My Little Woman

My Little Woman
Sudah Bisa Jalan


__ADS_3

Setelah satu Minggu Rahma latih pagi dan sore hari, selama 4 sampai lima jam, membuat Rahma kini bisa jalan walaupun masih harus pakai tongkat, tapi lumayanlah, gak perlu pakai kursi roda lagi, sehingga kini ia bebas pergi ke mana aja. Dan iya yakin, dua tiga hari lagi, ia pasti bisa jalan dengan sempurna. Papanya juga memberikan obat sehingga saat latihan, membuat Rahma tak terlalu merasakan kesakitan lagi. Dan Dania pun juga obat yang membuat tulang kaki menjadi kuat. Devano sendiri, juga tak kalah, ia membeli peralatan buat jalan dengan harga yang lumayan sehingga Rahma bisa nyaman saat latihan.


Rahma juga tak perlu lagi, operasi apapun, karena kini Rahma sudah di nyatakan sembuh total, setelah di periksa kemarin sore. Mungkin karena Rahma minum obat rutin sehari 3x dan juga menjaga pola makan yang sehat. Serta olah raga kecil kecilan kalau di pagi hari sebelum latihan jalan.


"Ma, aku kan sudah bisa jalan, gimana kalau kita jalan jalan nanti, aku bosan di rumah terus," rengek Rahma.


"Yakin mau jalan jalan?" tanya Dania, ia masih takut jika putrinya itu kenapa napa.


"Yakin ma, yakin banget," jawab Rahma meyakinkan mamanya.


"Aku ikut," ujar Devano yang tiba tiba datang dan mendengar percakapan mereka.


"Ya mama setuju kalau kamu ikut, jadi kalau ada apa apa kan enak? Tenaga cowok kan sangat di butuhkan hehe," canda Rahma.


"Papa juga mau ikut loh," ujar Darma yang entah datang dari mana.


"Baiklah nanti kita berempat pergi," tutur Rahma senang.


"Tapi pergi kemana dulu nih?" tanya Devano.


"Aku gak tau, aku kan belum pernah jalan jalan, kakak aja cuma pernah ngajak aku ke taman doang, itupuun dulu," sindir Rahma.


"Masih untung di ajak ke taman, dari pada cuma rumah sakit, apartemen," debat Devano.


"Sudah sudah, kenapa malah debat sih, kita sore makan di resto aja dulu, lalu pergi ke Mall, biasanya kan kalau cewek suka tuh belanja," ucap Darma.


"Ah papa bener, papa emang the best dah. Gimana sayang, kamu mau pergi ke Mall?" tanya Dania.


"Mau ma," jawab Rahma, ia dulu hanya sering ke Mall saat di Jakarta aja, sejak di negara S, ia bahkan belum pernah ke Mall.


"Iya udah berarti kita sudah sepakat makan di resto, lalu lanjut ke Mall," ujar Dania.


 


 


\============

__ADS_1


Sore harinya, mereka berempat pun berangkat ke resto yang lagi terkenal di Singapure, terkenal karena tempatnya yang sangat indah dan nyaman, bahkan banyak yang ke sana hanya ingin foto foto lalu mengunggahnya di medsos. Harganya memang agak mahal dan itu setara dengan tempat dan makanannya yang juga sangat enak dan bikin ketagihan.


Rahma dan yang lainnya pun memesan makanan dan minumannya. Sambil makan, mereka pun ngobrol sebentar. Sedangkan Rahma ia sibuk melihat instagram suaminya yang di privat. Namun ia bisa masuk dan melihat semua foto yang terpajang di IG dengan memakai akunnya yang dulu.


Tanpa sepengetahuan Rahma, Devano diam diam memontret Rahma.



Rahma emang sudah di perbolehkan megang Hp, bahkan Devano sendirlah yang membelikan Hp tersebut. Sehingga Rahma bisa buka sosial media sesuka hatinya, namun ia belum memberi kabar kepada suaminya. Sebenarnya tangannya sudah gatal ingin segera nelfon dan chat suaminya, namun keluarganya melarang dengan alasan bahwa waktu Rahma hanya untuk keluarganya sampai waktu di mana Devano akan menjemput suaminya itu.


"Kamu emang cantik dek," gumam Devano dalam hati.


Rahma emang senjaga pakai cadar, karena ia kini sedang berjauhan dengan suaminya, dan ia harus bisa menjaga diri sebaik mungkin. Dan tak membiarkan orang lain menikmati wajah cantiknya, cukup suami dan keluarganya aja.


