My Little Woman

My Little Woman
VC


__ADS_3

Dua hari kemudian, benar saja ada seseorang yang datang ke rumah Gofur untuk mengambil boneka yang di minta oleh Rahma, Gofur yang memang sengaja gak kerja hanya menunggu orang tersebut.


"Permisi," ucap seseorang di luat pintu.


"Iya," jawab Gofur.


"Maaf, apa benar ini rumah Tuan Gofur?" tanya laki laki yang berusia sekitar 30 an.


"Iya benar, apa mas ini yang di suruh ambil boneka?" tanya balik Gofur.


"Ah ya benar, apa bonekanya sudah ada?" tanya laki laki itu ramah.


"Oh ya ada, bentar ya," ucap Gofur sambil memberikan boneka yang dua hari sempat ia beli sendiri di toko, bukan hanya itu, ia juga membawakan beberapa surat untuk Rahma yang di bungkus kado kecil, dan di dalam kado itu juga ada foto dirinya bersama Rahma saat mereka bersama.


"Ini mas," ucapnya sambil memberikan boneka dan kado yang ia pegang kepada maas yang menunggu di depan rumahnya.


"Kalau boleh tau, ini mau di kirim ke mana ya?" tanya Gofur.


"Saya kurang tau, saya cuma harus mengantar ini di jalan Y,"


"Hem gitu, baiklah makasih ya, dan ini tips buat kamu,"


"Tapi pak, gak perlu, saya sudah nerima uang dari orang yang menyuruh saya ambil barang ini,"


"Gak papa ini rezeki buat kamu, gak boleh nolak,"


"Baiklah terima kasih, saya pamit dulu,"


"Iya hati hati di jalan," ujarnya. Dan laki laki itu pun mengangguk sebelum akkhirnya ia benar benar pergi meninggalkan kediaman rumah Gofur.


"Siapa yang datang sayang?" tanya magho yang datang dari dapur.


"Oh itu mah, orang suruhan Rahma, yang datang mengambil boneka,"


"Oh, kamu belum tau masih, istrimu ada dimana?"


"Belum ma, aku juga gak mau mencari tau, aku takut orang itu akan membawa Rahma pergi jauh lagi, jadi akku mending mengalah dan nunggu 6 bulan lagi,"


"Baiklah, kamu yang sabar ya, kamu gak ke kantor?"


"Enggak ma, nanggung udah jam 11 ini, mungkin nanti jam 2 aku ke resto aja, aku rencana mau buka cabang di beberapa kota, doakan ya biar cabang resto yang akan aku buka sama ramenya seperti yang di pusat,"


"Iya sayang, mama akan selalu doakan buat kamu,"


"Kalau gitu, aku mau ke kamar dulu ya ma,"


"Iya sayang, mama juga ntar lagi mau keluar bentar,"


"Mau kemana ma?" tanya Gofur.


"Ada arisan Bulanan di kompleks sini, di rumah Bu Frida,"


"Oh, iya dah aku ke kamar dulu,"' ujar Gofur lalu pergi menuju kamarnya. Sedangkan Magho pun bersiap siap untuk pergi arisan.


Sedangkan orang yang membawa boneka tersebut langsung membawa boneka dan kado itu langsung ke bandara, di mana seseorang sudah menunggunya. Setelah sampai di bandara, orang itu pun langsung memberikan boneka dan kado tersebut.


Dan tak lama kemudian, orang itu masuk ke pesawat jet pribadi yang membawanya ke Singapure di mana Rahma sudah menunggunya.


Jet pribadi itu  menempuk waktu  selama satu jam setengah, sesampai di bandara, orang itu pun membawa boneka dan kado itu ke Devano yang menunggu di apartemen. Dan Devano pun memberikannya ke Rahma.


Rahma yang mendapatkan boneka tersebutt langsung memeluknya.


"Kak, fotoin aku dong, terus kirim fotonya ke suamiku ya, bilangin makasih gitu," ujar Rahma senang.


"Iya," jawab Devano tersenyum melihat Rahma bahagia membuat dirinya juga bahagia.


Devano pun mengambil gambar Rahma saat memeluk boneka di kamarnya, dan juga saat Rahma memegang kado pemberian Gofur.


Setelah selesai, Devano mengirimnya dengan nomor yang tidak dapat di deteksi keberadaannya.


