My Little Woman

My Little Woman
Devano di Indonesia


__ADS_3

Devano sampai juga di Indonesia, ia tidak membawa pengawal atau apapun, karena ia tak mau terlalu mencolok bahkan ia menggunakan baju biasa walaupun bermerk tentunya karena ia tak mungkin menggunakan baju kaos biasa yang seharga di bawah satu juga. Semua yang ia pakai untuk saat ini aja bisa mencapai ratusan juta.


Devano tak langsung pergi ke rumah orang tua Gofur, ia pergi ke hotel miliknya yang ada di Indonesia sambil ia melihat para pegawai yang bekerja di sana. Seperti biasa jika ia pulang ke Indonesia, pastinya ia akan memilih hotel miliknya dan tidur di kamar VVIP nomer satu. Kamar yang tak boleh di tempati oleh siapapun kecuali dirinya karena kamar itu di desain sesuai keinginannya.



Walaupun Devano tak lahir di Indonesia, namun ia cukup tau karena dari dulu, ia sering ke Indonesia sekedar liburan atau datang untuk masalah pekerjaan. Andai dia tak pergi ke Indonesia dulu, mungkin sampai detik ini ia tak akan bertemu dengan adik kandungnya.



Devano menikmati hidup, ia melihat lihat hotelnya dan semuanya sempurna, semuanya berjalan sesuai yang ia harapkan. Yah, mungkin Devano selalu memperkerjakan pegawai yang professional hingga tak ada kesalahan apalagi sampai ada yang korupsi, jangan harap. Karena jika ada, maka Devano akan turun tangan dan memberikan hukuman yang tak akan pernah bisa di lupakan seumur hidup.



Kadang jika sudah menyangkut masalah pekerjaan, Devano berubah menjadi kejam tapi jika sudah menyangkut masalah keluarga, kadang ia bisa lembut dan mellow.



Setelah puas melihat hotel dan melihat semua cara kerja karyawan dan bagian keuangan, Devano pun kembali ke kamar sejenak untuk istirahat. Sejam kemudian ia bangun dan langsung mandi.



“Baiklah hari ini aku jalan-jalan dulu sebelum besok aku pergi ke rumah orang tua Gofur untuk melihat adikku dan merecoki liburan mereka hehe,” Gofur tertawa sendiri sambil berjalan ke luar hotel.



Ia memakai mobil hotel, mobil yang selalu ia pakai jika mau bepergian. Walaupun ia ada di Singapure, namun mobil ini selalu di rawat dan selalu di cek setiap bulannya. Sehingga saat ia ingin memakainya, ia bisa tenang dan tak takut jika mobil akan mogok di tengah jalan.



Devano jalan-jalan menikmati kulineran di pinggir jalan, walaupun anak orang kaya, tapi tidak selamanya ia suka makan di resto bintang lima. Ada kalanya ia juga ingin mencicipi makanan di pinggir jalan, selama tempatnya bersih dan higenis, dan makannnya enak, maka ia tak akan sungkan untuk membeli makanan di sana. Apalagi harganya yang sangat murah meriah membuat Devano merasa enak dan puas makannya. Tapi Devano selalu bayar lebih, sesekali membantu orang yang berjualan di pinggir jalan.



Setelah puas jalan-jalan dan mencicipi jajan di warung kaki lima, ia pun kembali ke hotel dan membuka laptop untuk siap-siap menyelesaikan pekerjaannya.



Devano bersyukur ia bisa hidup dengan tenang tanpa ada Dita yang selalu mengganggunya. Ia kadang menyesal pernah menyukai wanita yang kini ia benci. Wanita tak tau malu dan selalu ingin dekat dengannya kayak ulat bulu.


__ADS_1


Saat ia asyik bekerja, tiba-tiba HP nya berbunyi ternyata dari sang mama tercinta.



“Assalamualaikum, Ma,” sapa Devano lebih dulu.



“Waalaikumsalam. Kamu itu ya sudah sampai gak menghubungi Mama, ada dimana sekarang?” tanya Dania yang terlihat sangat kesal sekali.



