
Setelah satu minggu Rahma di rawat di rumah sakit, kini saatnya Devano, Darma dan Dania membawa Rahma pupang karena keadaan Rahma yang sudah membaik.
"Kak, aku sudah lama gak belajar jalan lagi, apa aku lumpuh lagi?" tanya Rahma menangis karena kakinya sulit untuk di buat jalan lagi.
"Enggak dek, kaki kamu hanya sedikit kaku aja karena lama gak di gerakkan, nanti kalau di latih lagi pasti bisa jalan lagi," jawab Devano.
"Mama dan papa juga akan menemani kamu sayang, saat kamu berlatih nanti," ucap Dania, sungguh ia gak tega dengan nasib yang di alami putrinya.
"Baiklah, menangis pun percuma. Aku akan berusaha keras agar bisa jalan lagi. Aku ingin saat suamiku ke sini, aku sudah bisa jalan lagi," ujar Rahma sambil menghapus air matanya.
Mereka pun tersenyum melihat Rahma yang kini kembali bersemangat.
Kini Darma mendorong kursi roda yang di duduki Rahma lalu mendorongnya ke luar rumah sakit dimana mobilnya sudah ada di depan.
Sesampai di samping mobil, Darma menggendong Rahma sedangkan Dania dengan sigap membuka pintu mobil belakang, Devano sendiri menaruh kursi roda itu di bagasi mobil.
Setelah selesai, Darma pun langsung duduk di belakang kemudi, sedangkan Devano duduk di kursi depan samping papanya. Di kursi belakang, ada Dania dan Rahma.
Devano, Darma dan Dania sepakat memanggil Rahma dengan panggilan Rahma untuk menghargai pemberian nama kedua orang tua angkat Rahma yang merawatnya sejak kecil.
"Kita pulang kemana? Ke apartemen lagi?" tanya Rahma.
"Kita pulang ke rumah utama," jawab Devano
"Kakak punya rumah, kalau punya rumah ngapain tinggal di apartemen?" tanya Rahma.
"Karena kalau kakak ngajak kamu tinggal di rumah utama, kakak takut ketahuan mama dan papa," ujar Devano jujur yang dapat pukul dari sang mama yang tepat berada di belakangnya.
"Dasar anak kurang aja, jangan jangan selama ini kamu sering nyembunyiin anak perempuan di apartemenmu ya?" tanya Dania geram.
"Enggaklah, Rahma orang pertama yang aku ajak ke apartemen. Sebelumnya aku bahkan belum pernah mengajak wanita manapun tinggal di apartemenku apalagi sampai menginap kecuali mama dan yang kedua Rahma," ukar Devano jujur.
__ADS_1
"Untung Rahma adik kamu, mama gak bisa mikir gimana jadinya jika kamu jatuh cinta sama adik kamu sendiri?" tanya Dania.
"Ya enggaklah mana mungkin aku jatuh cinta sama Rahma, apalagi dia istri orang. Dari awal aku menolong nya karena kasihan dan rasa sesuatu yang gak bisa aku jelaskan. Namun perasan ku mengatakan harus menolong nya dan sejak aku berada di dekatnya terus, aku menyayangi nya tapu bukan rasa sayang sebagai kekasih tapi sebagai rasa sayang kepada adiknya. Aku seperti punya ikatan batin dengannya. Siapa yang akan menyangka yang aku tolong adalah adik kandungku sendiri," tutur Devano.
"Ya itu adalah takdir, mungkin sudah saatnya Tuhan mempertemukan kita semua dengan adik kamu lewat pertolongan kamu kepadanya. Tuhan menggerakkan hatimu untuk membantunya," ucap Darma yang sedari tadi diam dan memilih menjadi pendengar setia.
"Ya papa benar, biasanya aku itu cuek tapi melihat Rahma pertama kali, aku merasa ada yang berbeda," ujar Devano membenarkan ucapan papanya.
"Andai kamu dari awal memberitahu mama dan papa, pasti sudah lama kita kumpul seperti ini," ujar Dania.
