Menjadi Dia

Menjadi Dia
19. Menyerah


__ADS_3

Pramana, Anand dan Ringgo telah sampai di Barata grup. Pramana mengernyitkan keningnya saat bertemu dengan Lola. Penampilan Lola yang biasanya sangat seksi, sekarang terlihat sopan. Celana panjang, kemeja longgar dengan satu kancing bagian atas yang tidak dikancingkan dan makeup tipis, serta memakai sepatu pantofel. Tidak seperti biasanya, yang memakai kemeja ketat dengan tiga kancing bagian atas yang terbuka, rok seksi dan sepatu high heels dengan dandanan ala foto model.


"Selamat pagi, Tuan Pramana, Tuan Anand!"sapa Lola tersenyum manis menundukkan kepalanya.


"Selamat pagi!"sahut Pramana dan Anand bersamaan.


"Lola, serahkan laporan yang saya minta kemarin!"titah Anand sebelum masuk ke ruangannya.


"Baik, Tuan!"sahut Lola.


Pramana memeriksa kembali pekerjaan Anand kemarin. Pramana nampak terkejut dengan banyaknya dokumen dan berkas yang sudah diperiksa oleh Anand. Bahkan Anand mengoreksi dengan detail berkas-berkas yang harus ditandatangani dengan melingkari bagian-bagian yang salah dan memberi catatan di bawahnya apa saja yang perlu ditambahkan dan dihapus dari berkas-berkas itu.


Pramana menatap Anand yang fokus pada laptop nya dengan tatapan tak percaya,"Apa kamu mengerjakan ini semua sendiri?"tanya Pramana.


"Darlen membantu aku untuk menyalin berkas dan dokumen ke dalam laptop ku,"sahut Anand yang masih fokus pada layar laptopnya.


Pramana mengernyitkan dahinya saat menyadari sesuatu, melihat Anand fokus pada layar laptopnya dengan jemari yang bergerak lincah dan cepat di atas keyboard laptopnya. Bahkan Pramana yang setiap hari berhadapan dengan laptop, tidak akan bisa mengetik secepat itu. Karena penasaran, Pramana pun mendekati Anand dan melihat apa yang sedang dikerjakan oleh Anand.


Pramana semakin merasa tidak percaya saat menatap layar laptop.putranya itu. Anand terlihat lihai menggunakan laptop dan mengerjakan semua pekerjaan nya dengan baik dan cepat.


"Anand, bagaimana kamu bisa melakukan semua ini?"tanya Pramana tampak takjub sekaligus tidak percaya.


"Karena aku belajar,"sahut Anand santai. Jika kemarin Anand masih mempelajari tentang semua seluk-beluk Barata grup, hari ini Anand akan mulai bekerja untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang bahkan belum sempat dikerjakan oleh Pramana.


Selama sehari menemani Anand bekerja, Pramana nampak takjub dengan cara kerja Anand yang begitu cepat tapi teliti dan hati-hati. Bahkan Pramana yang sudah bertahun-tahun menjabat sebagai CEO pun tidak bisa bekerja secepat Anand. Anand bekerja seperti seorang yang sudah terbiasa dan berpengalaman.


Sedangkan Lola, hari ini benar-benar merasa lelah. Anand membuatnya mondar-mandir kesana-kemari. Mengambil berkas dan dokumen, lalu menyerahkan nya pada Anand, menyusun dokumen dan berkas-berkas. Memfoto copy berkas, mengerjakan beberapa hal yang dianggap Anand masih belum benar. Menyalin dan membuat laporan yang harus di ulang beberapa kali karena belum sesuai dengan keinginan Anand.

__ADS_1


Anand sangat teliti dan tidak mau menerima kesalahan sekecil apapun, membuat Lola lelah fisik, lelah hati dan lelah badan. Bahkan juga merasa stres karena kena marah oleh Anand.


"Dia itu manusia apa komputer, sih? Kenapa dia langsung tahu jika ada kesalahan dalam berkas dan laporan yang aku buat? Aku bisa stres kalau setiap hari bekerja seperti ini,"gerutu Lola yang hari ini bahkan tidak sempat bercermin untuk memperbaiki penampilannya.


Hari terus berlalu, Anand benar-benar membuat Lola langsing tanpa diet. Bukan cuma sekali Anand memarahi Lola, tapi dalam satu hari, Anand bisa memarahi Lola berkali-kali karena merasa tidak puas dengan pekerjaan Lola.


Satu bulan kemudian.


"Tuan Ringgo, saya mengundurkan diri dari perusahaan ini,"ucap Lola dengan wajah lesu.


