My Little Woman

My Little Woman
Pertemuan Gofur dengan Rahma


__ADS_3

Berhari hari Rahma belum sadarkan diri, hingga akhirna di tengah malam, saat Devano terjaga, ia mendengar suara Rahma yang memanggil suaminya dengan sangat pelan, "Mas ... Mas Gofur ... kamu dimana mas?" itulah kata kata yang terus keluar dari mulut Rahma.


Devano pun membangunkan mama dan papanya.


"Ma, pa, bangun. Adek ngigau ma, pa," ujar Devano membangunkan kedua orang tuanya.


Dania dan Darma pun langsung bangun, dan menghampiri Rahma.


"Nak, gimana jika malam ini kamu membawa suaminya ke sini," ujar Damar.


"Mama setuju, siapa tau dengan kedatangannya, bisa membuar Rahma bangun dan cepat sembuh," ucap Dania menyetujui ucapan suaminya.


"Baiklah aku akan berangkat sekarang, aku pastikan besok pagi, suaminya sudah ada di sini," ujar Devano.


"Kalau gitu aku pamit dulu, Assalamu'alaikum," lanjut Devano lalu ia pun mencium tangan kedua orang tuanya.


"Waalaikumsalam," jawab mereka bersamaan.


"Dek, kakak harap, setelah kamu bertemu suami kamu, kamu bisa bangun ya, jangan buat kakak merasa bersalah terus," bisik Devano di dekat telinga Rahma, lalu ia pun pergi mengendarai mobilnya sendiri menuju tempat jet pribadi miliknya.


Untunglah mempunyai jet pribadi, sehingga ia bisa bepergian kemana aja, sesuka hatinya.


Ia gak ada persiapapan apapun, ia hanya pergi dengan kaos biasa dan celana sampai lutut tak lupa jaket warna hitam.


Selama dalam perjalanan, ia hanya diam saja memikirkan nasib adiknya itu yang selalu aja di jahatin orang lain. Ia juga mendengar kabar bahwa dua orang yang membully Rahma, sudah keluar dari rumah sakit, namun yah mereka menjadi pengangguran, dan bahkan kedua orang tuanya pun memarahi mereka atas apa yang mereka lakukan.


Setelah menempuh waktu beberapa jam akhirnya ia sampai juga di depan rumah Gofur, jangan di tanya ia tau dari mana, sangat mudah baginya mendapatkan informasih tentang adiknya itu.


Devano memencet bell rumah 3x, hingga akhirnya pintu rumah pun terbuka.


"Assalamu'alaikum," ujar Devano tersenyum sedangkan yang membuka pintu tadi begitu terkejut saat melihat pria terkaya se Asia kini berdiri di depan rumahnya. Siapa lagi kalau bukan Pagho, papanya Gofur.


"Wa walaikumsalam," jawabnya sangking gugupnya.


"Emmm apa boleh saya masuk?" tanya Devano membuat Pagho membuka pintunya selebar mungkin.


"I ... iya silahkan," ujar Pagho berusaha untuk bersikap biasa aja.


Devano pun masuk dan duduk di sofa, karena gak sopan kalau bicara di depan pintu kan.

__ADS_1


"Pa, ada siapa?" tanya Magho yang baru saja kluar dari kamar, ia mengikuti suaminya yang membukakan pintu.


"INi ma, ada tamu, Tuan Devano," jawab Pagho.


"Devano siapa?" tanya Magho yang tidaak terlalu mengerti dengan dunia pengusaha.


"Tuan Devano ma, Devano Danendra Darma Putra Wijaya," ucap Pagho menyebutkan nama panjang lebarnya sedangkan Devano memilih diam dan memperhatikan siatuasi.


"Hah, orang yang paling kaya itu kah?" tanya magho dan pagho pun menganggukkan kepala.


Lalu Magho dan Pagho pun duduk di samping Devano.


"Kalau boleh tau, ada keperluan apa ya Tuan ke rumah kami?" tanya Pagho sopan.


"Jangan panggil Tuan, panggil aja Dev," jawab Devano, karena bagaimanapun kedua orang yang ada di hadapannya adalah mertua dari adiknya.


"Tapi, itu sangat tidak sopan," ujar Pagho ragu.


"Gak papa, santai aja, anggap kita ini keluarga," ucap Devano yang lagi lagi membuat Pagho dan Magho kaget.


"Sebenarnya kedatangan saya ke sini untuk mencari Gofur, Suami Rahma," ujar Devano memberitahu. Ia sengaja memanggil dengan sebutan saja, tanpa embel embel apapun, karena selain ia lebih tua, Gofur juga suami adiknya yang artinya dia itu adalah adik iparnya.


Sesampai di kamar Gofur.


"Nak, bangun, ada yang cari kamu," ucap Magho dengan menggoyang goyangkan tubuh anaknya itu agar cepat bangun.


"Ya ampun ma, aku baru saja tidur, lagian siapa yang cari aku tengah malam begini," ujar Gofur dengan mata yang tertutup.


