
Setelah mendaftarkan pernikahan mereka ke KUA, dan mereka pun kini sudah memegang buku nikah masing-masing. Lalu mereka pulang sebentar, untuk menaruh buku nikah tersebut, lalu mereka membawa tas kecil untuk di isi baju dan perlengkapan mereka karena hari ini mereka akan pergi ke Villa dan menginap di sana.
"Mas, bawa baju berapa?" tanya Amira.
"Berapa aja terserah kamu," jawabnya cuek.
"Kenapa lagi sih dia?" gumam Amira dalam hati melihat suaminya yang mood nya gampang berubah.
"Emang di Villa nginep berapa hari?" tanya Amira berusaha untuk sabar dan tak terpancing emosi.
"3 hari 3 malam," jawabnya.
"Oh ya udah aku bawa baju lima aja, buat nanti gonta ganti, kalau kurang nanti baju yang kotor aku cuci," ucapnay namun kali ini Devano tak menanggapi ucapannya.
Amira pun hanya bisa menghela nafas, ia tak tau apa kesalahannya sampai Devano berubah dingin gini, entah kesalahan apalagi yang sudah ia lakukan hingga menyinggung perasaannya.
Setelah memasaukkan baju miliknya dan baju milik suaminya, ia pun siap berangkat dengan tas yang ia gendong di balik punggunya. Ia sengaja gak memilih koper karena isinya yang hanya dikit jadi buat apa memakai koper segala.
"Sini tasnya biar aku yang pakai," pinta Devano yang gak tega melihat istrinya membawa tas yang berisi bajunya.
"Enggak usah, Mas. Lagian gak berat kok. Nanti juga di mobil kan di taruh di kursi belakang, gak aku gendong lagi," tolaknya dengan halus.
"Iya sudah," jawabnya. Lalu ia pun pergi lebih dulu menuju mobil yang sudah terparkir di depan. Dan Amira pun hanya bisa mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
Sepanjang jalan, Devano memilih diam dan kali ini ia lagi gak mood untuk menyetir sehingga ia memakai sopir. Dan ia duduk di kursi belakang bersama Amira yang tengah memangku tas. Dan tak lagi ia gendong.
"Mas Dev kenapa ya, kok suasana hatinya gampang banget berubah," tanya Amira dalam hati. Sesekali ia menoleh ke arah suaminya yang fokus menatap ke luar jendela.
Devano yang sadar jika dirinya sedang di tatap pun tetap memilih diam, ia ingin Amira peka tentang perasaannya. Ia tau, ia tak boleh melakukan hal ini, ia tak boleh memaksa Amira yang bahkan belum siap untuk ia sentuh sepenuhnya, apalagi ia baru aja menikah dengan cinta yang bahkan mungkin belum ada di hati mereka.
Tapi saat ia tidur bareng dengan Amira, entah kenapa peraaan itu berubah, ada rasa keinginan kuat dalam hatinya ingin mencoba sesuatu yang belum ia rasakan. Maklum nafsu seorang laki laki sangatlah besar, dan jika tak di salurkan, malah bikin dirinya pening, atau sakit kepala. Karena yang di bawah cenat cenut namun tak segera di obati.
Saat Amira mencoba untuk mengingat kembali percakapan mereka sebelum pergi ke KUA, Amira seperti mengingat sesuatu yang akhirnya membuat Devano langsung berubah seketika. Mendadak wajah Amira merah merona, tak menyangka jika Devano ngambek dan menjadi dingin seperti ini karena ia pengen sesuatu dan dirinya kurang peka.
Ia pun mulai mendekati Devano, ia duduk mepet mepet, membuat Devano menoleh ke arahnya. Dan Amira pun hanya tersenyum manis membuat Devano mengernyitkan dahi, "Kenapa lagi nih anak?" seperti itulah fikiran Devano saat ini.
"Mas, aku kangen," ucap Amira, sungguh ia tak tau, bagaimana cara merayu pria, karena sebelumnya ia tak pernah melakukan hal ini. Sang sopir yang mendengarnya pun pura pura tak dengar, dan ia tetap fokus ke depan.
"Kok dahiku di pegang?" protes Amira.
"Aku cuma ngetes aja, takutnya kamu sakit," jawabnya.
"Aku gak sakit kok, aku sehat, sangat sehat malah," balasnya meyakinkan.
"Ya, ya, aku percaya," sahutnya.
"Mas?" panggil Amira.
__ADS_1
"Hem?" jawab Devano.
"Sayang, cintaku," panggil Amira lagi membuat Devano menoleh. "Apa?" tanyanya.
"Emmm itu, anu ...." Amira merasa bingung gimana cara ngomongnya, karena sungguh lidahnya seperti terasa kaku sekali.
"Anu apa?" tanya Devano, kali ini dialah yang kurang peka.
"Yak apa ya ngomongnya, aku malu," cicitnya.
"Ngomong aja lagi, ngapain mesti malu. Atau jika kamu takut kedengeran sopir, kamu bisa bisik di telingaku," ucapnya sambil mendekatkan telinganya di samping Amira.
"Kapan kita mau proses buat anak?" tanyanya dengan sangat pelan, tepat di telinga Devano sehingga sang sopir pun tak bisa mendengarnya.
Devano yang mendengarnya pun merasa sok, tak menyangka jika yang di omongin oleh Amira perihal itu.
"Kamu beneran mau?" tanya Devano dengan wajah yang super ceria.
Amira pun menganggukkan kepala dengan mantap.
"Nanti ya sesampai di Villa," ujarnya sambil membawa Amira ke dalam pelukannya. Lalu ia mencium kepala Amira yang tertutup hijab.
Amira pun menikmati pelukan yang di berikan oleh suaminya.
__ADS_1