"Mengundurkan diri? Kenapa? Bahkan kamu belum berhasil menggoda Anand. Apa kamu sudah menemukan pria kaya untuk kamu jadikan suamimu?"tanya Ringgo tersenyum mengejek.


"Walaupun saya belum menemukan pria kaya untuk saya jadikan suami, saya tetap akan mengundurkan diri dari perusahaan ini. Jangankan menggoda Tuan Anand, bahkan saya tidak bisa tidur dengan nyenyak karena pekerjaan yang diberikan oleh Tuan Anand. Satu bulan ini, saya merasa seperti kerja rodi. Otak dan tenaga saya benar-benar diperas oleh Tuan Anand,"


"Jika saya tetap bekerja di sini,. saya akan tua sebelum waktunya karena terlalu lelah bekerja. Dan mungkin, saya akan berakhir di rumah sakit jiwa karena stres dengan pekerjaan yang diberikan oleh Tuan Anand,"ucap Lola menggebu-gebu meluapkan isi hatinya, mengingat Anand yang menuntut dirinya bekerja dengan cepat dengan hasil yang harus sesuai dengan keinginan Anand.


"Kamu yakin ingin mengundurkan diri?"tanya Ringgo.


Selama sebulan bekerja pada Anand, benar-benar membuat Lola merasa stres. Wajahnya yang dulu glowing sekarang terlihat kusam, tubuhnya yang dulu berisi, sekarang menjadi kurus. Menggoda Anand? Belum sempat menggodanya sudah mendapatkan sindiran yang pedas bak sambal setan dan kata-kata tajam bagai pisau yang menusuk hati.


"Sial! Kenapa Anand sangat teliti? Dia bekerja seperti orang yang sudah berpengalaman. Sepertinya akan susah bagiku untuk mengambil keuntungan dari perusahaan seperti yang sudah-sudah. Aku harus mencari cara agar kecurangan yang aku lakukan tidak terendus oleh Anand,"gumam Ringgo yang jadi ikut merasa stres.


Ringgo berjalan menuju ruangan nya, mencoba memikirkan cara untuk menghadapi Anand. Beberapa saat kemudian, Ringgo nampak menghubungi beberapa orang. Senyuman jahat pun terukir di bibir Ringgo.


Di ruangan Anand.


"Darlen, Lola mengundurkan diri. Untuk sementara waktu kamu bantu aku mengerjakan pekerjaan Lola. Sore nanti, kita pergi ke suatu tempat,"ucap Anand seraya memeriksa sebuah berkas.

__ADS_1


"Baik, Tuan,"sahut Darlen.


Sore harinya, Anand mengarahkan Darlen yang mengemudikan mobilnya ke sebuah pemukiman padat penduduk. Darlen menepikan mobil yang dikendarai nya di tepi jalan sesuai instruksi Anand.


"Kamu tunggu di sini sampai aku kembali,"titah Anand.


"Iya, Tuan,"sahut Darlen.


Anand melepaskan jas dan dasinya, hingga kini hanya mengenakan kemeja dan celana panjang. Anand turun dari mobil dan berjalan masuk ke sebuah gang yang tidak bisa dilalui oleh mobil.


Rio dalam tubuh Anand nampak menghela napas berat. Sudah lama Rio tidak datang ke tempat itu. Tempat dimana dia dan Putra menyewa sebuah rumah untuk ditinggali bersama. Dan kini dia kembali ke tempat itu sebagai Anand. Entah apa reaksi Putra jika nanti melihat dirinya dalam wujud Anand.


Anand terus menyusuri gang itu hingga berhenti di depan sebuah rumah kontrakan yang sederhana. Kontrakan yang sudah bertahun-tahun ditinggalinya bersama Putra, teman yang sudah dianggap nya sebagai saudara.


Dengan perasaan yang sulit diekspresikan, ragu-ragu Anand mulai mengangkat tangannya mengetuk daun pintu yang plitur nya sudah mulai memudar.


"Sebentar!"sahut suara dari dalam rumah. Suara yang sangat dikenal Rio.


Perlahan pintu kayu itu terbuka dan menampilkan sesosok pemuda yang mengenakan celana pendek, kaos oblong dengan handuk kecil yang digosokkan di kepalanya. Mata pemuda yang tidak lain adalah Putra langsung membulat saat melihat siapa yang berkunjung di kontrakan miliknya.


"Kamu?"


...🌸❤️🌸...


Notebook : Plitur kayu atau politur, merupakan bahan pewarna cat yang bersifat transparan. Walaupun transparan, plitur memiliki warna-warna tergantung warna oker yang ditambahkan.


.

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2