
Sore hari, Devano pun sampai dirumah tepat jam 5 lewat 10 menit. Di sana sudah ada Darma, Dania dan Rahma. Sedangkan Gofur ada di kamarnya dan sedang mengerjakan pekerjaannya yang ada di Indonesisa, tadi tangan kanannya mengirim sebuah email yang harus ia kerjakan sekarang. Karena besok pagi sudah akan di presentasikan. Dan jika memungkinkan ia sendiri yang akan memimpin lewat Zoom.
Devano mengucap salam lalu mencium tangan mama dan papanya, sedangkan untukk Rahma, dialah yang mencium tangan kakakknya.
"Dari mana, jam segini baru pulang?" tanya Dania yang sempat khawatir karena putranya itu pulang telat. Walaupun Devano sudah dewasa, tapi tetap saja seorang ibu pasti khawatir jika putranya itu pulang telat tanpa memberikan alasan yang jelas.
"Nemenin Dita," jawab Devano jujur, ia emang gak bisa berbohong sama orang tuanya.
"Dita, putrinya Tuan George?" tanya Darma.
"Iya pa," jawab Devano sambil duduk dekat adiknya itu.
"Bukannya kata kamu dia udah punya pacar, kenapa kamu malah jalan bareng dia, nanti malah pacarnya cemburu sama kamu, jangan cari masalah dengan orang lain," ujar Darma mengingatkan.
"Aku gak cari masalah pa, tadi saat aku pulang, aku menemukan dia nangis di pinggir jalan, karena gak tega, jadi aku menepikan mobilku dan menghampirinya, karena tampilannya benar benar mengenaskan, dia nangis di pinggir jalan dengan tersedu sedu sedangkan di sekelilingnya banyak orang yang melihatnya, aku kan gak tega liatnya. Jadi aku meminta dia masuk ke dalam mobilku dan aku membawanya ke danau milik keluarga kita," jawab Devano.
"Kenapa membawanya ke sana, kamu tau kan, itu hanya untuk keluarga kita nak," ujar Dania gak suka.
"Maaf ma, habis aku bingung mau bawa dia kemana, masak ia ke hotel nanti aku khilaf," ucap Devano yang mendapat lemparan bantal sova dari sang papa.
"Kalau ngomong itu di jaga," tutur Darma tak suka.
__ADS_1
"Hehe maaf pa, aku cuma bercanda,"
"Terus kamu tau alasannya kenapa Dita sampai nangis di pinggir jalan?" tanya Dania.
"Dia putus sama pacarnya ma,"
"Kenapa?" tanya Dania lagi.
"Pacarnya selingkuh sama asistennya, dan kebetulan asistennya itu temannya Dita saat kuliah, bahkan Dita sendirilah yang merekomendasikan nya kepada Daren, tapi mereka malah selingkuh di belakang Dita, ya gitu deh, jadinya Dita mutusin Daren," jawab Devano.
"Hemm kasihan ya, andai dia dulu milih kamu, mungkin dia gak akan sakit hati kayak gini," ujar Dania menyayangkan Dita yang kini tengah patah hati.
"Ya sudahlah ma, gak usah di bahas,"
"Entahlah pa, aku emang masih mencintainya, tapi aku mulai ragu dengan perasaanku, karena aku ingin mencari istri yang sama kayak aku, belum pernah pacaran dan di sentuh lawan jenis yang bukan mahromnya, aku ingin mencari istri yang bisa menjaga dirinya dengan baik, bukan membiarkan dirinya di sentuh orang lain dengan sukarela. Lagian juga, tadi aku menasehati Dita, tapi dia kayak keberatan gitu, dia bukan tipe orang yang suka di naasehati. Aku bingung, aku takutnya nantinya malah gak cocok kalau nikah sama Dita," jawab Devano.
"Ya aku juga kurang setuju, mending sama Kak Amira, dia baik, dia juga tulus," ujar Rahma angkat bicara.
"Amira siapa nak?" tanya Diana.
"Sekertaris Kak Dev, walaupun aku baru bertemu denganya, entah kenapa aku merasa cocok dengannya ma, dia baik, tulus juga, ramah dan bisa menyesuaikan diri dngan aku, bahkan aku merasa nyaman saat dekat denganya," jawab Rahma.
__ADS_1
"Tapi kan walaupun dia baik, ramah, tulus dan cocok buat kamu, belum tentu cocok buat aku dek, masalahnya ini kan menyangkut masa depan aku, aku gak mau menikah dengan orang yang gak aku cintai, mungkin kalau di jadikakn teman dia cocok, tapi kan belum tentu cocok untuk di jadikan pasangan, untuk di jadikan teman hidup," ujar Devano menjelaskan.
"Bener juga sih, ah emang susah ya pengen jadi istri kak Dev," ucap Rahma tertawa.
"Nanti gara gara pemilih banget, akhirnya jadi perjaka tua," ledek Dania.
"Enggak mungkin, aku pastikan kalau gak tahun ini, tahun depan aku nikah," ujar Devano meyakinkan.
"Ck ... nikah? mau nikah sama siapa, calon aja gak ada," sindir Damar.
"Ya aku mau nyari dulu,"
"Nyari dimana?" tanya Dania.
"Di mana aja, yang penting cocok dan mau di ajak untuk membangun keluarga yang sakinah mawadah dan warohmah, mau di nasehati dan bisa menyayangi aku dengan tulus bukan karena ketampananku dan kekayaanku. dan juga mau menyayangi keluargaku seperti dia menyayangi kelurganya sendiri. Kalau bisa sih dia belum pernah pacaran sama kayak aku, bukankah jodoh itu adalah cerminan diri sendiri," jawab Devano tenang.
"Baiklah mama doakan semoga kamu dapat menemukan wanita seperti yang kamu inginkan itu," ujar Dania yang mulai mengerti perasaan anak sulungnya itu.
"Kalau belum nemu, papa nanti akan bantu nyarikan," ledek Darma yang suka ngerjain putranya itu.
"Gak perlu pa, insyaAllah aku masih bisa dan mampu," balas Devano tersenyum ramah. Ia yakin cepat atau lambat, Tuhan pasti akan mempertemukan dirinya dengan jodohnya.
__ADS_1
Tak terasa adzan maghrib pun terdengar, Devano pamit pergi ke kamarnya untuk mandi dan siap siap sholat maghrib. Begitupun dengan Rahma, Dania dan juga Darma yang juga mau siap siap untuk sholat maghrib. Dan mereka akan sholat berjamaah di mushollah yang ada di samping rumah, karena memang rumah itu ada musholla sendiri yang langsung di hadapkan dengan taman.