My Little Woman

My Little Woman
Kecewa Berat


__ADS_3

Sesampai di Villa, Devano pun buru buru menggendong Amira masuk ke dalam Villa. Untungnya sebelumnya Devano sudah memberitahu bibi yang bertugas membersihkan Villa tersebut kalau dirinya akan datang. Sehingga ia bisa masuk villa itu dengan leluasa karena pintu utama tidak di kunci.


Amira yang di gendong pun langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Devano, karena ia takut jika dirinya sampai terjatuh.


"Mas, turunin aku, aku berat loh," ucapnya malu.


"Kata siapa berat, kamu ringan kok, kayaknya ke depannya, kamu harus banyak makan agar tubuhmu sedikit berisi," balasnya sambil terus menggendong Amira menuju kamarnya. Kamar miliknya yang selalu ia tempati setiap kali ke Villa ini.


"Ih padahal aku udah gemuk loh menurutku,"

__ADS_1


"Gemuk, apanya? Kerempeng, iya," sahutnya sambil menaruh Amira ke atas kasur dengan pelan. Lalu ia mengambil tas yang masih di pangku oleh Amira, ia menaruhnya di meja dekat kasur.


"Sudah, siap?" tanyanya.


"Eh siap apa?" tanya Amira yang mulai gak peka lagi.


"Loh katanya mau bikin anak," jawabnya  mengingatkan istrinya yang ternyata gampang pelupa.


Devano pun mulai mencium Amira dengan pelan, ia seakan tau, titik terlemah seorang wanita, hingga ia pun menyentuh bagian bagian yang cukup sensitiv hingga membuat Amira, secara tidak sadar mendesah pelan.

__ADS_1


Devano yang melihat Amira meracau tidak jelas dan mulai membalas ciumannya pun merasa senang karena berhasil membangkitkan nasfu istrinya. Ia pun mulai membuka satu demi satu bajunya, hingga Amira tak sadar jika kini ia sudah tak memakai baju dan hanya tersisa Bh dan Cd yang masih menempel di tubuhnya.


Setelah itu, Devano mulai membuka bajunya sendiri karena ia pun tak ingin buru buru hingga miliknya sedikit menegang dan berdiri tegak, ia pun mulai membuka CD milik istrinya, namun belum juga di buka, ia melihat setetes noda merah di CD yang di pakai istrinya.


"Yank, kamu datang bulan?" tanya Devano lemas, Amira yang sudah berada di atas nafsu tinggi, mendengar penuturan suaminya langsung terhempas begitu saja. Ia langsung lari ke kamar mandi, dan benar saja, ia kini sedang datang bulan. Ia tak menyangka jika ia harus datang bulan di saat yang tidak tepat. Lalu ia keluar lagi dengan wajah menunduk sedih, sungguh ia merasa bersalah


"Maaf, Mas," ucapnya yang masih menunduk tak berani menatap wajah suaminya.


"Sudahlah," jawabnya pasrah. Lalu ia bangkit dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi. Ia harus mandi dengan air dingin agar bisa meredakan nafsunya yang sudah naik ke ubun ubun. Sungguh saat ini ia ingin marah tapi kepada siapa, ia yakin Amira pun tak ingin hal ini terjadai. Jadi ia hanya bisa marah sama keadaan yang tak bisa di ajak kompromi. Seharusnaya datang bulan itu datang nanti aja setelah ia selesai melakukan kewajibannya. Bukan datang di saat ia sudah mau memasuki goa miliknya.

__ADS_1


Devano pun mengusap kasar rambutnya, ia benar benar kesal. Kenapa di saat Amira sudah pasrah dan ingin menyerahkan dirinya, keadaannya harus seperti ini. Dan kini ia pun harus tersiksa karena mestruasi istrinya yang datang tidak tepat waktu. Dan ia harus nunggu seminggu lagi agar bisa mencoba rasanya surga dunia.


__ADS_2