My Little Woman

My Little Woman
Pindah Sekolah


__ADS_3


Sepulang sekolah Rahma dan Della tak langsung pulang melainkan mereka memilih untuk pergi ke warung kecil yang ada di sebrang jalan sekolah.


"Rah, ada hal penting yang ingin aku omongin." Ujar Della setelah selesai makan mie goreng dan es teh.


"Ada apa del, kayaknya serius banget." Ucap Rahma.


"Iya, ini emang serius. Aku mau pindah sekolah."


"What! yang benar saja. Emang kenapa dan ada apa? Kenapa kamu harus pindah sekolah?" tanya Rahma kaget karena ia tak habis fikir bahwa sahabat satu satunya akan pindah sekolah.


"Ayah pengen aku sekolah di Jakarta.Oh ya kamu tau gak, sebenarnya aku bukan asli orang sini."


"Maksud kamu?" tanya Rahma tak mengerti.


"Sebenarnya ayahku asli orang Yogyakarta sedangkan Ibuku asli Jember. Dan setelah mereka menikah, ibuku ikut ayah ke Yogykarta hingga aku lahir dan sekolah SD disana. Tapi pas masuk SMP, ayah dan ibu memintaku untuk tinggal di Jember bersama nenek karena kakek ku meninggal karena serangan jantung. Awalnya aku gak mau tapi karena mereka maksa, mau gak mau aku pun harus nurut. Dan sekarang setelah 3 bulan lalu nenek meninggal, ayah lagi-lagi menyuruhku untuk pindah ke Jakarta."


"Terus kamu di Jakarta sama siapa?" tanya Rahma.


"Entahlah, mungkin aku akan ngekos disana."


"Kamu gak takut sendirian di Jakarta?"


"Takut tapi mau bagaimana lagi, ini perintah dari ayah dan aku gak bisa menolak."


"Kalau gitu, aku akan ikut kamu pindah ke Jakarta."


"Kamu serius?" tanya Della tak percaya.


"Iya aku serius. Kita akan pindah ke Jakarta. Nanti sepulang dari sini, aku akan bilang ke aby dan umy.


"Tapi mereka gak mungkin ngijinin kamu, mengingat kamu anak perempuan dan anak tunggal."


"Aku pasti bisa membujuk mereka. Kira kira kamu kapan mau pindah?" tanya Rahma.


"Mungkin besok aku akan mengurus semua surat pindahanku."


"Baiklah, besok aku juga akan mengurusnya."


"Kamu beneran mau ikut aku pindah sekolah ke Jakarta?"


"Iya kita kan sahabat, kemana-mana harus selalu berdua."


"Makasih ya."


"Sama-sama. Iya udah ayo pulang."


"Ayo."


Della dan Rahma pun pulang ke rumah masing-masing setelah selesai membayar makanannya. Sesampai di rumah, Rahma segera ganti baju dan setelah itu mereka pun pergi ke toko menumui aby dan umy yang lagi ada di sana untuk jualan baju. Rahma ke toko baju naik angkot karena memang jaraknya lumayan agak jauh sedangkan ia gak punya kendaraan di rumah. Jadi mau gak mau ia harus naik angkot.



Setelah sampai di toko, Rahma segera mengucap salam dan mencium tangan mereka berdua.


"Rahma sudah makan?" tanya umy yang sedang melempit baju.


"Sudah umy." Jawab Rahma yang lagi mikir bagaimana caranya untuk berbicara kepada aby dan umynya tentang dirinya yang ingin pindah sekolah.


"Ada apa sayang?" tanya umy yang merasa ada yang aneh dengan putrinya.


"Anu umy....."


"Kenapa, bicara aja. Umy gak mungkin marah."


"Iya nak, ada apa? Kalau ada masalah cerita sama umy dan aby." Ujar Sutrisno, ayahnya Rahma.


"Anu,,, Rahma ingin pindah sekolah." Ucap Rahma memberanikan diri.


"Emang kenapa? Kamu ada masalah di sekolah sampai harus pindah segala?" tanya aby hawatir.


"Bukan." Jawab Rahma.


"Terus?"