Gofur yang tertidur siang, langsung kaget saat Hp nya berbunyi, ia pun segera mengambil Hp nya dan ada 3 pesan dari nomer yang tak di kenal. Ia pun membukanya, dan ternyata ia mendapatkan Foto Rahma yang memakai baju pink dan memeluk boneka pemberiannya, dan juga foto Rahma yang memegang kado pemberiannya..


Di bawahnya ada pesan, "Terima kasih, Rahma sangat menyukainya," itulah isi pesannya.


Dan Gofur pun melihat jam yang masih menunjukkan pukul satu  siang, sedangkan orang yang mengambil boneka tersebut datang sekitar jam 11 siang, "Bagaimana mungkin, boneka dan kado itu bisa sampai di tangan istriku, dalam waktu dua jam, sebenarnya istriku ada di mana? Apakah dia ada di kota ini, karena jika ada di luar negeri, gak mungkin secepat ini, paling tidak besok baru sampai," gumam Gofur dalam hati.


"Apa apa Go?" tanya papanya yang tiba tiba datang ke rumahnya.

__ADS_1


"Ini pa tadi ada orang yang datang ngambil boneka jam 11, tapi ini baru jam satu, tapi bonekanya sudah sampai ke tangan istriku, apa ini gak aneh, apa mungkin Rahma sudah ada di kota ini pa?" tanya Gofur.


"Mungkin nak, hanya dalam waktu dua jam, jika pun pergi keluar kota, aja butuh waktu beberapa jam apalagi ke luar negeri," ujar Gofur.


"Tapi jika emang ada di Jakarta, ada di mana ya pa?"


"Papa juga kurang tau, apakah papa harus mencarinya?"


"Gak usah pa, biar nanti orang itu yang mengantarkan Rahma sendiri ke aku, oh ya papa kog bisa ada di sini?" tanya Gofur melihat papanya yang masih pakai jas kerja.


"Oh papa, tadi mau makan sian di sini sekalian mau ambil berkas papa yang ketingalan, tapi papa malah rumah ini sepi banget, papa cari mama juga gak ada, makanya papa masuk ke kamar kamu malah liat kamu yang ngomong sendiri sama Hp,"


"Mama katanya tadi ada arisan bulanan, emang belum pulang?"


"Belum, kalau udah pulang, pasti papa sudah ketemu papa, kamu gak ke kantor?"


"Enggak besok aja, sudah nanggung ini, aku mau ke resto nanti jam 2," jawab Gofur.


"Iya sudah nanti kalau mau keluar, kamu hati hati, papa mau makan siang dulu lalu mau balik lagi ke kantor,"


"Iya pa,"


Setelah papanya pergi, Gofur pun masih melihat Hp nya dan anehnya saat ini nomer itu masih tersambung, biasanya itu nomer hanya sekali pakai, Gofur pun mencoba untuk chat. Walaupun nomer itu sulit terdeteksi di mana keberadaannya, namun kalau cuma untuk chat dan nelfon masih bisa di pakai.


"Apa boleh aku vidio call istriku?" itulah isi pesan yang di tulis Gofur.


Tak lama kemudian, ada balasan, "Boleh, biar aku yang nelfon,"


"Iya." balas Gofur senang.


Tak lama kemudian, Hp nya pun bergetar dan ada vc masuk dari nomer rahasia itu.


"Assalamualaikum mas," ucap Rahma yang kini berada di balik layar.


"Waalaikumsalaam," jawab Gofur deg degan karena kini ia bisa melihat istrinya sendiri, dan sedang tersenyum ke arahnya.


"Gimana kabarnya mas?" tanya Rahma dengan suara merdunya.


"Baik, Kamu sendiri gimana?" tanya Gofur.


"Alhamdulillah baik juga, makasih ya boneka dan kadanya, tapi kadonya belum aku buka, mungkin nanti,"


"Mas gak kerja?" tanya Rahma.


"Gak, hari ini aku libur, tapi nanti aku akan pergi ke resto,"


"Mas punya resto?" tanya Rahma dengan wajah berbinar, karena memang dirinya lupa akan semuanya yang terjadi di masa lalu.


"Punya, kenapa?" tanya Gofur.


"Gak papa, syukurlah mas punya pekerjaan hehe, paling tidak saat aku kembali, mas bisa ngasih aku makan," goda Rahma.


"Aku bisa belikan apa aja yang kamu mau," ucapnya serius.


