
Setelah kejadian tadi siang, kini keduanya saling diam lagi, di malam hari mereka hanya duduk diam sambil nonton tivi setelah menikmati makan malam.
Amira yang memang tak suka di diemin pun berusaha merayu suaminya lagi, lagian ini kan bukan salahnya, jadi suaminya tak perlu menyalahkannya, kan?
"Mas, jangan diemin aku dong, kali ini kan bukan salah aku, bukan karena aku yang gak peka lagi, tapi karena keadaan yang lagi tak mendukung," ucapnya sambil memeluk Devano dari samping. Yah, ia harus punya inisiatif sendiri, untuk bisa meredakan amarah suaminya. Sebenarnya Devano pun tak marah, ia hanya kesal sama keadaan. Untuk itu, ia memilih diam dari tadi.
"Aku benar benar minta maaf, sungguh aku benar benar gak tau kalau hari ini, aku akan menstruasi karena jika sesuai tanggal, biasanya masih kurang dua hari, tapi ini kayaknya maju, makanya menstruasinya datang lebih cepat. Mas Dev pasti kecewa banget ya sama aku, aku juga sih, padahal tadi aku sudah berada di awang awang, tapi seperti langsung di hempaskan gitu aja. Tapi ya mau gimana, aku pun tak bisa menyalahkan siapapun. Mungkin memang belum waktunya aja sih," ujarnya sambil terus memeluk Devano sedangkan Devano walaupun matanya melihat ke tivi tapi pendengarannya, lebih fokus mendengar apa yang di ucapkan oleh istrinya.
"Nanti kalau aku sudah suci, Mas bisa puas puasin deh, aku gak akan nolak, dan aku akan layani Mas sepenuh hati, tapi jangan diemin aku kayak gini, sungguh rasanya gak enak. Mas kalau ada apa apa suka diemin aku. Padahal kan semuanya bisa di omongin baik baik, gak harus saling diem kayak gini," tutur Amira mencurahkan isi hatinya.
__ADS_1
"Beneran ya, aku boleh melakukan apapun sampai puas," balas Devano yang mulai buka suara.
"Iya, boleh. Selama tidak melanggar apa yang di larang oleh agama, aku mah setuju setuju aja," balas Amira senang karean Devano mau buka suara lagi dan tak lagi mendiamkannya lagi.
"Aku gak mungkin melanggar apa yang di larang oleh Allah yank, aku mah ngerti agama, jadi aku akan menghindari apa yang memang di larang. Iya sudah dari pada cuma diem gini, gimana kalau kita jalan jalan di sekitar Villa, gak jauh dari sini ada danau tempatna indah, kita bisa memandang bintang dari sana sambil duduk dekat danau, tempatnya gak nakutin kok, karena ada pencahayaan yang cukup terang dan lagi di sana tamannay bagus dan tertata rapi, sebenarnya sih paling bagus di sana itu kalau pagi atau sore hati, tapi malam hari juga gak papa sih. Dan tempatnya juga cukup aman karena di sini banyak penjaga dan orang luar tak bisa masuk ke sini tanpa seizin keluarga Danendra."
"Iya udah, ayo." Amira pun langsung mau, lagian ia bosen jika hanya duduk diam dan menonton tivi yang gak ia suka.
"Ini, Mas. Pakai dulu," ujar Amira setelah ia menghampiri Devano, lalu ia memberikan jaket yang ia bawa dari kamarnya.
__ADS_1
"Makasih ya,"
"Iya."
Lalu mereka pun keluar dari Villa dengan bergandengan tangan, layaknya pasangan kekasih, mereka jalan dengan Amira yang menyenderkan kepalanya di lengan Devano. sedankan tangan kannya memegang tangan kiri Devano. Saling bergenggaman tangan dengan erat.
Mereka melangkahkan kaki menuju danau, di sepanjang jalan tak lupa Devano menceritakan asal usul mempunyai villa di sini dan Amirapun menjadi pendengar setia. Hingga tak terasa mereka pun akhirnya sampai juga di danau tak jauh dari Villa. Sungguh Amira merasa takjub dengan pemandangan di sini, walaupun ini sudah malam tapi tak bisa mengurangi sedikitpun keindahan danau terutama di sekellilingnya.
Amira benar benar memuji keindahan danau ini dan ia tak menyesal Devano mengajaknya ke sini karena sungguh pemandangannya cukup indah dan bisa membuat siapapun betah lama lama berada di sini. Devano yang melihat Amira menyukai tempati ini pun merasa senang karena gak sia sia dia mengajak Amira ke Villa ini.
__ADS_1