"Rahma ingin ikut Della yang juga pindah ke Jakarta."


"Kenapa Della pindah ke Jakarta?" tanya Maryani, ibunya Rahma. Maryani emang kenal dengan Della karena Rahma pernah beberapa kali mengajak Della main di rumah.


"Ayahnya yang memaksa Della untuk pindah umy. Dia di Jakarta sendirian. Rahma ingin menemaninya. Rahma gak mau jauh jauh dari Della bagaimana pun Della selalu ada buat Rahma. Bahkan Rahma sudah menganggap Della sebagai saudara Rahma sendiri." Jawab Rahma yang penuh harap.


"Tapi nak, kamu itu anak satu satunya kami. Bagaimana mungkin aby dan umy bisa melepas kamu pergi dan jauh dari ayah dan umy. Apa kamu tega meninggalkan aby dan umy sendiri? Lagian kamu belum pernah ke Jakarta, Jakarta itu keras nak." Ucap Sutrisno menasehati.


"Sebenarnya aku gak tega ninggalin aby dan umy. Tapi mau bagaimana lagi, di satu sisi aku juga ingin suasana yang baru. Lagian dengan aku sekolah di Jakarta, aku bisa mencari pengalaman yang berbeda dari yang sebelum-sebelumnya, aku juga bisa belajar mandiri dan gak melulu tergantung sama aby dan umy. Lagian aku di Jakarta kan sama Della, aku yakin insyaAllah aku dan Della jaga diri baik-baik." Ucapku yang berusaha membujuk aby dan umy berharap mereka mau menyetujui keinginanku.


"Sudahlah mas, izinkan saja putri kita untuk pindah sekolah. Mungkin dia ingin mencari pengalaman, toh Rahma juga sudah dewasa. Dia ngerti mana yang harus di jauhi dan mana yang harus di dekati. InsyaAllah anak kita tak mungkin salah jalan. Selama ini kita selalu mendidiknya dengan keras dan dia selalu di siplin dan menuruti semua keinginan kita. Mungkin saatnya kita harus melepas dia untuk mencari ilmu di kotanya orang." Ucap Umy yang selalu membela Rahma.


"Tapi dek, mas takut putri kita kenapa-napa. Dia putri kita satu-satunya."


"InyaAllah Rahma akan baik-baik saja. Kita bantu doa dari sini agar dimanapun Rahma berada, Allah selalu melindunginya."


"Baiklah, mas akan mengizinkan putri kita" Ucap Sutrisno mengalah, walau sebenarnya hatinya sangatlah berat.


"Terus kapan kamu mau pindah sekolah nak?" tanya Maryani.

__ADS_1


"Besok aku dan Della akan mengurus surat pindahannya umy."


"Baiklah umy dan aby akan selalu mendukung apapun keputusan kamu nak, jagalah diri baik baik."


"Makasih umy." ucap Rahma yang langsugn memeluk umy nya dengan penuh cinta dan kasih sayang.



Keesokan harinya, Rahma dan Della mengurus surat pindahannya. Banyak guru yang kaget dan tak menyangka murid yang sangat berprestasi seperti mereka harus pindah sekolah. Sangat di sayangkan sekali, padahal Rahma dan Della adalah muris kebanggan sekolah  tapi apalah daya, semua guru tak bisa mencegah kepergian  mereka bagaimanapun Rahma dan Della punya hak untuk mengajukan pindah sekolah.


Pak Go pun yang mendengar Rahma akan pindah sekolah merasa seperti ada yang hilang dalam dirinya. Pak Go pun berjanji akan ikut pindah mengajar ke tempat di mana Rahma akan sekolah. Ia tak mau jauh jauh dari Rahma yang diam-diam sudah mencuri hatinya.


Setelah selesai mengurus surat pindah, Della dan Rahma segera pergi ke kelas untuk minta maaf ke teman-temannya mungkin selama mereka bersama, Della dan Rahma pernah melakukan kesalahan baik di sengaja maupun tidak di sengaja.  Setelah hampir lima belas menit, saling maaf-maafan. Della dan Rahmapun pamit. Teman-temannya pun ada yang menangis, mereka tak menyangka akan berpisah dengan Rahma dan Della.