Habis makan, mereka pun langsung pergi ke Mall. Sebelum pergi ke Mall, Rahma meminta kakaknya untuk memotret dirinya.


"Kak, fotoin aku dong, mama boleh gak nitip tongkat ku dulu, gak bagus rasanya, masak iya foto pakai tongkat hehe," ujar Rahma, Dania pun mengambil tongkat tersebut, lalu Devano dengan sigap mengambil foto adiknya.



"Ayo foto bareng sekarang, buat kenang kenangan," ajak Rahma. Mereka pun setuju, awalnya hanya Rahma sendiri, lalu foto berempat, setelah selesai, mereka pun foto bergantian.


-Rahma dan Dania


-Rahma dan Darma


-Rahma, Dania dan Rahma.


-Rahma, Devano dan Dania


-Rahma, Devano dan Darma.


-Rahma, Devanon, Darma dan Dania


Setelah puas foto foto, barulah mereka pergi ke Mall. Rahma mencari baju kembar untuk dirinya, kakak dan kedua orang tuanya.


"Ma, pergi ke toko baju yuk, kita cari baju yang kembar, buat aku, mama, kakak sama papa," ajak Rahma dengan memegang tongkat untk pegangan.

__ADS_1


"Ayo sayang," ujar Dania semangat.


Sedangkan Devano dan Darma hanya berjalan di belakang mereka seperti seorang pengawal.


Namun saat Devano melihat ke samping, ia melihat wanita pujaan hatinya, siapa lagi kalau bukan. Diandra.


"Pa, aku ke sana dulu bentar ya," ucap Devano.


"Mau ngapain?" tanya Darma.


"Ketemu temen," jawab Devano.


"Iya udah sana," ujar Darma.


Lalu Devano pun pergi, namun Darma terus melihat ke arah Devano hingga akhirnya Devano menyapa cewek yang sangat cantik memakai hijab warna pink.


Darma terus memperhatikannya sambil tersenyum. Tanpa ia sadari Dania dan Rahma yang sudah ada di depan terpaksa balik lagi saat melihat Devano dan Darma tak ada di belakang mereka.


"Pa, ngapain bengong, aku fikir papa sama Davino ada di belakang mama, gak taunya malah bengong. Liat apaan sih?" tanya Dania kepo.


"Itu putra kita, lagi deketin cewek," ujar Darma sambil menunjuk Devano yang lagi berdiri dan ngobrol santai dengan seorang wanita cantik.


"Astaga, kakak ternyata sudah punya gebetan ya, kenapa gak di nikahin aja?" tanya Rahma yang juga ikutan kepo sambil melihat kakaknya yang  malu malu kucing.


"Papa aja baru tau nak, kalau papa sudah tau pasti papa udah nikahin dia, apalagi umurnya sudah matang banget buat menjalani rumah tangga," jawab Darma.


"Mama baru tau, kalau Devano suka wanita, syukurlah, mama fikir selama ini dia itu gay, karena gak pernah mau dekatan sama wanita, semua temannya kebanyakan cowok," ujar Dania blak blakan.


"Astaufirullah mama ah kalau ngomong mah kelewatan, masak anak sendiri setampan kakak di bilang gay," ucap Rahma tak terima.


"Habisnya udah kepala tiga belum juga nikah nikah," ujar Dania kesal, padahal dari dulu ia sudah pengen banget gendong cucu, tapi apalah daya, jika putra pertamanya itu enggan untuk menikah. Dan saat ini, ia melihat sendiri putranya lagi deketin cewek, dan ia beryukur akan hal itu.


"Apa kita samperin aja ya?" tanya Dania.


"Jangan ma, beri kakak waktu, bisa jadi saat ini kaka sedang mengeluarkan jurusnya buat mendapatkan hati kakak cantik itu, lebih baik kita pergi aja, berikan Kak Dev waktu buat bicara sama Kakak cantik itu," ucap Rahma karena gak tau namanya, ia pun memilih memanggil dengan sebutan kakak cantik karena memang wanita itu sangatlah cantik.


"Iya udah, kalau gitu kita pergi ke toko baju aja, lanjutin yang tadi. Papa jangan jauh jauh lagi ya, bingung mama nyarinya, masalah Dev, nanti kalau dia sudah selesai dengan urusannya, pasti nyusul," tutur Dania, Darma pun mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


"Iya udah ayo," ucap Darma.


Akhirnya mereka bertiga pun masuk ke toko baju dan memilih baju yang pas buat di pakai mereka berempat, sama Devano tentunya.


__ADS_2