
Keesokan harinya, Devano berangkat lebih pagi karena ia ingin menemui Amira yang berjanji akan memberikan jawaban pagi ini.
Rahma kali ini gak ikut, tapi ia mendoakan agar sang kakak berhasil dan diterima oleh Amira.
Gofur yang sudah tau dari sang istri tentang kakak iparnya pun hanya bisa mendoakan yang terbaik. Begitupun dengan Darma yang juga sudah tau dari sang istri, bahwa kini anaknya tengah berjuang mendapatkan kata "terima" dari wanita yang tengah ia lamar.
Sama seperti Gofur, mereka hanya bisa mendoakan yang terbaik buat Devano untuk masa depannya.
Devano yang telah sampai di kantor pun langsung menuju ruangan Amira, sayangnya Amira belum datang. Akhirnya ia pun memilih menunggu di ruangan Amira. Sambil menunggu ia pun membuka Hp nya dan memainkan game kesukaannya. Walaupun ia sudah berumur, tapi ia masih suka main game di tengah-tengah n kesibukannya.
Namun tiba-tiba ia teringat makan siang kemarin. Sungguh ia merasa canggung saat ia mengajak Amira makan di resto cinta. Jujur, ini pertama kalinya Devano melakukan hal itu, jadi wajar jika merasa sangat gugup sekali. Untungnya Amira tak menolaknya, ia menerima dengan senang hati.
Akhirnya mereka berdua pun makan di resto cinta, resto yang di sulap sedemikian rupa sehingga terlihat romantis. Kadang resto ini selalu full dengan pengunjung yang selalu datang berpasangan. Karena memang ini sangat cocok untuk siapapun yang lagi kasmaran termasuk dirinya.
Karena tak mau di ganggu, Devano pun memesan ruang VVIP. Pemilik restoran yang kedatangan Devano pun merasa takjub, karena tak menyangka seorang miliader, seorang bangsawan mau memakai restoran nya untuk makan siang bersama pasangannya.
__ADS_1
Bahkan sang pemilik restoran sampai membatasi pengunjung agar membuat Devano dan Amira merasa nyaman dengan Resto miliknya.
Sang pemilik bahkan rela terjun sendiri membuat makanan dan minuman yang di pesan oleh Devano dan mengantarkan langsung ke ruangan VVIP.
Devano pun mengucapkan terimakasih karena mendapatkan pelayanan yang spesial. Ia berjanji akan memberikan hadiah besar setelah sepulang nanti dari resto ini.
Dan saat makan siang itulah, Devano dan Amira ngobrol santai, awalnya bahas pekerjaan, hingga akhirnya mulai membahas hubungan mereka. Dan Amira hanya akan memberikan jawaban besok paginya.
Padahal Devano berharap, Amira akan memberikan jawaban saat di resto tersebut, tapi nyatanya, Amira masih butuh waktu dan ia harus bersabar menunggu semalaman walaupun rasa penasaran menghinggapi dirinya dan itu terasa tak enak. Bahkan dirinya baru tidur jam tiga pagi karena hampir semalaman memikirkan Amira, ia takut di tolak lagi.
Sepulang dari resto itu kemarin, Devano membayar mahal bahkan 10 kali lipat, dan ia juga bersedia dimintai foto oleh sang pemilik restoran untuk dipajang di dinding resto sekalian buat promosi. Dan lagi-lagi Devano tak mempermasalahkan, anggap aja ia sedang baik hati jadi tak protes saat di mintai foto bersama.
Hingga 20 menit kemudian, pintu ruangan terbuka dan ternyata Amira yang datang.
"Assalamualaikum, Pak Dev," sapa Amira ramah. Walaupun tadi ia sempet terkejut melihat atasannya ada di ruangannya. Namun setelah ia ingat akan janjinya yang akan memberikan jawaban pagi ini, ia mun mulai bisa mengatur rasa terkejutnya dan terlihat santai, seolah-olah tak ada apa-apa. Amira duduk di kursi kebesarannya sedangkan Devano duduk di depannya.
__ADS_1
"Waalaikumsalam," sahut Devano, walaupun sebenarnya jawabannya sedikit telat karena ia mengagumi kecantikan amira yang terlihat alami. Entah hari ini kecantikan Amira seakan-akan bertambah berkali-kali lipat.
"Pak Dev sudah siapa dengan jawabannya?" tanya Amira tersenyum
"Iya," jawabnya.
"Baiklah, saya langsung aja ya. Saya terima bapak jadi suami saya tapi saya ingin pernikahan ini di sembunyikan dan tak ada pesta mewah," ujar Amira yang sudah diduga oleh Rahma jika Amira bukan type wanita kebanyakan.
Biasanya jika wanita lain malah minta mahar mewah, pesta mewah dan ingin semua orang tau jika ia sudah menikah dengan seorang bangsawan, seorang miliader yang hartanya tak akan habis tujuh turunan.
"Baiklah, aku setuju. Dan karena kamu setuju, jadi manggilnya, Mas aja. Jangan Pak, okey," tutur Devano yang akhirnya tersenyum lega. Rasanya dadanya begitu plong dan tak terasa sesak seperti tadi.
"Iya, Mas," ujar Amira kaku.
"Nanti kalau udah kebiasaan, gak akan kaku lagi kok," ujar Devano yang mengerti jika Amira belum nyaman memanggil dirinya dengan sebutan Mas.
__ADS_1
Setelah Amira menerima lamaran Devano akhirnya mereka membahas tentang lamaran dan pernikahan mereka yang kurang dari satu bulan.
Devano juga akan meminta Amira secara baik-baik dengan keluarganya yang ada di Indonesia. Karena Amira sama seperti Rahma, besar di Indonesia dan Akhirnya menetap di Singapura