"Rah, makasih ya kamu sudah mau ikut aku untuk pindah sekolah." Ujar Della saat mereka sudah meninggalkan sekola dan pergi menuju rumah Rahma.


"Iya gak papa, kita ini kan sahabat jadi kemanapun kamu pergi, aku akan ikut. Senang susah harus bersama. Lagian aku juga sudah lama sekali ingin ke Jakarta." Ucap Rahma tersenyum. Della sangat bersyukur karena mempunyai sahabat yang begitu baik terhadapnya.


Sesampai di rumah.Rahma, aby dan umynya menungu. Mereka sengaja gak ke toko karena ingin melihat putrinya sebelum berangkat ke Jakarta.


"Ini baju dan semua perlengkapan kamu sudah umy masukkan ke dalam tas." Ucap umy sambil meneteskan air mata, berat rasanya melepas putrinya untuk pergi jauh tapi sebagai orang tua dia tak ingin egois. Ia gak mau terlalu mengekang putrinya.


"Makasih ya umy, aku langsung pergi ke rumah Della dan setelah itu langsung ke stasiun." Ujar Rahma yang memang mengejar waktu karena kalau naik kereta telat satu menit aja sudah hangus tiketnya. Rahma dan Della sudah memesan tiket tadi malam dan sekarang mereka tinggal berangkat.


"Iya sayang, kamu hati hati ya di sana. Nanti masalah uang akan umy transfer tiap bulan." Ucap umy.


"Iya umy." Ucap Rahma sambil memeluk umy nya. Dan setelah itu gantian memeluk abynya.


"Aby, jaga umy ya. Kalau ada apa apa, segera telfon Rahma." Ujar Rahma sambil menangis.


"Iya nak, kamu juga di sana jaga diri baik-baik. Jangan lupa sholat lima waktunya. Banyak banyak ngaji dan jangan sampai salah bergaul. Cari teman yang baik yang bisa mengingatkan kamu ketika kamu salah jalan. Bukan teman yang malah menjerumuskankmu dalam jurang yang hina dan nista." Ucap aby menasehati.


"Iya aby, aku akan selalu ingat pesan aby. Kalau gitu, Rahma pamit dulu." Ujar Rahma sambil mencium tangan mereka. Sedangkan Della hanya mencium tangan umynya Rahma.


"Tante, Della pamit dulu." Ujar Della tersenyum ramah.


"Iya nak, kami titip Rahma ya. Jangan bertengkar."


"Iya tante. Om, aku pamit ya." Ujar Della tanpa berjabat tangan dengan ayahnya Rahma karena memang ayahnya Rahma tak mau bersentuhan dengan wanita yang tak halal baginya.


"Kamu jaga diri baik baik. Ingat sholat lima waktunya jangan sampai bolong."


"Iya om, insyaAllah untuk sholat gak akan aku tinggalkan. Kalau gitu Della pamit dulu. Assalamu'alaikum." Ujar Della.


Setelah itu Rahma dan Della pun pergi ke rumah Della untuk ambil baju dan setelah itu pergi ke stasiun. Della tak perlu pamit karena ia tinggal sendiri di rumah itu sejak neneknya meninggal. Sedangkan orang tuanya masih ada di yogyakarta.


Setelah sampai di stasiun, mereka pun langsung mendaftar dan setelah itu masuk ke dalam. Tak lama kemudian kereta berhenti tepat di depannya. Rahma dan Della pun segera masuk ke dalam kereta, mereka naik ke gerbong 3 nomer 3D dan 3E. Rahma dan Della duduk berdua karena memang yang memesan tiketnya tadi malam Della setelah Rahma menelvon dirinya dan mengatakan akan ikut ke Jakarta. Della emang pernah beberapa kali naik kereta jadi dia tau dan faham betul bagaimana memilih kursi agar bisa duduk berdua.


Selama di dalam kereta Della dan Rahma mengobrol apa aja, mereka membahas tentang kehidupan mereka nantinya di Jakarta. Hingga tak terasa setelah beberapa jam di dalam kereta akhirnya mereka tiba juga di Jakarta.