"Iya, aku percaya, mas baru bangun tidur?" tanya Rahma saat memperhatikan suaminya yang rambut nya agak acak acakan.


"Iya, kamu sendiri gak tidur siang?" tanya Rahma.


"Aku jarang tidur siang,"


"Terus ngapain?"


"Gak ada, paling juga tidur tiduran, nonton tivi, ngemil, jalan jalan kalau kakak lagi gak sibuk, latihan jalan dan pergi ke rumah sakit untuk kontrol, kadang juga jemur di depan rumah saat pagi hari. Kakak gak ngizinin aku melakukan banyak hal agar aku cepat sembuh, sebenarnya kakak juga sering nyuruh aku istirahat siang, tapi kadang bisa, kadang susah mau tidur," ucap Rahma tersenyum.


"Aku kangen kamu," ujar Gofur mengungkapkan perasaannya.


"Aku juga, walaupun aku lupa, tapi gak aku pungkiri, aku merindukan mas; sebelum aku tidur aku sering melihat foto mas, bentar aku ambil," ucap Rahma sambil memegang Hp nya tanpa sadar Rahma memperlihatkan kamarnya yang serba pink dan banyak boneka yang terpajang di sana, serta kamar itu sangat mewah, bahkan sekali lihat, Gofurr bisa tau, barang barang di sana adalah barang barang dengan harga yang cukup fantastis semua.


"Ini," ucap Rahma menunjukkan foto Gofur.


"Kamu punya fotoku?" tanya Gofur.


"Iya saat kakak menunjukkan foto mas, aku langsung suka dan aku minta kakak untuk mencetak foto itu dan foto ini sering aku lihat sebelum aku tidur," ujar Rahma, Gofur menitikkan air mata, ia sadar bahwa bukan hanya dirinya saja yang saat ini sangar merindukan istrinya tapi Rahma  juga.


"Kalau kangen, kenapa gak pulang?"


"Kakak gak ngizinin sebelum kakiku sembuh total dan lagi aku harus kontrol setiap minggu beberapa kali, aku belum sembuh total, mungkin orang yang lihat aku, aku baik baik saja, tapi sebenarnya aku belum sembuh sepnuhnya, aku kadang merasakan rasa sakit di kepalaku. Dan kata kakak, aku harus menjalani satu operasi lagi," jawab Rahma jujur.

__ADS_1


"Maafin aku," ucap Gofur menitikkan air mata.


"Kalau bukan karena aku, kamu gak akan mungkin mengalami hal seperti ini,"


"Gak papa, aku ngerti, itu hanya salah faham, dan aku sudah maafin mas," jawabnya tersenyum.


"Mungkin ini memang sudah takdirku seperti ini dan aku ikhlas," lanjutnya.


"Kamu memang baik, aku lah yang bodoh sampai menyia nyiakan kamu," ujar Gofur sedih.


"Mas gak bodoh, selama kita nikah, kakak sering bilang mas selalu memperlakukan aku dengan sangat baik, dan mas baru melakukan satu kesalahan walaupun itu sangat fatal, namun aku sudah memaafkan, kebaikan yang mas berikan ke aku, jauh lebih besar dari pada satu kesalahan yang mas lakukan, jangan sedih lagi, nanti aku sedih, kalau aku sedih, kepalaku sering sakit, aku juga gak boleh mikir yang berat berat, itulah kenapa kakak gak ngizinin aku nelfon atau vidio call mas, karna kakak takut, ada ucapan yang membuat aku sedih nantinya,"


"Maaf, baiklah kita bahas yang lain aja, kamu sudah makan?" tanya Gofur, ia langsung tersentak saat mendengar penuturan istrinya, ia pun langsung mengalihkan pembicaraan karna gak mau membuat istrinya sedih dan kefikiran sesua yang berat. Ia gak mau jika istrinya sampai kesakitan lagi.


"Sudah, aku makan bubur ayam hehe, tadi bibi yang buat," jawab Rahma tersenyum sedangkan di sudut kamar, ada Devano yang fokus sama pekerjaannya namun telingannyaa masih mendengar percakapan mereka karena Devano menghidupkan spiker sehingga suara Gofur terdengar keras.


"Mas sendiri sudah makan?" tanya Rahma.


"Paginya udah, siangnya belum,"


"Jangan telat makan, aku gak mau mas sakit karena telat makan, kata kakak, mas harus jadi orang kuat agar nanti bisa menjaga dan melindungi aku dari orang jahat," ujar Rahma.