"Kalau aku ngasih tau mama dan papa sebelum aku tau kalau Rahma adalah adikku, apa mama dan papa akan membiarkan aku merawatnya terlebih dia bukan siapa siapa buat mama dan papa," ujar Devano sinis.
"Tapi kan ...." belum selesai Dania ngomong, Darma langsug memotongnya.
"Sudahlah yang penting kan kita sudah kumpul sekarang," ujar Darma membuka suara.
Dan mereka pun diam.
"Papa dan mama sudah menyiapkan semuanya, jadi semua keperluan kamu sudah ada di kamar kamu sayang," ucap Dania sambil mengelus kepala putrinya
"Makasih ya ma, pa," kata Dania.
"Ke kakak kamu gak bilang terima kasih. Kakak ikut andil loh, dalam menyiapkan keperluan dan kebutuhan kamu," sindir Devano.
"Hehe iya, makasih kakakku sayang. Enak banget ya jadi orang kaya, semuanya serba ada," ujar Rahma membuat mereka bertiga yang ada di dalam mobil merasa sedih.
"Mulai sekarang apa yang kakak punya, itu juga jadi milikmu," ucap Devano.
"Papa juga akan memberikan salah satu perusahaan buat kamu," ujar Darma.
"Perusahaan ya. Astaga aku baru jngat gimana dengan sekolahku, aku bahkan belum lulus SMA," teriak Rahma kaget saat dirinya ingat sebelum kecelakaan dirinya hanya seorang pelajar.
__ADS_1
"Hike hiks gimana ini, masak iya aku cuma lulisan SMP doang, padahal aku pengen kuliah, tentu kalau kuliah harus punya ijazah SMA kan hiks hiks, hancur sudah harapanku," ucap Rahma menangis.
"Gak perlu nangis sayang, biar papa nanti yang aur. Kamu tinggal ngejar paket C, kalau lulus kamu akan dapat ijazah yang setara dengan ijazah SMA, setelah itu kamu bisa kuliah seperti yang kamu mau," ujar Darma menenangkan.
"Bener apa kata papa sayang, biar semuanya papa dan kakak kamu yang ngurus, kamu terima beres aja," cakap Dania.
"Baiklah aku pasrahkan semuanya sama papa dan kakak, aku tau kalian pasti akan melakukan yang terbaik untukku kan," ujar Rahma mulai tenang.
"Tentu, kami semua akan melakukan yang terbaik untuk kamu dan masa depan kamu," ucap Devano. Rahma tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di depan rumah yang megah, mewah seperti sebuah istana.
Bahkan di depan gerbang ada dua satpam yang berjaga. Dan saat mereka masuk ke dalam rumah ada banyak pembantu yang bekerja di rumah itu.
Tentu rumah megah, mewah dan luas pasti butuh banyak pembantu buat bersih bersih rumah, masak dan lain sebagainya.
Darma menyuruh semua pembantu untuk kumpul di ruang tamu. Sedangkan Rahma kini sudah duduk di kursi roda sedangkan Dania, Darma dan Devano duduk di sofa.
Setelah beberapa menit, semua pembantupun termasuk tukang kebun dan satpam pada kumpul semua.
"Dengarkan baik baik, ini putri saya yang hilang belasan tahun lalu. Mulai saat ini putri saya akan tinggal di sini, dan saya harap kalian harus melayaninya sebaik mungkin karena putri saya adalah permata hati kamu, jadi jangan sampai saya tau putri saya kenapa napa karena jika itu terjadi, hukuman akan menanti kalian, siapapun ith. Kalian faham? " tanya Darma.
"Faham, Tuan besar, " jawab mereka kompak.
"Baiklah, mulai sekarang kalian bisa memanggilnya Nona Muda Rahma," ujar Darma tegas dan berwibawa.
"Baik, Tuan Besar. Selamat Datang Nona Muda Rahma," sapa mereka kompak kepada Rahma. Mereka seperti sudah terlatih sehingga terlihat sangat kompak sekali.
"Iya," jawab Rahma karena bingung mau ngomong apa.
"Sekarang kalian bisa bubar," ucap Darma. Dan mereka pun langsung undur diri secara teratur.
__ADS_1