Della segera membuka hp nya dan mencari kos kosan di tempat yang akan mereka tuju. Setelah menemukan tempat yang pas dan nyaman, Della langsung memesan taxi online. Tak butuh waktu lama, taxi pun datang. Rahma dan Della segera masuk ke dalam taxi dan pergi menuju kota dimana mereka akan tinggal.


"Ini benar kosannya?" tanya Rahma.


"Iya benar." Jawab Della.


"Bentar ya, aku ke rumah ibu kos dulu." Ujar Della, Rahma hanya menganggukkan kepala saja. Karena ia emang tak tau harus berbuat apa, sedangkan Della seperti orang yang sudah berpengalaman hingga ia tau apa yang harus ia lakukan.


Setelah 15 menit menunggu, Della datang membawa kunci.


"Ini kuncinya kamu, sedangkan ini kunci milikku. Kamar kamu ada di sebelah kamarku." Ucap Della tersenyum.


Della dan Rahmapun pergi ke kamar masing masing. Rahma melihat isi kos kosannya, walau sempit tapi lumayan bagus. Cuma ada tempat tidur dan kamar mandi. Tak ada dapurnya karena memang tempatnya sangatlah sempit. Fasilitasnya alhamdulillah ada rak buku, kasur dan lemari baju. Setelah selesai bersih-bersih, Rahma memutuskan untuk segera mandi dan sholat. Untunglah umy sigap dan pengertian sehingga Rahma tak perlu keluar lagi untuk membeli keperluannya karena di dalam sudah lengkap, baju, mukenah, buku tulis dan alat alat sekolah lainnya dan juga perlengkapan mandi seperti sabu, pasta gigi, sikat gigi, sampo. Bahkan alat alat make up nya juga di bawakan. Rahma sangat bersyukur mempunya ibu sebaik umy nya.


Setelah selesai sholat, Rahma ingin merebahkan tubunya di atas kasur, tapi baru saja mau tidur tiba-tiba saja ada ketokan pintu. Rahma pun segera membukannya.


"Rah, ini makanan tadi aku beli buat kamu. Kamu makan dulu ya biar gak sakit setelah itu langsung istirahat. Aku juga mau istirahat. Besok kita harus bangun pagi pagi untuk daftar sekolah." Ujar Della.


"Iya Del. Makasih ya makanannya."


"Iya sama sama."


Setelah Della pergi, Rahma segera menutup pintunya dan menguncinya dari dalam. Setelah itu, ia pun makan makanan yang di belikan oleh Della.



Keesokan harinya, Rahma bangun jam 3 pagi. Seperti biasa ia sholat malam dan setelah itu ngaji sambil nunggu adzan shubuh tiba. Setelah adzan shubuh, Rahma pun segera melaksanakan sholat shubuh dua rakaat. Selesai sholat, ia ke kamar Della dan mengajak Della untuk jalan jalan pagi sampai jam setengah enam dan setelah itu mereka balik ke kosan untuk mandi dan siap siap untuk berangkat sekolah.


Tepat jam 6 lewat 15 menit, Della dan Rahma pun sudah siap. Sekolah mereka tak jauh dan hanya perlu jalan kaki saja.


"Rah, kita berhenti di warung itu dulu ya. Kita beli makanan dulu, gak baik sekolah jika perut belum terisi." Ujar Della. Rahma pun hanya mengiyakan saja.


Rahma dan Della memesan nasi pecel dan air putih saja karena mereka harus berhemat. Karena bagaimanapun mereka tinggal di Jakarta tanpa adanya keluarga dan di Jakarta semuanya serba mahal. Jadi mereka harus pintar pintar mengelola uang mereka sampai tiba waktunya orang tuanya ngirim uang.


Selesai makan, Della dan Rahma langsung pergi ke sekolah dan bertemu dengan Pak Kepala Sekolah. Mereka di terima tanpa tes apapun. Dan hari itu juga mereka langsung bisa masuk sekolah dan mereka juga tak perlu beli seragam baru karena seragam sekolah yang kemaren sama yang sekarang ternyata sama. Della dan Rahma sangat bersyukur akan hal itu.


