
Habis makan, mereka pun keliling ruangan, semua karyawan hanya diam aja memperhatikan Amira dan Rahma yang sedang jalan ke sana kemari.
"Kenapa mereka gak ada yang ngomong ya kak?" tanya Rahma heran.
"Memang saat jam kerja, tak ada yang boleh ngobrol apalagi bergosip, jika pun terpaksa mengeluarkan suara, maka yang di bahas atau yang di bicarakan pun harus yang berkaitan dengan perusahaan. Karena bagi siapa yang melanggar, maka saat itu juga akan di tendang dari perusahaan,"
"Gila, ketat banget ya kak," ujar Rahma gak nyangka bahwa perusahaan milik keluarganya ini akan seketat ini beda banget sama perusahaan yang di Jakarta.
"Harue ketat dong, kalau gak gitu, mana mungkin serapi dan sedisiplin gini, iya gak sih? Lagian juga karyawan di sini gajinya besar, lebih besar dari perusahaan lain, jadi itu seimbang dengan kedisiplinan dan kerja keras mereka, ya walaupun kadang ada satu dua orang yang melanggar namun mereka sangat pintar sehingga tak ketahun Pak Devano," ucap Amira menjelaskan.
"Kita ke taman yuk, di samping perusahaan ini ada taman, bagus loh. Ada kolam ikannya juga sama ada pancuran air, jadi kayak seger gitu kalau duduk di sana, aku kalau jam istirahat, kadang ke sana, terus fikiranku seger lagi, ibarat kata kalau aku ke sana tuh kayak ngecaz gitu loh hahaha," ujar Amira ketawa.
"Haha Kak Amira bisa ngelawak juga ya, tapi aku jadi penasaran loh kayak apa tamannyq, iya udah ke sana yok," ajak Rahma semangat lalu mereka berdua pun pergi ke taman dengan wajah riang.
Sedangkan Amira, ia juga bahagia bisa kenal dan akrab dengan Rahma, lebih senang lagi karena ia bebas dari pekerjaannya itu.
Ia bisa bersenang senang, namun tetap di gaji.
Sesampai di taman, Rahma pun sangat bahagia bahkan ia meminta Amira untuk mengambil gambarnya beberapa kali, lalu mereka foto berdua.
Sampai akhirnya gak kerasa jam makan siang tiba. Dimana semua orang sudah bisa keluar dan istirahat menghilangkan rasa penat. Ada yang ke toilet, ada yang ke kantin untuk makan siang, ada yang ke Musholla untuk sholat, ada yang ke taman duduk santai sambil main Hp, dan ada yang keluar entah kemana. Ada juga yang betah duduk di ruangannnya.
"Kak, aku ke toilet dulu ya, aku sakit perut. Kira kira toilet yang paling deket dimana ya kak?" tanya Rahma yang mendadak perutnya terasa sakit.
"Lurus aja, nanti belok kanan, tapi itu tpilet karyawan, apa gak papa?" tanya Amira.
__ADS_1
"Gak papa kak, yang penting mah bisa di pakek," jawab Rahma.
"Apa perlu aku temenin?" tanya Amira lagi karena bagaimanapun ia harus menjaga Rahma sesuai perintah yang di perintahkan oleh pak bos.
"Gak usah, aku cuma bentar kog, nanti aku juga ke sini lagi,"
"Iya udah kalau ada apa apa, panggil aku ya,"
"Okey."
Lalu Rahma pun berjalan menuju ke toilet, ia segera membuang kotorannya yang rasanya minta ingin segera di keluarkan.
Setelah selesai dan perutnya terasa lega, ia tak lupa menyiramnya sampai bersih dan mencuci tangannya pakai sabun yang ada di sana.
Lalu ia pun keluar dari toilet namun tiba tiba saja ia di hadang oleh dua wanita yang ada di depan pintu.
"Heh, wanita gatel, lo tuh jangan sok cantik ya, pakai cadar tapi kelakuannya suka merayu orany kaya," ujar wanita satu, sambil menarik cadarnya secara paksa. Sedangkan temen satunya lagi menamparnya dengan sangat keras hingga menimbulkan bekas di wajah Rahma, bahkan sudut bibirnya pun berdarah.
"Kamu itu jangan sok suci, bahkan berkeliaran ke sana kemari, kamu fikir ini perusahaan kamu hah. Kamu itu mungkin cuma pacar gelap Pak Bos aja, jadi gak usah banyak tingkah," ujar perempuan kedua lalu menjambak rambut Rahma sampai keras.
Sedangkan Devano yang mencari Rahma ke taman, langsung pergi ke sana. Karena ia melihat di CCTV kalau Rahma dan Amira ada di taman samping perusahaan.
"Loh Rahma mana Mir?" tanya Devano melihat Amira duduk sendiri. Padahal sebelum ke sini, ia masih melihat Rahma duduk di samping Amira.
"Ke toilet pak," jawab Amira yang langsung berdiri.
__ADS_1
"Gak kamu temenin?" tanya Devano marah.
"Non Rahma gak mau pak," jawab Amira menunduk merasa takut dan merasal bersalah juga.
"Kamu tuh, gimana kalau adikku kenapa napa hah!" bentak Devano lalu ia pun langsung pergi ke toilet. Dan Amira pun mengikutinya dari belakang.
Sesampai di toilet, ia langsung menendang pintu itu dan betapa kagetnya ia melihat Rahma yang tergeletak di lantai dengan hijab dan cadar yang sudah terlepas dari kepalanya bahkan rambutnya acak acakan.
Amira yang melihatnya pun tak kalah kagetnya, karena gak menyangka ada yang berani menyakiti adik bos.
"Lihatkan? inilah kebodohan kamu, di suruh jaga malah di tinggal sendiri," ujar Devano marah.
"Maaf," ucap Amira menunduk bahkan ia merutuki dirinya sendiri yang lalai menjaga Rahma.
"Saat Devano mengangkat tubuh Rahma, ia melihat bekas tamparan di kedua pipi adiknya itu, bahkan di sudut bibirnya berdarah.
"Kamu kumpulkan semua karyawaan saat ini juga," teriak Devano yang sangat emosi, sebagai kakak ia gagal menjaga adiknya itu. Adik yang sangat berharga untuknya.
Dia yang mengajak Rahma ke kantor namun ia malah membuat adiknya itu di bully oleh karyawannya sendiri.
Devano memasangkan hijabnya lalu menggendong Rahma menuju parkiran mobil. Orang orang yang melihat Devano menahan amarah pun merasa ketakutan.
Apalagi saat Amira meminta semua orang berkumpul, kini mereka bener bener merasa ketakutan karena jika sudah di suruh kumpul, pasti akan ada kejadian yang sangat mengenaskan.
Devano sendiri langsung membawa Rahma ke rumah sakit terdekat, tak lupa ia menelfon mama dan papanya untuk segera ke rumah sakit tanpa bilang apa yang terjadi.
__ADS_1
Sesampai di rumah sakit, Rahma pun langsung di tangani. Tak lama kemudian, Darma dan Dania datang dengan mobil yang berbeda, karena mereka berangkat dari tempat yang berbeda.