin?"tanya ibu Rindy saat melihat putrinya duduk di kursi meja makan.
'Iya, Bu,"sahut Rindy nampak lesu.
"Kamu kenapa? Kok lesu begitu? Apa kamu tidak enak badan?"tanya ibu Rindy nampak khawatir.
"Tidak, kok, Bu. Mungkin efek bangun kesiangan,"sahut Rindy.
"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Kamu sarapan dulu, gih! Kasian bayi dalam kandungan kamu, kalau kamu sampai kelaparan,"ucap ibu Rindy.
"Iya, Bu,"sahut Rindy seraya mengusap perutnya.
__ADS_1
Ibu Rindy nampak sedang membereskan dapur. Sedangkan Rindy nampak malas-malasan untuk sarapan. Aroma parfum wanita yang menempel di jas suaminya membuat hatinya gelisah. Namun Rindy mencoba menyembunyikan semua itu dari ibunya. Rindy tidak ingin ibunya jadi kepikiran dengan masalah rumah tangga nya
"Oh, ya, Rin. Tadi Anand titip pesan pada ibu. Katanya dia akan keluar kota untuk beberapa hari. Anand tidak sempat mengatakannya padamu karena semalam saat Anand pulang kamu sudah tidur. Dan pagi ini saat Anand akan berangkat, kamu belum bangun. Anand tidak tega membangunkan kamu, jadi dia menitip pesan pada ibu,"ucap ibu Rindy seraya mencuci piring kotor.
Rindy tertegun mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya. Semalam Anand pulang dengan parfum wanita yang menempel di jas nya. Dan sekarang Anand pergi keluar kota tanpa pamit kepadanya. Memikirkan itu, Rindy jadi semakin tidak berselera untuk menghabiskan makanan di piring nya.
Tidak mendapat respon dari putrinya, ibu Rindy pun menoleh ke arah putrinya yang nampak termenung.
"Rin, kamu dengar apa yang ibu katakan, 'kan?"tanya ibu Rindy melihat putranya yang nampak melamun.
Ibu Rindy yang sudah selesai mencuci piring pun, mengelap tangannya, kemudian menghampiri putrinya yang masih duduk melamun di kursi meja makan.
"Rin, apa kamu mendengar apa yang ibu katakan?"ibu Rindy mengulang pertanyaan nya seraya mengusap lengan putrinya itu.
"Hem, ibu bilang apa?"tanya Rindy yang tersadar dari lamunannya.
"Anand titip pesan pada ibu, katanya dia akan ke luar kota beberapa hari. Dia tidak sempat bilang padamu karena semalam dia pulang larut malam dan kamu sudah tidur. Pagi ini waktu dia akan berangkat, kamu juga belum bangun, dan Anand tidak tega membangunkan kamu. Karena itu, dia minta ibu memberitahu kamu,"ucap ibu Rindy seraya menghela napas panjang.
"Iya,"sahut Rindy singkat.
"Apa kamu ada masalah dengan Anand?
...🌟"Prasangka akan membuat mu lebih banyak berpikir. Karena sebuah prasangka seringkali mengarah ke pada sesuatu yang tidak baik."🌟...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
.
__ADS_1
To be continued