Teman teman di sekolah yang baru pun sangat welcome terhadap Rahma dan Della sehingga membuat Raham dan Della sangat betah di sana karena di sekolah yang baru itu tak ada kata bully membully. Tapi walau bagaimanapun Rahma dan Della harus tetep jaga sikap mereka di hadapan semua teman temannya terutama gurunya.


----------------


Setelah satu minggu sekolah, semuanya berjalan biasa aja. Rahma dan Della sangat menikmati hari hari mereka. Setiap malam Rahma juga menelvon aby dan umynya yang ada di Jember.


Jujur, setelah satu minggu ia pindah sekolah. Rahma merasa sangat rindu kepada Pak Go. Biasanya ia selalul melihat wajah Pak Go tiap hari tapi sejak ia pindah sekolah, ia tak lagi bisa bertemu dengan guru yang sudah membuat hatinya berdebar debar.  Ia hanya bisa berdoa agar tuhan segera mempertemukan dirinya lagi dengan Pak Go agar rasa kangen yang ada di hati Rahma bisa terobati.


"Kamu kenapa Rah? Kog bengong terus?" tanya Della yang saat ini ada di kamar Rahma untuk mengerjakan tugas.

__ADS_1


"Gak papa, aku hanya kangen sama sekolah kita yang dulu." Jawab Rahma setengah jujur karena tak mungkin ia bilang kalau dirinya kangen sama Pak Go.


"Aku juga tapi mau bagaimana lagi sekarang kita sudah mempunyai sekolah yang baru. Sabar ya." Ucap Della menenangkan hati Rahma.


"Iya."


Setelah mereka selesai mengerjakan tugas, Della kembali ke kamar untuk istirahat karena besok harus sekolah lagi.


-------------------------------------


Hari ini Della dan Rahma sudah siap siap untuk berangkat sekolah. Rahma dan Della memutuskan untuk sarapan pagi di kantin aja karena mereka sudah sedikit bosan makan di warung melulu. Mereka berdua ingin sesuatu yang berbeda. Toh harga di kantin juga tak terlalu mahal dan hampir sama aja dengan yang harga yang ada di warung.


Setelah selesai sarapan pagi di kantin, mereka pun pergi ke kelas. Namun sampai di kelas, anak anak sudah heboh.


"Ada apa sih Li, kog rame gitu?" tanya Della kepada Dahlia yang akrab di panggil Lia.


"Ada guru baru di sekolah ini, cowok. Dan dia sangat tampan." Jawab Lia yang tersenyum bahagia.


"Oh tak fikir ada apa." Jawab Della yang langsung duduk di kursi depan bersama dengan Rahma.


Setelah bel berbunyi, semua anak anak berhamburan masuk ke dalam kelas. Della dan Rahma sibuk cerita cerita tentang apa aja yang penting gak membicarakan keburukan orang lain. Namun saat mereka lagi asyik cerita, tiba tiba seorang guru tampan hadir di depan kelas dengan sangat percaya diri.


"Pak Go." Ucap Della dan Rahma hampir bersamaan.


"Ngapain dia ada di sini?" tanya Rahma.


"Jangan-jangan dia guru baru seperti yang di ucapkan oleh Lia tadi." Jawab Della.


"Dia pindah ngajar di sini juga?" tanya Rahma.


"Entahlah tapi sih iya. Apa dia ngikutin kita ya ke sini?" tanya Della.


"Masa sih ngikutin kita? Emang kita pernah ngasih tau mau pindah sekolah di mana?" tanya Rahma.


"Pernah saat kita minta surat pindah itu, kan kepala sekolah sempat nanya ke kita mau pindah sekolah di mana? Terus aku jawab di Jakarta, sekolah XX.  Terus saat aku jawab gitu, ada Pak Go. Dan mungkin Pak Go denger ucapanku." Jawab Della.


"Masa sih Pak Go rela pindah demi kita?" tanya Rahma.


"Entahlah aku juga tak tau. Mungkin dia juga pindah ke sini karena ada hal penting yang harus dia urus di sini. Sudahlah tak perlu di fikirkan." Jawab Della santai.


