My Little Woman

My Little Woman
Kedatangan Gofur dan Keluargannya


__ADS_3


 


 


Jam 2 siang, setelah selesai sholat dhuhur. Rahma membantu sang umy untuk memasak sedangkan aby membersihkan kamar mandi utama yang biasanya di pakai untuk tamu yang datang.


Setelah selesai masak dan bersih bersih, tiba tiba ada yang mengetok pintu ruang tamu.


"Sayang, tolong bukakan pintu ya." Ujar umy yang duduk santai dengan suaminya untuk melepas rasa lelah.


Rahma berjalan menuju pintu dan membuka pintu itu. Namun Rahma langsung melongo melihat tamu yang ternyata adalah Pak Go dan keluargannya.


"Assalamu'alaikum." Ucap Pak Go.


"Waalaikumsalam. Ayo masuk mas." Ujar Rahma sopan. Pak Go dan keluarganya pun segera masuk dan duduk di sova.


"Bentar ya aku panggilkan umy dan aby dulu." Ucap Rahma grogi. Tanpa menunggu jawaban, Rahma pun segera pergi memanggil aby dan umynya yang lagi duduk santai di belakang rumah.


"Aby, umy Pak Go udah datang, eh maksudku Mas Go dan keluarganya udah datang." ujarku senang. Umy dan aby pun segera ganti baju dan setelah itu pergi ke ruang tamu.


"Assalamu'alaikum." Ujar Papanya Gofur,  melihat aby dan umy yang keluar menuju ruang tamu.


"Waalaikumsalam." Jawab aby sambil berjabat tangan dengan papa dan kakeknya Gofur. Sedangkan umy berjabat tangan dengan mamanya Ghofur. Aku pun memilih ke belakang sebentar untuk menyipakan makanan dan minuman untuk mereka semua. Tak butuh waktu lama karena memang semuanya sudah di siapkan dan tinggal membawanya saja ke ruang tamu. Aku menaruh makanan dan minuman itu di atas meja.


"Silahkan di minum." Ujar umy dan mereka pun hanya tersenyum sambil mengangguk sambil meminum minuman yang aku bawa barusan.


"Oh ya Nak Rahma ini yang pernah menolong ayah saya kan?" tanya Fanni, mamanya Gofur.


"Iya tan." Jawab Rahma malu malu.


"Jangan manggil tan dong, manggil mama aja. Kan bentar lagi akan jadi menantu mama." Ujar Fanni tersenyum


"Iya ma." Ucapku malu.


"Dulu mama berharap bisa bertemu dengan kamu lagi, wanita cantik dan baik hati. Dan alhamdulillah Allah mengabulkan permintaan mama dan sekarang kamu akan jadi menantu mama." Ujar Fanni ramah.


"Makasih ya nak, sudah menolong kakek waktu itu. Kakek bersyukur bisa bertemu dengan kamu dan kini kamu akan menjadi menantu dari cucu kakekk." Ujar kakek itu yang sedikit pikun tapi entahlah kenapa dia masih ingat sama Rahma.

__ADS_1


"Sama sama kek, aku juga senang bisa menolong kakek." Ucap Rahma.


"Oh ya, pak kedatangan kami ke sini untuk melamar putri bapak menjadi istri dari putra kami." ujar Papanya Ghofur.


"Kalau saya dan istri saya pasti merestui, tapi kembali lagi ke anak saya karena bagaimana pun yang akan menjalaninya adalah putri saya jadi yang berhak menjawab ia atau enggaknya adalah putri saya. Bagaimana nak, apakah kamu mau menerima dia sebagai suami kamu?" tanya aby, ayahnya Rahma.


"Ia aby, aku menerimanya." Jawab Rahma tanpa ba bi bu lagi.


"Alhamdulillah." Ucap semua orang yang ada di ruang tamu.


"Terus bagaimana selanjutnya?" tanya umy


"Saya ingin melangsungkan pernikahan dan nikah sirri sekaligus." Jawab Gofur sambil menatap ke arah Rahma yang menurutnya begitu cantik hari ini padahal Rahma hanya berdandan seperti biasanya.


"Tapi kalau nikah, anak saya masih sangat muda. Takutnya dia tak bisa menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri." Ujar umy.


"Saya mengerti. Saya tak akan meminta hak saya sebagai seorang suami. Saya hanya ingin ketika saya menjabat tangannya dan menyentuhnya, saya tak dosa. Bukankah di zaman ketika syahwat banyak tersebar, dianjurkan untuk menikah muda.


Nabi memerintahkan para pemuda untuk segera menikah. Karena ini solusi untuk meredam syahwat.


Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


Imam Ahmad pernah memberikan nasehat,


“Sepatutnya orang di zaman sekarang untuk mencari hutang agr segera menikah, supaya dia tidak memandang hal-hal yang tidak halal sehingga amal shalih yang dilakukan menjadi sia-sia.” (Ta’zhim As-Sunnah, hlm.23).


Jika demikian di zaman imam Ahmad, bagaimana lagi dengan zaman sekarang?!


BUKAN syarat dan bukan pula kewajiban dalam islam bahwa siapapun yang melakukan akad nikah harus segera kumpul dan melakukan hubungan badan. Artinya, boleh saja suami istri berpisah setelah akad nikah, sampai batas waktu sesuai kesepakatan.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika beliau berusia 7 tahun. dan Beliau baru kumpul dengan Aisyah, ketika Aisyah berusia 9 tahun.


Dari Urwah, dari bibinya, Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau bercerita,


Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengan Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika Aisyah berusia 7 tahun. dan Aisyah kumpul dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau berusia 9 tahun, sementara mainan Aisyah bersamanya. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat ketika Aisyah berusia 18 tahun. (HR. Muslim 3546)


Dalam riwayat lain, Aisyah radhiyallahu ‘anha juga bercerita,


“Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menikahiku pada saat usiaku 6 tahun, dan beliau serumah denganku pada saat usiaku 9 tahun.” (Muttafaqun ‘alaih).

__ADS_1


Semua riwayat ini dalil bahwa pasangan suami istri yang telah menikah, tidak harus langsung kumpul. Boleh juga mereka tunda sesuai kesepakatan.


Ar-Ruhaibani mengatakan,


Jika salah satu dari suami istri minta ditunda maka harus ditunda selama rentang waktu sesuai kebiasaan yang berlaku, untuk persiapan bagi pihak yang minta ditunda, seperti 2 atau 3 hari, dalam rangka mengambil yang paling mudah. Dan acuan dalam hal ini kembali kepada apa yang berlaku di masyarakat. karena tidak ada acuan baku di sana, sehingga harus dikembalikan kepada tradisi yang berlaku di masyarakat. (Mathalib Ulin Nuha, 5/257).


Bisa juga batasan penundaan itu kembali kepada kesepakatan kedua pihak.


Dalam Fatwa Syabakah Islamiyah dinyatakan,


Syariat tidak menentukan batas waktu tertentu sebagai rentang antara akad dengan kumpul. Karena itu, acuan dalam rentang ini kembali kepada ‘urf (tradisi masyarakat) atau kesepakatan antara suami istri. (Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 263188)


Seseorang yagn sudah terikat dengan pernikahan, mereka masih berhak untuk menunda kumpul, sesuai kesepakatan. Baik karena pertimbangan belajar, atau masukan dari orang tua atau karena pertimbangan lainnya, termasuk pertimbangan masalah nafkah.


Saya janji tak akan melakukan hubungan layaknya suami istri sampai Rahma lulus sekolah. Dan setelah lulus, kami akan menikah lagi secara negara di KUA dan setelah itu saya akan meminta hak saya sebagai suami. Tapi sebelum Rahma lulus dan kami hanya menikah secara sirri, saya hanya akan melakukan hubungan layaknya pacaran. Pacaran tapi versi halalnya. Dan untuk kebutuhan Rahma akan menjadi tanggung jawab saya sepenuhnya. Dan karena kami sama sama tinggal di Jakarta, maka saya bisa lebih bebas dan leluasa untuk menjaga dan melindungi Rahma yang nantinya akan menjadi istri saya. Dan saya pastikan pernikahan ini tak akan sampai bocor kemanapun karena cukup kelurga besar saya dan keluarga besar Rahma saja yang tau agar tak menggganggu aktivitaas Rahma di luar sana." Ujar Pak Go menjelaskan panjang lebar.


"Baiklah saya selaku orang tua Rahma setuju, terus akad nikahnya kapan?" tanya aby.


"Bagaimana jika nanti malam aja?" tanya papanya Gofur.


"Iya udah nanti saya akan mengundang beberapa keluarga saya sebagai saksi dan juga mengundang seorang Kyai untuk menikahkan mereka." Jawab aby tersenyum ramah.


"Nah karena pernikahan sudah di tentukan bagaimana kalau kalian makan dulu, pasti kalian belum makan siang kan?" tanya umy dan Pak Go pun hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum. Sebenarnya sebelum dia dan keluarganya ke rumah Rahma, Pak Go dan keluarnya sudah makan di resto tapi karena tak enak dengan tawaran umy nya Rahma, akhirnya Pak Go pun mengiyakan.


Rahma dan umy nya segera menyiapkan piring di atas meja tak lupa mengisi air di dalam gelas. Setelah selesai, mereka semua pun duduk dan makan bersama. Pak Go dan Rahma sesekali curi pandang dan tersenyum.


 


 


 



 


 


 

__ADS_1



__ADS_2