My Little Woman

My Little Woman
Curahan Hati Amira Di Atas Ranjang


__ADS_3

Jam 10 malam, Devano dan Amira pun siap siap untuk tidur setelah sebelumnya, Amira menata baju bajunya ke dalam lemari dengan di bantu oleh bibi, sedangkan Darma dan Dania, mereka sudah tidur bahkan sebelum mereka pulang. "Sayangg, kamu pengennya aku tidur di sini atau di kamar lain?" tanya Devano..


"Kenapa harus pisah kamar, Mas. Kita kan sudah jadi suami istri, jadi gak papa kan kalau kita berbagi ranjang atau mas yang tak mau satu ranjang denganku?" tanya balik Amira dengan penuh selidik.


"Eh, aku mau. Sangat mau loh, mana mungkin aku nolak tidur satu ranjang denganmu. Aku nanya gitu, karena aku menghormatiku, karena aku tak mau kamu risih tidur dengan seorang laki laki, walapun laki laki itu kini telah berstatus jadi suamimu," ucapnya memberitahu.


"Mungkin awal awalnya risih, tapi lama kelamaan pasti akan terbiasa. Mas, jangan khawatir, aku aku gak papa. Lagian jika mas tidur di kamar lain, terus gimana pendapat mama dan papa jika tau hal ini, masa iya pengantin baru tidurnya pisah," ujarnya.


"Iya juga sih, iya sudah, kita tidur satu ranjang ya,"

__ADS_1


"He'em."


Dan setelah itu, Devano dan Amira pun naik ke ranjang mereka, ranjang yang cukup luas bahkan bisa menampung 7 orang sekaligus karena sangking luasnya.


"Mas," sapa Amira yang belum tidur.


"Hmm?" jawabnya dengan mata yang sudah tertutup tapi sebenarnya ia belum juga tidur.


Devano yang belum tidur dan hanya pura pura memejamka mata pun mendengarkan semua curahan hati istrinya itu.

__ADS_1


"Aku tidak tau niat Mas Dev menikahiku itu apa, walaupun sebelumnya Mas Dev udah menceritakan semuanya ke aku, tapi jujur hatiku sedikit ragu untuk mempercayai apa yang pernah Mas Dev ucapkan sama aku waktu itu. Tapi apapun itu, aku harap, kita bisa saling menerima satu sama lain, dan bisa membangun keluarga yang sakinah mawadah dan warohmah. Dan tentu aku berharap  ke depannya, kita bisa saling menyayangi dan mencintai satu sama lain. Karena rumah tangga tanpa cinta, pasti akan terasa hampa. Dan karena Mas Dev sudah jadi suami aku, aku harap Mas Dev bisa jaga diri, karena jujur aku ini orangnya pencemburu, aku gak suka apa yang sudah  jadi mililk aku di sentuh apalagi di miliki oleh orang lain, ya seperti itulah aku, aku kadang bisa aja egois kalau punyaku di ambil orang lain," oceh Amira yang sudah menganggap suaminya itu tidur karena ia melihat suaminya yang sedari tadi memejamkan mata tanpa tau kalau suaminya masih terjaga dan maish  mendengarkan curahan hatinya.


"Capek juga ya ngomong sendiri, huffttt boleh gak sih aku natap wajah suamiku sendiri, gak papa kali ya, kan aku sudah jadi istrinya, jadi aku berhak kan menyentuh Mas Dev semau aku," ucapnya sambil mengubah posisi tidurnya yang tadinya terlentang, sekarang berubah menyamping dan berhadapan dengan Devano yang tidur terlentang.


Amira menyentuh hidung, pipi, alis, dagu, bibir secara bergantian.


"Kenapa Mas lahir begitu sempurna, lahir dari orang tua yang sangat kaya raya, hidup lebih dari kata cukup, bahkan jika ingin  sesuatu, mungkin tinggal main tunjuk aja, tidak sepertiku yang ingin sesuatu harus berusaha keras. Mempunyai orang tua yang begitu menyayangi Mas Dev dan juga punya keluarga yang penuh dengan kehangatan. Bukan hanya itu, Mas Dev juga punya fisik yang begitu sempurna, tegap, tinggi, dada yang bidang, perut kotak kotak, kulit yang putih mulus, tangan yang kekar, bulu alis yang ckup tebal dan terbentuk dengan begitu sempurna, alis yang tebal dan melengkung ke atas, hidung yang mencung, bibir tipis yang kadang bisa menggoda kaum hawa, dan rahang yang tegas. Serta rambut yang lebat dan hitam. Semuanya begitu mempesona. Dan lagi Mas Dev di lahirkan dengan otak yang sangat cerdas, bagaimana tidak cerdas jika Mas Dev bisa memimpin peursahaan yang cukup besar itu, padahal jika salah ambil keputusan aja mungkin akan berakibat fatal dan menyebabkan kebangkrutan. Huefftt dari semua yang aku sembutkan, membuatku kadang merasa semakin mengecil saja, Mas Dev yang begitu sempurna dan aku yang hanya seorang wanita miskin dengan wajah pas pasan dan otak yang terak terlalu pintar."


"Tapi dengan aku menikah dengan Mas Dev, setidaknya aku bisa memperbaiki keturunanku kan ya hehe. Karena jika kelak aku hamil dan melahirkan, tentu anakku akan cantik dan ganteng seperti papanya. Dan juga punya otak  cerdas seperti papanya juga. Aish, kenapa aku malah memikirkan anak sih, buat aja belum. Otakku kadang rada rada eror. Sudahlah lebih baik aku tidur aja, biar besok bisa bangun lebih awal," gumamnya yang masih di dengar oleh Devano karena sangking dekatnya.

__ADS_1


Sebelum benar benar tidur, Amira bahkan dengan lancangnya, mencium dahi dan pipi suaminya. Setelahnya, ia langsung menyingkir dan menjaga jarak. Bahkan ia masih sempat sempatnya menaruh bantal guling di tengah tengah mereka.


__ADS_2