"Tuan Devano Danendera, dia sekarang ada di rumah kita, makanya cepetan bangun, karena sekarang dia lagi cari kamu, kayaknya ada yang sangat penting yang ingin di bicarakan," jawab Magho menyebut nama Devano sehingga Gofur yang tadinya memejamkan mata langsung membuka dan menatap mamanya.


"Mama serius?" tanya Gofur.


"Iya, mama aja kaget. Sekarang dia ada di ruang tamu, makanya cepet bangun, jangan lupa cuci muka," ujar Magho.


Gofur yang tadinya merasa gak yakin, namun melihat wajah mamanya yang serius, ia pun segera bangun dan pergi ke kamar mandi untuk cuci muka dan sikat gigi, lalu ia ganti baju dan celana yang agak sopan. Lalu ia pun pergi bersama mamanya ke ruang tamu.


"Gofur," ujar Devano saat melihat Gofur yang berjalan ke arahnya.


"Tuan Devano," ucap Gofur gugup.

__ADS_1


"Jangan panggil tuan, panggil Kak Dev aja, aku ini kan kakak kamu," ujar Devano yang membuat tiga orang itu melongo.


"Sini duduk, ada yang harus aku omongin sama kamu dan kedua orang tua kamu," ucap Devano menyuruh Gofur duduk di sampingnya. Devano berusaha mengakrabkan diri dengan keluarga adiknya itu.


"Gini, kedatanganku ke sini untuk membawa kamu ke Singapure dan bertemu seseorang," ujar Devano membuat Gofur langsung mengerti.


"Apakah seseorang itu Rahma, istriku?" tanya Gofur.


"Iya," jawab Devano tersenyum.


"Apakah Tuan yang selama ini membantu istriku?" tanya Gofur lagi.


"Iya," jawab Devano lagi.


"Terima kasih Tuan, terima kasih karena sudah menolong istriku selama ini," ucap Gofur menangis haru begitupun dengan kedua orang tuanya.


"Gak usah bilang terima kasih, sudah wajar bukan, kalau aku membantu adikku sendiri, dan jangan panggil aku ini Tuan, aku ini kakak ipar kamu," ucap Devano membuat Gofur dan kedua orang tuanya tak mengerti.


"Maksudnya apa tuan, bukankah Rahma anak tunggal dan kedua orang tuanya sudah meninggal?" tanya Gofur tak mengerti.


"Iya, tapi nama Rahma sebenarnya adalah Davina Danendra Darma Putri Wijaya, dia adalah adik kandungku yang hilang belasan tahu. Nanti saja aku ceritakan, kalau sudah ada di sana. Lebih baik kamu ikut aku pergi, karena kini keadaan Rahma sangat menghawatirkan, dia terus saja menyebut nama kamu," ucap Devano.


"Kenapa lagi dengan istriku kak?" tanya Gofur yang memanggil Devano dengan sebutan kak, sesuai permintaan Devano sendiri.


"Dia mengalami insiden kecil saat ikut aku ke kantor, ada dua orang yang membully nya hingga membuat Rahma kembali koma, dan kini ia terus memanggil namamu namun matanya tetap terpejam, untuk itu mama dan papa memintaku untuk membawamu ke sana," ucap Devano yang membuat Gofur merasa sedih dan takut, karena lagi lagi ia mendengar Rahma tengah koma lagi, lagi dan lagi.


"Baiklah aku akan ke sana, aku akan bersiap siap dulu,"


"Apaka kami boleh ikut?" tanya Pagho dan Magho.


"Boleh," jawab Devano.


"Kalau gitu, kami juga akan bersiap siap," ujar Magho, lalu ia dan Pagho pun langsung masuk ke kamarnya dan membawa pakaian mereka karena mereka yakin pasti akan menginap di sana untuk beberapa hari ke depan. Ia juga meminta menitipkan rumahnya kepada asisten rumah tanggannya.


Sedangkan Devano hanya menunggu di ruang tamu. Gofur sendiri ia segera mengganti baju lagi karena tka mungkin ia pergi menemui istrinya dengan tampilan yang acak acakan, ia juga membawa baju untuk menginap dan tinggal bersama sang istri, ia gak mau jauh jauh lagi dengan istrinya itu.


Ia bahagia karena akhirnya ia akan bertemu dengan sang istri, setelah sekian lama, mereka di pisahkan oleh jarak. Namun di sudut hatinya yang paling dalam, ia tetap merasa ketakutan, takut jika istrinya itu kenapa napa di sana. Apalagi ia mendengar jika istrinya di bully, membuat Gofur marah, karena gak menyangka kalau istrinya itu selalu saja di jahatin sama orang lain, dan mulai saat ini, Gofur akan menjaga Rahma sebaik mungkin dan gak akan membiarkan siapapun menyakitinya lagi.


Setelah semua siap, barulah mereka bertiga pergi naik mobil menuju tempat jet pribadi Devano berada. Gofur dan kedua orang tuanya pun gak kaget melihat pengusaha seperti Devano mempunyai jet prbadi sendiri, karena orang seperti dia, bisa membeli apapun dengan sangat mudah.

__ADS_1


__ADS_2