"Iya aku akan makan banyak agar aku jadi orang kuat dan bisa menjaga kamu dengan baik, sampaikan rasa terima kasihku sebesar besarnya buat kakak yang sudah merawat kamu sampai detik ini," ucap Gofur tulus. Devano yang mendengarnya pun tersenyum..


"Iya nanti, aku sampaikan ya,"  ujar Rahma terkekeh sambil sesekali melihat ke arah Devano.


"Iya," jawab Devano.


"Mas suka kue gak?" tanya Rahma.


"Suka, kenapa?" tanya Gofur.


"Aku kemarin sempat bikin kue tapi rasanya kurang nyaman sih, nanti aku mau belajar lagi ya, kalau mas mau nanti aku kirimin,"


"Kalau kamu sakit kenapa buat kue?"


"Gak papa yang penting gak sampai bikin aku capek, lagian aku buat kue juga di bantu sama bibi, malah bagus kalau aku banyak gerak. Bahannya juga simple, dan bikinnya cepet banget, setengah jam selesai,"


"Baiklah, apapun yang kamu buat, aku pasti makan,"


"Beneran?" tanya Rahma.


"Iya."


"Baiklah, besok aku kirim ya, eh jangan besok deh, soalnya besok aku seharian di rumah sakit, mungkin lusa aja gimana,"


"Iya,"


"Kalau gitu, aku udahin ya mas, nomer ini gak akan di buang lagi, tapi jangan di sebar, dan jangan di lacak, eh tapi bukanya kartu ini gak bisa di lacak ya keberadannya karna kakak memesan kartu ini secara khusus,"


"Berarti aku boleh chat dan nelfon atau vidio call kamu kalau aku lagi kangen?" tanya Gofur, Rahma menatap ke arah Devano. Devanon pun menganggukkan kepalanya.


"Boleh," ucap Rahma dan itu sukses membuat Gofur bahagia.


"Makasih ya,"


"Sama sama, aku tutup dulu ya,"


"Iya,"


"Assalamu'alaikum."


"Waalikumsalam," jawab Gofur.


Setelah di matikan, Rahma pun mau menyerahkan Hp nya ke Devano tapi Devano menggelengkan kepalanya.


"Kamu pakai aja Hp itu, tapi jangan di salah gunakan ya,"


"Iya kak, makasih ya, kakak baik banget, aku bersyukur kenal sama kakak, kakak seperti malaikat buat ku," ucap Rahma sambil memeluk Devanon. "Entah kenapa aku merasa kita ini ada ikatan batin Ra, aku gak tau kenapa, tapi aku merasa kamu seperti adikku yang hilang, apakah aku harus melakukan tes DNA ya," gumam Devano sambil memeluk Rahma. Sedangkan Rahma, ia malah senang karena ia bebas, chatan, telfonan dan vidio cal dengan suaminya.


Tiba tiba Rahma keingat dengan kado yang belum ia buka, ia pun segera melepas pelukannya, "Aku mau buka kado dulu, kaka mau lihat gak?" tanya Rahma.


"Enggak, bagaimanapun suamimu ngirim itu buat kamu, kamu buka aja, kakak mau pergi ke kamar kakak sendiri, besok jangan lupa ya kita ke rumah sakit lagi,"


"Iya kak, siap," ujar Rahma semangat.


Devano terkekeh, ia segera membereskan pekerjaannya, lalu ia pun segera pergi dari kamar Rahma. Tadi ia sengaja mengerjakan pekerjaan di kamar Rahma saat Rahma dan Gofur sedang vidia call, ia takut Rahma kenapa napa, karena ini pertama kali bagi mereka, namun syukurlah, Gofur seakan mengerti, ia gak membahas sesuatu yang membuat kepala Rahma sakit lagi.

__ADS_1


Dan ia percaya, Gofur pasti akan menjaga ucapannya saat berkomunikasi dengan Rahma, ia juga percaya Rahma gak akan memberitahu suaminya, siapa dirinya dan ada di mana ia sekarang. Ia percaya kepada Rahma.


Ia juga memberikan Rahma kebebasan, karena ia melihat Rahma sangat bahagia saat membahas suaminya  apalagi saat bisa berkumonikasi dengan suaminya. Untuk itulah Devano gak mau bersikap egois lagi dan memberikan mereka waku untuk saling menumpahkan rasa rindu yang selama ini mereka tahan.


__ADS_2