
Amira yang melihat Rahma datang ke ruangannya pun tersenyum bahagia, walaupun cuma beberapa kali ketemu, namun Amira sudah menyayangi Rahma seperti adik kandungnya sendiri.
"Assalamualaikum, Kak," sapa Rahma sambil berjabat tangan dengan Amira.
"Waalaikumsalam. Tumben ke sini Ra?" tanya Amira yang memanggil Rahma dengan sebutan Ra, karena Rahma yang menolak jika di panggil Non Rahma.
"Iya soalnya aku ada urusan sama Kak Amira," sahut Rahma.
"Iya udah duduk dulu gih, biar gak capek," tutur Amira sambil menunjuk tempat duduk yang ada di hadapannya.
Rahma pun langsung duduk sesuai permintaan Amira.
"Ada apa?" tanya Amira lagi.
"Sebelumnya aku mau ngucapin terima kasih, karena Kak Amira bersedia menerima permintaan aku, untuk menemani aku kuliah," ujar Rahma basa basi sebelum ia ngomong ke intinya.
"Oh itu, iya sama-sama. Lagian aku senang bisa semakin dekat sama kamu, nanti kita bisa kuliah bareng, belajar bareng dan main bareng," sahut Amira tersenyum.
__ADS_1
"Hehe iya. Nanti kita berangkat kuliah bareng juga ya," ujar Rahma yang langsung di angguki oleh Amira.
"Oh ya sebenarnya kedatangan aku ke sini, bukan cuma itu aja," ujar Rahma yang mulai masuk ke inti pembicaraan.
"Emang ada apa?" tanya Amira penasaran.
"Tapi aku mohon, Kak Amira jangan marah ya," ucap Rahma dengan wajah memelas.
"Iya, Kakak janji. Gak akan marah, emang ada apa sih?" tanya Amira yang sudah gak sabar pengen tau apa yang di bicarakan oleh Rahma
"Aku selalu bilang sama Kak Dev, bahwa aku ingin punya kakak ipar seperti Kak Amira. Aku gak tau kenapa, aku hanya cocok aja kalau Kak Amira yang jadi kakak ipar aku. Dan aku gak mau yang lain. Aku tau ini terkesan egois, tapi aku percaya kalau Kak Amira bisa menjadi versi terbaik untuk Kak Dev dan mendampingi Kak Dev dalam hal apapun," lanjut Rahma.
"Dan aku yakin, Kakak pasti sering lihat wanita yang masuk ke ruangan Kak Dev dan ganggu Kak Dev bekerja. Wanita itu bernama Kak Dita. Ia sangat menyukai Kak Dev, tapi aku sebagai adik, gak suka banget sama Kak Dita. Gak tau kenapa, dari awal libat, gak suka aja gitu. Berbeda sama Kak Amira, kalau lihat Kak Amira, kesannya adem dan bikin nyaman," Rahma masih terus lanjut bicara
"Kak Dev sendiri juga gak menyukai sikap Kak Dita yang terkesan egois dan suka mengganggu Kak Dev kerja, suka bikin Kak Dev emosi. Malah Kak Dev sampai pergi ke Indonesia untuk menyusul aku karena ingin menghindari Kak Dita,"
"Dan kemarin karena terlalu muak dengan sikap Kak Dita, Kak Dev bilang ke dia kalau Kak Dev punya pacar dan bulan depan akan menikah. Sedangkan sebenarnya itu hanya omongan belaka karena sampai detik ini, Kak Dev belum punya pacar,"
__ADS_1
"Tapi bukan berarti Kak Dev gak laku ya, malah banyak wanita yang menginginkannya bahkan ada yang sampai melamarnya tapi yaitu Kak Dev gak tertarik dan belum nemu orang yang tepat untuk di jadikan pendamping hidupnya. Dan kemarin gak tau kenapa, Kak Dev minta tolong sama aku untuk memberitahu Kak Amira perihal ini karena Kak Dev gak bisa kalau harus ngomong langsung," ujar Rahma.
"Intinya kamu ingin Kakak nikah sama Pak Dev?" tanya Amira to the point. Ia seperti menangkap arah pembicaraan Rahma sedari tadi.
"Iya, itu jika Kak Amira mau sama Kak Dev," jawab Rahma.
"Ra, sejujurnya Kakak ingin menikah dengan laki-laki yang kakak cintai dan yang mencintai Kakak tentunya. Kakak ingin menikah sekali seumur hidup. Pernikahan juga bukan main-main, jika Pak Dev niatnya nikah hanya karena gak ingin di ganggu lagi oleh Ibu Dita, itu sudah salah besar dan harus di luruskan lagi niatnya. Bagaimanapun jika ingin menikah, kita harus niatkan karena Allah, bukan yang lain,"
"Kakak akui, Kakak emang mengagumi dan menyukai Pak Dev, seperti yang kamu bilang. Wanita mana sih gak akan terpincut dengan ketampanan dan kemapanan Pak Dev, terlebih ia sopan dan gak pernah ada kabar ia suka mainin wanita. Tapi kembali lagi, apa Pak Dev mau sama Kakak. Kakak gak mau jika dia nikahin Kakak hanya karena dia bosan di ganggu terus sama Kak Dita. Itu sama aja mainin perasaan Kakak. Kakak gak mau sakit hati karena salah dalam mengambil keputusan."
"Jika memang Pak Dev ingin mengungkapkan sesuatu, misal seperti mau melamar atau yang lainnya. Biarkan dia datang sendiri dan ngomong secara langsung tanpa harus melewati kamu karena bagaimanapun ini bukan masalah sepele. Kakak harus melihat keseriusannya dan yang lainnya," ujar Amira ngomong panjang lebar.
"Baiklah, Kak. Kalau gitu aku akan keluar dulu dan meminta Kak Dev untuk ngomong sendiri. Tapi aku harap Kak Amira mau menerima lamaran Kak Dev karena bagaimanapun aku sudah cocok dengan Kak Amira dan berharap Kak Amira lah yang jadi kakak iparku,"
"Iya, nanti kakak fikirin," sahut Amira tersenyum.
Lalu Rahma pun pamit undur diri dan dia langsung pergi ke ruangan Devano untuk membahas masalah Amira.
__ADS_1