Rahma hanya menganggukkan kepala tapi jujur di dalam hati ia sangat bahagia karena akhirnya bisa bertemu lagi dengan Pak Go, pria idamannya. Memang jodoh itu tak kan kemana. gumam Rahma tersenyum.


Pak Go menatap ke arah Rahma sejennak dan setelah itu ia memperkenalkan dirinya di hadapan semua murid. Saat ia memperkenalkan dirinya, banyak murid perempuan yang meminta nomernya tapi Pak Go memilih cuek. Setelah memperkenalkan dirinya, Pak Go pun segera mengajar materi bahasa inggris di jam pertama. Karena memang hanya lowongan itu yang tersedia. Pak Go bersyukur di saat ia ingin mengajar di sekolah ini ternyata ada lowongan untuk guru bahasa inggris. Pak Go yang memang mahir bahasa inggris pun di terima di sekolah itu yang akhirnya ia bisa bertemu lagi dengan Rahma.



Setelah dua bulan sekolah di sana, Rahma sangat bersemangat untuk sekolah karena setiap hari ia bisa bertemu dengan Pak Go apalagi ketika ia tau kalau sebenarnya Pak Go itu emang orang Jakarta yang memilih menetap di Jember sambil buka usaha di sana.  Dan sekarang Pak Go kembali lagi ke Jakarta sambil mengajar di sekolahnya.


Padahal tanpa sepengetahuan Rahma, sebenarnya Pak Go itu udah betah mengajar di Jember apalagi ia sempat membeli rumah baru di sana tapi karena Rahma pindah ke Jakarta, mau gak mau ia harus kembali ke rumahnya dan meneruskan usahanya yang kini sudah maju dan berkembang pesat sedangkan usaha yang ada di Jember, ia percayakan kepada asistennya atau tangan kanannya.


"Del, gimana jika kita mencoba untuk melamar kerja di sana?" tanya Rahma setelah sepulang sekolah ia melihat ada lowongan pekerjaan di sebuah resto yang tak jauh dari sekolah dan juga kosannya.


"Buat apa melamar kerja. Kita kan masih sekolah?" tanya balek Della.


"Ya kan sekolah nya pagi sampai siang Dell. Sedangkan ini kerjanya dari jam 4 sore sampai jam 10 malam. Mau gak? Kalau gak mau biar aku aja deh yang mendaftar. Siapa tau di terima." Jawab Rahma.


"Iya udah deh, aku mau nyoba juga. Buat nambah nambah uang jajanku hehe." Ujar Della tersenyum.


"Kamu tuh fikirannya cuma jajan melulu." gumam Rahma.


Setelah berada di dalam resto


"Assalamualaikum." Ucap Rahma sopan.


"Waalaikumsalam. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang wanita tak kalah ramahnya.


"Tadi saya melihat di depan pintu ada lowongan pekerjaan. Apakah masih  ada?" tanya Rahma.


"Oh masih dek. Apakah adek adek ini mau melamar kerja di sini?" tanya dia.


"Iya." Jawab Rahma.


"Iya sudah, ayo ikut saya ke ruangan pak manager. Kebetulan pak manager baru aja datang."


Rahma dan Della pun mengikuti langkah dia.


tok tok (wanita itu mengetok pintu ruangan manager)


"Masuk." Ujar seseorang dari dalam ruangan.


Wanita itu pun segera membuka pintu dengan pelan.


"Maaf pak, saya ganggu." Ucap perempuan itu gugup.


"Ada apa?" tanya laki laki itu sambil duduk di kursi kebesarannya.


"Ada dua orang wanita yang ingin melamar kerja di sini." Jawab pelayan itu gugup karena aura dingin dari manager itu.


"Suruh mereka masuk dan kamu bisa kembali bekerja." Ujar manager itu tanpa ada ramah tamahnya sedikitpun.


Wanita itu segera meminta Rahma dan juga Della untuk masuk ruangan sedangkan dirinya segera pergi dari ruangan itu.


Saat Rahma dan Della masuk ruangan itu betapa terkejutnya mereka melihat laki laki yang ada di sana.


"Pak Go." Ucap Rahma dan Della berbarengan.

__ADS_1




__ADS_2