My Little Woman

My Little Woman
Kesediaan Amira Menerima Permintaan Devano


__ADS_3

Keesokan harinya, Devano berangkat kerja seperti biasa, begitupun dengan Gofur yang juga sudah mulai aktiv mengelola perusahaannya. Darma pun juga sudah berangkat kerja sedari tadi, ia berangkat dengan di antar oleh sopir.


Sedangkan Rahma sendiri, ia menghabiskan waktu berdua dengan Dania di rumah, karena Rahma sendiri belum masuk kuliah dan ia akan menunggu kakakknya untuk membujuk sekertarisnya agar bisa menemani dirinya kuliah. Ia sadar dirinya egois, tapi entah kenapa ia ingin dekat dengan Amira dan ingin menjadikan wanita itu sebagai kakak iparnya.


Di kantor, Devano hanya duduk santai di ruangannya, ia bingung bagaimana caranya ia berbicara dengan sekertarisnya itu, masalahnya ini bukan menyangkut masalah perusahaan. Akankah wanita itu akan menerima permintaannya ataukah menolak permintaannya. Jika ia sampai menolaknya, bagaimana ia akan menjelaskan kepada adik kesayangannya itu. “Aku gak boleh sampai mengecewakan Rara, ia jarang minta sesuatu, maka hanya hal seperti ini, aku tak bisa memenuhinya,” gumam Devano dalam hati.


Ia pun menelfon Amira dan tak lama kemudian Amira pun datang.


“Ada apa ya, Pak?” tanya Amira bingung, pasalnya Devano gak akan memanggil dirinya jika gak ada hal penting.


“Saya ingin bicara sama kamu, duduklah,” ujar Devano sambil berdehem. Amira pun langsung duduk sesuai perintah Devano.


“Amira, aku membutuhkan bantuanmu, aku gak tau kamu bisa bantu aku apa enggak, tapi jujur saat ini, hanya kamu yang bisa bantu aku. Kita bicara anggap aja sebagai teman, bukan sebagai atasan dan bawahan. Jadi untuk saat ini, kamu tak perlu manggil aku dengan sebutan pak, karna kita tak lagi membahas masalah perusahaan. Sebenarnya aku bisa saja menggunakan kekuasaanku agar kamu tunduk sama perintahku. Tapi aku tak mau melakukan hal itu, aku ingin kita bicara dari hati ke hati,” ujar Devano berbicara dengan lembut. Sedangkan Amira, ia mendengarkan dengan serius.

__ADS_1


“Amira, maukah kamu ….” Devano masih ragu untuk meneruskannya. Sedangkan Amira mulai menerka-nerka. “Apakah Pak Devano mau melamarku, tapi itu gak mungkin. Bagaimana mungkin seorang Devano yang tampan, cerdas, seorang CEO dan mempunyai kekayaan yang tak akan habis tujuh turunan akan melamar dirinya yang hanya seorang rakyat jelata,” ucap Amira dalam hati.


“Amira, maukah kamu kuliah lagi,” ulang Devano yang membuat Amira kaget. Bagaimana dirinya gak kaget jika Devano meminta dirinya kuliah lagi. Mana bisa, sedangkan dirinya saat ini harus kerja dan cari uang dan ia juga tak minat untuk belajar lagi, ia hanya ingin kerja dan mengumpulkan banyak uang. Lagian ia tak ada uang buat kuliah lagi, terlebih dirinya yang sudah tak punya minat untuk duduk di bangku kuliah.


“Amira kamu mau kan?” tanya Devano sambil menatap Amira.


“Maaf ya, Pak. Tapi saya menolak untuk kuliah lagi,” jawab Amira tegas, lagian atasannya ini mimpi apa sih sampai meminta dirinya kuliah lagi, ada-ada aja.


“Pak saya itu sekarang lagi fokus sama pekerjaan saya, saya ingin mengumpulkan banyak uang, kenapa saya malah di suruh kuliah lagi?” tanya Amira yang tak mengerti dengan jalan fikiran atasannya itu.


“Amira, kamu jangan khawatir masalah gaji. Aku bisa gaji kamu dua bahkan tiga kali lipat. Aku akan menggaji kamu setiap awal bulan. Dan masalah kuliah, kamu cukup kuliah dan menemani adikku, kamu gak usah bayar apapun, kamu cukup menerima materi dari dosen dan mengajari adikku, jika ia tak tau dan kurang mengerti apa yang di terangkan oleh dosen,” ucap Devano menjelaskan.


“Jadi Pak Dev melakukan ini karena Rahma, Adeknya Pak dev?” tanya Amira memastikan.

__ADS_1


“Iya, kemarin dia meminta padaku, kalau dia ingin kuliah sama kamu. Dia ingin kamu menjadi temannya karena dia merasa nyaman sama kamu. Amira, kamu tau sendiri bagaimana nasib adikku selama ini? Aku hanya ingin membahagiakannya, apa aku salah jika aku ingin memenuhi permintaannya. Aku tau aku egois, karna aku sudah mengorbankan perasaan kamu demi adik aku, tapi kamu tetap bekerja kok, masalah file kamu bisa mengerjakan semuanya di rumah, jadi kamu bukan lepas dari tanggung jawab kamu, hanya saja pekerjaan kamu nambah dengan menjadi seorang mahasiswi,” sahut Devano.


Amira menimbang-nimbang, sejujurnya ia malas untuk kuliah lagi, tapi ia juga tak mungkin mengecewakan permintaan Rahma yang mengingikan dirinya untuk menjadi temannya di kampusnya.


“Baiklah, saya menerimanya. Kapan saya bisa daftar kuliah?” tanya Amira. Devano yang mendengarnya pun akhirnya bernafas lega.


“Masalah daftar kuliah, kamu cukup kirimkan file kamu ke email aku, nanti biar aku yang urus. Dan jika sudah waktunya masuk kuliah, aku akan mengatakannya. Terima kasih ya, aku gak tau harus bagaimana untuk bisa membayar semua kebaikan kamu,”


“Gak usah bilang terima kasih, saya tulus membantu Pak Dev dan Non Rahma. Jika sudah selesai, saya pamit undur diri karena masih ada banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan.”


“Baiklah, kamu boleh keluar,” ujar Devano tersenyum.


Dan setelah itu, Amira pun langsung undur diri dari ruangan Devano. Setelah kepergian Amira, Devano langsung menelfon adiknya yang sudah menunggu dirinya dari tadi, ia yakin Rahma sudah gak sabar untuk tau jawabannya apakah Amira menolaknya atau menyetujui keinginannya.

__ADS_1


__ADS_2