“Ada di hotel Ma. Maaf aku lupa menghubungi Mama karena tadi sesampai di hotel, aku langsung ngecek semua karyawan dan keuangan serta pekerjaan mereka, lalu lanjut aku jalan-jalan sambil kulineran. Dan nih sekarang aku sudah ada di kamar dan lagi bekerja. Maaf ya,” ujar Devano dengan suara lembut.



“Kamu belum menemui adek kamu?” tanya Dania lagi tanpa mengubrik permintaan maaf putranya.



“Belum, Ma. Rencana besok pagi aku mau ke sana setelah selesai sarapan,” jawab Devano sambil matanya focus melihat ke arah layar laptop yang menyala.




“Wah berani juga dia ke rumah,” ucap Devano.



“Ya, tadi mama dan papa yang menemuinya. Ia datang untuk cari kamu. Tapi ya mama bilang kalau kamu gak ada dan pergi ke luar negeri. Terus dia tanya, luar negeri mana, Mama gak jawab. Sedangkan Papa bilang rahasia. Akhirnya Dita pulang dengan wajah di tekuk mungkin kecewa karena Mama dan Papa gak ngasih tau keberadaan kamu ke dia.” Dania berbicara panjang lebar dan membahas kedatangan Dita tadi yang datang ke rumahnya.



“Huefft makin hari dia emang makin menyebalkan,”



“Kayaknya dia tergila-gila sama kamu deh Dev,”


__ADS_1


“Sayangnya aku sudah gak suka dia lagi, andai dulu dia datang di saat aku menyukainya, mungkin aku akan menerimanya dengan senang hati. Sayangnya dia datang di saat aku sudah tau watak dan sifat aslinya, dan aku gak mau menjalin hubungan dengan wanita yang gak bisa menghargai orang lain dan suka semena-mena,”



“Ya, Mama juga kurang srek jika kamu menikah dengannya. Entahlah, walaupun tadi dia datang cukup sopan tapi Mama juga merasa, dia kurang pantas jika bersanding dengan kamu. Mama harap kamu mendapatkan wanita yang pantas untuk ada di sisi kamu, tak peduli dia dari kalangan mana, tak peduli dia miskin atau kaya, tapi selama dia bisa membuat kamu nyaman, bisa menghargai yang lain, gak suka neka-neko dan taat pada Tuhan, Mama pasti akan dukung,”



“Iya, Ma. Doakan aja semoga aku segera menemukan wanita seperti yang mama mau biar mama cepet gendong cucu hehe,”



“Iya, Mama dan papa juga sudah gak sabar pengen gendong cucu. Mama harap adek kamu segera hamil agar bisa merasakan jadi Nenek, dan kamu pun juga segera menikah agar Mama juga bisa menggendong cucu dari kamu,”



“Iya semoga dalam waktu dekat, keinginan Mama terkabulkan ya,”



“Semoga aja, Dev. Iya sudah kamu kan lagi sibuk, mama matikan dulu ya, kamu hati-hati di sana dan mama titip adek kamu juga, mama selalu khawatir sebenarnya kalau jauh dari dia. Mama takut adek kamu itu kenapa-napa lagi,”



“Mama tenang aja, aku sudah menyuruh orang untuk selalu memantau Rara dari jarak jauh, sehingga Rara akan selalu terlindungi. Mama jangan khawatir, aku pasti akan menjaganya sebisa dan semampu aku,” ujar Devano meyakinkan mamanya agar tak khawati berlebihan. (Rara, sebutan dari Rahma)



“Ya, Mama percaya sama kamu, kamu pasti akan jaga adek kamu, Mama tutup dulu telfonya ya,”



“Iya, Ma.”



“Assalamualaikum,”



“Waalaikumsalam.”

__ADS_1


Setelah itu, Devano pun menaruh hp nya. Namun baru aja ia mulai focus lagi bekerja, ada pesan masuk dari Dita, namun tak ia hiraukan hingga akhirnya Dita menelfonnya tapi tetap tak ia angkat. Biarkan saja lah, sesekali ia tak menghiraukannya karena jika terus di ladeni, maka Dita akan selalu menjadi pengganggu untuknya.


__ADS_2